TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 83~Menyusun Rencana


__ADS_3

di sebuah gedung yang sudah tak layak huni lagi nampak ada sekumpulan anak geng motor, masing-masing dari mereka memakai jaket warna biru berlogo kepala tengkorak, dan di bagian bawahnya ada tulisan...


‘Zervanous Squed.’


mereka saat ini tengah berkumpul melingkar di tengah-tengah ruangan sambil mendiskusikan sesuatu, Diantaranya ada Mayra dan sanha.


“gue gak mau tau, pokoknya rencana kita kali ini harus berhasil! Kita harus bisa memancing Kevin agar mau datang ke markas, yaitu dengan cara menyandra istrinya.” cetus Roni, ia menatap seluruh orang yang ada disana dengan sorot tajam.


“dan kau pasti tahu itu tak akan mudah.” celetuk Mayra, hal itu membuat semua mata tertuju ke arahnya.


Tak terkecuali oleh Roni sendiri, pria tampan berparas Asia, berkulit putih bagai susu dan bermata sipit itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah mayra.


“itulah yang menjadi tugasmu sekarang, pakailah jurus andalan mautmu itu agar Kevin bisa terjerat.” balas Roni, lalu ia bersedekap dada sambil menaikan sebelah alisnya.


“naklukin bapaknya aja bisa, masa anaknya gak!” lanjutnya dengan nada mencibir.


Mayra yang mendengar itu mendesah pelan, dalam hati ia merutuki ucapan Roni. Pria itu tak tahu saja seberat apa perjuangannya hanya untuk mendekati Kevin, hingga sampai pada akhirnya mereka bisa bersama. Meski ujung-ujungnya dia ditinggal menikah.


“itu karena Kevin bukanlah pria gampangan!” cetusnya. “Meski bapaknya pemain wanita, belum tentu anaknya begitu juga!” lanjut Mayra dengan nada sinis.


Mayra mengatakan itu bukan semata-mata karena mencintainya, tapi kenyataannya benar adanya begitu. sepanjang ia mengenal Kevin, belum pernah sekalipun ia mendengar atau melihat Kevin dekat secara intens dengan wanita lain, tentunya selain Alya. Meskipun ada, itu pun hanya sekedar teman biasa, bukan untuk dijadikan sebagai pasangan.


Di balik sikap Kevin yang trempamen dan dingin, nyatanya sifat setianya itulah yang membuat perasaan Mayra terhadap Kevin semakin hari semakin dalam. Seluruh wanita yang ada di dunia ini pasti menginginkan pendamping hidup seperti itu, tak terkecuali dengan Mayra, dan ia berharap besar pria itu adalah Kevin.


Namun sayangnya takdir berkata lain, wanita yang dicintai Kevin bukanlah dirinya, melainkan Alya. Sosok wanita biasa yang berasal dari keluarga level rendah.


Awalnya Mayra beramsumsi begitu, ia meng-klaim Alya hanyalah seorang gadis biasa yang beruntung di cintai oleh kevin. Pewaris satu-satunya dari keluarga ibunya yang bangsawan, siapapun yang menjadi pasangannya pasti masa depannya akan terjamin sampai 7 turunan. Tapi kenyataannya tidak begitu, setelah ia mencari informasi tentang riwayat hidupnya. Mayra terkejut. Ternyata Alya bukanlah gadis miskin yang selama ini dikenal, tapi ia terlahir dari keluarga cukup berada. Belum lagi dengan fakta tentang profesi kakaknya dan keluarga pamannya.


Hanya saja sampai sekarang Mayra masih dibuat bingung dengan identitas Alya yang tak pernah tercantum di biodata kakaknya, bahkan Mayra pernah melihat video lama Selena yang mengaku tak memiliki saudara dan hanya tinggal bersama keluarga pamannya saja.


Meskipun begitu tak mampu meruntuhkan tekadnya untuk memiliki Kevin seutuhnya, ia selalu percaya kelak Kevin akan berpaling padanya. Memangnya apa yang perlu dia takutkan, toh kekayaan orang tua Alya tak sebanding dengan kekayaan keluarganya yang jauh berada di atasnya.


