TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 20~Heboh


__ADS_3

Di kediaman keluarga Herlambang, tepatnya di sebuah kamar yang bernuansa merah muda itu terlihat ada dua wanita cantik sedang duduk di ranjang king size.


Salah satu wanita itu terlihat sedang menggenggam tablet, jemari lentiknya bergerak menggeser layar itu yang menampilkan foto prewedding. Sementara satunya lagi terlihat sedang maskeran sambil matanya terpejam. Dia menyenderkan punggungnya ke pangkal ranjang


“Gue sampai sekarang mau belum percaya tau gak, kalau kalian bakal nikah.” Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya ke benda digital tersebut sambil tersenyum.


Mendengar itu, Wanita yang tak lain adalah Mayra tampak tersenyum tipis.


“Lo aja gak percaya apalagi gue!” Ucapnya.


Kemudian dia membuka matanya, menoleh ke arah wanita sebelahnya tanpa merubah posisinya.


“Sumpah ya waktu papa kasih tahu kalau gue bakal di jodohkan sama dia, gue berasa mimpi. Gak nyangka aja gitu, ya walaupun awalnya dia sempat nolak sih.” Sambungnya.


“Terus sekarang gimana?” Tanya si wanita yang tadi menatap layar tablet yang berlogo apel di gigit itu, kini beralih menatap Mayra.


“Kalau sekarang Sedikit melunak, tapi dia masih gak suka kalau gue dekat-dekat sama dia.”


“Gak apa-apa lah, yang penting kan Kevin sudah setuju nikah sama Lo.”


“Iya sih, cuma gue agak kesal aja sama dia.”


Gadis di sebelah Mayra terkekeh. “Lo kayak gak tau aja! Kevin kan emang begitu, anaknya nyeselin. Mana ucapannya selalu pedas lagi, untung ganteng.”


“Plus kaya!” Tambah mayra sambil menjentikkan kedua jarinya.


“Hahaha.. benar!”


“11 12 lah sama sepupu Lo itu.”


“Ye.. kalo Dimas mah beda! Dari luar mah dia emang dingin kayak es balok, tapi dalamnya hello Kitty tau. Lo pasti tahulah sebucin apa dia sama Manda? Saking bucinnya, dia sampai berantem sama om Alex karena udah merendahkan pacarnya.”


Mayra terlihat manggut-manggut mengiyakan jawaban temannya tersebut yang bernama Rosa.


“Benar! CK, Gue iri banget sama dia, kapan yah Kevin bisa begitu sama gue.” Lirih Mayra.


“Awalnya Dimas juga kayak gitu, gak suka sama Manda. Bilangnya bukan tipenya dan terlalu agresif, Eh Ujung-ujungnya malah bucin. Dan gue yakin Lo juga pasti bisa. Ya intinya harus sabar dan terus berusaha, bikin dia bertekuk lutut sama Lo.” Ucap Rosa panjang lebar menyemangati temannya itu.


“Selama ini juga gue udah usaha deketin dia kali, tapi dianya aja kayak jijik kalau gue sentuh. Kan gue segan! Sekalinya gue nekad dia malah mau bunuh gue, gila gak tuh!”


Rosa yang mendengar itu nampak terkejut. “Bunuh Lo gimana maksudnya?”


Sebelum menjawab Mayra melepaskan maskernya, meletakkan benda lembab itu ke meja nakas samping kasur lalu memposisikan dirinya menghadap Rosa.


“Jadi.. tiga hari yang lalu kan gue datang ke rumahnya untuk mengajaknya ke butik Tante Sekar buat fitting baju, dia sempat nolak tuh dan langsung pergi aja. Gue susulin dia dong, gue ikutin dia sampai dia berhenti di pinggir pantai. Setelah itu gue langsung keluar hampirin dia dan nekad meluk dia, eh dianya malah keluarin pistol sambil ngancem.” Ucap Mayra panjang lebar.


“Lo serius? Tapi Lo gak sampai di tembak beneran sama dia kan?”


