
Siapapun tidak ingin mengalami kegagalan, baik dalam hal percintaan atau pekerjaan.
"Zahra, aku ingin bicara," ucap Bima
"Tuan,Bima. saya rasa tidak ada hal yang penting yang bisa kita bicarakan, masalah saya ingin pindah kerja, itu urusan saya, Saya juga bukan pengkhianat, yang akan membocorkan rahasia perusahaan, saya masih tahu batas-batasan saya, Tuan Bima," ucap Zahra tanpa menoleh kearah Bima yang ada di belakang nya.
"Tapi ,Zahra ... Tuan,"
"Dia musuh Tuan Biru, dia mesum, dia bajingan, tapi pekerjaan nya profesional, Tuan Bima, dan saya kesana hanya untuk bekerja bukan ingin mencari jodoh," ucap tegas Zahra
"Apa yang ingin anda sampaikan ke saya, saya harus bertahan disini? melihat orang yang aku cintai setiap hari, tanpa bisa mencurahkan kasih sayang itu, aku tersiksa,Tuan Bima, aku mencintai Tuan Biru, sangat mencintai nya, tapi aku juga ingin dia bahagia dengan Nona Hanny, aku tidak ingin menjadi duri diantara mereka, dan aku juga tidak ingin hati ini merasa sakit setiap hari, percuma aku mengatakan ini padamu,Tuan. karena kau tidak akan pernah mengerti dengan apa yang aku rasakan," ucap Zahra dengan dada naik turun menahan emosi.
Sejenak Bima terdiam, ia melihat kehancuran di mata Zahra.
"Aku bukan malaikat, Yang tidak bisa merasakan sakit hati, hatiku bukan terbuat dari besi dan baja, sehingga mampu menahan sakit setiap hari, aku hanya wanita biasa, lemah dan tak punya kuasa, aku hanya ingin mencari ketenangan bagi hatiku," ucap Zahra seraya mengusap air matanya, Karena Zahra melihat bayangan dari jendela ruangan itu, bayangan seseorang yang begitu ia kenali, Sagara Biru Wilantara.
Betapa terkejutnya Biru saat melihat sahabat dan mantan kekasih nya sudah ada di ruangan nya sepagi ini.
Zahra memasang senyum terbaik nya, tentu Biru masih bisa melihat kesedihan di balik senyum itu. .
"Selamat pagi,Tuan Biru," ucap Zahra seraya menundukkan kepalanya
"Pagi, Zahra. Bima ... kau disini, ada apa?" tanya Biru seraya duduk di kursinya dengan membuka kedua kancing di jas nya
"Kau lama sekali, Kemana saja? ini sudah mau jam 8 loh," ucap Bima
"Aku masih mengantarkan Hana dan Hanny, ada hal penting apa?" tanya Biru yang kini sudah membuka berkas yang senantiasa menunggu sentuhan tangannya
"Zahra, siapkan kopi untuk kita,Ya" ucap Biru pada Zahra
"Baik,Tuan" jawab Zahra seraya berdiri.
__ADS_1
Zahra baru ingat kalau mesin kopi di ruangan Biru sedang konslet, Jadi Zahra menuju ke dapur perusahaan.
"Zahra, kau mau kemana?" tanya Biru
"Mau membuat kan Tuan dan Tuan Bima kopi, mesin itu sedang Eror,Tuan" ucap Zahra
Terlihat Biru yang hanya mengucapkan O atas ucapan Zahra, Setelah itu Zahra melanjutkan langkah kakinya.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Biru, Karena Biru tahu, ada sesuatu yang terjadi antar Bima dan Zahra sebelum ia datang tadi.
"Kau tahu kalau Zahra sudah mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri dari perusahaan ini?" pertanyaan itu membuat gerakan tangan Biru terhenti seketika.
"Aku yakin, kau tidak tahu akan hal ini, Dan perlu kau tahu, dia diterima di perusahaan Arsel, saingan bisnismu," ucap Bima dengan kesal
"Karena itulah aku datang kemari dan ingin bicarakan ini denganmu juga, tapi seperti nya keputusan Zahra sudah tidak bisa di ubah," ucap Bima menahan kesal, dia ingat betul bagaimana sikap dan sifat Arsel, pemuda yang dulu nya memanglah saingan Biru, tengil dan mesum.
