Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 10 Tiga Hati Yang Tersakiti


__ADS_3

Tidak butuh waktu yang lama, Keluarga Tuan Tara sudah sampai di kediaman Hanny, Rumah yang terlihat tidak mewah tapi terasa sangat nyaman saat menghirup udara di sekitar.


Terlihat Sagara sangat gusar, Wajahnya memerah, mungkin amarahnya makin ia rasa karena sebentar lagi dirinya akan mengikat janji suci dan sumpah untuk hidup bersama dengan wanita yang tak pernah ia cintai.


Ibunya Hanny yang mendengar dari saudara yang di undangnya, bahwa keluarga Tuan Tara sudah tiba, Ia segera turun dan menyambut mereka.


"Hana, Kau dampingi kakakmu nanti, Ya" Ibunya berkata seraya melangkah menemui Keluarga Tuan Tara


"Baik, Bu" hanya kata itu yang Hana ucapkan seraya menuju ke kamar kakaknya.


*****


"Selamat datang, Tuan, Nyonya " sapa Ibunya Hanny dengan tergopoh-gopoh


"Terimakasih, Jeng, kenapa sungkan, jangan panggil kami Tuan dan Nyonya, kita sekarang adalah besan" ucap Bundanya Sagara


"Baik, mari masuk. Maaf kediaman kami hanyalah seperti ini," ada nada sedih dengan yang di ucapkan oleh Ibunya Hanny


"Kami adalah sahabat suamimu, tanpa suamimu ... mungkin kami juga tidak memiliki semua yang kami miliki, Suamimu telah memberi kami hidup dengan kesehatan suamiku," ucap Bundanya Sagara seraya menoleh kearah suaminya yaitu Tuan Tara.


Setelah berkata seperti itu, mereka semua pun duduk di depan pak penghulu yang sudah ada di tempat yang sudah tersedia.


"Mempelai wanitanya, ma_" ucapan penghulu terganti saat melihat sosok wanita yang memakai kebaya berjalan kearahnya, dengan wajah yang begitu cantik paripurna, Semua mata takjub dengan kecantikan yang di miliki Hanny, Alina yang sebagai modeling juga ikut terperangah


' Cantik banget, Saga ... seharusnya kau bersyukur punya bini cantik ' bathin Alina


Saat semua mata masih terpana akan kecantikan, Hanny. Sagara malah diam dan tak melihat kearah Hanny, hingga sang mempelai duduk di sampingnya. Entah terbuat dari apa hati Sagara, kenapa ia tidak bisa mendengar riuh kekaguman yang di utarakan semua orang.

__ADS_1


Hanny juga demikian, Ia tak berani meskipun hanya melirik calon suaminya, Bagaimanpun rupa sang suami, bagi Hanny, dialah orang yang harus dipatuhi setelah ini.


"Bisa kita mulai ?" Tanya penghulu saat menyadari akan kekagumannya akan sosok pengantin wanita. Sungguh pasangan yang sangat serasi.


Di saat pak penghulu ingin berucap, ia melihat ada 3 tamu lagi yang baru datang, sehingga membuat penghulu itu menghentikan dan mempersilahkan tamu itu duduk dan turut menjadi saksi atas pernikahan dua manusia yang bagaikan lukisan.


Ya dia adalah keluarga dari Dokter Jigar, sepupu dari Sagara, orang yang begitu mendambakan Hanny Queen Sidqia.


"Maaf kami terlambat,Om" ucap Jigar saat Tuan Tara melihat kearah nya


"Tidak masalah, belum di mulai juga" ucap Tuan Tara dengan senyum bahagia nya.


"bisa dimulai, Pak" ucap Tuan Tara, Yang mana di ketahui Hanny tidak memiliki Ayah untuk menjadi wali nikahnya, jadi ... Wali nikahnya kini di wakilkan oleh wali hakim.


"Saya terima nikah dan kawinnya Hanny Sidqia Bin Almarhum Sidqi, dengan mas kawin yang disebutkan,Tunai"


"Sah, Sah, Sah"


"Alhamdulillah " serempak mengucapkan rasa syukur atas lancarnya ijab qobul antara Sagar dan Hanny.


