
''Nanti malam, akan banyak temanku yang akan malam disini, bisakah kau baantu maam dan bibi di dapur, akan ada Hanny dan Biru jjuga,'' ucap Jigar mengalihkan pembicaraan yang mana dirinya juga tidak suka dengan pembahasan yang Zahra ucapkan.
''Baiklah, sebentar lagi aku akan kedapur, Apakah nona Hanny memiliki pantangan dalam makanan atau tuan tahu makanan kesukaanya, biar nanti aku buatkan juga,'' ucap Zahra, yang mana ia ingat aka kejadian dimana Hanny mendapatkan kekecwaan dari Biru dengan bentakan karena waktu itu ia memiliki alergi namun masih saja ia memakannya.
''Tidak ada, dia suka semua makanan,'' ucap Jigar seraya tersenyum.
'Apaa ini akan menjadi karmaku nanti, apa aku akan mendapatkan bentakan dari Jigar ketika Nona Hanny mendapat masalah dalam makanannya, oh Tuhan, aku sangat takut,'bathin Zahra seraya terus melangkah menuju kedapur dan mengabarkan apa yang Jigar katakan pada mama dan bibinya.
''Jangan kahwatiir, Mama dan bibi udah sering kedatangan mereka, jadi mama sudah hafal makanan kesukaan mereka, kau duduklah biar mama dan bibi yang melakukannya,'' ucap mamanya Jigar
''Zahra ingin bantu mama jua, siapa tahu Zahra bisa pintar masak nanti,'' ucap Zahra seraya berdiri di dekat mama mertuanya, bukan tanpa aalasan Zahra ingin berlama di dapur, ia merasa tak nyaman ketika melihat Jigar selalu menatapnya.
*******
''Jigar mengundangku, Apakah kau juga di undang?'' tanya Bru seraya membuka kancing bajunya satu persatu.
''Iya, banyak teman yang di undang, semuanya bawa pasangan juga,'' ucap Hanny seraya mengamblkan baju ganti untuk Biru.
''Oh, Aku kira akan ada pertemuan keluarga, mungkin pertemuan teman kerja ya?'' tanya Biru
''Mungkin juga mas,'' ucap Hanny seraya mengambil baju kotor Biru dan membawanya ke tempat baju kotor.
''Bunda ingin mengajak kita liburan, Apakah Bunda sudah membicarkan denganmu?'' tanya Biru
''Sudah, mas. Awalnya tanggalnya bersamaan dengan acara rumah sakit, tapi Bunda bilang akan undur,'' jawab Hanny.
''Apakah kau masih mara padaku?'' tanya Biru
''Marah bagaimana maksudnya mas?'' tanya Hanny
''Marah akan kejadian beberapa minggu yang lalu,'' ucap Biru
__ADS_1
''Kita suddah sepakat untuk tidak membahas hal itu, kita seharusnya belajar dari Jigar dan Zahra, mereka berkorban untuk kita, aku hanya merasa tidak nyaman dengan Zahra, Mas,'' ucap Hanny yang kini duduk di tepi ranjang.
''Aku yang mengakibatkan ini semuanya, aku akan minta maaf padanya nanti malam,'' ucap Biru
''Jigar akan salah faham lagi, dan akan mengira jika kalian masih ada hubungan,'' ucap Hanny yang di benarkan oleh Biru, Jigar orangnya mudah menilai seseorng dari apa yang ia lihat, padahal tak semua yang ia lihat sesuai dengan kenyataannya.
Biru mendekati Hanny dan duduk di bawahnya, ia menggenggam kedua tangan Hanny dan menatap wajah Hanny.
''Jigar masih bekum percaya denganku, tai aku harap kau percaya padaku,'' ucap Biru
''Aku percaya, ya sudah sana mandi dulu, nanti airnya keburu dingin, aku aka buatkan kopi dulu,'' ucap Hanny.
Awalnya Hanny enggan untuk percaya, namun ia lelah berperang dengan hatinya sendiri, ia juga tidak bisa selalu berada dalam keadaan marah dan kesal, ia butuh ketenangan, perlahan Biru terus meyakinkan Hanny jika ia sudah tidak akan lagi mengulang kesalahan yang sama, bahkan Biru tidak pernah memegnag onselnya ketika berada dirumah, ia selalu menghabiskan waktu bersama Hanny.
Mungkin benar kata orang, seribu kebaikan kita aakan tertutui dengan kesalahan kecil yang kita perbuat. Biru mencintai Zahra salahnya Biru menikah dengan Hanny, Cinta itu menjadi salah karena mereka hanya menilai dari satu sisi, tidkkah mereka menilai dari sisi Biru dan Zahra. Di sini semua orang hanya menilai dari sisi Hanny yang tersakiti, padahal yang paling tersakiti adalah Zahra dan Biru.
