
Alya berjalan cepat keluar dari rumahnya menuju taman samping rumahnya, sebelah tangannya yang ada di depan dadanya terlihat menggenggam sesuatu. Hingga akhirnya dia duduk di kursi kayu yang ada di tengah-tengah taman tersebut.
“Maafkan aku.” Lirihnya seraya membuka telapak tangannya, disana ada sebuah kalung perak bermahkota cincin putih batu safir.
Gadis itu menengadah ke atas, menatap langit yang gelap. Tak ada satupun cahaya disana, sama seperti hatinya yang gelap setelah kepergian sosok yang teramat sangat dia cintai, Dan itu karena ulahnya sendiri.
Air matanya kembali menetes kala mengingat masa lalunya.
•FLASHBACK•
“Aku menyukaimu!” ucap seorang laki-laki tampan pada seorang gadis remaja, dia memberikan setangkai bunga mawar pada gadis itu.
Untuk beberapa saat si gadis diam saja, wajahnya nampak shock. dirinya tak menyangka, bahwa malam itu ia akan ditembak oleh pria paling populer yang ada di sekolahnya.
“A-apa! K-kamu menyukaiku?”
pria itu mengangguk. “Ya, aku menyukaimu dan aku ingin kamu menjadi pacarku!”
“A-apa!? Pacar?”
“Hm, apa kamu mau menjadi pacarku?”
Ucapan laki-laki itu terdengar gugup, dia merasa takut jika pengakuannya akan ditolak. Wajar saja, ini adalah pengalaman pertamanya menyatakan perasaannya pada seorang gadis.
Biasanya dirinya yang selalu di tembak oleh wanita, namun kini berbalik. Dirinya kini tengah menyatakan perasaannya pada seorang gadis yang membuatnya nyaman setiap bersamanya, dan dia tak mau kehilangan gadis itu.
Itulah kenapa dia memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya, meski sebelumnya ia selalu di hantui rasa takut dan grogi, namun teman-temannya justru mendukungnya penuh. dia sangat berharap setelah ini gadis pujaannya bisa menerima hatinya.
“Y-ya tentu saja aku mau, aku juga menyukaimu.” ucap gadis itu malu-malu, kemudian meraih bunga mawar itu.
Mendengar jawaban sang gadis membuat laki-laki itu menghela nafas lega, dia tersenyum bahagia. Perlahan dia jalan mendekat, meraih kedua tangan gadis itu dan menggenggamnya erat.
“Terima kasih sudah menerima cintaku, aku sangat bahagia. aku berjanji, aku janji setelah ini aku akan selalu menjagamu dan akan membuatmu bahagia.” ucapnya serius, seraya menatap kedua manik mata sang gadis.
Waktu terus berjalan, hari berganti bulan hingga ke tahun. Hubungan mereka terjalin tak semulus jalan tol, pertengkaran demi pertengkaran sering terjadi. Namun mereka selalu bisa mengatasinya, dan kembali akur.
walaupun sempat putus nyambung karena pihak ketiga dan restu orang tua, tapi sepertinya kekuatan cinta mereka begitu besar sehingga pada akhirnya kembali bersama.
Tak terasa hubungan mereka sudah menginjak 2 tahun, dan hari itu bertepatan di hari kelulusan si gadis sebagai anak SMA.
“Happy graduation and.. happy anniversary sayang.” bisik suara berat laki-laki, tepat ditelinga alya.
Alya yang pada saat itu sedang berdiri bersama arina di pinggir lapangan terkejut mendengar suara itu, dengan cepat dia berbalik badan dan seketika senyumnya terbit kala melihat sosok kekasihnya.
Sementara arina, tanpa berpamitan gadis itu langsung pergi.
“Kevin! Kamu disini?” wajah Alya sangat bahagia, begitupun dengan Kevin yang juga ikutan tersenyum.
Sudah hampir 3 bulan mereka tak bertemu, karena kesibukan masing-masing. Alya sibuk dengan jadwal ujiannya, sementara Kevin sibuk dengan tugas kampusnya. Selama itu mereka hanya bisa berkomunikasi lewat chat dan video call saja.