Biru masih terdiam, Ia seperti orang yang berfikir, tangannya masih menyentuh berkas yang hendak ia ambil. Beberapa saat kemudian, Biru tersenyum dan membuka berkas itu.
"Ini Tuan kopinya," ucap Zahra seraya meletakkan dua cangkir kopi itu di meja Biru
"Tumben kau tidak buat ?" tanya Biru
"Asam lambung ku kambuh,Tuan. jadi sudah 3 hari ini saay tidak minum kopi lagi," ical Zahra berbohong, padahal ia ingin mengubah semua kebiasaan nya yang ia lakukan bersama Biru
"Jaga pola makan, dan jangan sampai telat," ucap bIru seraya menyesap kopi buatan Zahra
*****
"Hana, ternyata kau tidak bohong, kalau ternyata Tuan Biru yang tampan itu adalah kakak iparmu?" tanya teman-teman nya Hana
"Aku kan sudah bilang, kalau Kak Biru adalah kakak ipar ku, kalian sih gak percaya," jawab Hana dengan ketus
__ADS_1
"Kami kan tidak tahu, Na. wah ... ganteng banget ya," ucap teman-teman nya Hana
"Harus dong, Kakak ku Hanny kan cantik banget, ya pasti Suaminya harus ganteng," ucap Hana seraya mendarat kan bokong nya di kursinya.
"Tumben kau pakai rok yang lebih panjang," tanya sahabat Hana
"Gak boleh sama kak Biru. ini saja katanya pendek, mau di belikan nanti sama dia," ucap Hana
"Wih, gak keren, dong" ucap teman-temannya Hana
"kalau orang nya pada dasarnya cantik, pakai apapun pasti akan cantik, seperti aku ini, Hahahah" ucap Hanna dengan tawa nya yang masih sangat jelas terlihat.
"Pasti kakakmu beruntung ya punya suami macam Tuan Biru," ucap temannya Hana
"Bukan hanya kak Hanny yang beruntung, Kak Biru juga beruntung lah, karena sudah di cintai sama Kakak ku,Kalian kan tahu sendiri, Kakak ku Hanny selalu menjadi incaran semua teman laki-laki nya" ucap Hana bangga
"Iya juga sih, wah ... pastinya kau selalu mencuri pandang dengan Tuan Biru," goda temannya Hana
Cinta bukan karena rupa,bukan karena harta dan jabatan. Cinta adalah keikhlasan dan ketulusan. Hanny senyum-senyum sendiri karena ia merasa harinya susah jauh berbeda.
Hari yang awalnya selalu di lewati dengan kebisuan, Kini menjadi lebih ceria. Apalagi Biru yang saat ini mengantar ia ke rumah sakit.
"Sus, Apakah pasien ruangan Kamboja, susah pulang?" tanya Hanny yang baru ingat bahwa ada jadwal piket yang ia lupakan.
"Belum sus, anaknya muntah lagi tadi," ucak Suster yang membantu Hanny dalam menjaga pasien.
"Ah baiklah ... terimakasih Sus," ucap Hanny seraya masuk kedalam dalam ruangannya. Waktu berjalan dengan cepat, Kini sudah hampir jam makan siang, Semua pekerjaan Biru sudah hampir selesai, Merasa pekerja nya sudah mulai ringan, Biru berdiri mengamati Zahra yang masih fokus dalam melakukan pekerjaan nya.
Di tatapnya wanita yang pernah mengisi hatinya itu. Ia tahu ... sedikit alasan Zahra ingin keluar adalah ingin menghindar dari Biru.
"Zahra, aku ingin bicara," ucap Biru yang mana membuat Zahra terkejut.
__ADS_1
"Tuan, maaf ... saya tidak menyadari kalau anda ada di belakang saya, "ucap Zahra yang kini berdiri. Benar dugaan Biru, Zahra sudah jauh membatasi dirinya dengan nya.