Mayra menggeleng. “Enggaklah, kalaupun iya mungkin sekarang gue ada dirumah sakit.”


Rosa menghela nafas lega.


“Syukur deh. Lagian salah Lo sendiri, udah tau Kevin itu gak suka di sentuh sembarangan! Lo malah nekad meluk dia.”


“Ya habisnya gimana, pada saat itu dia ngendaraain mobilnya ngebut. Gue kan jadinya khawatir.”


“Gue paham tapi ya Lo mesti hati hati juga lah, ingat may Kevin yang sekarang itu bukan Kevin yang dulu. Sekali Lo usik ketenangannya, bisa abis Lo. Terlebih dari dulu dia kan udah benci sama Lo.” Ucap Rosa mengingatkan.


Wajah Mayra terlihat cemberut.


“Sumpah ya gue gak ngerti lagi kenapa sifatnya bisa berubah kayak serigala gitu ya, padahal dulu dia gak begitu loh. Meskipun cuek tapi gak nyeremin kayak sekarang.”


“Gue juga heran. Tapi ya udahlah, gue tetap akan terus berusaha deketin dia dan gue juga yakin gue bisa bikin dia suka sama gue!”


“Harus itu. Hwaiting!” Seru Rosa sambil mengepalkan kedua tangannya ke udara.


“Semangat!” Mayra juga melakukan hal yang sama.


Setelah itu mereka tertawa bersama.


Tring!.. Tring!.. Tring!..


Suara tawa mereka terhenti saat Terdengar suara beruntun notifikasi pesan masuk dari ponsel keduanya, dengan serempak mereka pun mengeceknya.


Ternyata notifikasi itu berasal dari chat grup WhatsApp, wajah Rosa terlihat terkejut dan keningnya berkerut dalam saat membaca obrolan grup tersebut.


Pasalnya isi percakapan itu membawa-bawa nama Kevin, karena penasaran Rosa menscrooll-nya hingga Jarinya terhenti saat salah satu anggota grup mengirimkan beberapa foto Kevin tengah menggendong seorang wanita, dan seketika semua anggota grup tersebut menanyakan siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Kevin, sampai-sampai pria yang selama ini terkenal dingin dan tak suka di sentuh wanita itu malah terlihat menggendong seorang wanita. Tak lupa mereka juga menyebut nama Mayra untuk minta penjelasan.


“Siapa sih cewek ini sampe Kevin mau gendong dia?” Gumam Rosa sambil melihat foto-foto tersebut.


Dia terus menscrooll-nya, bahkan beberapa kali meng-zoomnya agar wajah wanita itu terlihat jelas.


Foto-foto itu memang tak menampakkan wajahnya karena sepertinya gambar itu di ambil dari arah belakang.


Jika Rosa belum tahu siapa wanita itu, beda halnya dengan Mayra yang sudah tahu. Dilihat dari bentuk tubuhnya saja dia sudah menduga adalah seseorang yang sangat dia kenali.


Wajah manis Mayra terlihat memerah serta matanya membola, tanpa sadar dia mencengkram erat ponselnya.


“Cewek itu adalah Alya.” Ucap Mayra, dan hal itu membuat Rosa yang mendengarnya langsung menatapnya.


“Alya siapa?” Tanyanya sambil mengernyit, kemudian Diam sejenak. Seketika matanya membola saat menyadari sesuatu.


“Jangan bilang Alya yang Lo maksud adalah Alya mantannya Kevin?” Tebak Rosa.


Mayra mendongak, matanya sudah memerah dan dia pun mengangguk. Kemudian tanpa berucap lagi dia beranjak dari kasur, meraih tas Selempangnya dan berjalan cepat ke arah pintu.


“Eh, mau kemana Lo?” Tanya Rosa.

__ADS_1


Mayra menoleh. “Apalagi! Udah pasti gue bakal labrak pelakor itu, gue gak akan biarin cewek udik itu ngambil calon suami gue!”


Setelah itu Mayra membuka pintu dan keluar kamar.


