
“akhirnya selesai juga.” ucap Alya saat kelas terakhir yang ia ikuti hari ini selesai.
Di liriknya jam tangannya, disana jarum sudah mengarah ke angka 5 sore. Bergegas Alya membereskan buku dan alat tulisnya, dan berlalu keluar. Kali ini ia tak mau pulang telat lagi, ia ingin menyambut kepulangan Kevin dari kantor.
Alya jalan santai menelusuri koridor kampus yang sedikit sepi, karena ini adalah jam terakhir. Sepanjang langkahnya ia terus tersenyum tipis, hatinya senang sekaligus lega karena kelas terakhirnya tanpa harus di ikuti oleh Andreas, tapi ia merasa kesepian tanpa kedua sahabatnya.
Arina dan Jessica hanya ada jadwal siang, dan sekarang Alya tak tahu kedua sahabatnya itu sudah pulang atau masih ada di kampus. Karena setelah makan siang Alya langsung pergi duluan, habis itu ia tak tahu lagi kemana mereka.
Sean yang kala itu berada di lapangan basket, kedua tangannya sudah memegang bola dan siap memasukkannya ke keranjang seketika terhenti begitu melihat nona mudanya. Ia pun melepaskan bolanya begitu saja, lalu berlari untuk mendekatinya.
“kenapa bolanya gak di masukin aja?” tanya Alya saat pria bule berbadan kekar itu sudah ada di sampingnya.
Saat jalan di koridor tadi tak sengaja Alya melihat Sean berdiri mematung di tengah lapangan basket yang sepi, pandangannya fokus ke beberapa bola basket yang tergeletak di tanah. Penasaran ia pun ingin memanggilnya dan bertanya, namun langkahnya langsung menghenti saat melihat Sean bergerak dan mengambil satu bola basket.
Cukup lama Alya memperhatikannya, namun tak ada pergerakan lagi. entah apa yang sedang pria itu pikirkan, ia hanya diam menunduk menatap bola yang ada di genggamannya.
Karena merasa lelah pada akhirnya Alya memutuskan untuk pergi dari sana, ia akan menunggu di mobil saja. Tapi saat ingin menginjak anak tangga, Sean malah menghampirinya.
“gak apa-apa nona, saya gak enak jika ada mahasiswa atau dosen disini ada yang lihat.” jawabnya.
“ketahuan juga gak apa-apa, disini tuh bebas asal jangan bikin keributan aja.” sahut Alya, lalu ia jalan duluan menuju parkiran.
Sementara Sean tak kembali bersuara, dia memilih mengawasi area sekitar sambil mengekori Alya dari belakang.
Tak lama kemudian Alya kembali berhenti, membuat Sean juga ikutan berhenti. ia pun menoleh ke belakang, dan mendapati bodyguard sekaligus supir pribadinya itu menatapnya heran.
“oh iya kak gimana soal hpku, apa masih bisa di perbaiki?” tanya Alya.
“tidak nona. Menurut para pegawai toko, kerusakan hp anda sudah rusak parah dan harus di ganti dengan yang baru.” balas Sean.
Alya yang mendengar itu menghela nafas, ia seperti berat merelakan ponselnya. Bukan karena tak mampu beli yang baru, tapi banyak dokumen penting di dalamnya dan Alya lupa backup.
“ya sudahlah gak apa-apa kak Sean, nanti aku beli baru aja dan makasih karena udah mau di repotin sama aku.” sahut Alya.
Samar, Sean tersenyum. Dalam hati ia memuji keramahan Alya pada semua orang, seketika Sean teringat dengan curhatan intan yang mengagumi sosok alya yang baik dan ramah.
Tak hanya intan, semua pelayan yang ada dirumah utama pun memuji sikap baik alya. Mereka mengatakan jika istri dari putra bungsu majikannya sangat baik dan murah senyum, mereka juga mengatakan jika Alya tak canggung dengan pekerjaan rumah, terlebih soal urusan dapur.
