Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 38 Tiga Hati Yang Tersakiti


__ADS_3

Dalam lamunan, Zahra tersenyum namun tersirat luka dalam hati nya, Ia bahagia melihat pemandangan tadi, Dimana orang yang paling ia cintai di dunia ini sedang duduk menatap wanita lain yang tertunduk menangis.


Dalam pandangan itu, Zahra bisa melihat kesungguhan Biru, Ia menyeka air matanya dan tersenyum.


'Zahra, semangat, semoga setelah ini, kau bisa bertambah semangat lagi dalam bekerja,'


Zahra kembali fokus menatap layar komputer nya, Ia juga akan meminta untuk pindah keruangan yang lain setelah ini.


*****


"Apa yang terjadi sebenarnya,?" tanya Juan saat Bima baru sampai di kediaman nya


"Maksud paman apa?" tanya balik Bima seraya melangkah ke arah dapur dan mengambil sebotol air es, lalu meneguknya.


"Aku sudah melihat semuanya, Wanita itu, Hanny dan juga temanmu Biru, aku melihatnya," ucap Juan


"Kalau begitu, kenapa Paman masih bertanya," ucap Bima seraya menjatuhkan bobotnya ke sofa


"Jelaskan, aku mau kau menjelaskan apa yang terjadi," ucap Juan


"Paman, tidak baik ikut campur urusan orang lain, apalagi masalah rumah tangga," ucap Bima, membuat Juan berdecak kesal.


Juan tahu, ia tidak akan mendapatkan informasi apapun dari keponakan nya itu. Juan kini meninggalkan Bima yang memejamkan matanya di sofa. Bima sedikit membuka matanya untuk mengintip kepergian Juan lalu tersenyum tengil seraya memejamkan matanya lagi.


*****


"Kau tak kembali ke kantor,?" tanya Hanny saat ia sudah tenang dan bisa mengontrol perasaannya.


Biru menghela nafasnya dan menatap manik mata Hanny yang masih terlihat sembab.


"Aku ingin kau ikut keperusahaan," ucap Biru dengan ragu namun ... matanya saling beradu dengan Hanny. Hanny menjadi gugup juga saat mendengar ucapan Biru.


"Hanny, aku tidak tahu harus memulai dari mana, tapi ayo kita coba dari sekarang, aku tidak ingin selalu menyakitimu, Zahra ... dia_"


"Dia bukan wanita Egois seperti yang lainnya, aku tahu itu, Mas. Mungkin jika wanita lain, dia tidak akan bersikap seperti tadi, Dia baik dan sempurna," ucap Hanny

__ADS_1


"Tidak ada yang sempurna dalam diri manusia, Hanya sayang menciptakan kitalah yang maha sempurna, Aku sudah mengatakan pada Jigar, bahwa kau tak bisa kembali, jadi tidak ada alasan lagi untuk menolak ku," ucap Biru yang kini berdiri dan mengulurkan tangannya di hadapan Hanny.


Hanny menatap Biru, Ia seakan belum bisa percaya bahwa apa yang terjadi hari ini adalah kenyataan.


'Mungkin apa yang di katakan, Mas Biru benar. Kami butuh waktu untuk menyesuaikan diri masing-masing, seharusnya aku tidak seegois ini, Oh Tuhan, berilah jalan yang terbaik untuk kami,' bathin Hanny seraya tangannya menerima tangan Biru. Tentu Biru tersenyum mendapati hal itu.


Mereka berjalan beriringan, sangat serasi. penjaga pintu membukakan pintu untuk Biru dan Hanny. Biru sengaja memesan seluruh tempat itu secara mendadak, Karena ia juga ingin membicarakan semuanya dengan jelas pada Hanny. Bima lah yang membantunya tadi.


Biru membukakan pintu untuk Hanny, ya tepatnya ini biru dan Hani menaiki mobil Hanny.


Mobil yang biru bawa telah dibawa oleh Bima Untuk mengantarkan Zahra ke perusahaan terlebih dahulu.


Hanny dan Biru sama-sama membisu, Hanny fokus pada arah jalanan, sedangkan Biru fokus mengemudi. Tidak ada percakapan antara keduanya.


"Akhirnya sampai," ucap Biru seraya membuka sealtbet


Biru segera turun dan membukakan pintu untuk Hanny. Beberapa karyawan nya melihat Bosnya berjalan berdampingan dengan seorang wanita yang begitu cantik dan elegan . Setiap langkahnya menjadi pusat perhatian. Mereka takjub saat melihat Hanny dari dekat. meskipun mata Hanny sembab tapi ia terlihat begitu cantik.