“Waduh Gawat! Bakalan ada perang dunia nih.” Ucapnya, kemudian dengan cepat Rosa lompat dari kasur, meraih tasnya dan berlari untuk menyusul Mayra.


...💐💐💐...


Sementara itu di kampus, Jessica terlihat tengah mengejar Arina yang terus melangkah dengan cepat. Wajah sahabatnya itu terlihat tak enak dan dia tak tahu kenapa, apa karena foto foto itu?


Sebenarnya Jessica sendiri penasaran ada hubungan apa antara Alya dan Kevin, mungkin jika sudah bertemu dengan sahabatnya dia akan menanyakannya.


“Rin, tungguin gue!” Teriak Jessica sambil berlari kecil, rambut panjangnya yang di ikat kuncir kuda terombang-ambing mengikuti gerakan tubuhnya. namun arina tetap berjalan tanpa menoleh sedikitpun dan hal itu menjadi tontonan mahasiswa lain.


“ARINA!” kini suaranya semakin tinggi hingga menggema dan arina tetap tak bereaksi.


Tak jauh dari posisinya terlihat Rangga dan Dimas berjalan di sisi lorong sambil mengobrol, masing-masing tangan mereka tengah memegang gelas kopi yang sepertinya masih panas. Karena terlihat ada uap putih yang keluar dari lubang bagian atasnya.


BRUK!


BYUURR!


saking fokusnya ingin mengejar arina, Jessica tak sengaja menabrak dua pria itu. Lebih tepatnya dia menyenggol bahu Dimas dan berakhir jatuh di lantai, Kopi yang tadi Dimas pegang juga ikutan jatuh dan seketika isinya tumpah ke paha mulus dan putih milik Jessica.


“Awwss.. panas.. panas!” Pekik Jessica saat pahanya merasa terbakar karena siraman kopi panas yang tadi Dimas pegang.


Dimas yang melihat itu sontak terkejut, matanya membola kemudian dia berjongkok di depan gadis itu. Rangga juga terlihat terkejut, namun dia masih dalam posisi berdiri.


“Astaga! Maaf.. maaf, aku gak sengaja! Kamu gak apa-apa kan?” Tanya Dimas, wajahnya nampak panik.


“Ah.. t-tidak apa-apa kak, aku yang harus minta maaf karena gak lihat jalan tadi.” cicitnya sambil melirik pria itu sekilas. Ingin rasanya dia menangis karena rasa perih tapi malu, dia tak mau di lihat jelek oleh pria itu.


Bukan hanya pahanya saja yang memerah, tapi wajahnya juga terlihat merah. Pasalnya jarak antara dirinya dan Dimas sangatlah dekat, hidung bangirnya mencium aroma maskulin pria itu yang terasa memabukkan dan baru kali ini dia sedekat ini dengan laki-laki yang selama ini dia sukai secara diam-diam. Biasanya dia hanya bisa menatapnya dari kejauhan saja dan dia akan bersikap cuek jika mereka tak sengaja berpapasan.


Dimas melihat paha gadis itu memerah, apalagi mendengar gadis itu meringis, membuat pria itu merasa bersalah.


Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sapu tangannya. “Bersihkan rok kamu Pakai ini.” Ucapnya dengan suara pelan dan terkesan lembut.


Jessica sejenak diam, matanya menatap wajah Dimas dan sapu tangan itu secara bergantian.


“Tenang saja, ini masih baru.” Ucap Dimas lagi.


Dengan kepala sedikit menunduk dan tangan gemetaran Jessica menerimanya. “Makasih kak.” Kemudian dia beranjak bangun.


Dimas menarik lengan kanannya dan berniat ingin membantunya berdiri, namun dengan cepat Jessica melepaskannya dan jalan mundur. jantungnya berdetak tak karuan saat tangan besar dan hangat itu menyentuh kulitnya, dia juga takut pingsan jika pria itu semakin mendekatinya.


“Lo gak apa-apa kan Jes?” Kali ini Rangga bertanya, raut wajahnya terlihat cemas.


Jessica mengangguk sambil menunduk, tangannya sibuk membersihkan baju dan roknya.


