TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 77~Anxiety?


__ADS_3

Sejak kejadian dimana semua rahasianya terbongkar, hubungan pasutri itu semakin kaku. Tak ada obrolan hangat lagi antar keduanya, kevin kembali bersikap dingin dan ketus, seperti tak ada kejadian apa-apa sebelumnya. Meskipun begitu ia tetap melakukan tugasnya sebagai suami, yaitu menafkahi dan menjaga istrinya dengan baik.


Tak lupa Kevin juga selalu memperingatinya untuk jangan terlalu akrab dengan Andreas, dan Alya hanya manut saja. Toh, dia juga Sebenarnya tak mau dekat-dekat dengan pria itu, tapi Andreas sendiri yang selalu membuntutinya.


Bukan hanya Alya saja yang harus di jaga ketat, keluarganya pun begitu, bahkan Kevin sudah mengirim beberapa Intel dan bodyguard untuk memantau keadaan disana.


Untuk saat ini Kevin mungkin bisa bernafas lega karena belum ada pergerakan dari orang suruhan papa-nya ataupun dari pihak musuhnya, tapi ia tetap saja harus waspada. Ia tak mau kecolongan lagi, sudah cukup 2 tahun lalu ia bertindak bodoh yang mengakibatkan Alya harus pergi, kali ini ia tak akan biarkan siapapun menyentuh istrinya.


Dan soal keamanan istrinya, ia sudah menyewa 10 bodyguard untuk menjaganya selama beraktivitas di luar rumah. Sesuai dengan perkataannya pada malam itu, mengesampingkan keinginan Alya yang hanya ingin nambah satu.


“aku harap kamu bisa mengerti dengan statusmu sekarang, dan inilah resikonya menjadi istri dari keluarga dirgantara. Kamu harus terbiasa dikelilingi dengan banyak orang dan penjagaan ketat.” ucap Kevin saat Alya mengutarakan protesnya.


Alya membuang nafas pelan seraya memejamkan matanya sejenak. “aku tahu masalah orang kaya adalah musuh tak kasat mata, tapi apakah keadaannya seburuk itu sampai kamu menyewa banyak bodyguard?”


“ya. Bahkan jauh lebih buruk dari yang kamu kira, karena.. aku bukan lagi laki-laki baik seperti yang kamu kenal dulu. Jika kamu masih menginginkan keluargamu selamat, maka menurutlah dengan semua ucapanku.” ucap Kevin dengan irotasi suara dingin.


Alya yang mendengar itu hanya bisa diam, namun dalam hati bertanya-tanya apa maksud dari perkataannya itu. Ia penasaran. Sebenarnya apa yang telah terjadi, kenapa Kevin bisa berkata bukan laki-laki baik lagi?


Semenjak hari itu interaksi keduanya sudah jarang, Kevin semakin sibuk dengan urusan kantornya dan jarang terlihat ada di apartemen. Membuat Alya dirundung kesepian sekaligus takut, terlebih dia disana sendirian.


Tapi alya tahu dia tak benar-benar sendirian, ada sari dan intan yang menemaninya. Tak lupa Sean juga ikut menetap disana, setidaknya dia akan selalu standby di samping Alya selama Kevin tak ada.


Selain ketiga orang itu, masih ada Leon yang ikut menjaganya. Kucing Oren milik Kevin itu seakan sudah paham dengan keadaan, buktinya ia selalu mengekori langkah Alya setiap gadis itu ada di rumah. Bahkan ia ikut tidur di kamarnya, padahal sudah beberapa kali intan memindahkannya ke kandangnya. Namun tetap saja kucing itu akan kembali masuk ke kamar Alya dan naik ke ranjangnya, dan untungnya si pemilik kamar tak keberatan sama sekali.


Ya. setelah Alya keluar dari ruangan kerjanya, Kevin memang langsung menghubungi Kenzo untuk meminta sari datang ke apartemen dan tinggal disana. Mengingat dengan statusnya sebagai CEO baru di kantor membuatnya semakin sibuk, ditambah dia juga memiliki banyak proyek diluar kota yang nantinya pasti dia akan jarang pulang.


