
Di tengah-tengah kebingungan Saga mencari Hanny, Zahra menangis di dalam kamarnya, semua perkataan Saga pada Hanny terngiang di ingatan nya, Ia semakin merasa bersalah pada Hanny, Ia tidak menyangka bahwa Saga bisa berkata kasar pada Hanny di depan mereka semua hanya demi dirinya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti siapapun, apalagi Nona Hanny, Maafkan aku, Nona. Seharusnya aku tidak mengambil makanan itu" Isak tangis Zahra masih terus terdengar pilu.
"Kakak kenapa? Apa ada masalah?" tanya adiknya Zahra
"Tidak apa-apa, dek. Kakak baik-baik saja, hanya saja ... kakak merindukan ayah dan ibu, itu saja. Kamu kok belum tidur?" tanya Zahra
"Kakak sedih karena kak Saga menikah dengan kak dokter itu ya, Kak?"tanya Yogi adiknya Zahra
"Bukan, bukan karena itu juga, kau istirahat lah, ini sudah malam, besok kau juga harus sekolah " ucap Zahra seraya mengelus kepala adiknya.
"Kakak jangan menangis lagi, kelak kalau Yogi sudah besar, Yogi berjanji akan membahagiakan kakak " ucap Yogi
"Akan kakak tagih nanti saat kau sudah dewasa" Zahra menyentuh pipi sang adik yang kini sudah mulai gembul
*****
"Baiklah ... Ini sudah sangat malam, kalau begitu ... aku pulang dulu, ya" Hanny berpamitan pada Nina dan juga pada yang lainnya
"Yah, kok sudah mau pulang sih, Han. Tunggulah bentar lagi " ucap yang lainnya
"Sudah tidak apa-apa, pulanglah! kau sudah punya suami yang harus kau layani dengan baik, selamat malam Hanny" Nina menepuk pundak teman nya itu.
"Baiklah, Sekali lagi terimakasih ya dan maaf hadiahnya nyusul " Hanny mencium kedua pipi Nina sebelum meninggalkan tempat perayaan ulang tahun itu.
"Biar aku antar " ucap Jigar tiba-tiba
"Tidak usah, Aku bawa mobil sendiri" Hanny menolak tawaran Jigar
"Tidak baik jika kau pulang sendirian, Lagian ... kita juga searah kan,?" ucap Jigar yang masih ngotot ingin mengantarkan Hanny
"Baiklah kalau begitu, Semuanya ... kami pulang duluan ya" Hanny melambaikan tangannya pada semua temannya yang masih enggan untuk pulang
__ADS_1
"Oke, kalian hati-hatilah " teriak semua temannya Hanny.
Jigar mengikuti mobil Hanny hingga Hanny sampai di depan kediaman nya.
"dokter Jigar, terimakasih, Maaf ... gak nawarin mampir, udah malam" ucap Hanny dengan tersenyum pada Jigar
"Tidak masalah, Selamat malam, Hanny" ucap Jigar seraya terus menatap Hanny
"Selamat malam juga dokter Jigar" Hanny tersenyum juga pada Jigar, Lalu memasukkan mobilnya kedalam halaman rumahnya. Ia melihat rumahnya sudah gelap, kemungkinan besar Saga sudah tertidur, Ia seakan enggan untuk masuk, Namun ... ia tidak ingin ke kanak-kanakan yang lari dari kenyataan. Hanny pun masuk dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa. Ia mencoba untuk menata hatinya agar tidak emosi atau menangis lagi. Perlahan Hanny membual pintu rumahnya, Ia tidak menyangka bahwa Saga tertidur di sofa ruang tamu.
'Apakah dia menungguku? Seperti nya tidak mungkin,' bathin Hanny.
Awalnya Hanny ingin membangunkan Saga, Namun ... ia urungkan. Ia tidak ingin di salahkan lagi karena mengganggunya istirahat.
Hanny pun melangkahkan kakinya meninggalkan Saga dan masuk kedalam kamarnya. Bersamaan dengan masuknya Hanny, Saga terbangun.
Ia melihat kamar Hanny yang baru saja tertutup. Hatinya sedikit lega, Karena melihat Hanny sudah datang. Setidaknya Hanny dalam keadaan baik-baik saja dan tidak pulang kerumah Ibunya.
