Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 89


__ADS_3

Kehidupan akan terus berjalan dengan seiringnya waktu, Mungkin apa yang dilakukan Jigar adalah hal yang gila dan tidak masuk akal, tapi npercayaah semuanya juga sudah campur tangan yang maha punya takdir, kita tidak bisa menghindar ataupun mendekati.


Kini Jigar sudah sampai dirumah sakit, ia mendapatkan tatapan dari beberapa suster yag berpapasan dengannya, Jigar mengerti ini semua karena ia terlambat.


''Wah pengantin baru kok malah masuk kerja, terlambat ya dok?'' ucap seorang suster, Jigar hanya tersenyum seraya mempercepat langkahnya. Namun siapa sangka ia akan berpapasan denga dokter Hanny, Sejenak mereka terdiam dan saling menatap.


''Kau mau keruanganmu, dokter Jigar?'' tanya Hanny memecah keheningan.


''Ah iya, 20 menit akan ada operasi, aku juga mau menyiapkan semuan, '' ucap Jigar dengan gelisah.


''Aku boleh ikut keruangan dokter?'' tanya Hanny.


''Apakah harus se-formal itu?'' tanya Jigar seraya tersenyum berusaha mentralkan perasaannya.


''Ayo, '' ajak Jigar pada Hanny, seraya membuka pintu ruangannya. Jigar langsung mengambil berkas pasien yang akan ia tangani.

__ADS_1


''Aku ucapkan maaf dan terimakasih,'' ucao Hanny seraya meremae tangannya sendiri di bawah meja. Mendengar ucapan Hanny, Jigar langsung menghentikan gerakan tangannya.


''Maaf, karena aku, kau harus menikah dengan Zahra, tapi aku pastikan kau akan bahagia dengannya, dia gadis yang baik bahkan sangat baik, dan terimakasih atas semua yang sudah kau lakukan untukku, terimakasih akan pengorbananmu yang besar ini, tapi Jigar.... seharusnya kau tidak perlu lakukan itu untukku, kau susah banyak melakukan hal untukku, aku tudak tahu harus membalas semuanya dengan apa, aku... aku, '' ucapan Hanny terhenti ketika Jigar memeluknya dari belakang.


''Jangan katakan apapun lagi, aku hanya ingin kamu bahagia itu saja, akh hanya ingin Hanny seperti dulu, ceria dan selalu tersenyum, hanya itu yang aku inginkan darimu, terlepas dari rasa yang aku punya, aku ikhlas melakukan semua ini untukmu, kota tahu, cinta sedang mempermainkan kita, tapi sekarang, kita yang harus mempermainkan cinta, mungkin saat ini akan sulit untukku untuk berpaling rasa pada Zahra, tapi aku harap dengan seiring waktu berjalan, aku bisa menerima dia sebagai istriku, begitu juga denganmu, mulailah hidupmu yang baru, aku tahu kau sangag mencintai Biru, dia cinta pertama bagimu, begitu juga denganku, kaulah cinta pertamaku, tapi Hanny, aku tudak ingin menjadi laki-laki egois, '' ucap Jigar yang masih memeluk Hanny dari belakang, yang mana Hanny masih dengan posisi duduk.


''Kita mulai lembaran baru dengan cara kita dan rumah tangga kita, '' ucap Jigar. Hanny bangkit dari duduknya dan menatap Jigar, laki-laki yang sudah ia anggap sebagai sahabat.


Hanny memeluk Jigar dengan isak tangis.


'Semoga kau bahagia Hanny, Aku tahu cinta itu egois, dan aku sudah menggunakan keegoisan itu untuk menahan Zahra, Semoga apa yang aku lakukan bisa membuatmu bahagia, ' bathin Jigar, beberapa saat itu mereka pun saling melepaskan pelukannya.


Jigar menghapus air mata Hanny. ''Berbahagialah dengan cintamu, tidak akan ada yang mengganggunya lagi, '' Jigar tersenyum, ini adalah pertama kakiany mereka melakukan kontak fisik yang begitu dekat selama menjadi sahabat.


Hanny tersenyum meski air matanya terus mengalir.

__ADS_1


''Jauh lebih cantik kalau kau tersenyum seperti ini, jadi jangan pernah menangis lagi, '' ucap Jigar.


''Bagaimana malam pertamamu, Apakah menyenangkan?'' tanya Hanny setelan beberapa saat keheningan tercipta.


Hanny membantu Jigar membereskan dan memilih berkas yang penting, sedangkan Jigar sudah menemukan berkas yang ia butuhkan.


''Kau bertanya malam pertama pada pengantin yang tidak saling mencintai, cerita apa yang ingin kau dengar hem?'' tanya Jigar dengan senyumnya.


''Misal kau memberikan buku aturan ketika kalian berada di dalam kamar atau luar kamar, atau kalian buat perjanjian apa gitu, '' ucap Hany.


''Apakah kau diperlakukan seperti itu oleh Biru?'' tanya Jigar serius.


''Mmm, nggak, mana ada seperti itu, itukan kebanyakan novel yang aku baca,'' ucap Hanny, melihat tatapan Biru, Hanny bisa saja keceplosan dan menceritakan semuanya pada Jigar.


''Baiklah, Jigar. Aku rasa kau sangat sibuk, kita sambung nanti, semoga berhasil, '' ucap Hanny seraya menghindar dari tatapan Jigar.

__ADS_1


__ADS_2