“Ciye.. yang sudah bukan anak sekolahan lagi.” godanya sambil jari telunjuknya mencolek dagu Alya, yang mana itu membuat si empu tersipu.
“Kamu gak ada jadwal kuliah?” tanya Alya.
“Gak ada! Hari ini aku gak ada jadwal ke kampus dan kebetulan hari ini adalah hari kelulusanmu, jadi aku kesini aja.” sahut Kevin.
Alya manggut-manggut.
“Oh ya sayang, aku punya hadiah untuk kamu.”
“Hadiah? Tapi kan aku gak lagi ulang tahun.”
“Memangnya di hari ulang tahun saja bisa dapat hadiah, hm? Anggap aja ini adalah hadiah dariku karena kamu lulus dengan nilai terbaik.”
Alya menggeleng. “gak perlu Vin, Cukup kamu datang kesini aja udah bikin aku senang kok.”
“Benarkah?” ucapnya sedikit menunduk.
Tinggi badan Alya hanya sampai batas leher Kevin saja, sehingga pria itu harus menunduk jika ingin menatap wajah gadis itu.
“Hm..”
“Gak apa-apa sayang, Hari ini juga bertepatan dengan hari jadi kita. Sini, ikut aku dulu.” kevin menarik tangan Alya agar bisa pergi dari sana.
“Mau kemana?”
“Ke danau.”
Kevin terus menarik tangan Alya, membawanya ke tempat yang dia maksud. Sesampainya disana dia langsung merogoh kantong jaketnya, dan mengeluarkan kotak kecil warna merah.
“Kamu suka?” tanya Kevin sambil memperhatikan wajah alya.
“Ini untuk aku?”
“Yes, kamu suka gak sama desainnya?”
Alya mengangguk. “Ini cantik sekali.”
“Syukurlah kalau kamu suka, sini aku pakaikan.”
Kevin meraih sebelah tangan Alya, dan dia pun mulai memasangkan cincin itu di jari manisnya. Cincin tersebut nampak berkilau akibat terpaan sinar matahari.
“Sayang, aku minta maaf ya..” suara Kevin tiba-tiba menjadi sendu, hal itu membuat Alya langsung mendongak ke arahnya.
“Minta maaf untuk apa?”
“Semuanya! Maaf kalau selama ini aku belum bisa bikin kamu bahagia, sering membuatmu marah, sering buat kamu menangis. Tapi percayalah, setiap menit, detik dan jam aku selalu berusaha untuk menjadi laki-laki yang terbaik untukmu.”
Alya tersenyum sambil menggeleng. “Selama ini kamu sudah menjadi laki-laki yang baik, dan selalu menjagaku. Bahkan jauh sebelum kita pacaran, Terima kasih.”
“Apa kamu bahagia?” Tanya kevin.
“Sangat! Apa kamu juga bahagia?”
“Tentu.” balasnya, dia mendekatkan wajahnya kemudian berbisik. “Dan.. aku sangat mencintaimu.”
“Aku juga.” lirih Alya.
Dua sejoli itu tersenyum bahagia dan saling beradu pandang, terlihat sangat jelas sekali dari dua pasang mata itu jika mereka memang saling mencintai.
Perlahan tapi pasti sebelah tangan Kevin bergerak merengkuh pinggang Alya, sementara sebelahnya lagi menyentuh sisi wajahnya. Matanya menatap lekat netra Alya, seraya jari jempolnya mengusap pelan bibir bawahnya. Sebelum akhirnya sesuatu yang kenyal dan basah itu mendarat disana.
__ADS_1
Alya langsung memejamkan matanya seraya melingkarkan kedua tangannya di bahu Kevin dan membalas ciumannya, mereka melakukan itu dengan lembut dan penuh perasaan.
Tangan Kevin merambat ke belakang, menahan tengkuk Alya dan memperdalam pagutannya. Dia ******* habis bibir tipis dan terasa manis itu, menghisapnya atas dan bawah dengan gaya sensual.
“kamu selalu bisa membuatku lupa diri, sayang.” ucap Kevin setelah menghentikan ciumannya, dada bidangnya nampak kembang kempis kekurangan oksigen.
