
Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya mereka sudah sampai di kediaman orang tua Biru. Entah kenapa ada rasa tak nyaman di hati Zahra.
Tidak bisa di pungkiri, jika Zahra masih merasa gugup. Apalagi jika ia bertemu dengan Biru dan Ayahnya. Ayahnya Biru yang pernah datang berdasarkan ingin membeli harga cintanya, namun Zahra dengan tegas menolak uang yang akan diberikan oleh ayahnya Biru. Karena bagi Zahra cinta adalah anugerah yang paling indah, kata cinta tidak bisa dibeli oleh uang. Zahra tidak menyesali akan keputusan itu, namun ia akan menyesal jika saat itu dia mengambil uang dari ayahnya Biru karena jika dia mengambilnya maka nilai cinta itu tidak akan pernah ada lagi.
"Kenapa, Apakah kau gugup?''Tanya Jigar.
''Sedikit, Apakah kau marah?'' Tanya Zahra.
''Tidak! Aku sudah faham, tidak mudah bagi kita untuk beradaptasi, apalagi kau sudah melewati banyak hal dengan Biru, aku tidak akan marah lagi, tapi aku berharap kau tidak akan mengecewakan aku, '' ucap Jigar.
''Kakakku wanita yang setia, jadi jangan ragukan kesetiaannya, '' sahut adiknya Zahra seraya turun dari mobilnya.
Jigar dan Zahra saling bertukar pandangan, lalu mata Jigar dan Zahra sama-sama melihat ke arah adiknya Zahra.
Beberapa detik kemudian, Jigar tersenyum pada Zahra.
''Adikmu selalu begitu padaku, aku semakin menyukainya, ''ucap Jigar seraya turun dari mobilnya begitu juga dengan Zahra.
__ADS_1
''Maafkan dia kalau seandainya ada kata-kata dia yang salah atau menyakitimu, dia memang selalu begitu dari dulu,'' ucap Zahra Seraya tersenyum pada Jigar.
'' Apakah dia juga begitu pada Biru?''Tanya Jigar
''Ya, apalagi ketika ada konflik di antara kami. Dia akan sinis pada Tuan Biru, aku memakluminya karena adikku hanya memiliki aku tentu dia tidak ingin melihat aku sedih apalagi menangis, Bukankah dia adik yang sangat manis?'' Tanya Zahra.
''Sangat manis, dia akan menjadi laki-laki idola wanita kalau sudah dewasa nanti, '' ucap Jigar.
''Junior, kau main apa?'' Tanya Jigar ketika melihat adiknya Zahra duduk di dekat bunga-bunga yang ada di halaman rumah Biru.
''Ada kucing yang sangat bagus kak, Apa ini milik kak Biru?'' Tanya adiknya Zahra seraya mengambil anaknya kucing yang begitu lucu.
Acchim... Acchim
Adiknya Zahra baru ingat bahwa kakaknya alergi pada seekor kucing.
''Kau tidak apa-apa, Apakah kau alergi pada kucing?'' tanya jigar yang mana Zahra langsung menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
'' Maaf Kak, maaf. Aku lupa kalau kakak alergi pada kucing, habisnya kucingnya sangat lucu, ''ucap adiknya Zahra.
Melihat kakaknya yang masih terus bersin-bersin akhirnya adiknya langsung melepaskan kucing itu, Tanpa mereka duga pintu rumah Biru kini sudah terbuka dan ternyata yang membukanya adalah Hani.
''Zahra, Jigar, Hai sayang.... Kalian? Kenapa gak masuk?'' Tanya Hanny.
''Baru saja mau mengetuk pintu, malah sudah terbuka duluan, Bibi ada kan?'' Tanya Jigar.
''Ada, mari masuk,'' ucap Hanny seraya tersenyum pada Zahra dan Jigar.
Mereka semuapun masuk bersamaan dengan Bundanya Biru yang keluar dari ruang dapur.
''Wah, ada Jigar dan Zahra, mari duduk, Nak, '' ucap Bundanya Biru.
''Terimakasih, ! Nyonya, Nona, '' ucap Zahra seraya menundukkan kepalanya tanda hormat.
''Kalian dari mana? Apakah dari rumah langsung kemari?'' Tanya Bundanya Biru.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki menuruni tangga rumah membuat pusat perhatian mereka semua langsung ter-alihkan.