Sean mengetahui itu, karena sebelum direkrut oleh Kevin dia sudah mendengarnya dari salah satu pelayan yang ada disana.
“sama-sama nona, itu sudah menjadi tugas saya jadi nona tak usah sungkan.” balas Sean. “dan nona juga tak perlu beli, karena tuan muda Kevin sudah membelinya.” lanjutnya.
Alya yang mendengar kata-kata terakhir Sean langsung melotot, ia kaget.
“apa kak Sean mengadu padanya?” tebak Alya sambil memicingkan matanya.
Sean menggeleng. “tidak nona,”
“lalu darimana dia bisa tahu kalau hpku lagi rusak, dia bahkan mau membelinya jika kak Sean sendiri gak ngadu padanya?”
“saya memang tidak mengadu apapun padanya nona, tapi tuan Kevin memergoki saya saat berada di toko hp tanpa nona.” ucap Sean jujur.
Memang benar, setelah Sean memastikan Alya sudah masuk kelas dengan aman ia langsung meluncur pergi ke mall. Dia masuk ke salah satu toko hp yang dia tahu menyediakan jasa servis hp, tanpa Sean sadari jika saat itu Kevin juga sedang ada di mall.
Menurut pengakuannya, Kevin disana bersama Kenzo dan dua rekan kerjanya. Kevin yang awalnya ingin ke toko elektronik malah berbalik arah saat tak sengaja melihat Sean melintas sendirian, tanpa ba-bi-bu lagi ia langsung mengikutinya.
Kevin menanyai keberadaan Alya dan apa urusannya di toko tersebut, Sean pun menjelaskan semuanya.
Kevin terlihat kesal setelah mendengar penjelasan Sean, ia menyumpahi orang yang sudah menabrak tubuh istrinya sehingga ponselnya menjadi rusak. Tapi kevin juga merasa bersalah, karena ikut andil dalam masalah ini. emosinya semakin naik saat telinganya mendengar bisik-bisik para pengunjung toko tersebut yang berani menjelek-jelekkan Alya.
“sekarang kau pulanglah dan lakukan tugasmu dengan baik, soal hpnya biar nanti gue belikan yang baru.” ucap Kevin kala itu.
Alya yang mendengar penjelasan Sean hanya diam, tubuhnya mendadak lemas dan ada rasa takut jika nanti berhadapan langsung dengan suaminya.
...💐💐💐...
Sementara itu di apartemen sudah ada Kevin, ia duduk di ruang tamu dan masih mengenakan pakaian kerjanya yang sedikit berantakan. Di atas meja sudah ada paper bag warna putih, di bagian luarnya ada gambar logo dari merek hp terkenal.
10 menit lalu dia baru sampai dan melihat intan saja yang tengah siap-siap pulang, Indra penciumannya menghirup aroma masakan. Sudah pasti itu adalah masakan olahan intan, karena sebelumnya Kevin sudah menelponnya untuk siapkan makan malam.
Kevin melepaskan jasnya, lalu menaruhnya di sisi kanannya. Kemudian melonggarkan dasinya, membuka dua kancing bagian atas dan menggulung bagian lengannya hingga ke siku.
Keadaan Kevin saat ini sangat berantakan, dan wajahnya terlihat pucat. Dada bidangnya nampak naik turun, serta deru nafasnya juga terdengar tak beraturan. Perlahan-lahan tubuhnya menjadi gemetaran, dan perasaannya gelisah.
“intan!” teriak Kevin lantang tanpa menoleh, tatapannya lurus ke depan.
Intan yang mendengar itu segera berlari, menghampiri tuan mudanya dan dengan kepala sedikit menunduk ia pun bertanya.
“iya tuan, anda butuh sesuatu?”
“ambilkan aku air dingin!” pintanya.
Intan mengangguk patuh, dan tanpa kembali bersuara ia kembali lari menuju dapur. Tak sampai 5 menit wanita itu kembali mendekati Kevin, menaruh sebotol air mineral di meja.