Rangga tak lagi bersuara, Mata sipitnya memindai penampilan Jessica dari bawah ke atas, mengeceknya apakah ada luka lain yang di sebabkan oleh sahabatnya.


“Tanggung jawab Lo! Bawa dia ke UKS!” Serunya.


Dimas tak marah ataupun protes dan lebih memilih mengangguk saja, karena dia memang sedang dilanda rasa bersalah Walaupun bukan sepenuhnya salahnya.


namun lagi-lagi Jessica menggeleng.


“G-gak usah gak apa-apa kok, ini hanya luka kecil.”


“Tap-”


“A-aku akan kembalikan sapu tangan kakak kalau sudah di cuci, dan maaf karena sudah menabrak kalian. permisi.”


Setelah mengatakan itu Jessica langsung pergi sebelum mendengar ucapan Dimas yang masih ingin bicara. Namun sebelum langkahnya semakin banyak, dengan cepat Dimas mencekal tangannya.


“Gak bisa! Kaki kamu harus segera di obati, kalau enggak nanti berbekas.”


Ucapan Dimas terdengar tegas dan wajahnya yang tadinya hangat, kini kembali dingin.


“T-tap-”


“Udah Jes nurut aja, jarang-jarang kan Lo lihat seorang Dimas Argadinata mau nolongin cewek selain bebebnya.” Ucap Rangga dengan di akhiri kekehan.


“M-maaf kak, bukannya aku menolak tapi aku lagi buru-buru mau ngejar arina. Takutnya terjadi apa-apa sama dia. Dan masalah lukaku, Aku akan obati lukaku sendiri, Jadi aku mohon biarkan aku pergi.” ucap Jessica dengan nada memohon sambil tangannya berusaha melepaskan cengkraman Dimas, namun pria itu tak mau melepaskannya.


Rangga dan Dimas terlihat mengernyit setelah mendengar ucapan Jessica.


“Emang arina kenapa?” Tanya Rangga.


“Aku juga kurang tahu tapi setelah melihat foto Kevin yang sedang menggendong Alya beredar di sosmed, arina kelihatan marah.”


Seketika dua pria itu saling pandang dengan wajah kagetnya, kemudian kembali menatap Jessica.


“Lo serius Jes?” Tanya Rangga lagi, dia seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Hari ini mata batin Rangga sedang di tutup, sehingga dia tidak bisa melihat kejadian apa saja yang akan terjadi hari ini.


Itulah kenapa dia terlihat kaget, dia jengah pada para mahluk kasat mata dan suara suara aneh yang selalu mengganggunya. Jadi dia memilih untuk menutupnya, tapi malah hari ini dia mendapat kabar mengejutkan.


Jessica mengangguk mengiyakan. “kalau kalian gak percaya lihat aja di Instagram, Disana udah rame.”


Karena penasaran Rangga pun langsung meraih ponsel yang ada di kantong celana depannya, lalu membuka aplikasi yang Jessica maksud. Seketika matanya membola saat menekan tombol share sudah banyak foto-foto dan video singkat Kevin tengah menggendong Alya.


Begitu pula dengan Dimas yang melihat itu dari ponsel Rangga dan terlihat kaget sambil geleng-geleng kepala, merasa tak percaya.


“Dim, sebaiknya Lo bawa Jessica ke UKS biar masalah arina dan si kutu kupret itu gue yang urus.” Ucap Rangga.

__ADS_1


Dimas mengangguk, baru setelah itu Rangga bergegas pergi.


“Tunggu kak, aku juga mau ikut.” Ucap Jessica sambil menarik ujung Hoodie milik Rangga.


“Gak! Lo tetap disini sama Dimas dan obatin dulu kaki Lo.” Lalu dia melirik Dimas. “Dim?”


“Pergilah.” Ucapnya, Kemudian dia menarik lengan Jessica yang menarik baju Rangga.


Setelah itu Rangga benar-benar pergi, meninggalkan Jessica dan Dimas disana.


“Kak-”


“Ayo.” Ajak Dimas sambil menarik lengan gadis itu.


