TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 61~Kevin Gay?


__ADS_3

“sampai bertemu di kelas berikutnya, selamat siang.” ucap sang dosen, kemudian beranjak bangun dari kursinya dan berlalu keluar kelas.


Semua mahasiswa yang ada di kelas itu pun melakukan hal yang sama, mereka mulai membereskan buku dan alat tulis mereka setelah membalas ucapan sang dosen.


Tak terkecuali juga Alya yang langsung memasukkan barang-barangnya ke dalam tas rangselnya, sejenak gadis itu meraih ponselnya yang ada di meja saat ada pesan masuk dari grup chat dengan kedua sahabatnya.


Mereka mengatakan jika sudah menungguinya di dekat kolam, gegas Alya pun membalasnya.


{Kelas gue baru selesai, gue keluar sekarang juga.}~alya.


Selesai berbalas pesan di grup, Alya keluar dari Room chat itu. Kemudian di bawahnya dia melihat ada kontak dari Kevin, suaminya itu mengirimkan dua pesan.


Seketika Senyum manisnya terbit di wajah cantiknya saat membuka isi pesannya, disana suaminya itu mengirim satu foto makanan dengan tulisan..


{Aku sudah makan, jadi kamu bisa tenang sekarang.}~kevin.


Kevin mengirim pesan itu waktu jam 12 siang, dan sekarang sudah jam setengah 3 sore. Itu artinya suaminya itu mengirim pesan itu 2 jam yang lalu, Alya tak sadar saat Kevin mengirim itu karena tadi ponselnya berada di dalam mode silent.


Dengan hati yang senang, Alya pun membalasnya.


{Emm.. syukurlah, lain kali kalau bisa sebelum berangkat ke kantor sarapan dulu atau nanti aku akan buatkan bekal.}~alya.


Ia sudah bertekad sebelum menjalani aktivitasnya, dia akan mendahului keperluan suaminya dulu. Meski tak semuanya, tapi itu tak masalah baginya. Setidaknya ia masih bisa menjalani tugasnya sebagai istri.


Setelah pesannya terkirim Alya melihat status WhatsApp Kevin aktif, Namun pesannya tak kunjung di baca.


‘udahlah, mungkin dia sedang menelpon seseorang lewat ponselnya.’ batin Alya menerka, dan berusaha berpikir positif.


Alya memasukkan ponselnya ke dalam tas, meraih tongkatnya kemudian beranjak bangun.


Melihat Alya sudah jalan duluan, membuat Andreas yang tadi juga membereskan buku-bukunya, bergegas menyusul langkah gadis itu.


“alya, tunggu!” serunya menggema, dan itu berhasil membuat Alya berhenti dan menoleh padanya.


“ada apa?” tanyanya saat pria itu sudah berada di dekatnya.


Alya perlu mendongak agar bisa menatap wajahnya karena Andreas memiliki postur tubuh sedikit lebih tinggi darinya.


“ah.. Emm, kamu mau langsung pulang?” jawab Andreas, di akhiri dengan balik nanya.


“iya.”


“gak mau pergi kemana dulu gitu, ini masih sore. Masih ada waktu buat bersenang-senang.” ucap Andreas, sambil menyeringai.


“maaf ndre, aku gak ada waktu buat melakukan itu. Aku lebih suka diam di rumah sambil menunggu kepulangan suamiku, daripada keluar keluyuran gak jelas!”


Andreas diam, ekspresi wajahnya berubah datar kala mendengar kata suami. Untuk sesaat ia lupa jika gadis pujaannya itu sudah menikah, padahal tadi ia sudah memiliki rencana mau mengajaknya keluar.


Yah, meski dia tahu ajakannya selalu di tolak oleh alya tapi Andreas tak akan menyerah sebelum keinginannya untuk memiliki Alya seutuhnya terwujud.


