TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 12~Kedatangan Rafael


__ADS_3

BEBERAPA JAM SEBELUMNYA...


Di sebuah kamar yang luas dan mewah, terlihat sosok wanita dewasa sedang duduk di bibir ranjang. Sebelah kiri tak jauh dari tempatnya terdapat ada suster cantik berdiri, sementara diranjang yang berukuran king size itu terdapat ada sosok pria tua yang tengah terbaring lemah dengan selang pernafasan yang menutupi hidungnya.


“Bagaimana keadaan papa?” Tanya wanita itu dengan suara lirih.


Pria tua itu tidak berbicara, hanya mengedipkan matanya dan sedikit menggerakkan kepalanya tanda merespon, seakan dia mengatakan jika dia baik-baik saja.


wanita yang duduk di samping ranjangnya itu langsung tersenyum tipis.


“Papa harus cepat sembuh agar nanti bisa melihat Kevin menikah.” Ucap wanita itu sambil tangan mulusnya mengusap tangan keriput itu, lalu menghela nafas berat.


“Aku minta maaf, aku gak bisa menggagalkannya.” Lirihnya dengan wajah sendu.


Terlihat sudut mata pria itu mengeluarkan air mata, tanda respon. Segera wanita itu meraih tisu yang ada di meja nakas samping ranjang, lalu mengusapnya pelan ke mata pria tua itu.


“Papa jangan menangis, Aku janji akan terus berusaha membujuk mas Aji untuk membatalkan rencananya. jadi papa gak usah khawatir yah.” ucapnya dengan nada lembut.


Terdengar helaan nafas lemah yang keluar dari bibir pria tua tersebut, kemudian memejamkan matanya sejenak.


“Ya sudah papa istirahat yah biar cepat sembuh, aku mau temui anak-anak dulu.” Pamitnya.


Setelah mengatakan itu, dia mencium punggung tangan pria tua itu lalu mencium keningnya sedikit lama.


Wanita itu adalah Marissa Larasati, menantu satu-satunya keluarga dirgantara. Sementara pria tua yang tengah berbaring itu adalah Fandy dirgantara.


Sebenarnya nama lahirnya adalah Choi Soo Yeon, namun semenjak menikah ia mengganti nama menjadi Fandy dirgantara. Nama dirgantara sendiri adalah nama marga ayahnya, yang asli orang Indonesia.


Fandy hanya memiliki satu anak yang di beri nama setyoadji putra Dirgantara, istrinya adalah asli orang Belanda namun ada blasteran Indonesia. dan kini istrinya yang bernama Kimberly sudah meninggal saat aji berusia 20 tahun karena sakit kanker rahim.


Dulu Fandy juga punya menantu, namanya Tamara Zein. Seorang wanita cantik blasteran Amerika-korea, namun sayang umurnya tak panjang. Tamara meninggal setelah melahirkan kevin, karena dia mengalami pendarahan hebat. Sebulan Setelahnya Marissa menikah dengan Aji, itu pun atas dasar keterpaksaan.


pada saat itu Kevin kecil sangat membutuhkan sosok ibu, aji dan Fandy yang sama-sama sibuk di kantor tak bisa menjaganya 24 jam dan Rafael juga tengah sibuk dengan sekolahnya.


memang sudah ada baby sitter, namun tetap saja dia tak sepenuhnya percaya. Ditambahnya maraknya penculikan anak yang tersangkanya kebanyakan menyamar sebagai pengasuh, jadi Fandy memutuskan untuk menikahkan anak tunggalnya dengan sahabat mantan istrinya.


Fandy menikahkan Marissa dengan aji bukan semata-mata karena Kevin, tapi karena Marissa sudah memiliki anak dari aji bernama Dylan Abhimanyu Dirgantara yang kala itu sudah berumur satu tahun.


Marissa bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekat ke arah suster hana.


“Suster, tolong jaga papa, jika nanti mas Aji menemui papa tolong awasi dan jika ada hal yang menjanggal segera laporkan ke saya. Saya tidak mau kejadian kemarin terulang lagi.” Ucap Marissa dengan suara pelan.


Suster hana mengangguk paham. “Baik, nyonya.”


Setelah itu Marissa berlalu keluar. Dia berjalan ke arah ruang keluarga, senyumnya merekah saat melihat Kevin sedang duduk sendirian di sofa panjang sambil menonton tv.


Waktu terasa berlalu begitu cepat, hingga tak terasa bayi laki-laki yang dulu nampak masih merah, yang dulu dia sering gendong, dia ajak bicara dan berjalan itu sekarang sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang tampan dan sebentar lagi akan menikah.