“ambilkan obatku di laci sana.” pintanya lagi seraya jari telunjuknya mengarah ke ruang tengah.
Intan yang paham pun langsung mengiyakannya, dengan langkah cepat ia jalan ke sana. Membuka laci samping meja kecil di antara sofa panjang dan single, tangannya mengambil botol kecil warna putih. Setelah itu ia kembali mendekati Kevin dan menyerahkannya padanya.
Dengan tangan gemetaran Kevin membuka penutup semua botol itu, mengambil beberapa butir obat yang bentuknya sangat kecil dan berwarna putih, lalu memasukkannya ke mulut dengan sekali gerakan. Baru setelah itu ia meraih botol air mineral, menegaknya hingga setengah.
__ADS_1
intan yang melihat kondisi tuan mudanya hanya bisa menatapnya sedih, dia tentu tahu penyakit yang di deritanya sedang kambuh. entah apa yang sudah terjadi, tapi intan selalu berdoa agar semuanya akan baik-baik saja.
Beberapa menit pun berlalu dan intan masih standby disana, matanya tak lepas dari Kevin yang duduk di sofa sambil memegang dadanya.
“ada lagi tuan?” tanya intan saat melihat Kevin sudah sedikit tenang, namun deru nafasnya masih memburu.
Kevin tak langsung menjawab, keningnya berkerut dalam dan ada beberapa butir keringat menetes disana.
“tidak! Kau boleh pulang.” jawab kevin dengan suara tertahan.
Namun yang ada intan malah menggeleng. “tidak tuan, saya akan pulang jika nona muda sudah pulang.” tolak intan, ia tak mungkin meninggalkan Kevin dalam keadaan tak baik-baik saja.
“sebentar lagi dia akan sampai, jadi kamu pulang saja.” titah Kevin.
“tapi..” ucapan intan terhenti saat Kevin melototinya, pertanda jika dia tak suka di bantah.
Pada akhirnya Intan pun pergi setelah mengambil tas dan berpamitan dengan Kevin, dan di balas dengan majikannya itu dengan kibasan tangan.
...💐💐💐...
Klek!
Sekitar 5 menit setelah kepergian pelayanannya, Kevin yang pada saat itu masih berada di ruang tamu mendengar suara pintu terbuka. Ia melirik ke arah suara dan dia melihat Alya berdiri mematung di ambang pintu, sekilas mata bening istrinya itu menatapnya intens. Namun detik berikutnya ia langsung menunduk saat kevin membalasnya dengan tajam.
“mau sampai kapan kau berdiri di situ, mau jadi patung penjaga pintu?” celetuk Kevin dengan nada datar.
Alya mendongak, lalu menghela nafas. perlahan tapi pasti ia melangkah mendekati Kevin.
“kamu baru pulang?” tanyanya saat menyadari penampilan Kevin.
Kevin tak langsung bersuara, ia mendengus lalu menyambar paperbag yang ada di meja dan melemparkannya ke arah Alya. Untungnya gadis itu sigap menangkapnya, meski wajahnya nampak kaget.
“ini apa?” tanyanya, padahal ia sudah tahu jawabannya.
“ponsel baru!” jawab Kevin dengan ketus, dan Alya diam.
“aku kan sudah kasih peringatan sama kamu, jaga nama baikku dan keluargaku tapi kenapa kamu malah melakukan ini?!” sentak Kevin.
Alya melirik, keningnya berkerut. “apa maksudmu?”
“jangan pura-pura gak tau, kamu pasti sengaja kan menyuruh Sean untuk servis hp murahan kamu itu agar bisa mempermalukan aku dan keluargaku?” tuduh Kevin, ia menatap istrinya dengan sengit.
“A-aku gak ngerti apa maksud perkataan kamu. Mempermalukan gimana?”
“berhenti bertingkah polos, aku sudah muak!”
