Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 92


__ADS_3

Terkadang kita harus melewati jalan yang menyakitkan untuk sampai pada tujuan yang indah. Trkadang juga ada rasa ingin menyerah namun percayalah itu adalah godaan terbesar dalam mencapai tujuan.


Biru dan Hanny berusha untuk memperbaiki bahkan mereka berusaha menghabiskan waktu bersama disetiap waktu senggang mereka, seperti halnya jam istirahat jika Biru tidak sibuk ia akan mendatangi Hanny mesi hanya sekedar makan siang bersama, Jigar dan Hanni juga sudah mulai jarang bertemu karena kesibukan mereka.


''Ya, gak ada kalian itu sebenarnya gak asyik tau,'' ucap Fanny


''Ya, mau bagaimana lagi, kau kan tahu aku dan dokter Jigar sekarang benar-benar disibukkan dengan pekerjaan,'' ucap Hanny


''Aku tahu, tapi kangen aja dengan keersamaan kita, kau tahu ... Hal yang paling aku ingat itu Jigar selalu ada di saat kau butuh, misal kau terpleset, dia dengan sigap memantumu, disaat kau ngeuh haus dengan sigap Jigar mencarikan kau minuman, andaikan kalian berjodoh sudah pasti kalian akan menjadi pasangan yang sangat serasi dan cocok, sama-sama dokter dan kalian juga berencana untuk meneruskan kuliah kalian, kalian memiliki cita-cita yang sama yaitu menjai seorang profesor, bukankah itu sudah menunjukkkan kalau kalian banyak kesamaan?'' tanya Fanny


''Karena kami banyak keamaan makanya kami gak jodoh, jika kami bersatu maka hubungan kami akan hambar dan membosankan, karena keinginan kita yang sama berambisi pada sebuah kerjaan maka tidak ada gairah diantara kita, tipe wanita Jigar itu wanita yang senantiasa berada dirumah dan menunggunya pulang, sedangkan aku, di hubungi di setiap waktu, dan juga ... rumah tangga yang sama profesi menurutku tidak ada hal yang lain an menarik yang akan kita bahas, karena dunia kita sama yaitu kedokteran,'' ucap Hanny


''Apa yang di katakan dokter Hanny benar, Fanny. Jadi suah cukup menjodohkan kami, kami pantasnya menjadi sahabat,'' ucap tia-tiba Jigar dari belakang tubuh Hanny, Jigar memegang pundak Hanny dari belakang, membuat Hanny mendongakkan kepalanya sejenak dan bisa meihat Jigar yang tersenyum padanya.


''Nanti malam, aku undang kalian makan malam dirumah, bawa pasangan kalian baik pacar atau tuannagan bawa sakja, dan kamu bawa Biru juga,'' ucap Jigar


''Memangnya ada acara apa? Kau tidak lagi ulang tahun kan?'' tanya Hanny


''Ulang tahun? Apa harus nunggu ulang tahun aku mengundang kalian kerumah, ayolah aku ingin makan bareng saja, sepertinya akan menyenangkan jika kita makan rame-rame,'' ujar HJigar yang kini duduk di dekat mereka.


''Dan itu akan membuat Zahra dan Biru bertemu lagi,'' ucap Fanny keceplosan.


Sejenak suasaa menjadi hening, karena itu adalah tujuan Jigar. Apakah benar keduanya sudah sama-sama menghilangkan rasa atau sebaliknya.


Seteah mendengar uacapan adiknya Zahra, Beberapa har ini Jigar selalu memperhatikan Zahra dalam diam.

__ADS_1


Zahra selalu bercana dengan sang mama, Zahra sering menghabiskan waktu bersama dengan mamanya, misal membuat kue dan masak. Meskipun d daalam kamar, Zahra kini tidak berusaha bicara duan, biasanya wanita itu selau mengajak Jigar bicara sebelum perdebatan panjang itu terjadi.


*****


''Apakah kakak ahagia disini?'' tanya adiknya Zahra


''Kenapa, Apakah kakak terlihat tidak bahagia?'' tanya Zahra seraya tersenyum dan merangkul adiknya, Zahra cukup bahagia karena kedua mertuanya juga sangat menyayangi adiknya sehingga daiknya bisa merasakan kasih sayang orang tua layaknya anak-anak yang lainnya, bahkaqn yang menghadiri rapat di sekolahannya kemarena dalah kedua mertuanya, mereka bangga karena sang adik lagi dan lagi menjadi juara satu. Kedua mertanya juga antusias menyekolahkan adiknya Zahra kesekolahan yang bagus karena salut akan prestasi yang di dapat adiknya.