“Ngapain sayang?” Tanya Marissa setelah duduk di sampingnya, sebelah tangannya mengusap lembut kepalanya.


Kevin menoleh sekilas, lalu kembali menatap layar tv.


“Nonton berita.” jawabnya dengan datar, begitu pula dengan raut wajahnya.


“Sudah makan?” Tanyanya lagi.


“Udah.” jawabnya tanpa menoleh.


Marissa manggut-manggut.


“Bagaimana dengan persiapan pernikahanmu?” tanyanya kemudian.


“Sudah 90%, tinggal sebar undangan aja.” jawab Kevin dengan malas.


Di saat pria lain begitu antusias menyambut dan membicarakan hari bahagianya, beda halnya dengan Kevin, dia begitu malas membahasnya. Andai saja dia menikah dengan wanita dicintainya, tentu beda cerita.


Marissa diam sejenak, dia paham dengan reaksi Kevin yang terlihat ogah-ogahan. sejak kepulangannya dari Inggris dua tahun lalu, sifat Kevin memang berubah total dan dia tentu tahu apa alasannya.


Meskipun begitu ia tidak akan ikut campur, Marissa yakin jika sekarang Kevin pasti sudah bisa memilih mana yang terbaik atau tidak untuk hidupnya.


“sayang, Jika kamu terpaksa sebaiknya batalkan saja, mama gak mau kamu menyesal nantinya.” Ucap Marissa.


Sebelum menjawab Kevin menghela nafas. “Kalau itu bisa, udah dari awal di batalin. tapi nyatanya gak bisa!”


“masalahnya hanya perusahaan saja kan? kamu bisa minta bantuan sama Dylan atau gak om Haris, mereka pasti akan bantu.”


Mendengar itu Kevin diam sejenak sambil melirik ke Marissa. “apa papa gak bilang apapun lagi soal perusahaan sama mama?”


“enggak tuh.”


Kevin tak langsung menjawab, dia mendengkus dan raut wajahnya terlihat kesal. ‘ternyata dia sengaja melakukannya!’ batinnya menggerutu.


“kenapa kamu diam? apa ada hal lain lagi yang terjadi?” tanya Marissa dengan raut wajah cemas.


“gak ada ma, cuma..”


“cuma apa?”


“beberapa bulan yang lalu grandma datang kesini kan?”


“iya, beliau memang datang untuk menjenguk kakek.”


“asal mama tahu, alasan grandma tiba-tiba datang bukan hanya ingin menjenguk kakek, tapi dia juga ingin mengontrol perusahaan sekaligus ingin menanyakan langsung perihal masalahnya. papa pun mengatakan yang sebenarnya, setelah itu grandma sempat marah dan menghina papa. namun pada akhirnya dia menawarkan bantuan, tapi papa menolaknya.”


kening Marissa berkerut. “Loh, kenapa?”


Kevin mengangkat sebelah bahunya. “entahlah.”


“kamu tau darimana soal ini?” tanya Marissa dengan mimik serius.


“grandma sendiri yang bilang sama aku. dan satu lagi, selain grandma, om haris dan Darren juga sebenarnya sudah menawarkan bantuan tapi papa tetap menolaknya!” jawab Kevin.


Mendengar penjelasan Kevin, Marissa menegakkan badannya, wajahnya merona marah.


“keterlaluan sekali papamu itu, sepertinya dia sengaja melakukannya agar kamu dan anaknya pak Ryan bisa menikah! ini tak bisa dibiarkan, mama akan bicara padanya.” Ucap Marissa bersungut-sungut.


Marissa sudah siap bangun, namun Kevin menahannya. “Udahlah mah biarin aja, udah terlanjur juga. Aku gak mau kondisi perusahaan semakin down jika perjodohan ini dibatalkan.”

__ADS_1


“Tapi kamu kan gak mencintai Mayra sayang.”


“Cinta akan datang dengan sendirinya mah. Kalau pun tidak, yah.. mungkin sudah nasibku seperti ini.”


Wajah Marissa terlihat muram. “Tapi sayang..”


“Kakek baru saja baikan ma, aku gak mau karena masalah ini kondisi kakek kembali drop. Selain itu aku juga gak mau mama dan papa ribut.”


“gak apa-apa nak, kami sudah biasa ribut. Lagipula mama mana tega lihat kamu menikah dengan wanita yang tak sama sekali kamu cintai, mama pengen lihat kamu bahagia sayang..”