******
''Halah, nilang saa kaau kau ingin lihat Zahra, iya kan?'' goda mamanya Jigar membuat Zahra langsung mematung karena malu.
'Mana ada anak kalia ingin melihatku, dia paling benci padaku,'bathin Zahra
''Apa yang kau masak itu?'' tanya Jigar yang kini tubuhnya hampir saja menempel pada tubuh Zahra dari belakang.
''Rendang mas, katanya Nona Hanny sangat menyukai Rendang, tapi jika ada yang salah, mas bisa katakan,'' uca Zahra yang terdengar gugup.
''Baunya enak, boleh aku nyicipi?'' tanya Jigar.
Melihat nteraksi anaknya, mamanya Jigar dan bibinya ergi dan meninggalkan mereka berdua.
Mamanya Jigar dan bibiknya kini mengurus meja makan.
__ADS_1
''Nyonya bisa saja,'' ucap sang bibi
''Biarkan saja, Bi. Jigar terklalu kaku pada Zahra, kashan anak itu seperti tertekan,'' ucap mamanya Jigar.
''Mereka kan nikah mendadak, nyonya. Wajar sih jika masih kaku, tapi melihat tuan Jigar yang mendekati nona Zahra duuan, bibi yakin sebentar lagi akan ada benih cinta diantara mereka,'' ucap sang bibi
''Ah, bibi pinter sekali sih, semoga saja ya bi, semoga kesalah fahaman dianatar mereka segera hilang, dan mereka bisa hidup normal layaknya pasangan suami-istri pada umumnya, aku suka dengan Zahra bi, dari awal aku tidak percaya dengan tudhan yang Jigar lontarkan jika Zahra adalah perusak hubungan Biru dan Hanny, kalau menurutku ... disini yang egois itu adalah keinginan orang tua Biru, dia yang memaksa Biru menikahi Hanny ketika Biru memiliki Zahra dalam hidupya, seharusnya yang paling di kasihani disini adalah Zahra, dia dari kalangan biasa, pasti kalah jika harus melawan mas Tara,'' ucap Mamanya Jigar
''Jalan jodoh semua orang berbeda-beda ya, Nya,'' ucap bibi seraya membersihkan meja makan.
Di sisi lain, Zahra mengambilkan Jigar rendang yang sudah empuk dengan sedikit nasi sesuai dengan permintaan Jigar.
''Bagaimana rasanya Tuan? Apakah sudah sesuai dengan kesukaan nona Hanny?'''tanya Zahra
''Kenapa kau selalu mengutamakan kesukaan Hanny? Kenapa kau tidak bertanya tentang kesukaanku sama sekali?'' tanya Jigar seraya berdiri tepat di hadapan Zahra
''Karena di sini tamu yang paling istimewa itu adalah nona Hanny,'' ucap Zahra dengan pelan namun masih terdengar jelas di telinga Jigar, Zahra tertunduk menahan sesuatu yang bisa kapa saja berjatuhan dengan deras.
Jigar meletakkan piring yang ia pegang lalu menarik tubuh Zahra dalam pelukannya, seketika tubuh Zahra membeku.
''Kau ingin menangis? menangislah, jangan di tahan,'' ucap Jigar membuat Zahra benar-bena menumpahkan tangisannya.
''Aku takut, aku takut membuat kesalahan, aku takut ada keslaahn nanti sehingga membuat tuan akan berfikir buruk lagi tentangku, aku minta maaf duluan tuan, aku mohon jangan marahi aku jika ada adikku, aku mohon jika di hadapannya tuan bersikap lembut padaku, aku mohon tuan, aku tidak apa-apa jika tuan marah padaku ketika kita berdua tapi jangan di hadapan adikku. Dalam perjamuan nanti, bolehkah aku tidak hadir?'' tanya Zahra dalam isak tangisnya.
''Kenapa?'' tanya Jigar
''Aku tidak ingin membuat kesalahan, aku tidak ingin terjadi keslaah fahaman lagi, aku lelah tuan, aku lelah menjadi orang yang terus menrus disalahkan, aku lelah ketika tuan menuduhku yang tidak-tidak, aku sudah lelah dengan semuanya tuan,''ucap Zahra
''Bisakah tuan melepaskan aku setelah ini, aku janji akan menghilang dari kota ini, kalau bisa aku akan tinggal di desa, sekiranya aku tidak lagi terlihat oleh tuan,'' ucap Zahra seraya memberanikan diri menatap mata Jigar.
Perlahan Jigar mengusap air mata Zahra dengan kedua jari jempolnya
__ADS_1
'Apa yang kau katakan? Kau istriku perjamuan ini untukmu,'bathin Jigar, ingin sekali Jigar mengatakan hal itu pada Zahra, namun kata-kata itu seolah tercekat di tenggorakannya.