Namun.. lagi-lagi pemikiran itu langsung terbantahkan begitu mendengar ucapan Kevin waktu di kantor, dengan tegas dan suara lantang pria itu menyampaikan jika tak ada satu wanita pun yang bisa menggantikan sosok alya di hidupnya.


Mayra saat mendengar itu tentu saja merasa hatinya hancur, batinnya seakan terkoyak habis. Impian yang sekian lama dia bangun, seketika roboh setelah mendengar pengakuan Kevin. Ia tak menyangka jika Kevin berani berkata seperti itu di depan semua orang, seakan memberi penjelasan jika ia sangat mencintai istrinya itu. padahal Mayra sudah tahu awal pernikahan mereka hanya pura-pura saja.


Atau.. mungkin selama ini Kevin memang masih mencintai Alya, hanya saja tertutupi oleh rasa benci karena kesalahpahaman di masa lalu. dan sekarang Kevin bisa mengatakan itu karena dia sudah mengetahui semuanya?


Jujur saja Sepanjang jalan pulang dari kantor Mayra selalu berpikir seperti itu, ia takut jika praduganya benar. Bahkan Mayra punya pikiran jika Alya sudah mengatakan semua perilakunya bersama ayah mertuanya selama ini ke kevin, pasalnya hanya Alya yang mengetahui tentang dirinya yang pernah hamil anaknya Aji.


“halah! Semua laki-laki itu sama aja, di sodorin dada sama apem pasti langsung meleyot! Bener gak?” ujar salah satu anggota geng berjenis perempuan, dan hal itu membuat lamunan Mayra buyar dan berakhir menatapnya.


“bener itu. Mana ada sih kucing menolak jika di kasih ikan asin? Impossible!” balas lainnya.


Roni yang mendengar itu nampak manggut-manggut seraya tersenyum smirk, ia mengiyakan ucapan salah satu anggotanya. Dan sebagai laki-laki normal, tentu Roni sangat meyakini bahwa tak ada laki-laki manapun menolak kenikmatan surga dunia. Terutama wanita.


“tapi-” ucapan Mayra menggantung kala sanha langsung memotongnya.


“gak ada tapi-tapian, pokoknya kamu harus bisa membuat Kevin jauh dari alya. Dengan begitu kita bisa membawanya.” nada bicara sanha terdengar tegas, dan sorot matanya menajam.


Sedangkan yang ditatap hanya diam saja, namun dari raut wajahnya memperlihatkan kekesalan. Sanha yang menyadari itu langsung mencondongkan wajahnya ke telinga Mayra, kemudian berbisik.


“perlu di ingat juga dengan perintah om aji yang terus menyuruhmu untuk memisahkan mereka, apa kamu sudah lupa?”


Dengan mulut terkatup rapat, Mayra menggeleng.


“maka dari itu lakukanlah dengan baik, jika kamu masih sayang dengan ayahmu.”


Sejenak, Mayra diam dengan mata terpejam saat sanha menyebut ayahnya. Takut? Sudah pasti! Sebejat-bejatnya ia diluaran sana, Mayra tetap seorang gadis biasa yang sangat menyayangi orang tuanya. Selain itu Mayra juga tahu senekad apa sanha saat menginginkan sesuatu, sama halnya dengan kevin. pria itu juga akan menyingkirkan apapun yang menjadi penghalangnya. Termasuk nyawa, dan dia tak mau karena masalah ini membuat nyawa ayahnya terancam.


Ia masih ingat betul dengan kejadian yang menimpa Jakson beberapa bulan sebelumnya, hanya karena pria itu menasehatinya untuk jangan mendekati teman dari pacarnya membuat sanha kesal dan nekad mencelakainya hingga koma. Mayra bisa tahu soal itu bukan dari Kevin ataupun dari orang lain, melainkan dari mulut sanha sendiri. Pria itu memang mengakui perbuatannya saat mereka tak sengaja bertemu di bar, tempat dimana dirinya dan sanha suka menghabiskan malam panjang disana.