Maka dari itu ia meminta sari untuk datang dan tinggal disana, intan pun begitu. Untuk jaga-jaga dia juga meminta Sean untuk menetap disana, dan mengambil beberapa bodyguard Dylan untuk memantau lingkungan apartemen.


Alya yang mengetahui itu semua awalnya risih, ia merasa terkekang dengan semua itu. Kehidupannya yang dulu bebas dan tanpa beban kini sudah lenyap, layaknya seorang artis papan atas, hal sekecil apapun tindakannya kini akan menjadi buruan berita.


Tapi setelah dipikir lebih dalam lagi akhirnya ia pun paham, dan menyadari jika statusnya kini memang sudah berbeda. sebagai istri dari pewaris satu-satunya dari keluarga Zein yang terkenal miliarder tentu membuat Kevin harus melakukan itu, dan Alya harus bisa membiasakan diri.


Tapi kini pikiran Alya mulai buruk, Ia menjadi khawatir dengan kesibukan suaminya membuat kesehatannya akan terganggu, karena Alya tahu betul Kevin suka lupa waktu jika sudah fokus dengan satu objek.


Maka dari itu setiap hari dia selalu mengiriminya pesan singkat untuk mengingatkannya makan siang, bahkan jika dia pulang awal akan memasak menu makan siang untuk suaminya, lalu menyuruh Sean ataupun sari untuk mengirimnya ke kantor.


Sebenarnya Alya ingin sekali melakukan apa yang dilakukan para istri pada umumnya, contohnya mengantar makanan langsung ke kantor dan menemaninya sampai makanannya habis. Tapi entah kenapa ia tak berani melakukannya, ia takut Kevin akan terganggu dengan kehadirannya disana. Ditambah dengan interaksi keduanya yang kaku, membuat gadis itu ragu untuk melakukannya.


Hingga 3 bulan pun telah berlalu, hubungan keduanya pun belum ada peningkatan sama sekali. Bahkan kali ini lebih buruk, Kevin sudah jarang pulang dan lost kontak. Tapi itu itu tak membuat Alya menyerah, ia tetap berusaha menjaga komunikasinya dengan Kevin terus berjalan meski hanya sekedar saling kirim pesan dan telepon. Untungnya Kevin selalu meresponnya, walaupun hanya sebentar.


...💐💐💐...


{Jangan lupa nanti makanan yang aku kirim di makan sampai habis.}


Send.


Alya mengirim pesan singkat lewat akun what'sappnya, entah sudah yang ke berapa. Biasanya Kevin akan membalas singkat meski dengan waktu cukup lama, tapi beberapa hari ini suaminya itu sudah tak membalas lagi, hanya membacanya saja.


Alya mendesah pelan saat melihat centang satu warna abu-abu, pertanda jika akun what'sapp suaminya sedang tak aktif. Ia berpikir mungkin Kevin sedang sibuk, sehingga tak sempat menyalakan datanya.


Lalu ia melirik ke jam tangannya, disana jarum sudah mengarah ke jam 10 pagi. Terlalu awal untuk mengirim bekal, tapi ia memang sengaja melakukannya karena hari ini ia ada kelas siang dan akan pulang sore.


Bahkan saat ini ia sudah berada di kampus, ia duduk di hamparan rumput hijau yang ada di taman belakang. Ditemani dengan arina yang duduk bersila di sampingnya, sambil menikmati jajanan cilok kesukaannya.


Di sela-sela kunyahaannya, arina nampak menatap wajah Alya yang muram. “kenapa muka Lo gitu banget, ada masalah?” tanyanya.


Dengan gerakan lemas Alya menggeleng, berusaha mengelak.