*****
"Lagian paman kenapa pulang jam segini, Ganggu tidur nya Bima,tau" cebik Bima
"Besok, Paman ada jadwal disini, sudah lah jangan protes " ucap sang Paman yang kini mendahului langkah Bima yang masih menahan kantuk.
"Bagaimana keadaan wanita itu menikah dengan teman mu?" tanya Paman nya Bima
"Hanny, Baik kok Paman, jangan bilang kalau paman masih menaruh harapan untuknya" tebak Bima dengan menatap pamannya
"Bima, Cinta itu boleh tapi bodoh jangan, Paman memang mencintai Hanny, memimpikan ia menjadi istri paman, tapi jika takdir tak berkehendak, Apa yang bisa paman lakukan, tutup hati dan membuka lembaran baru, hanya saja ... jika ia tak bahagia atau temanmu itu tak baik, sebisanya paman ingin membantu Hanny keluar dari pernikahan nya itu" ucap Pamannya Bima
*****
Pagi telah tiba, Hanny segera membuat sarapan pagi, hanya saja ... ia kini tidak memanggil Saga untuk turun, Ia hanya menyiapkan sarapan paginya dan pergi bekerja. Saga yang menunggu Hanny memanggil nya merasa heran, karena ini sudah hampir jam 7 tapi Hanny belum juga memanggil nya, Lelah menunggu, Akhirnya Saga keluar sendiri dari kamarnya, Ia melihat kearah kamar Hanny, tapi seperti sudah tidak ada orang. Ia pun turun dan menuju meja makan, Sarapannya sudah siap, hanya saja ia tidak melihat Hanny. Saga menghela nafasnya, Ia mengambil kertas yang mungkin Hanny sengaja menulis nya.
__ADS_1
"Saya tidak bisa memasak, hanya saja ... menyiapkan untuk suami adalah kewajiban, jika merasa tidak sesuai, tidak apa-apa, jangan di makan, aku berangkat kerja"
Saga lagi dan lagi mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sadar ... bahwa ucapannya sudah sangat melukai hatinya. Masakan Hanny sangatlah enak bahkan sangat enak, semua temannya juga memuji nya, hanya karena Zahra yang kepedasan, Ia malah mengatakan hal yang sangat menyakitkan bahkan Bima juga ikut marah padanya.
'Hanny, maafkan aku. Bukan maksud ku untuk menghina masakan mu, Maafkan aku' bathin Saga.
Ia berniat untuk mengunjungi rumah sakit tempat Hanny bekerja, sayangnya ... Zahra mengirim kan pesan, bahwa sebentar lagi Tuan Herman akan datang di acara pertemuan yang sudah kemaren di sepakati.
'Ah, sial! aku sampai lupa dengan pertemuan itu' bathin Saga yang kini memutar balik arah mobilnya.
Di tengah perjalanan, Pikiran Saga tidak bisa fokus pada apapun kecuali Hanny. Bayangan Hanny memasak, suara Hanny membangunkannya terngiang di ingatan nya.
'Ah sial!' umpat Saga seraya memukul setir mobilnya.
*****
"Assalamualaikum, Bunda" ucap Hanny saat menerima panggilan dari Bundanya Saga
"Nak, semuanya baik-baik saja, Kan?" tanya Bundanya Saga
"Semuanya baik-baik saja,Bun. Bunda jangan cemas, Maaf Hanny belum bisa berkunjung" Hanny berkata dengan di ikuti senyuman nya
"Bunda cemas, Nak. Karena semenjak kalian pindah, Kalian tidak pernah datang lagi" ucap Bunda nya Saga
"Mas Saga sibuk, Bunda. Hanny tidak berani mengajak nya" ucap Hanny
"Baiklah, biar Bunda yang menghubungi anak itu," ucap sang Bunda
"Baiklah, Bunda. Bunda jaga kesehatan, jangan pikirkan hal-hal yang akan membuat kesehatan Bunda menurun " ucap Hanny
"Kau yang terbaik, Nak. Baiklah ... selamat bekerja, sayang ..." ucap sang Bunda sebelum mengakhiri perbincangan mereka.
Hanny tersenyum saat melihat ponselnya sudah terputus panggilannya. Ia juga merindukan Ibunya yang sudah beberapa hari tidak ia lihat.
__ADS_1