“ah.. maaf, aku lupa jika kamu sudah menikah. Tapi.. gak apa-apa kan kalau telat sedikit, suamimu itu pasti paham. Kamu masih muda dan butuh hiburan, ya.. itung-itung jalan-jalan sore.”


Meski mengetahuinya dan sudah tertolak, tetap saja Andreas masih berharap. Selama bendera kuning belum berkibar, maka selama itu Andreas akan terus berjuang!


“tetap gak bisa ndre, lagian apa kamu gak lihat aku kayak apa? Kakiku lagi cedera, kata dokter aku gak boleh gerak terlalu banyak. Masuk kuliah juga aku harus maksa Kevin dulu buat kasih ijin.”


Mendengar kata Alya, membuat mata sipit Andreas menunduk dan menatap kaki kanan Alya yang memang di perban sangat tebal.


Saat pertemuan pertama mereka waktu di pesta Andreas memang tak tahu soal kakinya yang cedera karena tertutup gaun, namun kali ini Alya memakai rok pendek di atas lutut sehingga memperlihatkan salah satu kakinya yang cedera.


“kaki kamu kenapa?” tanyanya dengan nada kaget.


“cedera ringan aja, udah ya aku pulang duluan. Udah di tunggu teman soalnya.”


Alya sudah siap berbalik badan, namun dengan cepat Andreas mencekal lengannya.


“apa lagi?” tanya Alya seraya menepis cekalan Andreas, dan beringsut mundur.


“aku mau tahu tanya soal pernikahanmu, itu semua benar? Ini bukan prank kan?” tanya Andreas.


Hingga saat ini Andreas memang masih belum bisa mempercayai itu, meski jagat Maya sudah heboh dengan rumor pernikahan mereka. Mungkin karena hingga saat ini Kevin belum memberi klarifikasi tentang pemberitaan itu, juga belum ada bukti tentang kapan dan dimana pernikahan itu selenggarakan.


Di sudut hatinya selalu beranggapan kalau itu hanyalah settingan, seperti apa yang selalu para artis ibu kota lakukan untuk menunjang popularitasnya. Dan Andreas pikir Alya juga melakukan hal yang sama agar namanya tenar, terlebih kevin berasal dari keluarga kaya dan terpandang.


“Gak! Semua pemberitaan itu benar. Aku sudah menikah dengan Kevin!” tegas Alya, seraya memperlihatkan cincin pernikahannya.


Namun Andreas malah tersenyum smirk, dia tidak akan percaya jika hanya di kasih bukti cincin saja. Bisa saja cincin yang Alya pakai bukan asli cincin pernikahan, itu mungkin hanya cincin biasa yang di desain seperti cincin pernikahan sungguhan.


“aku bukan anak kecil yang bisa kamu tipu, aku tahu itu hanya cincin biasa! Oh, Jangan bilang ini hanyalah pernikahan settingan saja supaya kamu bisa menghindar dariku. Iya?” tuduhnya sambil memicingkan matanya.


Kening Alya berkerut setelah mendengar ucapan Andreas, dadanya bergemuruh. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran pria yang ada di depannya itu.


“untuk apa aku melakukan itu, gak ada gunanya! Aku sama Kevin memang sudah menikah, kami menikah memang gak menggelar pesta dan pernikahan kami sudah sah di mata hukum maupun negara! Jadi mulai sekarang menjauhlah dariku dan jangan menuduh yang tidak-tidak!” serunya dengan sedikit emosi.


Sejenak Andreas terhenyak, ia seperti kaget dengan reaksi Alya yang terlihat marah karena ucapannya.


“aku--”


Drrttt..


Belum sempat ucapan andreas terurai sudah terdengar suara getaran, dan itu berasal dari tas Alya. Dengan cepat gadis itu pun merogohnya dan meraih ponselnya, jarinya langsung menggeser tombol hijau setelah mengetahui jika Kevin yang menelponnya.


“ya, Vin..” sapa Alya setelah panggilannya tersambung.