Sama halnya dengan Kevin, Alya pun begitu dengan wajah merona. Namun gadis itu tak mau menunjukkannya, dan lebih memilih menyembunyikan wajahnya dalam pelukan hangat kekasihnya. Menghirup dalam-dalam aroma maskulin pria-nya itu.
Hening sejenak...
“sayang.” panggil Kevin.
“hm..”
“Aku ingin hubungan kita bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius.”
Alya mengernyit, awalnya dirinya tak paham. Namun akhirnya dia sadar, kemudian dia pun mendongak. “Maksud kamu kita..”
“Ya, aku ingin kita menikah!”
“Tapi aku baru lulus, aku.. belum siap.”
Kevin yang mendengar itu tersenyum lembut, sebelah tangannya membelai sisi wajah gadisnya.
“Iya sayang aku paham, aku gak akan minta untuk buru-buru. Tapi bisakah kita tunangan dulu?”
Lalu dia meraih tangan Alya yang memakai cincin. “Dan cincin ini adalah simbolnya.”
Mata Alya kian membola seraya menatap tangan dan wajah Kevin bergantian. “Itu artinya kamu tadi melamarku?”
“Ya.”
“Ck! Gak romantis banget sih, masa melamar di tepi danau gini sih? dan aku juga masih pake seragam dan wajah kucel!” keluh Alya mengerucutkan bibirnya.
“Nanti aku akan melamarmu secara resmi di depan keluargamu tapi tidak bisa sekarang, aku ingin kita fokus ke pendidikan dulu dan tunggu aku mapan. Baru setelah itu kita bahas lagi.”
“Beneran ya?”
“Iya sayang. Kita berjuang sama-sama, oke?”
Alya mengangguk setuju. Kevin tersenyum senang, dia pun kembali merengkuh tubuh alya lagi.
“Makasih sayang.. aku sangat mencintaimu, sangat sangat mencintaimu.”
•END•
...💐💐💐...
Alya memejamkan kedua matanya saat mengingat kenangannya bersama Kevin 3 tahun lalu, dan sedetik kemudian Sebulir air bening keluar dari sudut matanya di sertai punggung kecilnya terlihat bergetar dan terdengar isakan kecil.
“maafkan aku.. hiks..” lirihnya sambil terisak.
Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, itu berarti dia sudah menangis dan duduk disana 2 jam lebih. Suasana malam itu terlihat pekat dan samar samar Alya mendengar suara gemuruh, padahal tadi sore cuacanya cukup bagus. Seolah langit pun ikut sedih begitu melihat sosok gadis yatim piatu mengenang masa lalunya yang indah.
Alya terus saja menangis, entah kenapa rasanya masih sangat sesak jika mengingat tentang masa lalunya bersama kevin. padahal kejadiannya sudah bertahun-tahun, namun seperti baru terjadi kemarin.
Grep!
Alya terkejut saat merasakan sebuah usapan lembut di kepalanya, membuat tangisannya berhenti. Dengan cepat dia menghapus air matanya lalu mendongakkan wajahnya, mata sembabnya menatap sosok pria tinggi berkulit kuning Langsat dan memiliki lesung pipi sedang menatapnya.
“Ngapain malam-malam duduk disini sendirian? belum tidur?” Tanyanya.
“A--aku hanya gak bisa tidur kak.” Alya beralasan.
“Kenapa?”
“Belum ngantuk aja, kakak sendiri kenapa ada disini?”
“Tadi kakak habis dari dapur untuk ambil minum, saat ingin balik ke kamar kakak denger suara orang lagi nangis. Karena penasaran jadi kakak cari asal suara itu tapi kakak malah lihat kamu disini.” Ucap Rendy sambil matanya tak pernah lepas dari wajah Alya yang terlihat memerah.
Seakan mengerti Alya langsung menggeleng. “T-tadi aku habis nonton drakor sedih kak, karena terlalu bawa suasana jadinya aku nangis.”
Rendy membisu sambil terus memperhatikan wajah alya, matanya menyipit menatap gadis itu curiga.
“Kamu gak lagi berbohong kan?”
Alya menggeleng, Rendy kembali diam.
“Oh iya bagaimana tentang permintaan kakak yang menyuruhmu untuk menikah dengan adiknya Rafael, apa kamu sudah mendapat jawabannya?” Tanya Rendy.