Yaps, selama ini Mayra bukan hanya sudah tidur dengan aji, tapi dengan sanha juga. Mereka memang sering melakukan itu, bahkan saat statusnya sudah menjadi tunangannya Kevin, pun Mayra tetap melakukannya. Tapi Mayra mau melakukan itu bukan semata suka sama suka, melainkan untuk membungkam mulut sanha yang selalu mengancamnya akan mengatakan semua rahasianya pada Kevin.


“jadi gimana?” tanya sanha kemudian.


Sebelum menjawab, Mayra nampak menghela nafas. Mulutnya sudah siap terbuka, namun suara deringan ponsel menahannya yang ternyata berasal dari saku jaket milik Roni.


Seketika itu pula semua mata langsung tertuju ke arahnya, menatapnya dengan mimik penasaran karena menyadari perubahan wajah sang Leader. Roni merogoh kantong jaketnya untuk meraih benda elektronik itu, sebelah sudut bibirnya terangkat saat ada nama kontak yang ia kenali.


“ya, ada apa?” tanya Roni saat panggilan itu sudah tersambung.


Cukup lama Roni mengobrol dengan si penelpon, sedangkan Mayra, sanha dan anggota geng lainnya hanya bisa menyimak.


“oke!”


Setelah itu Roni mengakhiri panggilannya, dan memasukkan ponselnya ke tempat semula.


“Apa ada kabar baru?” tanya sanha yang sedari tadi sudah penasaran.


“tentu.”


“apa itu?”

__ADS_1


“mereka saat ini ada di Bogor, dan menurut kabar dari mata-mataku Kevin dan Alya gak bakal langsung pulang ke Jakarta, tapi mereka akan pergi ke bandung.” jawab Roni.


Sejenak senyap, semua orang yang ada disana diam dan saling memandang. Namun itu tak bertahan lama, karena setelahnya semua anggota Zervanous nampak tersenyum jahat. Kecuali sanha dan Mayra yang terlihat bingung.


“bandung?” beo sanha dengan kening berkerut.


Roni mengangguk. “ya. Kau pasti tahu kan Kevin memiliki banyak bisnis di dua kota itu, terlebih di Bandung.”


“aku tahu soal itu, tapi.. apa kau akan menyusup masuk ke villanya lagi?” tanyanya dengan hati-hati.


“untuk apa? Disana gak ada target yang bisa kita andalkan.”


“lalu rencanamu apa kali ini?”


“untuk sekarang tidak ada, kita biarkan saja dulu mereka menghabiskan waktu berdua. Tapi kau tenang saja, aku akan tetap memantau pergerakan mereka.” ucap Roni. 


Senyap sejenak.


“sama halnya dengan binatang qurban, sebelum di eksekusi mati bukankah harus di beri makan yang banyak dulu?” lanjutnya.


Mendengar itu semua orang yang ada disana tersenyum senang, mereka setuju dengan rencana Roni. kecuali Mayra yang diam saja.


“kau benar. Sebelum kita membunuhnya, berilah dia kesenangan dulu dengan istrinya. Baru setelah itu kita lenyapkan dia.” ujar sanha.


“kita harus bisa cari celah yang bagus agar rencana kita bisa dilaksanakan dengan baik.” balas anggota geng lainnya.


Mendengar itu Roni tersenyum smirk, lalu berbalik badan membelakangi semua orang. “tentu saja. Darah harus dibalas dengan darah, begitu pun dengan nyawa.” desisnya.


...💐💐💐...


Sementara itu Kevin dan yang lainnya sudah sampai di tempat lokasi dimana proyek pembangunan berada, mereka tiba disana sekitar 1 jam yang lalu dan saat ini ia tengah meninjau proses pengembangannya bersama Kenzo, Jenifer, Amara dan satu orang pria paruh baya yang berprofesi sebagai mandor.


Terlihat, Jenifer dan sang mandor terus mengajak Kevin mengobrol.


Ah, tidak!


Mungkin lebih tepatnya mereka menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang Kevin lontarkan dan Mereka berdua secara kompak menjelaskan semuanya, dan seperti biasa Kevin hanya meresponnya dengan datar dengan matanya liar menatap seluruh sudut yang ada di tempat tersebut.