Memang, selama kejadian dimana ia menceritakan malam pertamanya dengan Kevin di mobil Alya sudah jarang mengobrol dengan arina maupun Jessica. Ketemu pun pas waktu di kelas saja, selebihnya mereka akan pisah. Bukan tanpa sebab, melainkan karena kesibukan masing-masing.


Arina sibuk membantu usaha ketring ibunya, belum lagi ia juga harus kerja dan mengurusi urusan kuliah. Sama halnya dengan Jessica, selain disibukan dengan urusan kuliah, ia juga kini tengah di didik ibunya untuk belajar menjadi wanita rumahan. Contohnya belajar masak, dan beres-beres rumah.


“jangan bohong sama gue!” cetus arina, ia tahu sahabatnya itu sedang berbohong.


“gue lagi gak ada masalah, tapi.. lagi galau.”


Arina yang mendengar itu mendengus sebal. “itu sama aja Maemunah! Lagian tumben-tumbenan Lo galau, emang galauin apa sih?”


Namun Alya hanya diam saja, pandangannya lurus menatap ke depan dan wajahnya semakin muram.


“gue tebak pasti gara-gara Kevin, kan?”


sebelum menjawab Alya nampak menghela nafas. “siapa lagi.”


“kali ini apalagi?”


“kayaknya bentar lagi gue bakal jadi janda deh.”


“uhuk.. uhuk!”


Bukannya menjawab pertanyaan, Alya malah mengucapkan kata-kata yang membuat arina kaget dan tersedak bumbu cilok yang pedas.


Alya tentu kaget, dengan cepat ia merogoh tasnya dan mengambil botol minum, lalu menyerahkannya ke arina. “makanya kalau makan itu pelan-pelan.” ucapnya seraya menepuk-nepuk pelan pundak sahabatnya.

__ADS_1


“ini semua gara-gara Lo, bego!” makinya setelah meneguk hampir satu botol minum milik Alya, dan matanya melotot.


“kok gue?”


“iyalah! Gara-gara omongan Lo tadi buat gue kaget dan tersedak, ah.. mana tenggorokan gue jadi panas gini lagi!”


Mendengar itu Alya langsung memasang wajah bersalah, dan matanya mulai berkaca-kaca. “sorry.. gue gak sengaja.” lirihnya.


Bukannya merasa kasihan melihat Alya yang hampir menangis, arina malah mendengus sebal. ia tentu tahu selain keras kepala, Alya juga cengeng. Kemudian kembali meneguk air minum itu sampai habis, lalu melempar bekasnya ke pangkuan Alya.


“jadi Kevin udah tahu semuanya?” itu bukan pertanyaan, melainkan tebakan.


Alya mengangguk mengiyakan.


“semuanya?” ulang arina.


“iya Rin, termasuk soal hubungan gelap papa aji dan mayra.”


“What!” pekiknya dengan mata melebar. “terus dia marah gak?” tanyanya.


Sebenarnya tanpa harus bertanya pun arina sudah tahu, jika Kevin pasti marah. Tapi tetap saja ia ingin bertanya, siapa tahu persepsinya beda dengan kenyataan.


“jelaslah dia marah, bahkan dia sampai nuduh gue yang enggak-enggak.” balas Alya.


“nuduh gimana maksudnya?”


“dia nuduh gue bahwa selama ini gue cuma pura-pura cinta sama dia, dan terima perasaannya waktu SMA dulu hanya karena kasihan. Padahal Lo sendiri tahu, sebelum itu gue udah suka dia duluan.” jawab Alya, suaranya berubah lirih saat di kata-kata terakhirnya.


Fakta baru yang belum pernah Kevin ketahui maupun orang lain, dan hanya arina saja yang tahu hal ini. Sejak awal mereka masuk ke SMA dimana ada Kevin dan kawan-kawannya, Alya memang sudah menyukainya. Siapa sangka ternyata Kevin juga memiliki perasaan yang sama.