“kamu gak tau kan saat mereka tahu kamu menyuruh Sean untuk servis hp kamu, mereka menghinaku, menghina keluargaku! Mereka beranggapan kalau aku gak mampu membeli hp baru untuk istrinya!”
Alya yang mendengar penjelasan Kevin tercengang, ia tak menyangka tindakannya di nilai buruk. Mungkin jika mereka menjelekkan dirinya tak masalah, tapi ini keluarga suaminya juga di bawa-bawa. Keterlaluan sekali!
Jika sudah begini Bukan hanya Kevin, Alya juga merasa marah.
“bukan begitu maksudku Vin, tapi--”
“tapi apa? Bilang aja kamu itu sengaja, iyakan? Aku tahu kamu gak pernah menyukaiku, tapi setidaknya hargai aku selama masih menjadi suamimu dan Hargai juga keluargaku! Apa itu gak bisa kamu lakukan?” potong Kevin.
Alya kembali diam dan menunduk, menyembunyikan wajah sedihnya. Kevin masih saja mengira dirinya tidak menyukainya. Andai saja dia bisa jujur, ingin rasanya ia mengatakan semuanya tentang perasaannya.
Namun nyatanya Alya tak ada keberanian untuk itu, mulutnya tetap bungkam. Ia terlalu takut dengan ancaman papa mertuanya tempo hari, pria paruh baya itu akan mencelakai keluarganya jika berkata jujur.
“kenapa kamu diam saja? Sudah sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan?!”
Suara Kevin yang semakin meninggi membuat Alya memejamkan matanya sejenak, tubuhnya bergetar takut.
“maafkan aku..”
hanya kata itu yang bisa ia keluarkan, membuat Kevin yang mendengarnya mendengus kesal.
Sebenarnya Kevin marah begitu bukan karena kejadian di mall, lagian dia sudah memberi pelajaran ke semua karyawan yang ada di toko itu. Tapi yang membuatnya marah adalah karena Alya sudah menipunya selama ini, menutupi semua kelakuan jahat papa-nya dan berpura-pura berhianat.
Kevin beranjak dari duduknya, ia mendekati Alya dan mengangkat dagunya agar bisa menatapnya.
“jika dengan kata maaf saja bisa menyelesaikan semua masalah, lalu apa gunanya polisi dan penjara. Hem? aku masih bisa mentolerir kesalahanmu yang sudah membohongiku selama ini, tapi tolong jangan kamu lakukan juga pada keluargaku. Cukup kamu sakiti aku saja, jangan mereka!”
Alya membisu, ia menatap intens netra suaminya yang sudah merah karena amarah yang tertahan.
“Apa kamu belum puas, setelah menyakitiku bertubi-tubi dan sekarang kamu juga mau menyakiti keluargaku?” cerca Kevin, namun istrinya tetap diam.
Kevin nampak mengangguk seraya melepaskan tangannya dari dagu Alya, kemudian berlalu pergi menuju dapur. Tak lama setelah itu Kevin kembali datang, Alya melotot saat Kevin menyodorkan pisau padanya.
“kevin, kamu mau apa?” pekik Alya.
Namun Kevin tak menjawab, ia meraih tangan Alya dan menyuruhnya untuk menggenggam pisaunya, lalu mengarahkan ujungnya ke dadanya sendiri.
“kamu belum puas kan, maka lakukanlah. Bunuh aku sekalian!” desis Kevin.
DEG!
Alya diam, wajahnya memerah dengan mulutnya sedikit terbuka dan matanya melotot. Ia Tak habis pikir kenapa suaminya bisa berucap begitu, membunuhnya? Yang benar saja!
__ADS_1
“kamu ini bicara apa sih Vin, mana mungkin aku membunuhmu!” seru Alya seraya menyingkirkan pisau itu ke dada suaminya.
Namun yang ada Kevin mencengkram kuat lengannya, yang mana itu membuat Alya meringis kesakitan.