Sementara Amara dan Kenzo yang berdiri di belakang ketiga orang di depannya hanya menyimak, namun sesekali 2 orang itu juga ikutan berkomentar saat ada sesuatu yang tak paham.


Sementara Alya... Tentu saja gadis itu masih berada disana, hanya saja posisinya saat ini sedikit jauh dari posisi Kevin. Bukan karena tak ingin dekat-dekat dengan suaminya, justru suaminya sendirilah yang melarangnya ikut dengan alasan tempatnya kotor dan banyak benda tajam, takut nanti istrinya akan terluka.


Sebenarnya itu hanya alasan klise saja, pada kenyataannya bangunan yang nantinya akan di jadikan mall itu sudah hampir selesai. Bahkan di dalamnya sedang masa proses pengecatan, hanya saja karena semua para pekerjanya kaum laki-laki, maka Kevin melarang Alya untuk masuk. Bukan maksud over protektif, hanya saja sesuatu yang sudah menjadi miliknya tak boleh di lirik atau di sentuh oleh orang lain. Terlebih ini istrinya sendiri, sudah jelas Kevin akan menjaganya dengan sepenuh raganya.


Padahal tanpa Kevin ketahui Alya sudah bertekad pada diri sendiri akan terus menempeli suaminya itu, dan tak akan memberi ruang sedikitpun untuk Jenifer bisa mendekatinya. Namun apalah daya, dia tak mampu protes lebih banyak jika sudah mendapat tatapan tajam dari sang suami.


Dari kejauhan Alya bisa melihat Jenifer berdiri tepat di samping Kevin sambil terus berbicara, namun sedikit berjarak. Tapi tetap saja, Alya tak menyukainya. Posisinya saat ini tengah berada di tempat teduh, tempat yang biasa para pekerja gunakan untuk istirahat. Ia duduk di sebuah kursi plastik yang sudah disiapkan oleh pak mandor, di depannya juga sudah ada meja kayu bentuk persegi panjang berwarna putih.


sementara Sean seperti biasa, pria bule itu berdiri di belakangnya sambil matanya melihat-lihat sekitar. Namun tak lama setelahnya perhatiannya teralih begitu Alya memanggilnya dengan nada tertahan, Sean juga menyadari jika wajah nona mudanya itu nampak pucat.


“kak sean.” panggil Alya seraya menoleh ke belakang.


Dengan sigap Sean langsung jalan menghampiri, tubuhnya yang seperti biaragawan itu sedikit menunduk kemudian bertanya. “ya nona, ada apa?”


“aku haus kak, bisa Carikan aku air minum tapi yang hangat ya.”


Sean pun mengangguk patuh. “baik, akan saya Carikan. Tapi saya akan panggil Kenzo dulu, untuk temani nona disini.”


“eh gak perlu kak, aku gak apa-apa kok sendiri.” tolak Alya sambil menggeleng.


“gak bisa begitu nona, saya sudah mendapat perintah dari tuan muda jika saya tidak boleh meninggalkan nona sendirian.”


“cuma sebentar aja kok kak, aku lihat tadi di depan gang sana ada warung kecil. Kakak beli air minumnya disana aja ya, pasti gak akan memakan waktu lama.”


“tetap saja saya gak bisa meninggalkan nona sendirian, apapun keadaannya!” keukeuh Sean.


Mendengar ucapan terakhir Sean membuat Alya membuang nafas kasar, ia kesal dengan pria di sampingnya itu karena begitu patuh dengan perintah Kevin. Dan dia lebih kesal lagi dengan suaminya itu, karena sejak menikah Alya menyadari sudah tidak merasa bebas lagi. Setiap pergi ia selalu di ikuti oleh bodyguard tak kasat mata, belum lagi dengan keberadaan Sean yang terus berada di sampingnya.


Tapi ia juga tahu betul apa alasan Kevin melakukan itu, pasti demi kebaikannya, meski belum tahu tapi Alya yakin di luaran sana banyak musuh suaminya yang mengintai. Selain itu, Alya sendiri juga masih merasa takut dengan ancaman papa mertuanya. Ditambah dengan kejadian waktu di kantor, membuatnya semakin was-was.