Arina yang mendengar itu manggut-manggut, ia tentu tahu sedalam apa perasaan Alya terhadap Kevin saat SMA dulu. Arina tak munafik jika dirinya pernah merasa iri dengan nasib Alya, karena perasaannya di balas oleh pria pujaannya. Bahkan setelah mereka di kabarkan pacaran, Kevin terlihat sangat mencintainya meski sikap cueknya tak pernah hilang.


“ya udahlah yang lalu gak perlu di bahas lagi, semuanya sudah terlanjur terjadi. Yang penting Kevin udah tahu segalanya, dan sekarang tinggal dia mau memaafkan Lo atau enggak.” sahut Arina seraya menepuk-nepuk pundak Alya yang duduk di sampingnya.


Alya diam sejenak, lalu menghela nafas. Pandangannya menatap kosong ke depan. “apa dia mau maafin gue?” tanyanya dengan suara pelan.


“gue gak tahu pasti, tapi sepertinya sulit. Secara Lo kan tahu sifat kevin kayak apa, dia itu pendendam!”


Jawaban arina membuat Alya kembali menghela nafas, dan wajahnya berubah sendu. Sebenarnya Alya sendiri sudah menduga jika Kevin tak semudah itu memaafkannya, dan dia juga sudah pasrah dengan semuanya.


“tapi.. bukan berarti dia gak bakal maafin Lo, dia pasti maafin tapi perlu waktu. Ya Lo bayangin aja, selama 2 tahun dia di bohongin. Belum lagi dengan fakta hubungan om aji dan Mayra, kalau gue jadi dia sih kecewa banget.”


“terus gue harus gimana?”


Alya mendelik tak suka pada sahabatnya itu. “gue tahu Kevin itu mudah emosi, mudah marah-marah tapi dia gak sampai main tangan. Kecuali kalau yang di lawannya itu laki-laki!” cetusnya.


arina diam sejenak, wajahnya berubah ragu. “itu kan dulu, beda sama sekarang. Semenjak Lo pergi, banyak kejadian tak terduga yang di alami Kevin. Termasuk dengan tingkah trempamennya.”


“maksud Lo apa? Memangnya apa yang sudah terjadi?” tanya Alya, ia sedikit merubah posisi duduknya agar bisa menghadap ke arina dan menatapnya dengan mimik serius.


“sebelum gue jelaskan semuanya, apa Sebelumnya Lo pernah lihat tingkah Kevin yang aneh?”


Alya diam sambil berpikir keras, kemudian menggeleng. “gak tuh, sikapnya masih normal. Masih suka marah-marah, dan ketus.”


“Lo yakin?”


“iya. Emang kenapa sih?”


“gak apa-apa tapi gue cuma mau ngingetin aja Lo harus waspada, karena Kevin itu lagi sakit.”


“sakit? Sakit apa sih, orang dia kelihatan baik-baik aja kok.”


Arina menggeleng. “Lo salah, Kevin memang lagi sakit. Bukan sakit badan, tapi sakit mental.”


DEG!


Alya terpaku di tempat saat mendengar kata 'sakit mental', ia seakan tak percaya dengan Indra pendengarannya.


“sa-sakit mental? Maksudnya gimana?”


Sebelum menjawab arina nampak membuang nafas panjang. “gue Sebenarnya gak mau bilang ini, tapi sebagai istrinya Lo harus tahu keadaan dia sebenarnya. Ditambah kalian sudah tidur bersama, dan ini sudah 3 bulan sejak kejadian itu. bukan hal mustahil jika di dalam perut Lo akan tumbuh anaknya Kevin, atau mungkin sekarang sudah ada, hanya saja Lo belum sadar. Jadi sebelum Lo dinyatakan benar-benar hamil gue mau kasih tahu, jika Kevin menderita... anxiety.”


DEG!


jantung Alya serasa lepas dari tempatnya dan aliran darahnya seakan berhenti bekerja, sehingga mengakibatkan wajahnya pucat begitu mendengar kata terakhir arina.


“apa! Anxiety?” pekik Alya dengan mata melotot, meski tak terlalu paham tapi ia tahu dengan penyakit itu.