Di tanya seperti itu Alya hanya diam saja bahkan gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Kamu tetap menolaknya Al?” Tebaknya.
“Maafin aku kak.” sautnya lalu menunduk.
Rendy menghela nafas gusar kemudian dia mendudukkan tubuhnya di kursi ayunan besi itu, tepatnya di depan Alya lalu kedua tangannya meraih tangan Alya dan menggenggamnya.
“kakak tau ini pasti berat buat kamu, tapi tak ada jalan lain lagi.”
“Aku benar-benar gak bisa kak, maaf.” Alya melepaskan genggaman tangan Rendy.
“Dan itu artinya kamu lebih suka jika melihat kakakmu menikah dengan Chandra untuk menjadi istri kedua?”
Alya tersentak, dia mendongak menatap Rendy dengan wajah kagetnya. “Menikah dengan Chandra? Bukannya pria itu tak mau tanggung jawab?”
“Ya memang tapi tiba-tiba Chandra menelpon kak Rendy dan mengatakan beberapa hari lagi dia akan datang kesini bersama keluarganya untuk melamar Selena.”
“Apa kak Lena sudah tahu?”
“Sepertinya sudah, katanya sebelum menelpon kak Rendy dia sudah kasih tahu Lena tapi dia belum kasih jawaban.”
Rendy menghela nafas sebelum melanjutkan.
“Jadi kak Rendy mohon sebelum Lena kasih jawaban, kamu pertimbangkan kembali.”
Alya terdiam, Kakaknya menjadi istri keduanya Chandra? tidak! Sampai kiamat pun dia tidak akan rela.
Sejak Alya mengetahui pria itu sudah meninggalkan kakaknya dengan keadaan hamil, dia sudah membencinya tapi sekarang pria itu ingin bertanggung jawab?
Tidak! Ini tidak boleh terjadi, kakaknya tak boleh menikah dengan pria brengsek itu. tapi jika Selena tak jadi menikah dengan Chandra, itu artinya dia harus bersedia menikah dengan Kevin.
__ADS_1
“Kamu tau kan Al bagaimana ibunya Chandra membenci kakakmu seperti apa, belum lagi dengan sikap Renata yang sudah menganggap kakakmu sebagai pelakor. kakak gak bisa bayangkan bagaimana nasib dia jika sudah menikah dengan Chandra.”
Alya masih diam, dia bingung harus bicara apa. Satu sisi dia mengiyakan dengan ucapan Rendy, walaupun Alya tak pernah bertemu secara langsung tapi dia tau sedikit bagaimana sikap nyonya Rahayu yang selalu membenci kakaknya itu lewat Yuna karena kebetulan bibinya itu satu geng sosialita dengan nyonya Rahayu.
Hampir setiap pertemuan dia selalu menjelekkan kakaknya itu walaupun tak pernah menyebutkan namanya saat bersama orang lain tapi beda halnya jika sudah bersama Yuna, Namun di sisi lain dia juga tak ingin berurusan apapun lagi dengan mantan kekasihnya itu.
‘ya tuhan.. aku harus bagaimana sekarang?’
...💐💐💐...
Sementara itu di waktu yang sama, namun di tempat berbeda Kevin tampak bersitegang dengan seorang pria.
“Jadi malam ini lawanku adalah seorang tuan muda dari keluarga Dirgantara?” Ucap seorang pria tampan, dengan nada sinis.
tingginya memang sama seperti kevin, tapi berbanding terbalik dengan postur tubuhnya yang lebih kurus darinya.
Kevin memiliki tubuh proporsional, dada tegap namun sedikit besar, pinggangnya terlihat ramping bak seperti model, serta Lengan kekar kanannya terlihat bertato.
Sementara pria yang ada di depannya memiliki postur tubuh terbilang kecil namun masih memiliki otot di bagian tertentu. Berkulit putih bersih, Matanya sipit, hidung mancung dan bibir ranum berwarna merah alami.
“Kenapa, Lo takut kalah?” Ucap Kevin tak kalah sinis.
Mendengar itu Seketika pria itu tertawa. “Hahahaha.. Gue, kalah sama anak manja kayak Lo? Cih, mimpi! Gue jamin malam ini gue yang akan menang.” ucap pria itu dengan percaya diri.
