Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 95


__ADS_3

''Kakak, jika kakak sudah tidak kuat, mari mkita pergi dari sini kak,'' ucap adiknya yang tanpa Zahra ketahui sdah berdiri di dekatnya, seketika Zahra sangat terkejut, ia menjadi kaku, lidahnya kelu ketika ingin bicara dengan adiknya.


''Aku tahu, jika Aku masih sangat kecil untuk memahami masalah kakak dan kak Jigar, tapi melihat kakak menangs terus, aku bisa tahu jika kakak tidak bahagia dalam rumah ini, aku ingin melihat nkakak bahagia, karena hanya kakak yang aku punya,'' ucap adiknya seraya terus menatap Zahra yang mema,lingoan wajahnya.


Zahra berusaha menahan air matanya dan berusaha mengukir senyuman.


''Apa yang kau katakan sayang, kakak bahagia,ini adalah tangis bahagia dari kakak, kau tahu ... Kakak begitu merindukan ibu dan ayah, disini kakak mendapatkan itu dan kakak yakin jika kau juga merasakan kasih sayang ibu dan ayah dari mama dan papa kaka Jigar, iya kan? Kakak bahagia sayang, kau keahagiaan kakak, kakak ingin kau bahagia dan sukses, kakak bahagia, kakak benar-benar bahagia sayang,'' ucap Zahra seraya menguatkan diri untuk menatap adiknya.


Adiknya masih mencari kejujuran di mata kakaknya, namun ketika ia ingin bicara suara Jigar membuat adiknya menghnetikan ucapannya.


''Aku mencarimu, tidak tahunya kau disini dengannya, apa kalia lagi membicarakan hal yang serius?'' tanya Jigar seraya memegang ahu adiknya Zahra.


''Kakak masih ingat dengan embicaraan kita kan?'' tanya adiknya Zahra pada Jigar dengan mendongakkan kepalanya menatap pada kakak iparnya.


''Tentu, dan kakak akan menepai semua yang kakak katakan padamu, kenapa? Apakah kau tdak percaya dengan kakak?'' tanya Jigar


''Tidak tuan, sayang masuklah, jangan nakal, kalau kau lelah kau bisa istirahat,'' ucap Zahra seraya mengelus pipi adiknya.

__ADS_1


''Baik kak,'' ucap adiknya Zahra seraya berlalu meninggalkan kedua sejoli yang kini terlihat canggung, sedangkan Zahra terlihat  memalingkan wajahnya.


''Ada apa? Apakah aku ada berbuat salah?'' tanya Jigar, yang berusaha tdak ingin membuat kesalaha pahaman lagi.


''Tuan, apakah anda yakin tidaki ngin leas dari pernikahan ini, Kemana anda akan membawa rumah tangga ini?'' tanya Zahra


''Zahra, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku, apa yang terjadi? katakan saja, bukankah kita sudah sepakat akan memberi kesempatan pada hubungan ini?'' tanya Jigar seraya menari tubuh Zahra dan membuatnya menatap kearahnya.


Zahra membalas tatapan mata Jigar dan mencari kebenaran dari tatapannya itu.


''Apakah baju ini untuk nona Hanny?'' tanya Zahra seraya terus menatap mata Jigar, seketika Jigar terhenyak, dari mana Zahra tahu akan hal itu?


Jigar menarik tubuh Zahra dalam pelukannya, ia mengusap lembut rambut Zahra


''Mari kita lupakan masa lalu dan mencoba membuka kehidupan kita yang baru, orang tuaku begitu bahagia dengan kehadiranmu, rumah ini terasa lebih berwarna sejak kau datang, mungkin inilah cara Tuhan mendatangkan jodoh padaku, Aku sudah menghapus masa laluku dan akan menggantinya denganmu, mari kita mulai semua ini dari awal,'' ucap Jigar


''Jangan beri aku harapan jika tuan akan membuatku patah lagi, Tuan ... Aku pernah jatuh cinta tapi aku di sakiti dengan sebegitu rupa bahkan sampai tuan membenciku karena cinta itu, sekarang tuan memberikan harapan yang sama, apakah tuan yakin tidak akan membuatku merasakan luka yang sama?'' tanya Zahra seraya melepaskan pelukannya dan menatap Jigar, tangan Jigar masih berada di pinggang Zahra.