“seperti apa yang aku katakan tadi, cinta akan datang jika sudah biasa. Meski aku gak yakin, tapi setidaknya aku akan berusaha.”


Marissa membisu, dia menatap anak sambungnya dengan sendu. “kamu yakin?”


Kevin mengangguk. Marissa menghela nafas.


“Ya sudah jika itu sudah jadi keputusan kamu mama akan dukung, tapi jika kamu tidak sanggup jangan di paksakan.” ucap Marissa.


Kevin mengangguk paham. Marissa mengusap lembut kepala anak sambungnya itu.


‘kasihan sekali kamu nak, kamu harus menjadi korban atas keeoisan papamu sendiri. ara.. tolong beri aku petunjuk apa yang harus aku lakukan?’ gumam Marissa dalam hati, kemudian Wanita itu menghela nafas berat.


“Oh iya abangmu mana?” Tanyanya.


“Tadi sih ada di kamar.” Sahut Kevin.


Marissa mengernyit. “ngapain? Perasaan seharian ini mama perhatikan kakakmu itu di kamar terus, keluar cuma mau makan doang. Gak kayak biasanya?”


“mungkin lagi sibuk kepoin mantan.”


Mendengar itu Marissa tertawa kecil. “Kamu ini ada-ada aja, sejak kapan abangmu yang satu itu punya mantan, pacaran aja belum pernah.”


kevin mengangkat kedua bahunya tanpa menoleh, sementara Marissa hanya geleng-geleng kepala.


“Ya udah mama tinggal yah.”


“Hem.”


Marissa pun pergi dari sana, Dia berjalan ke arah tangga menuju kamar putra sulungnya.


...💐💐💐...


Tok.. Tok.. Tok..


Marissa mengetuk pintu kamar Rafael, dan tak lama setelahnya terdengar jawaban dari dalam. Wanita itu pun menekan knop pintu dan membukanya, di dalam sana Marissa melihat Rafael sedang duduk di sofa sambil berkutat di depan laptopnya yang ada di pangkuannya.


“lagi apa nak, kayaknya serius sekali?” tanya Marissa seraya jalan mendekat.


“lagi ngecek laporan keuangan kantor aja mah.” jawab Rafael tanpa menoleh.


Marissa yang mendengar itu menghela nafas, jika Rafael dalam mode serius begini sangat mirip dengan ayahnya yang gila kerja.


“jangan terlalu di forsir sayang, pikirin juga dengan kesehatan kamu sendiri. Mama perhatikan seharian ini kamu di kamar terus, keluar cuma mau makan aja. Itu pun kalau mama ingetin.”


“iya ma, bentar lagi selesai kok.”


Perlahan Marissa jalan mendekat, dan duduk di sampingnya.


“oh iya raf, bentar lagi kan adikmu mau nikah. Kamu sendiri kapan?”


“kapan apanya?” tanya Rafael tak paham, seraya menoleh sekilas ke arah Marissa.


“nikahnya dong sayang! Bentar lagi kan usia kamu mau 29 tahun, udah waktunya kamu memikirkan soal jodoh. Mama pengen sebelum kamu pergi wamil nanti, kamu udah nikah. Ya.. minimal punya anaklah, biar disini mama ada temennya. Terlebih kakekmu yang pengen gendong cicitnya.”


“aku belum kepikiran kesana mah, lagian kan batasnya juga sampai aku umur 30. Masih ada tersisa 2 tahun lagi.”


“jangan begitulah nak, kasihan kakekmu. Dia udah pusing mikirin bagaimana caranya gagalin pernikahan Kevin, terus sekarang kamu mau nambahin juga dengan menunda-nunda buat nikah?”


Mendengar itu Gerakan tangan Rafael seketika terhenti, dia pun menoleh ke arah Marissa.


“mama ngomong gini gak ada maksud apa-apa sayang, tapi umur tak ada yang tahu. Mama hanya gak mau kamu menyesal dikemudian hari.”


Rafael masih diam.


“ya sudah mama tinggal ya, dan pikirin lagi soal omongan mama tadi.”


Setelah berkata seperti itu Marissa beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Rafael, sementara si empu masih terdiam.


Begitu Marissa sudah keluar, Rafael nampak menghela nafas. Lalu meraih ponselnya yang ada di sampingnya dan menyalakannya, disana terpampang nyata ada deretan tulisan dari salah satu portal yang menyebarkan skandal salah satu artis dari agensi milik keluarganya.


Lalu pandangannya lari ke sebuah figura seorang wanita yang berada di meja panjang, wajahnya 90% sangat mirip dengannya.