''Kakak bahagia sayang, sangat bahagia, disini kita bisa merasakan kasih sayang ayah dan ibu,''


''Tapi kakak tidak di sayangi oleh kak Jigar,'' ucap adiknya memotong ucapan Zahra.


''Kata siapa? Kak Jigar sayang sama kakak, buktinya dia nikahi kakak, dengarkan kakak sayang, Kadang kita mencintai seseorang itu tidak perlu di tunjukkan atau di nyatakan, cukup dengan bukti, karena tak semua wanita hanya percaya dengan sebuah ucapan tapi dengan tindakan, dan semua yang kita lihat kadang tak sesuai dengan kenyataan, '' ucap Zahra.


''Benarkah?'' tanya adiknya Zahra tak percaya.


''Mungkin saat ini kau belum faham dengan apa yang kakak katakan, tapi suatu saat nanti, kalau kau susah dewasa, kau akan memahaminya sendiri, sekarang kau fokuslah belajar dan buatlah kakak bangga padamu, raihlah cita-citamu, buatlah ayah dan ibu bangga di surga, '' ucap Zahra.


Tanpa Zahra sadari, semua yang ia bicarakan dengan adiknya di dengar oleh Jigar. Jigar sengaja mencari keberadaan Zahra, karena sewaktu ia pulang dari rumah sakit ia tidak melihat istrinya itu, ia mengira jika Zahra berada di dapur bersama mamanya, namun saat ia kedapur ia tidak melihat sang istri.


''Ma, Lihat Zahra gak?'' ganya Jigar memberanikan diri bertanya pada mamanya.


''Sepertunya dia ada di belakang, Jigar.


, ada apa?'' tanya Mamanya.

__ADS_1


''Gak ada apa-apa ma, biar Jigar cari,'' ucap Jigar seraya meninggalkan dapur, dan disitulah ia mendengar semua yang Zahra bicarakan dengan sang adik.


''Apakah kakak tidak lelah menjadi orang baik? Mengapa kakak tidak membalas sama sekali perbuatan mereka?'' tanya sang adik.


''Untuk apa? Hanya akan. membuat kita tambah emosi, Begini dek... Mau kita jelaskan seperti apapun, jika mereka tidak menyukai kakak, mereka akan tetap tidak menyukai kakak, begitu juga sebaliknya, jika mereka percaya sama kakak, suka sama kakak, tanpa kakak jelaskanpun mereka akan percaya pada kakak bahkan mereka akan mencari tahu sendiri kebenaran itu,'' icap Zahra seraya mengelus kepala adiknya.


''Hai, kau disini, Kakka dari tadi mencarimu, '' ucap tiba-tiba Jigar tentu membuat Zahra sangat terkejut.


''Ada apa kak Jigar?'' tanya adiknya Zahra


''Kau bilang ponsel-mu rusak, kaka sudah membelikan yang baru untukmu, ponselnya kakak taruh di kamarmu,'' ucap Jigar.


''Kakak belikan yang baru?'' tanya adiknya Zahra tak percaya.


''Iya, sebagai hadiah karrna kau. lilis dengan nilai yang terbaik, pertahankan oke,'' ucap Jigar


''Terimakasih kak, kak Zahra.... aku kekamar dulu ya,'' ucap adiknya dengan rait wakah yang begitu bahagia, Zahra hanya tersnyum dan menganggukkan kepalanya.


Zahra dan Jigar melihat kepergian adiknya.


"Berapa ponselnya, nanti akan saya ganti, saya masih ada tabungan untuk kebutuhan adikku, '' ucapnZahra setelah beberapa saat mereka terdiam.


''Dia adikku juga, apakah harus kau menggantinya?'' tanya Jigar.


''Tuan Biru dan Nona Hanny sudah baik-baik saja,bahkan mereka sudah terlihat bahagia, Apakah kita bisa mengakhiri semuanya?'' tanya Zahra membuat Jigar terdiam.

__ADS_1


Keduanya kini sama-sama terdiam dengan pikiran mereka sendiri.


__ADS_2