[Udah selesai kan kuliahnya?]


Alya mengangguk, meski ia tahu Kevin pasti tak akan bisa melihatnya. “udah, barusan aja. Kenapa?”

__ADS_1


[Langsung pulang, bentar lagi mau hujan! Sebelum jam 5 aku sudah pulang.]


Alya pun langsung menatap ke arah luar, menatap langit. Memang benar, di atas sana awan putih sudah di selimuti kabut hitam, dan juga Alya merasakan anginnya sedikit kencang.


“iya..”


Setelah itu sambungan teleponnya berakhir, dan bukan Alya yang mengakhirinya melainkan suaminya. Padahal gadis itu masih ingin bicara.


“maaf ndre aku gak bisa nemenin kamu, Kevin udah nyuruh aku cepat pulang. Aku permisi..”


Bergegas Alya langsung balik badan, meninggalkan Andreas yang masih mematung di tempat dengan wajah kakunya.


“kenapa bisa pas gitu sih.” gerutunya kesal.


Namun sedetik kemudian ia tersenyum smirk. “ tapi tak apa-apa hari ini gagal, masih ada hari esok dan gue akan coba lagi.”


Sementara itu di lorong kampus, Sean yang melihat Alya sudah keluar dari kelas segera menghampirinya dan membututinya. Saat tiba di halaman depan, ia melihat kedua sahabatnya sedang duduk di anak tanjakan dekat kolam sambil merebutkan sesuatu. Tak lupa juga dengan suara pekikan mereka, yang mana itu membuat perhatian mahasiswa lain beralih ke mereka.


“udah kayak tom dan Jerry aja mereka ini, selalu aja ribut tapi endingnya malah kembali akur.” gumamnya sambil geleng-geleng kepala.


Sean yang berdiri di belakang Alya dan melihat adegan itu pun ikutan geleng-geleng kepala, dan sudut bibirnya terangkat sedikit.


“kalian masih ada kelas lagi?” tanya Alya saat sudah di depan mereka, dan kedua sahabatnya itu menggeleng.


“ya udah kalau gitu, yuk pulang sekarang. Tadi Kevin udah nelpon gue harus cepat-cepat sampai apartemen, karena bentar lagi mau hujan.”


Sejenak arina dan Jessica diam dan saling pandang, lalu kembali menatap Alya.


“oke, let's go!” serunya dengan penuh semangat, seraya bangun dari posisinya, lalu di susul Jessica.


Saat tiba di parkiran, Jessica langsung menelpon mama-nya untuk menyuruh supir mengambil mobilnya di kampus, karena ia akan ikut naik ke mobil Alya sekaligus meminta izin akan pulang telat.


arina pun begitu, ia menelpon bundanya untuk meminta izin, dan langsung di iyakan.


Setelah itu mereka semua masuk mobil, tak berselang lama mobil yang di klaim arina milik Alya itu mulai berjalan untuk meninggalkan area parkiran kampus.


...💐💐💐...


sementara itu Rafael, Selena, aji, Marissa, kakek Fandy dan satu suster sudah tiba di bandara Incheon, mereka mendarat di negara ginseng itu sekitar beberapa menit yang lalu.


Aji dan Rafael terlihat jalan di depan sambil mendorong troller yang berisi koper-koper mereka, sedangkan Selena, Marissa, kakek Fandy dan suster membuntutinya di belakang.


Dengan santainya mereka berjalan, tak perduli jika tak jauh dari jarak mereka ada segerombolan wartawan yang sudah berbaris rapi. Bidikan cahaya dan suara jepretan kamera tak henti-hentinya berhenti mengiringi langkah mereka.


Meski sebelumnya tak ada informasi apapun tentang kepulangannya, namun wartawan itu seakan seperti paranormal yang selalu tahu apa saja yang mereka lakukan.