“Cih, Palingan juga menang lewat jalur curang.” cibir Kevin.
“Jangan ngomong sembarangan ya! Gue gak pernah main curang!” geram pria itu sambil jari telunjuknya mengarah ke wajah Kevin.
“Oh ya, apa perlu gue beberin disini soal kecelakaan yang di alami Jakson beberapa bulan lalu sehingga mengakibatkannya Koma sampai sekarang?”
DEG!
“Sialan!” Umpatnya kesal, sementara Kevin tersenyum smirk.
“Lo jangan macam-macam kalau masih ingin hidup tenang!” Ancamnya sambil telunjuknya mengarah ke wajah Kevin.
“Wow! Wow! Wow!.. Jadi Ceritanya Lo ngancem gue nih? CK! sayangnya gue gak takut sama sekali sama Lo! Silahkan Lo lakuin apa aja yang ingin Lo lakukan, gue gak akan pernah perduli.”
Pria itu terlihat senyum sinis. “Oh ya, terus bagaimana jika gue ingin melakukan sesuatu dengan dia, apa Lo masih bilang tidak perduli?”
Pria itu mengangkat tangannya yang sedang memegang ponsel dan menampilkan sebuah foto seorang wanita, wajah kevin terlihat datar namun tidak dengan sorot matanya yang memancarkan kegusaran.
“Gue sama sekali gak perduli dengannya, lagipula gue udah punya calon istri yang jauh lebih cantik darinya.” Ucap Kevin beralasan.
Pria itu terlihat tertawa lepas kemudian mengangguk-angguk.
“Ya Lo benar, Mayra memang cantik dan... Sangat seksi.” ucapnya dengan nada berbisik di akhir kalimatnya.
“tapi coba Lo lihat, body dia juga tak kalah aduhai. Apalagi itu dada besarnya itu, duh sepertinya dia lumayan juga buat jadi partnerku di ranjang, pasti rasanya sangat nikmat karena gue yakin dia pasti masih perawan. Ah.. membayangkannya saja sudah membuatku bergairah.. hahaha..”
‘brengsek!’ umpat Kevin dalam hati.
Kedua tangan Kevin terlihat mengepal menahan geram setelah mendengar ucapan vulgar pria di depannya, ingin rasanya dia meninju Wajahnya sampai babak belur. sorot matanya menatap wajah pria yang ada didepannya itu dengan tajam, kedua rahang tegasnya mengeras. Saat ini Kevin terlihat seperti seekor harimau kelaparan yang melihat mangsanya dan siap menerjangnya.
Melihat itu Mingyu yang sedari tadi memperhatikan mereka langsung berjalan mendekat, dia sedikit khawatir dengan emosi Kevin yang mulai tersulut karena termakan ucapan lawannya. Di tambah saat ini Kenzo sedang tak bersamanya, dia pasti akan kewalahan.
“Kontrol emosi Lo Vin! Dan jangan ladeni omongannya, Lo tau sendiri kan dia kayak apa?” Bisik mingyu.
Kevin menatap nyalang ke arah mingyu. “Ini juga salah Lo sendiri, kenapa gak bilang sama gue kalau lawan gue adalah dia!” Desis kevin.
“Iya-iya sorry gue gak bilang dulu, sebenarnya lawan Lo adalah Zidan tapi berhubung dia gak bisa datang jadi gue minta dia yang menggantikan.” ucap mingyu menjelaskan, dia sedikit ngeri menatap wajah Kevin yang terlihat murka.
Dari dulu Kevin memang gampang terprovokasi, di tambah dia Memiliki emosional yang tinggi. jadi tak heran jika dia gampang terhasut dengan omongan orang lain dan marah-marah.
Kevin mendengkus. “Setelah ini gue bakal bunuh Lo. dasar penyu!”
“Dan Lo!” Kevin menunjuk tepat ke wajah lawannya. “gue bakal kalahin Lo!”
“Kita lihat saja nanti.” ucapnya sambil menyeringai kemudian berbalik badan lalu berjalan menuju mobilnya.