Di sela-sela kegelisahannya, tiba-tiba saja Alya meremas perut bagian bawahnya yang terasa sakit dan mulutnya sedikit mendesis. Sean yang menyadari itu menjadi panik, dan kembali bertanya.


“nona kenapa?”


“perutku sakit kak.” jawab Alya dengan suara tertahan.


“astaga! Ya sudah, saya panggilkan tuan muda dulu.” ujar Sean kemudian bergegas pergi.


Namun dengan cepat Alya menahannya, ia mencekal lengan Sean dengan kuat.


“jangan kak, please. Jangan bilang sama Kevin, dia lagi kerja.”


“tapi nona...”

__ADS_1


“percaya sama aku kak, aku baik-baik aja. Mending kakak belikan aku minumannya di warung sana ya?”


“tapi.. saya gak mungkin meninggalkan nona sendirian disini.”


“cuma sebentar aja kak, lagian disini aman kok gak bakalan ada penjahat.”


Meski dalam keadaan bingung dan cemas Sean tetap melakukannya, dengan langkah cepat ia pergi menuju warung yang di maksud Alya tadi. Selepas kepergian Sean, Alya langsung merogoh tasnya. Sebelah tangannya nampak sibuk mencari sesuatu, sambil mulutnya terus menggerutu.


“kenapa datangnya harus sekarang sih, mana lagi di luar lagi. Ck, ada-ada aja deh. Untung aku bawa cadangan!”


Alya nampak tersenyum lega saat menemukan barang yang ia cari, kemudian ia bangun dari posisi duduknya dan celingukan.


“disini ada kamar mandinya gak ya?” tanyanya ke diri sendiri, sambil jalan meninggalkan tempat itu.


Suasana saat ini di tempat proyek itu memang sedang sepi, karena waktu sudah menuju sore. Biasanya di jam segitu para pekerja sudah siap pulang, namun karena hari ini Kevin datang, maka jam pulangnya di undur dulu. Dan kebanyakan para pekerjanya juga berada di dalam gedung, jadi suasana di luar benar-benar sepi.


Alya terus celingukan di sekitar area proyek sambil jalan perlahan, hingga tanpa sadar ia sudah keluar dari lokasi proyek.


“nona muda keluar dari area proyek, terus awasi dia. Jangan sampai lengah.” ucap seseorang dengan nada pelan, sambil jari telunjuknya menyentuh headset yang ada di telinganya.


Seseorang itu berdiri di belakang tiang, pakaiannya khas bodyguard dan memakai kacamata besar warna hitam. Sedangkan, tak jauh dari lokasi tersebut ada sebuah mobil Van warna putih terparkir. Di dalamnya ada 2 orang pria, dan pakaiannya hampir sama dengan seseorang yang berdiri di tiang tadi.


“mau kemana dia?” tanya salah satu pria yang duduk di kursi pengemudi, keningnya berkerut saat melihat gelagat Alya yang sedang mencari sesuatu.


“entahlah. Kita awasi dia aja terus!” jawab temannya yang duduk di jok sebelah, dan di balas dengan anggukan.


Setelah itu tak ada percakapan lagi, kedua orang itu terus mengintai pergerakan Alya. Begitu pun dengan bodyguard yang Kevin sewa, meski dengan cara sembunyi-sembunyi.


...💐💐💐...


Malam pun menjelang waktu Korea, jarum jam di dinding pun sudah mengarah ke angka 8. Saat ini Selena sedang berada diruang tamu, ditemani oleh paman dan bibinya yang datang.


Sebenarnya bukan hanya mereka berdua saja yang datang, Randy juga ikutan datang. Setelah bengcengkrama sebentar dengan Selena, Randy pamit ke ruangan Rafael untuk membahas masalah pekerjaan.


“bagaimana kandunganmu nak, baik-baik aja kan?” tanya Yuna dengan nada lembut.


Selena yang mendengar itu pun mengangguk. “baik-baik aja kok bi, malah dia aktif banget loh. Aku sampai gak bisa tidur dibuatnya.” jawabnya sambil terkekeh.