‘mungkinkah ini saatnya?’  batinnya bertanya pada diri sendiri.


...💐💐💐...


Adinata dan Yuna terkejut saat tiba-tiba mendengar suara seseorang, dengan bersamaan mereka pun menoleh dan rasa keterkejutan itu muncul lagi saat mereka menatap wajah orang itu.


“T--tuan Rafael!” Ucap Adinata terbata, sontak dia pun langsung berdiri, mata kecilnya melebar dan wajahnya terlihat pucat pasi seperti melihat hantu.


Rafael tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya tanda hormat. “Halo paman.”


dengan langkah tergesa-gesa Adinata berjalan menghampiri Rafael, di ikuti sang istri yang mengekornya di belakang.


“Apa maksud tuan berkata seperti itu?” tanya adinata dengan wajah yang masih terkejut.


“Aku akan menjelaskannya tapi.. bisakah kita bicarakannya di dalam?” pinta Rafael.


“O-oh tentu! Silahkan.” Adinata mempersilahkan Rafael masuk rumah dan menyuruhnya untuk duduk di sofa.


Dua pria beda generasi itu sudah duduk berhadapan, sementara Yuna melipir pergi ke dapur untuk membuat minuman.


“Tuan-”


“Jangan membuatku terlihat seperti anak kurang ajar dengan memanggilku begitu paman,  panggil saja aku Rafa.” potong Rafael tak enak hati.


“A-ah.. Baiklah Rafa, paman hanya terkejut saja dengan kedatanganmu disini.”

__ADS_1


“maafkan aku paman.”


“tak apa, lalu.. Apa kamu ingin bertemu Rendy?”


wajah Rafael terlihat kaget begitu mendengar nama sahabatnya di sebutkan, dia tidak tau jika Rendy juga ada di Jakarta.


“Rendy ada disini juga?”


Adinata mengangguk. “Iya, perlu paman panggilkan?”


Rafael menggeleng. “oh Tidak perlu paman, kedatanganku kesini bukan untuk bertemu Rendy tapi ingin bertemu dengan bibi dan paman. Aku ingin membicarakan soal Selena.”


Adinata yang mendengar itu diam sejenak, wajahnya berubah serius.


“emm.. jika kedatanganmu kesini hanya untuk membicarakan soal isu itu, lebih baik jangan melibatkan Yuna dulu.”


“kenapa begitu, bukankah akan lebih bagus lagi kalau bibi juga tahu?”


“iya memang, hanya saja saat ini suasana hatinya sedang tak baik. Paman harap, kamu bisa mengerti.”


Rafael nampak manggut-manggut. “iya paman, aku mengerti.”


Tak lama setelah itu Yuna kembali datang membawa nampan berisi dua minuman, lalu meletakkannya di atas meja.


“Silahkan di minum tuan Rafa.” ucap Yuna.


“Makasih bibi.” balasnya, kemudian dia meraih gelas itu dan meminumnya.


sementara itu Adinata melirik Yuna memberi kode agar bisa meninggalkannya berdua. Istrinya itu sempat menolak, namun setelah menyadari tatapan tajam sang suami akhirnya dia pun pergi ke lantai atas.


“Ehm.. jadi bagaimana?”


“seperti yang paman dengar tadi, aku yang akan bertanggung jawab atas kehamilan Selena.” Sautnya.


“Tapi kenapa harus kamu, harusnya kan Chandra! karena dia yang menghamili Selena.”


“semuanya salah paham, sebenarnya Selena hamil bukan karena Chandra tapi.. karena aku.”


Adinata terkejut, kedua alis tebalnya berkerut dalam. “Maksudmu?”


“Sebelumnya aku minta maaf karena sudah membuat kalian malu tapi itulah kenyataannya, selena hamil memang karena aku.”


Adinata diam sejenak, mata sipitnya menatap Rafael dengan tatapan curiga.


“Kamu sedang tidak berbohong kan?” Tanyanya.


Bagaimana tidak curiga, selama ini yang dia tau Rafael tidak pernah dekat dengan wanita manapun. tapi sekarang dia datang dan mengatakan kalau dia yang telah menghamili keponakannya. Pastilah dia tidak akan percaya.


“Aku gak bohong paman.” elaknya.


“Tapi kenapa di pemberitaan itu mengatakan kalau Selena hamil anaknya Chandra, dan selama ini juga paman tak pernah melihat kamu dekat sama selena maupun wanita lain.”