“kenapa, bukankah kamu ingin melihatku mati. Iya kan?” ucap Kevin.
Alya langsung menggeleng.
“oh, atau kamu mau pakai cara yang gampang? Oke.”
Kevin langsung melepaskan cengkramannya, sebelah tangannya merogoh kantong celana bagian belakang dan mengeluarkan pistol.
“bunuh aku sekarang pakai pistol ini.”
Alya membeku, ia menatap pistol dan wajah Kevin bergantian.
“kenapa diam? Ayo tembak aku! Daripada kamu harus bersandiwara, sebaiknya kamu bunuh saja aku biar semuanya selesai!”
BRAK!
Alya melepas semua benda yang menempel pada tubuhnya, begitu pun dengan pistol yang Kevin pegang. Ia membanting senjata berbahaya itu ke lantai.
“berhenti bicara omong kosong kevin, aku tak mungkin membunuhmu!” jerit Alya, bersamaan dengan itu air matanya menetes.
Sedari tadi ia sudah menahan diri, menahan hatinya yang sakit akibat tuduhan tak berdasar yang keluar dari mulut suaminya.
Kali ini gantian Kevin yang diam, ia menatap wajah istrinya yang sudah merona.
“kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan dari dulu?” tuduh Kevin.
Alya menggeleng, isakan kecil mulai terdengar dari mulutnya. “tidak, kamu salah paham. Aku mohon berhenti menuduhku seperti itu, aku tak ada pikiran untuk membunuhmu” Lirihnya.
“sudahlah mengaku saja, semua yang ku katakan adalah benar.” keukeuh Kevin.
Alya menggeleng. “tidak!” bantahnya.
kemudian alya jalan mendekat dan menggenggam kedua tangan kevin, mendongak menatap netra suaminya. “A-aku minta maaf jika kamu marah karena sudah membohongimu selama ini, ta-tap-tapi aku lakukan itu ada alasannya.”
Dengan sesegukan dan isakan Alya mulai bicara, ia tak mau suaminya semakin buruk menuduhnya. Dalam diri, Alya sudah putuskan akan menjelaskan semuanya, dan soal keselamatan keluarganya akan dia pikirkan nanti.
“alasannya sudah jelas, karena kamu gak--”
“aku mencintaimu kevin!” potong Alya cepat. “aku melakukan ini karena mencintaimu!” lanjutnya.
Sesaat senyap, pasutri itu diam dengan saling pandang. Alya menatap Kevin dengan penuh kejujuran dan rasa takut, sedangkan Kevin menatapnya seperti orang terkejut. Namun itu hanya bertahan sebentar, setelahnya Kevin tersenyum smirk lalu menepis tangan Alya dan mundur selangkah.
“apa kamu pikir aku bakal percaya begitu saja? Jelas tidak!” sentaknya. “aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi, mana ada ngaku cinta tapi menyakiti. Mana ada!” lanjutnya, lalu berbalik badan membelakangi Alya dengan kedua tangannya terkepal kuat.
Sedangkan Alya memandangi punggung Kevin dengan sorot mata sedih.
“aku tahu kamu pasti tak mempercayainya, tapi itulah kenyataannya. Aku masih mencintaimu dan itu akan selamanya, perasaanku tak pernah berubah. Maafkan jika perbuatanku membuatmu kecewa, tapi aku lakukan ini demi kebaikan kita bersama.”
“kebaikan katamu?” ulang Kevin seraya berbalik badan, kembali menghadap Alya. “kebaikan apa yang kamu maksudkan hah? Kamu gak sadar jika perbuatanmu itu hampir saja membunuhku!”
“me-membunuh?”
“ya! kamu gak tau kan kehancuran apa yang aku alami saat kamu mengakui hubungan palsumu dengan Dylan, bahkan waktu itu kamu bersandiwara seperti wanita jahat dan dengan bodohnya aku mempercayai itu semua! ditambah sekarang! Aku mengetahui kamu masih suci, dan.. dan..”