“syukurlah kalau begitu, bibi jadi tenang.” balas Yuna, sambil tangannya mengelus perut besar keponakannya itu.


Adinata yang melihat dan mendengarnya pun ikutan tersenyum, ia lega karena keadaan keponakan dan calon cucunya baik-baik saja.


“kau bahagia tinggal disini?” tanya adinata.


Tanpa harus bertanya pun sepertinya Selena memang terlihat baik-baik saja, bisa dilihat dari raut wajahnya yang semakin berseri dari terakhir mereka lihat.


Sekali lagi Selena mengangguk. “iya paman aku bahagia, karena semua orang yang ada disini pada Nerima aku. Terlebih mas Rafa selalu menjaga aku, Jadi paman dan bibi gak perlu khawatir.”


Dengan kompak, Yuna dan adinata mengangguk. Mereka percaya dengan ucapan Selena, karena mereka sudah tahu karakter Rafael seperti apa.


“iya nak, paman dan bibimu percaya dengan itu. Kami senang bisa melihatmu bahagia seperti ini, dan orang tuamu di surga sana juga pasti ikutan bahagia. Nanti setelah lahiran, sempetin waktu pulang ke Indonesia ya. Sekalian nengokin adikmu.”


“iya paman, aku juga sebenarnya udah ada rencana itu. Tapi mas Rafa udah suruh mereka datang kesini aja kalau aku udah lahiran nanti.”


“benarkah? Bagus dong, jadi kita semua bisa kumpul.” seru Yuna.


“he'em. tapi.. itu belum pasti sih mereka bisa atau gak, soalnya kata mas rafa mereka lagi sibuk sama urusan masing-masing.”


Adinata dan Yuna yang mendengar itu manggut-manggut mengerti.


“ya udah gak apa-apa nak kalau mereka gak bisa datang kesini, maklumin aja.” ucap adinata.


“iya paman, semoga aja dari kejadian 3 bulan lalu hubungan mereka kembali membaik.”


Adinata nampak menghela nafas. “yah, semoga saja.”


Memang, sejak kejadian dimana Kevin datang secara tiba-tiba ke Busan dan menyerang Rafael, suasana di dalam rumah besar itu sedikit berubah. Namun itu tak membuat Selena merasa terasingkan, justru sekarang semua anggota keluarga besar suaminya semakin menyayanginya.


Bukan hanya dari pihak keluarga Fandy, tapi dari pihak Anjeli juga ikutan membantu. Wanita sepuh itu bahkan sempat menyuruh Rafael dan Selena untuk pindah rumah, agar aji tak bisa macam-macam dengan Selena.


Namun permintaan itu langsung ditolak oleh keduanya dan lebih memilih untuk tetap tinggal disana, dengan alasan kakek Fandy tak mengijinkannya. Dan itu benar adanya.


“bibi masih gak nyangka loh ternyata Alya dan Kevin dulunya ada hubungan asmara, bibi kira hubungan mereka hanya sekedar teman aja.” tutur Yuna.


“aku juga gak nyangka, terlebih dengan kebenaran yang terjadi. Dia gak pernah bilang apa-apa sama aku, semuanya ia pendam sendiri.”


“begitulah adikmu, makanya bibi selalu khawatir kalau dia tinggal sendiri. Takut dia mengalami hal buruk, tapi gak berani bilang. Untungnya sekarang dia udah nikah, jadi bibi sedikit tenang.”


“kamu harus hati-hati dengan ayah mertuamu itu Len, paman jadi takut apa yang Alya alami dulu, terjadi juga sama kamu.” ucap adinata.


“kamu tenang ajalah pah, kan Selena ada Rafael yang bisa jagain dia.” balas Yuna.


“tapi...”

__ADS_1


“udah paman tenang saja, aku akan hati-hati. Lagipula... Paman sendiri kan udah tahu keadaan yang sebenarnya seperti apa?”


Sejenak adinata diam, kemudian menghela nafas. “kami tunggu kabar baiknya nak.”


__ADS_2