Tak berselang lama, datang beberapa pria berbadan kekar dan tinggi, serta memakai pakaian serba hitam. Mereka yang tak lain adalah bodyguard keluarga dirgantara, langsung merubungi untuk melindungi keluarga itu dari bahaya, mewanti-wanti jika terjadi sesuatu yang tak terduga.


Terlebih sekarang ada anggota baru, yaitu Selena yang saat ini di kabarkan mengandung calon cucu pertama keluarga dirgantara.


Selena yang kala itu memakai masker putih dan topi hitam hanya merespon mereka dengan lambaian tangan dan anggukan, hatinya menghangat karena para fans-nya masih ada yang menyukainya meski pernah mendapat skandal buruk.


Selena juga sempat melihat beberapa postingan fans-nya di sosial media yang mengabarkan tentang pernikahannya, mereka semua mendukung serta mendoakan agar pernikahannya awet hingga tua, serta tak lupa juga mereka memberi doa untuk calon anaknya.


pandangan aji beralih ke putra sulungnya, dan berkata. “apa kalian akan langsung menempati rumah baru, atau pulang dulu ke Busan?” tanyanya.


“langsung aja.” jawab Rafael singkat dan tanpa menoleh ke arah Aji.


Aji manggut-manggut. “tapi kalian harus menginap dulu di sini, kan Hani udah siapkan semuanya.”


“iya.”


Sebelum pulang ke Busan, aji, Marissa dan kakek Fandy memang akan menetap dulu di rumah yang ada di Seoul yang kini di tempati oleh Hani bersama suaminya. Akan ada pesta kecil-kecilan disana, untuk menyambut kedatangan Selena dan calon bayinya, serta mengenalkan wanita itu ke keluarga besar Tamara.


Jauh sebelum skandal Selena dan Chandra beredar, Rafael memang sudah membeli satu rumah. Awalnya rumah itu akan dia hadiahi untuk Dylan di ulang tahunnya 3 bulan lagi, namun ia urung karena adiknya itu menolaknya saat di beri tahu.


Niat sebenarnya ia membeli rumah itu agar Dylan bisa menetap lama di Seoul dan bisa menjalani perusahaan yang sudah kakeknya kasih, namun seperti pada sebelum-sebelumnya Dylan tetap menolaknya dan akan mengelola perusahaannya sendiri yang ada di China.


Jadi daripada di biarkan kosong, lebih baik dia tempati bersama Selena. Dia juga ada niat ingin mengajak manager dan asisten Selena untuk tinggal disana, itung-itung untuk menemaninya saat dirinya pergi bekerja.


Saat tiba di halaman depan bandara, Rafael yang kala itu berdiri di samping aji perlahan jalan mundur. Kemudian ia jalan menghampiri Selena dan berdiri di sampingnya, tangan kekarnya meraih tangan wanita itu dan menuntunnya untuk menggandeng tangannya.


“mas!” bisik Selena, ia mendongak untuk menatap suaminya dengan tatapan kaget.


“Sssttt..” Rafael menempelkan jari telunjuknya di depan permukaan maskernya tepat bibirnya, memberi instruksi pada istrinya untuk diam.


“cobalah lihat dia arah jam sembilan, disana ada Chandra dan renata.” Bisiknya.


Tanpa kata Selena langsung menoleh ke arah yang di maksud, ia kembali kaget disana memang ada Chandra dan Renata memakai pakaian tebal dan masker. Bukan hanya mereka berdua saja, tapi disana juga ada putranya, Arjuna dan kedua orang tuanya.


Selena tak menyangka jika mereka juga akan pulang ke Korea di hari yang sama, ia langsung memalingkan wajahnya saat Chandra menoleh ke arahnya.


“aku gak tau kalau mereka juga akan pulang bersama kita, mas.” ucap Selena sambil menatap Rafael. “apa tadi mereka satu pesawat dengan kita?” Tanyanya.


Rafael mengangguk. “iya, tapi beda kelas.”