Arina menggangguk. “gue tahu pasti Lo kaget dan gak percaya dengan ucapan gue, tapi itu kenyataannya. Kevin memang menderita anxiety, dan dia mengalaminya semenjak kalian putus.”


Mata Alya semakin melebar setelah mendengar ucapan terakhir Arina, jika memang begitu mungkinkah Kevin bisa memiliki penyakit itu karenanya?


“ta-tapi dia kelihatan normal kok.”

__ADS_1


“kalau gak lagi kambuh emang begitu, dia akan terlihat biasa. Tapi saat kambuh dia akan berubah seram, bahkan yang pernah gue denger si penderita anxiety mampu melukai dirinya sendiri dalam keadaan sadar.”


Alya membisu, mulutnya seakan terkunci. Ia masih belum mempercayai dengan perkataan Arina, benarkah suaminya sedang sakit mental? Apa penyebabnya? Mungkinkah karenanya? Jika memang benar Kevin bisa mendapat penyakit itu karena dirinya, sumpah demi apapun Alya tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


“Lo masih ingat gak dengan kejadian dimana Lo nyuruh Kevin datang ke rumah sakit untuk menyelamatkan kak Selena dan bibi Yuna?”


Alya mengangguk.


“nah, waktu itu Lo pasti lihat kan tangannya di perban? Padahal sebelumnya baik-baik saja?”


“jangan bilang kalau dia..”


“gue gak bisa memastikannya ia melukai dirinya sendiri atau memang tak sengaja terluka, karena penderita anxiety gak akan berbuat itu jika tak ada pemicunya. Dan gue ingatkan mulai sekarang hati-hati padanya, takutnya dia lukai Lo tanpa sadar.”


“tunggu, tunggu.. ini Lo gak lagi bohongin gue kan?”


Arina menggeleng. “apa yang gue ucapkan tadi memang benar.”


Alya nampak menggeleng cepat, wajahnya merona serta kedua matanya sudah berlinang. “Gak! gue gak percaya! Kevin gak mungkin punya penyakit itu, Dia itu sehat arina!” pekiknya.


“kalau Lo gak percaya, silahkan tanya ke kedua kakaknya atau ke sahabat-sahabatnya. Mereka yang selama ini mendampingi Kevin saat berada dirumah sakit jiwa.”


DEG!


“APA! ja-jadi dia pernah masuk rumah sakit jiwa?”


Arina mengangguk. “iya. Kevin pernah dirawat dirumah sakit jiwa selama setahun, tapi gue gak tahu pasti rumah sakitnya dimana. Itu juga gue dengernya dari anak-anak sini, dan itu 6 bulan sebelum beredar kabar pertunangannya dengan Mayra.”


“ya tuhan.. tapi sekarang dia pasti udah sembuh kan? Kayaknya gak mungkin papa-nya mau menikahkannya dengan Mayra jika dia masih sakit?”


Arina kembali menggeleng seraya menghela nafas. “setahu gue sih belum, dan kayaknya bakal susah di sembuhkan begitu mengingat karakternya yang trempamen.”


Mendadak tubuh Alya menjadi lemas, tak menyangka suaminya yang selama ini terlihat sehat bugar ternyata sedang sakit.


“kenapa Lo gak pernah bilang sama gue sih Rin?”


“buat apa? Toh, kalian juga udah putus.”


“ya tapi--”


“bukankah Lo sendiri yang minta gue buat jangan bahas apapun lagi soal Kevin?”


Alya membuang nafas berat seraya memejamkan matanya sejenak, dan detik itu juga air hangat itu jatuh membasahi pipinya yang mulus. Perasaannya saat ini sangat hancur, bahkan lebih hancur saat ia mendengar pertunangan Kevin dengan Mayra dulu.


Kini Alya sadar, benar-benar sadar! Rasa sakit yang ia rasakan kini tak sebanding dengan apa yang Kevin rasakan dulu, dan ini semua karena ulahnya. Pantas saja setelah mengetahui semuanya Kevin marah besar, bahkan sampai menuduhnya mau membunuhnya. Ternyata karena ini!