Sama halnya dengan pria itu, Kevin juga berjalan menuju mobilnya. Tak lama setelah itu Suara derungan mobil di sertai teriakan para penonton mulai bersautan meramaikan tempat yang sedang di adakan balap liar itu.
Beberapa saat kemudian datang seorang wanita cantik berpakaian seksi membawa sehelai kain, dia berdiri di tengah-tengah antara mobil Kevin dan lawannya. Sebelah tangannya yang memegang kain terulur ke bawah sambil sedikit membungkukkan badannya sehingga dada montoknya terlihat sambil mengerling ke arah mobil kevin, sepertinya wanita itu ingin menggodanya namun nyatanya gagal.
bukannya tergoda, Kevin malah menatapnya dengan tatapan jijik.
“Semua wanita sama saja, Murahan!” Cibir Kevin.
Sementara Di dalam mobil lainnya Pria yang menjadi lawan Kevin malam ini terlihat begitu gelisah di kursi kemudinya. Bukan karena takut kalah tapi melihat pemandangan yang menurutnya indah, bahkan saat ini inti tubuh bawahnya sudah mengeras dan minta di puaskan namun dia harus bisa menahan hasratnya jika ingin menang.
Wanita itu mulai menegakkan tubuhnya lalu berbalik badan kemudian tangannya terangkat melempar kain itu ke udara dan detik itu juga dua mobil sport itu mulai berjalan dengan kecepatan tinggi.
Kevin terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh untuk mendahului mobil lawannya yang sudah berjalan cukup jauh. Suasana jalan itu terlihat senyap dan rawan penerangan, karena selain waktu sudah hampir tengah malam, tempat itu juga cukup jauh dari keramaian.
Saat mobilnya hampir mendahului mobil lawannya tiba-tiba pandangannya melihat sosok wanita Cantik yang tak asing baginya, wanita itu memakai baju panjang berwarna putih menyerupai seperti gamis, rambut hitam panjang lurusnya di biarkan terurai dan terombang-ambing karena tertiup angin.
wanita itu berdiri di samping pohon Cemara sambil tersenyum teduh, sehingga terlihat sangat cantik bercahaya namun terkesan aneh. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar, Kevin melihat ada kesedihan di wajah wanita itu. Kevin menjadi tidak fokus dan tanpa sadar dia mulai menurunkan laju mobilnya. Namun saat mobilnya sudah benar-benar berhenti, sosok wanita itu menghilang entah kemana.
“Kemana dia?” Gumam Kevin sambil celingukan mencari sosok wanita itu namun nihil, tak ada satupun orang Disana kecuali dirinya.
Seketika Kevin tersadar, dia berdecak kesal karena mobil lawannya malam ini sudah tak terlihat lagi dan sudah bisa di pastikan dia sudah kalah.
“Shit!”
Dengan kesal dan mulutnya yang komat Kamit Kevin mulai kembali menjalankan mobilnya menuju area balapan.
“Lo kalah Vin.” ucap mingyu saat Kevin keluar dari mobilnya dengan wajah ditekuk.
“Udah tau!” Ketus Kevin. Matanya menatap tajam ke arah lawannya yang sedang di kerubungi oleh teman-temannya dan menatapnya dengan senyum mengejek.
“Gue gak nyangka ternyata dia bisa kalahin si Seagull, apa Lo lupa servis Vin?”
seagull adalah nama mobil yang Kevin kendarai malam ini.
Kevin hanya diam saja, dia tak akan mengatakan kenapa dia bisa kalah.
“Gue mau balik!” Ucap Kevin lalu kembali masuk ke mobilnya dan langsung melajukannya dengan kecepatan tinggi tanpa mau mendengarkan balasan dari mingyu.
“Brengsek!” umpat Kevin kesal sambil memukul-mukul setir, namun seketika wajahnya berubah menjadi serius saat mengingat sesuatu.
Dengan cepat Kevin meraih ponselnya dan menelpon Kenzo.
__ADS_1
“Ken, besok datang ke apartemen gue! Kita percepat saja ren--Apa! Oke, gue kesana sekarang!”
Setelah itu Kevin dan Kenzo sama-sama memutuskan panggilannya. Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, raut wajahnya terlihat khawatir, entah apa yang dia khawatirkan.