Kemudian Rafael menurunkan tangan Selena, kini ia beralih merengkuh pinggangnya dan mengajak Selena untuk masuk mobil, mereka berdua duduk di kursi belakang bersama kakek Fandy.


Sementara Chandra hanya diam sambil menatap kepergian Selena dan Rafael dengan tatapan nanar, namun percayalah kedua tangannya yang ia masukkan ke saku mantel tebalnya sedang mengepal erat.


“malam ini kita akan menginap di rumah Hani dulu, baru besoknya kita akan pulang ke rumah.” ucap Rafael saat mobil yang mereka naiki sudah berjalan.


Mendengar itu Selena mendongak, keningnya berkerut. “rumah? Jangan bilang mas akan membawaku pulang ke Busan? Itu kejauhan mas!”


Rafael menggeleng sambil sebelah tangannya mengusap puncak kepala Selena. “bukan di Busan, tapi di Seoul. Aku sudah membeli rumah beserta isinya untuk kita tempati, tapi aku minta maaf karena nantinya aku gak bisa menemanimu 24 jam. Aku harus mengurus beberapa tugas kantor yang ada di Busan dulu, saat udah selesai aku akan pindah kerja disini.”


“oh begitu, aku kira rumah yang ada di busan.”

__ADS_1


“bukan. aku janji akan secepatnya di selesaikan, dan selama itu aku akan sempatkan pulang. Nanti aku akan menyuruh manager dan asistenmu untuk tinggal disana.”


“iya mas. Apa letaknya jauh dari agensi?”


“lumayan, karena rumah itu berada di pinggiran kota tapi masih dekat pusat perbelanjaan.”


Selena manggut-manggut. “tapi.. apa gak masalah jika mas pindah kesini, nanti yang urus perusahaan disana siapa?”


“papa yang akan mengelolanya, sedangkan disini aku akan mengelola anak perusahaan kakek yang tadinya akan di kasihkan ke dylan.”


“lalu kapan mas akan berangkat ke Busan?”


“setelah kita beres pindahan, aku akan langsung pulang kesana. Nanti selama aku tinggal, kamu baik-baik ya. Kabarin aku langsung kalau terjadi sesuatu.”


Selena mengangguk. “iya mas.”


...💐💐💐...


Mobil Pajero yang di naiki Sean, Alya dan kedua sahabatnya kini sudah memasuki baseman yang ada di gedung apartemen.


Dari dalam mobil, mata arina melotot ke jendela saat melihat jejeran mobil mewah yang entah milik siapa. Padahal di kampus ia sering melihat mobil dengan model begituan, tapi tetap saja ia merasa tercengang.


“tutup mulut Lo itu sebelum air liurnya menetes dan mengotori mobil Alya, bisa abis kena denda Lo sama Kevin.” cibir Jessica yang menyadari arina tengah menatap takjub ke jejeran mobil yang terparkir.


Arina yang kala itu duduk di depan samping Sean, mencebikkan bibirnya seraya menoleh ke belakang.


“rese Lo! Ganggu kesenangan gue aja!” gerutunya sambil manyun.


Sementara Alya hanya terkekeh, kemudian dia mengajak kedua sahabatnya untuk keluar dari mobil, lalu masuk ke gedung. Di ikuti oleh sean di belakang, sambil matanya begitu awas memperhatikan area sekitar.


Sepanjang jalan menuju lift hingga kini mereka sudah berada di lantai dimana unit Kevin berada, arina tak henti-hentinya berdecak kagum. Gedung apartemen yang Kevin dan Alya tempati memang terbilang mewah, setiap sudut interiornya terlihat sangat elegan.


Kekaguman arina tentang apartemen itu semakin menjadi-jadi saat ia sudah memasuki unitnya, matanya semakin melebar begitu melihat segala furniturnya.