Apakah sedalam itu rasa sakit yang ia torehkan pada Kevin, sehingga suaminya itu mengidap penyakit mental.


‘ya tuhan.. tolong maafkanlah segala kesalahanku karena telah membuat hidup pria yang aku cintai hancur, kau tentu tahu apa alasan utamaku melakukan ini dan sejujurnya aku pun tak ingin melakukannya.’


Tak pernah terpikirkan olehnya Kevin akan sehancur ini karena tindakannya, dia pikir mungkin Kevin akan bersedih sebentar dan membencinya. Tapi nyatanya tidak, prianya itu jauh lebih hancur darinya. hanya demi mengutamakan kepentingannya sendiri, tanpa sadar ia membuat kehidupan orang lain hancur.


...💐💐💐...


Setelah menyelesaikan mata kuliah pelajaran pertama, Alya memutuskan langsung pulang. Sebenarnya ada satu kelas lagi, tapi alya lebih memilih bolos.


“Lo yakin mau bolos? Ini mata pelajaran pak Hamka loh, dosen kesayangan Lo!” tanya arina saat Alya memintanya untuk titip absen, saat ini mereka sedang berjalan santai di koridor.


Saat sahabatnya tanya apa alasannya, Alya menjawab karena hari ini adalah jadwal chek up terakhirnya ke dokter samuel.


Apa yang di ucapkannya memang benar, hari ini adalah hari terakhir kakinya akan di periksa. Meski saat rencana awal dia akan datang setelah menyelesaikan semua agenda kampusnya, di majukan menjadi siang.


Setelah menjalani perawatan selama 2 bulan lebih, Kaki kanannya sudah berangsur membaik. bahkan menurut pemeriksaan terakhir, keretakan di tulang keringnya sudah benar-benar tak ada. Jadi bisa di bilang setelah ini kakinya akan bebas berjalan lagi, dan saat ini ia sudah melepas gipsnya dan tanpa bantuan kruk lagi.


“ngaco aja kalau ngomong, kapan gue bilang begitu. Yang ada Lo kali!” bantah Alya seraya melirik menggoda ke arah arina.


“hehehehe..” arina malah cengengesan, dan wajahnya berubah merona. “Lo tau aja kalau gue emang lagi kesemsem sama dia.” ujarnya malu-malu.


Alya yang melihat tingkah sahabatnya begitu terkekeh geli, tak menyangka jika arina yang tomboy akan menyukai pria matang. Untungnya single.


“bahaya banget Lo ya, bisa-bisanya suka sama dosen sendiri. Mana tua lagi! Ingat, dia itu duda beranak 2! Mau Lo jadi emak tirinya?”


Arina mengangkat sebelah bahunya. “gak masalah! Asalkan mereka bisa Nerima gue dan keluarga gue apadanya, soal umur mah hanya angka. Lo gak lihat, mukanya masih kelihatan muda dan ganteng?”


“iya juga sih ya, tapi emang bunda sama ayah bakal mau punya menantu tua plus 2 cucu?”


“kurang tahu juga, ya.. mudah-mudahan aja mereka mau.”


“dasar Lo ya. Udah ah gue mau balik dulu, bay!” ucapnya, kemudian ia belok ke lorong dimana mengarah lebih cepat ke parkiran.


Sedangkan arina hanya membalasnya dengan pekikan untuk hati-hati di jalan sambil melambaikan tangannya, lalu kembali melanjutkan langkahnya ke kelas berikutnya.


“kita ke rumah sakit sekarang ya kak, baru setelah itu pergi ke kantor Kevin.” ucap Alya saat sudah tiba di parkiran, ia melihat pria bule itu sudah standby di samping mobil.

__ADS_1


Sebelumnya Alya memang sudah memberitahunya dengan keinginannya itu, meski sedikit heran tapi Sean tetap menurutinya.


__ADS_2