Kevin tak sanggup melanjutkan ucapannya, lidahnya seakan kelu. Dalam dirinya timbul rasa penyesalan, karena sudah menyentuh Alya dengan cara kasar. Bahkan ia melakukannya dengan penuh emosi.
Alya diam, air hangat itu terus saja merembes membasahi pipi mulusnya. Dadanya terasa sesak saat menyadari sorot mata Kevin yang menampakan kesedihan dan kekecewaan. Kini, suaminya itu sudah tahu dengan semua rahasianya dan dia tak perlu bertanya lagi siapa yang memberitahunya.
“kamu gak akan tahu Akan semua itu, karena kamu hanya memikirkan dirimu sendiri. Kamu terlalu sibuk dengan ketakutanmu sendiri, sehingga melupakan aku disini yang terluka.” ucap Kevin setelah sekian lama terdiam.
Alya kembali terisak, dan kepalanya menunduk.
“bukankah dulu kita sudah berjanji akan melawan semuanya sama-sama, kita akan berjuang sampai akhir! Tapi nyatanya apa, kamu malah menyerah disaat aku sedang memperbaiki diri. Selain itu aku juga sudah berjanji padamu kan kalau aku akan menikahimu setelah wisuda nanti, tapi apa? Kamu malah pergi!”
Isakan Alya semakin dalam sepanjang kata-kata yang Kevin ucapkan, kenangan masa lalunya bersama kevin sewaktu pacaran dulu terus terbayang dan hal itu membuat hatinya semakin sakit. Betapa bodohnya dia yang menyerah begitu saja, tapi di samping itu semua ia juga tak mampu melawan kekuasan Aji.
Pada saat itu ia hanyalah gadis remaja lugu yang baru saja lulus sekolah dan sedang berjuang mencari pekerjaan, namun usahanya itu selalu di gagalkan oleh mertuanya. Belum lagi dengan ancamannya yang akan menghancurkan karir kakak dan pamannya, serta akan membunuhnya.
Siapa yang tidak takut saat di ancam begitu, di dunia ini Alya sudah tak memiliki orang tua. Saat ini ia hanya memiliki kakak dan keluarga pamannya dan dia tak mau terjadi sesuatu dengan mereka. Maka dari itu ia memutuskan untuk melepas kekasih tercintanya demi keselamatan keluarganya, dan pergi menjauh.
Alya mengusap pipinya yang basah dengan kedua tangannya, lalu mendongak menatap Kevin yang kini sudah merona.
“maafkan aku Vin, jujur aku juga sama sakitnya denganmu tapi aku gak bisa berbuat apa-apa saat papamu terus mengancamku. Dia menggunakan keluargaku agar aku mau meninggalkanmu, makanya aku melakukan sandiwara ini.” ucap Alya dengan nada bergetar.
Percuma juga dia terus menutupinya, pada akhirnya suaminya itu pasti akan mengetahuinya sendiri. Ada Rangga yang pasti sudah menceritakan semuanya ke Kevin, kini ia hanya bisa berdoa semoga keluarganya akan baik-baik saja.
Alya kembali menunduk saat menyadari wajah Kevin berubah kaku, tatapan matanya menajam.
“sekarang aku pasrah jika kamu mau menceraikanku.” Ucapnya seraya melepas cincin pernikahannya, lalu mengulurkannya ke hadapan Kevin.
“tapi aku mohon biarkan pernikahan kak Selena dan Rafa terus berlanjut. Setidaknya sampai dia melahirkan nanti.” lanjutnya.
Kevin membisu, ia tak tahu harus berkata apa. Otaknya mendadak kosong dan mulutnya seakan terkunci, tapi yang pasti ia merasakan hatinya berdenyut saat Alya mengucapkan kata cerai.
Padahal sebelumnya ia sudah memutuskan akan menceraikannya, tapi kenapa sekarang ia seakan tak rela? Sebenarnya apa yang telah terjadi dengannya?
__ADS_1