“T-tapi kak aku-”


“Nanti aku anterin setelah kaki kamu udah di obati! Ayo.” Potong Dimas cepat.


Jessica menghela nafas kemudian mengangguk pasrah, menuruti permintaan pria itu untuk pergi ke UKS.


Sebenarnya bukan masalah ingin mengejar arina saja, tapi dia juga tidak mau ditinggal berdua saja sama Dimas. Dia takut tak bisa menahan diri, apalagi jika sampai nanti Amanda tahu. Pasti wanita itu akan mengira kalau dia ada apa-apa dengan pacarnya, Tapi apalah daya, Dimas tetap kekeuh dan terus menariknya. Alhasil dia hanya bisa menurut.


...💐💐💐...


“Kevin turunin aku!” Teriak Alya sambil kedua tangannya terlihat memukul-mukul punggung dan dada pria itu.


Namun Kevin tak bergeming, dia tetap berjalan menelusuri halaman kampus hingga ke taman.


Sama seperti biasanya, Wajah pria itu selalu terlihat kaku dan matanya menatap lurus ke depan, tak dia perdulikan lagi teriakan Alya yang minta di lepaskan dan banyak pasang mata memandang mereka.


“Kevin! Kamu dengar aku gak sih?” Seru Alya, dia mulai kesal.


Lagi-lagi Kevin tak bersuara. Alya yang melihat itu merasa geram, dia terus memukul tubuh pria itu dengan keras. namun tak berefek apa-apa untuk Kevin, malah dia merasa seperti di pijat.


Kebetulan saat ini badannya sedang sangat pegal karena semalaman dia tidur di sofa kecil yang ada di ruang inap Om Raka, setelah sarapan dan sedikit mengobrol dengan kenzo kevin langsung balik ke Jakarta untuk menemui Alya dirumahnya. Dia ingin membicarakan soal rencana kakak sulungnya itu dengan gadis itu.


Pernikahannya dengan Mayra tinggal 3 hari lagi akan di adakan, jadi dia harus bergerak cepat sebelum sesuatu hal buruk terjadi. Kevin masih ingat dengan ucapan sanha, pria yang menjadi lawan balapnya tadi malam. Meskipun pria itu mengatakan dengan nada bercanda, tapi tak ada salahnya kan untuk berjaga-jaga.


Namun sesampainya rumah alya, dia hanya menemukan Rendy dan om adinata yang tengah bersantai di teras depan. Selena dan Yuna sedang tak ada dirumah, mereka pergi ke rumah sakit untuk cek kandungan.


Adinata yang kaget dengan kedatangan Kevin sempat bertanya padanya saat pria muda itu menanyakan keberadaan Alya, dan kevin mengatakan jika dia adalah temannya semasa SMA. adinata pun langsung percaya, lalu dia mengatakan jika Alya sudah berangkat ke kampus di jemput oleh Jessica.


Kevin yang mendengar itu merasa kesal, pasalnya kaki gadis itu belum sepenuhnya pulih. dia masih ingat dengan ucapan Samuel tempo hari tentang kondisi kakinya yang mengalami cedera parah di bagian tulang keringnya, Kevin pun langsung pamit untuk menyusulnya ke kampus.


Tak membutuhkan waktu lama ia akhirnya sampai di kampus. setelah beberapa saat dia memarkirkan mobilnya di parkiran kampus, dia melihat mobil Jessica baru datang.


Bergegas Kevin pun langsung keluar dari mobilnya dan segera mengejarnya, namun tiba-tiba ada beberapa mahasiswa menahannya. Mereka ingin membicarakan soal kerjasama perusahaan orang tuanya dengan perusahaan Kevin yang selalu di tolak oleh dylan, mereka pikir jika berbicara langsung dengan Kevin dan sedikit merayunya ajakan kerjasama itu akan terealisasikan.


Selama ini Kevin di kenal sebagai adik kesayangannya dylan, begitupun di keluarga ibu kandungnya ia dikenal cucu kesayangannya Anjeli, neneknya. apapun yang Kevin inginkan mereka berdua selalu menurutinya.