__ADS_1


''Aku tidak bisa berjanji banyak hal padamu, karena aku takut mengingkarinya. Tapi aku akan berusaha agar bisa memberikan yang terbaik untukmu,'' ucap Jigar, tapa mereka sadari Biru mendengar dan menyaksikan semuanya. Ada senyuman yang tampak di bibir tamoan Biru.


'Setidaknya aku tahu kalau Jigar akan berusaha memberikan kebahagiaan untukmu,' bathin Biru, Hanny juga tersenyum dan merangkul pinggang Biru. Biru mengecup kening Hanny dan saling melemparkan senyumannya.


Malam semakin larut, Zahra kini kembali bergabung dengan mereka.


Papanya Jigar tersenyum bersama dengan istrinya.


''Hai, jangan canggung dengan kami, mungkin dirumah sakit kami sedikit pendiam, tapi percayalah kami sama seperti yang lainnya, di sini kami akan tertawa lepas,'' ucap dokter Fani.


''Terimakasih dokter,'' ucap Zahra berusaha tersenyum namun Arsel tahu jika Zahra sempat menangis.


''Tuan Jigar, mungkin aku bukanlah laki-laki yang baik, karena kau tahu sendiri bagaiaman kau pada wanita, tapi tuan Jigar, Nona Zahra adalah yang paling berbeda bahkan dari pada nona Hanny, Nona Zahra-lah yang paling menderita disini, semua orang menilai ia yang bersalah, padahal dialah yang paling tersakiti, kejadian di Bandara bukankah salah Zahra tai yang mendapatkanj hukuman dari kalian semua adalah dirinya, kau bisa melakukan iu demi sahabatmu Hanny, tapi aku akan lakukan yang sama jika kau menyakiti nona Zahra,'' ucap Arsel ketika ia berdua dengan Jigar.  Sejenak Jigar terdiam, ia membenaarkan apa yang Arsel katakan.


''Áku mengerti dengan pa yang tuan Arsel katakan, karena itulah aku akan berusah menebus kesalahanku padanya dan tidak akan mebarkan tuan Arsel mendapatkan kesempatan untuk mendekatinya,'' ucap Jigar


''Kau salah tuan Jigar, meskipun aku mendekatinya jika kalian masih terikat hubunga Nona Zahra tidak akan tergoda, karean nona Zahra adalah tipe wanita yang setia, kau beruntung mendaptkannya, padahal aku sudah menawarkan diri untuk menjadi suaminya, tapi apakah kau tahu apa jawaban yang ia berikan?'' tanya Arsel

__ADS_1


'''Nona Zahra akan memilihmu dari pada aku, karena dia ingin membuktikan jika semua penilaianmu tentangnya salah, kau tidak tahu bagaimana hancurnya dia ketika kau menamparnya saat itu, dia terluka hatinya karena pernikahan kekasihnya di tambah tamparan yang kau berikan, tapi semua sudah berlalu, aku berharap tuan Jigar bisa mengganti setiap tetesan air mata nona Zahra dengan kebahgiaan, dia wanita pertama yang mengajarkan aku banyak hal, jangan biarkan dia bersedih, Tuan Jigar,'' ujar Arsel dengan mata yang berkaca-kaca, ia menatap Zahra yang masih terlalu canggung berbincang dengan para dokter wanita, Arsel mengusap matanya yang akan hendak menjatuhkan air mata.


Biru tentu mendengar semua yang Arsel katakan, Arsel sengaja mengatakan itu pada Jigar karena Arsel ingin Biru juga merasa bersalah akan apa yang sudah ia lakukan pada Zahra. Kedua pria itu kini terdiam, Arsel tersenym ketika melihat kedua ;aki-laki itu merasa bersalah pada Zahra.


__ADS_2