Hanny menoleh dengan kepala menunduk untuk mencium punggung tangan Sagara, seperti magnet, Sagara menjulurkan tangannya, dan saat ia ingin mengecup kening Hanny, Barulah tatapan itu bertemu, Sejenak Sagara menatap wajah yang begitu cantik dan meneduhkan itu, ada rasa kagum dan tak percaya,bahwa kecantikan yang Hanny miliki jauh dari ekspetasi nya. Hanny jauh dan jauh lebih cantik dari bayangan nya. Menyadari bahwa banyak mata yang menatap aneh karena pandangan Sagar, Saat pun mendarat kan ciumannya di kening sang istri. Disitulah Hanny berdoa, semoga ia bisa menjadi istri yang baik untuk sang suami.


Pernikahan bukanlah hanya sebuah ikatan atau tradisi tapi sebuah sumpah dan janji yang harus mereka jaga sepenuh hati.


Menikah mudah tapi menjaga pernikahan itu yang tak.mudah, apalagi dengan adanya duri yang terus masih menancap.


Setelah proses ijab qobul itu selesai, Semua undangan yang tak seberapa itu menikmati hidangan yang sudah di sediakan.

__ADS_1


Sagara masih terlihat diam, meskipun banyak tamu yang memberi selamat.


"Kalian datanglah nanti malam kekediaman kami, kami pasti akan lebih bahagia jika kalian hadir kembali " ucap Tuan Tara mewakili ibunya Hanny.


Ibunya Hanny menatap foto Suaminya yang kini terpapang jelas di dinding ruang tamu itu.


'Ayah, Ibu sudah memenuhi keinginan ayah untuk menikahkan Hanny dengan anaknya Tuan Tara, semoga Ayah disana sudah bahagia, doakan putri mu Ayah, semoga suaminya bisa mencintai Hanny' bathin sang Ibu, yang mengharap kan kebahagiaan dari pernikahan sang Putri.


"Kalian istirahat lah dikamar kalian, nanti sore ... kita akan membawa Hanny kekediaman kita" ucap Bundanya Sagara seraya menatap Ibunya Hanny


"Benar, Nak. Istirahat lah di kamar kalian, Hanny, bawa suamimu kekamarmu" ucap Ibunya Hanny yang tak bisa Hanny tolak.


"Mari, Mas" ucap Hanny untuk pertama kalinya.


Sagar tidak menjawab hanya saja ia mengikuti langkah wanita yang baru saja sah menjadi istrinya. Ada kegugupan di hati Hanny, ia sangat tahu, bahwa suaminya tidak bahagia dengan pernikahan ini. Sudah sangat terlihat jelas di raut wajahnya. Namun ... Hanny memahami itu, karena Hanny juga demikian, ia masih belum ada rasa pada Sagara, Tapi .. ia sudah membuka hati untuk pernikahan ini, berusaha menjadi istri yang baik, meskipun ia tak tahu cara mencintai seseorang. Ibunya pernah berkata, mencintai seseorang dengan tulus maka kita akan mendapatkan cinta yang tulus juga.


Sesampainya mereka di dalam kamar, sejenak ruangan itu menjadi sunyi, hening. Di saat Hanny ingin menutup pintu,suara Saga menghentikan tangannya.


"Maafkan aku, jika untuk hari ini, entah sampai kapan, aku belum bisa menjadi suami seutuhnya untukmu. Aku harap kau tahu, kita menikah bukan karena keinginan kita, aku juga tidak bisa menyalahkan mu akan hal ini, Dokter Hanny, tapi mari kita beri waktu 1 tahun, untuk pernikahan ini, setelah ini, Saya harap, anda mau melepaskan ikatan ini," ucapan Sagara bagaikan petir disiang bolong. Kaget ... tentu saja.


Bagaimana mungkin sosok lelaki yang baru saja Sah menjadi suaminya, kini mengatakan hal yang membuatnya terjatuh kebawah jurang yang begitu dalam. Ingin menangisi, tapi air matanya sudah mengalir duluan tanpa permisi. Namun ... Hanny, bukankah wanita yang lemah, apalagi hanya dengan perkataan seperti itu. Hanny mengusap air matanya, seraya menutup pintu, Lalu Hanny melangkah mendekati suaminya, Namun ... ia terhenti, tersenyum pada suaminya seraya berkata


"Aku mengerti, sangat mengerti " ucapan itu terdengar begitu merdu, dengan ketenangan dan suara yang lembut, di sertai senyumannya yang begitu indah.


"kau tidak akan mengerti, Hanny Sidqia, kau tidak akan pernah mengerti" ucap Sagara dengan gusar


"Kalau begitu, buat aku mengerti dan aku akan berusaha mengerti " jawaban itu mampu membuat Sagara terdiam.

__ADS_1


__ADS_2