“ini seriusan apartemen? Kok kayak istana gini sih!” pekiknya, sambil memutar-mutar tubuhnya dengan matanya yang semakin melebar.


Kedua kaki gadis itu yang memakai sepatu kets warna putih tak bisa diam, dia terus bergerak sana-sini. keluar dan masuk ruangan, Begitupun dengan kedua tangannya yang selalu menyentuh apapun yang dia lihat, sambil bibirnya yang terus mengeluarkan kata 'wah'. Pokoknya dia memeriksa semua yang ada disana, termasuk gudang dan dapur pun dia masuki.


“norak amat sih dia, padahal dia juga sering lihat kayak gini dirumah gue.” gerutu Jessica pelan, ia sudah duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


Alya yang mendengar itu terkekeh geli, arina memang seperti itu. Selalu heboh! Kemudian dia juga ikutan duduk di sofa seberang, menaruh tas dan kruknya di samping.


“arina cepat sini, udah cukup kagumnya. Ingat kata Kevin, jangan bikin rusuh!” teriak Jessica mengingatkan, karena saat ini Arina sedang berada di lantai atas.


Jessica khawatir jika gadis bar-bar itu akan merusak sesuatu yang penting, dan Kevin akan menyalahkannya karena tak bisa memantau pergerakan arina.


Dengan langkah riangnya gadis tomboy yang memakai pakaian casual itu langsung turun, menghampiri kedua sahabatnya dan ikut duduk di samping Alya.


“kak Sean, tolong kasih tau mba intan untuk buatkan minuman.” titah Alya dengan nada suara sopan.


“baik, nona.” setelah itu Sean beranjak pergi menuju dapur.


“kamar Lo dimana Al?” tanya Arina.


“di atas. Kenapa?”


“gak ada, pengen nanya doang. Tadi gue lihat di atas ada dua kamar dan gue lihat isinya luas banget.”


“Lo lihat kamar sebelah mana? Kamar gue berada di kiri.”


“dua-duanya gue udah lihat. Eh tunggu, tapi Lo bilang apa? Kamar Lo?”


Dengan wajah polosnya Alya mengangguk, arina memicingkan matanya.


“kalian berdua pisah kamar?” tebaknya, dan Alya langsung mengangguk.


Arina dan Jessica yang mendengar itu memekik kaget.


“lah, kenapa meski pisah kamar sih? Kalian kan udah sah!” ucap Jessica heran.


“kalau kalian pisah kamar gini, kapan coba gumpalan lemak lucunya jadi!” keluh Arina.


Alya tak menjawab, dia hanya garuk-garuk kepalanya. Bingung juga dia mau jawab apa, masa iya dia harus bilang jujur soal surat perjanjian itu.


Jessica dan arina memang sudah mengetahui alasan kenapa Kevin mau menikahinya, tapi mereka tak tahu tentang surat perjanjiannya.


“kenapa Lo diem sih, dan juga kenapa dengan wajah Lo itu?” tanya Jessica.


“E..enggak kok, gue gak apa-apa.” elak Alya.


“terus kenapa kalian pisah kamar? Apa jangan-jangan kalian sedang berantem ya?”


Alya langsung menggeleng. “enggak kok, kami baik-baik aja.”


“lalu kenapa?”


“y-ya gak apa-apa, emang kenapa sih kalau suami istri tidurnya pisah?”


“aneh aja gitu, kalian udah nikah tapi tidurnya beda kamar. Orang lain yang gak ada hubungan apapun aja bisa tidur bareng, bahkan sampe menghasilkan anak! Ini kalian udah nikah, mau di apa-apain juga gak masalah tapi malah pisah kamar!”


“oh.. atau jangan-jangan kevin gay, makanya dia gak mau satu ranjang sama Lo!”


DEG!


Mendengar tebakan Jessica membuat mata Alya melebar, jantungnya berdebar tak karuan.


‘masa sih Kevin udah gak suka perempuan?’

__ADS_1


__ADS_2