“Sebenarnya berita itu tersebar karena ulah Renata, Dia marah karena mengetahui suaminya ketemuan dengan Selena di hotel padahal mereka hanya sedang mendiskusikan soal pekerjaan. Dia membuat pernyataan palsu di depan media agar suaminya tak lagi menemui Selena.” Jelas Rafael dengan wajah serius.


“Jadi semua itu adalah fitnah?” Tanya adinata.


Rafael mengangguk mengiyakan.


“Apa waktu itu kamu ada disana? Dan pekerjaan seperti apa yang mereka bicarakan?”


“pada saat itu mereka sedang membicarakan soal kerjasamanya yang akan mempromosikan sebuah brand pakaian terbaru yang akan di keluarkan oleh perusahaan chandra, dan yang menjadi modelnya adalah Selena. Sebenarnya aku juga ada di sana, hanya saja waktu itu aku sedang keluar dari kamar karena ingin menemui adikku yang kebetulan juga sedang ada disana untuk mempersiapkan pesta pernikahannya, tapi begitu aku kembali mereka sudah pergi.”


Mendengar penjelasan panjang lebar dari Rafael, adinata terlihat manggut-manggut. Meskipun begitu, dia belum sepenuhnya percaya.


“Jika benar begitu kenapa harus di hotel, kenapa tidak di tempat terbuka saja?”


“tadinya kami juga akan bertemu di restoran tapi tiba-tiba adikku menelpon untuk menemuinya di hotel itu, jadi menurutku biar sekalian saja.”


Adinata membisu, matanya masih tertuju pada pria muda di depannya.


“kau tau kan apa hukumnya berbicara bohong, apalagi berbohong pada orang tua?”


“aku tahu paman, dan saat ini aku sedang tidak berbohong.” ucapnya dengan penuh keyakinan, padahal dalam hati dia sedang ketar-ketir.


Senyap pun melanda, baik adinata maupun Rafael tak memberi suara. Dua pria itu masih saling tatap dengan artian berbeda.


“baiklah, paman percaya.” ucap adinata dan itu membuat Rafael menghela nafas lega.


“Tapi..”


“tapi apa paman?” Saut Rafael cepat.


Sebelum menjawab, adinata nampak menyenderkan bahunya di sandaran sofa sambil kedua tangannya melipat di perut.


“kenapa waktu paman tanya soal siapa yang menghamilinya, selena malah mengatakan kalau Chandra pelakunya bukannya kamu?” Tanya adinata.


Seketika Rafael terlihat gelisah, kedua matanya bergerak kanan kiri. Dia bingung harus beralasan apalagi karena memang saat ini dia sedang berbohong.


“Ah.. itu..” Rafael terlihat mengusap tengkuknya.


“I-itu kami memang kami sengaja merahasiakan hubungan kami ke awak media, paman tahu sendiri bagaimana awal Selena masuk ke agensiku seperti apa. Aku hanya takut jika media tahu jika kami punya hubungan, netizen akan mengklaim buruk dan karirnya pun akan ikut terganggu.”


Adinata mengangguk mengerti, dia paham betul bagaimana kehidupan artis seperti apa. Terlebih Selena bisa masuk ke agensi itu berkat Rafael, pasti banyak yang berasumsi buruk tentangnya.


Dia tahu, sebelumnya hubungan mereka sempat dikabarkan dekat. Itulah salah satu alasan kenapa Selena mendapat Bullyan pas di awal-awal debutnya, Selena menjadi artis, hubungan keduanya sedikit renggang dan terlihat kaku. Sekalinya bertemu pun hanya basa-basi biasa, tak ada bincangan hangat seperti dulu.


“Oke, paman mengerti. Berarti keluargamu juga belum tahu jika kamu yang menghamili Selena?”


“Belum.”


“Lalu rencanamu selanjutnya apa?”


“tentu saja aku akan menikahi Selena.” ucapnya dengan lugas.


Rafael terlihat begitu yakin dengan ucapannya, membuat adinata yang tadi sempat curiga menjadi percaya. Karena menurutnya jika Rafael berbohong mana mungkin dia memilih wanita seperti Selena, yang dirinya ketahui sedang hamil dari laki-laki lain.


Rafael bukanlah pria sembarangan, selain tampan dan kaya, dia juga di kenal memiliki attitude yang baik. Jika dirinya mau, bisa saja ia memilih wanita yang jauh lebih baik dari Selena. Toh, diluar sana juga sudah banyak yang mengantri ingin menjadi istrinya dan dia hanya tinggal tunjuk saja.

__ADS_1


Namun kenyataannya kini Rafael malah memilih Selena, dan dari situ adinata yakin jika semua ucapan Rafael memang adanya.


__ADS_2