Mungkin karena ini pula banyak yang beranggapan jika Kevin adalah anak orang kaya yang manja, terlebih dia memiliki sifat cuek, angkuh dan suka berbuat sesuka hati.


tanpa mereka tahu, pemilik sesungguhnya adalah Kevin sendiri dan setiap ada perusahaan lain yang ingin berkolaborasi dengan perusahaannya, Dylan selalu berdiskusi dulu dengan Kevin.


“Please Vin, turunin aku! Kamu gak lihat semua orang pada lihat kita?” Ucap Alya, namun Kevin membisu.


“apa kamu gak takut kalau Mayra tahu nanti? aku gak mau ya di anggap pelakor karena kamu gendong aku.” Kali ini suaranya merendah, mungkin lelah sedari tadi teriak namun tak dihiraukan.


Mendengar nama Mayra dan pelakor di sebutkan, Kevin langsung menghentikan langkahnya. Itu adalah dua kata keramat yang sangat tak ingin Kevin dengar.


BRUK!


“Aduh!..” ringis Alya.


Tanpa kata kedua tangan Kevin yang tadi menopang tubuh Alya langsung dia lepaskan, otomatis membuat gadis itu jatuh ke tanah dengan tak elegan. Ujung dress-nya yang berwarna pink itu sedikit tersingkap dan menampakkan celana pendeknya yang berwarna hitam, serta rambut panjangnya yang tergerai terlihat berantakan karena terpaan angin dan sedikit menutupi wajahnya.


Seakan menyadari, diam-diam Kevin sedikit menggeser posisinya untuk menutupi paha Alya yang terekspos. Sedangkan si empu sepertinya belum menyadari hal itu, wanita itu terlihat sedang mengelus kakinya yang di perban sambil meringis.


Alya mendongak, menatap pria itu dengan kesal. “Kenapa kamu jatuhin aku!?” Serunya.


Kevin menunduk, Sebelah sudut pria itu terangkat sambil kedua tangannya bersedekap dada.


“Bukankah tadi kamu minta diturunin?”


“T-tapi- gak gak harus langsung diturunin gitu aja! Kamu gak lihat, kaki aku lagi sakit!” wajahnya terlihat memerah, Entah karena malu atau marah.


“Sakit ya?” Ucap Kevin dengan nada meledek. Kemudian dia berjongkok, matanya melirik ke kaki Alya yang di perban, lalu dengan santainya kedua jarinya menyentil kaki gadis itu.


“Aduh!.. Sakit!” Pekik Alya yang di akhiri dengan suara bergetar, kedua matanya sudah berkaca-kaca dan wajahnya semakin memerah.


BUK!


Dengan perasaan kesal Alya memukul bahu pria itu bertubi-tubi dengan tasnya, sehingga tubuh tegapnya sedikit terhuyung.


“Kamu sengaja ya? Kalo kaki aku makin parah gimana?” Cetusnya, matanya sedikit melebar.


“Itu kan yang kamu mau? Aku hanya ingin membantumu saja.”


“Apa! A-aku-”


“Lagian Kalo gak mau sakit lagi mending di potong aja, kebetulan di mobilku ada golok dan samurai. Kamu tinggal pilih aja mau yang mana.” Ucap Kevin memotong ucapan alya, dan hal itu membuat gadis 21 tahun itu terkejut mendengarnya.


“A-apa maksud kamu ngomong gitu?” Tanya Alya dengan mata membola. “K-kamu mau potong kaki aku, gitu?” Sambungnya.


“Ya.” Jawabnya singkat. “Mau coba? Kebetulan aku juga udah lama gak melakukan itu lagi.”


Mata Alya semakin melebar, Bibirnya sedikit terbuka dan kini pikirannya beranggapan buruk tentang pria di depannya itu.

__ADS_1


‘gak melakukan itu lagi? apa itu artinya sebelumnya Dia pernah memotong tubuh manusia?’ gumam Alya dalam hati.


__ADS_2