*Sungguh pasangan yang paling serasi dan sempurna, cantik dan tampan


Tapi, Nona Zahra tak kalah cantik sih, sayangnya ... bukan aku yang jadi Nona Zahra, seandainya aku yang jadi Nona Zahra, sudah ku gaet tuh Bos Biru


Mana mau Bos Biru padamu*,


Gosip setiap karyawan hampir lah sama semua, takjub dengan ketampanan Biru dan kecantikan Hanny. Biru menggenggam tangan Hanny melewati setiap lorong perusahaan.


Hanny menatap genggaman tangan itu, langkah Biru yang panjang, kadang membuat tangan Hanny ter-tarik.


Setelah mengagumi perusahaan Biru, Hanny menyadari bahwa kini ia berada di dalam lift, yang mana hanya ada dirinya dan Biru.


Kecanggungan mulai terasa lagi saat tangan Hanny terlepas dari genggaman Biru. Namun ... Biru lagi dan lagi menggenggam tangan Hanny.


"Kau gugup, Apakah ini pertama kalinya bagimu,?" tanya Biru


"Setiap apa yang akan aku lalui dengan mu, itu adalah pertama bagiku," ucapan Hanny mampu membuat Biru terkejut. Keterkejutan nya bahkan menimbulkan rasa bangga di hatinya. Karena ia menjadi satu-satunya lelaki yang menyentuh Hanny, meski hanya sekedar genggaman tangan.

__ADS_1


"Kau tidak pernah dekat dengan pria?" tanya Biru


"Dekat, Ada dokter Jigar dan dokter lainnya juga," jawab Hanny


"Bukan dekat seperti itu, maksud ku, pacaran atau kekasih," ucap Biru bersamaan dengan terbukanya Lift itu.


"Tidak ada waktu bagiku untuk itu, dan juga ... entahlah, aku lebih suka berteman," ucap Hanny seraya mengiringi langkah Biru, Entah kenapa Biru selalu menggenggam tangan Hanny, hingga ia sampai di depan ruangannya.


"Aku mohon jangan marah, Zahra satu ruangan dengan ku, tapi ... nanti dia akan pindah," ucap Biru sebelum masuk dalam ruangannya.


"Tidak apa-apa, aku sudah tahu itu," ucap Hanny seakan mengerti kecemasan Biru.


Biru pun masuk kedalam ruangan nya dengan diiringi ketikan pintu, Zahra yang fokus dengan pekerjaan nya tidak menyadari kedatangan Biru, Kaca mata putih bartender di matanya.


"Duduklah, akan aku pesankan minuman untukmu," ucap Biru seraya mempersilahkan Hanny duduk di sofa, dan itu membuat Zahra sadar bahwa Tuannya sudah datang.


Zahra langsung berdiri saat tahu, ia datang bukan seorang diri tapi dengan istrinya


"Selamat sore Tuan, Nona. Maaf saya tidak menyadari kedatangan kalian," ucap Zahra sopan seraya mengangguk kan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Zahra ... bisa buatkan Nona Hanny minuman," ucap Biru, Namun ... pandangan nya tak tertuju pada Zahra. pandangan Biru tertuju pada kursinya. Ia juga tidak nyaman meminta Zahra membuat kan minuman untuk Hanny. Tapi ... ia harus terbiasa dengan keadaan seperti ini. Karena Biru ingin Zahra tetap bekerja di dekatnya, Biru akan memperkenalkan Zahra dengan pria pilihannya. Agar Biru bisa tenang karena telah meninggal kan wanita yang begitu ia cintai itu.


"Baik Tuan, Kopi atau apa Nona?" tanya Zahra


"Tidak usah, aku minum air putih saja, Nona lanjutkan pekerjaan Nona saja," ucap Hanny tersenyum pada Zahra.


"Tidak apa-apa minum air putih?" tanya Biru


"Dari tadi pagi aku selalu minum yang manis, Aku juga harus minum air putih, Mas" ucap Hany seraya mendongakkan kepalanya melihat kearah Biru dengan bibir tersenyum


"Baiklah, aku kerja dulu, ada majalah dan Novel di bawah meja itu, siapa tahu kau suka. Ada beberapa judul di situ," ucap Biru


"Benarkah, kau suka membacanya ?" tanya Hanny seraya merogoh bawah meja


"Suka, coba baca yang judul AKU BUKAN SEBUAH PAJANGAN dan KEBANGKITAN ISTRI TERSAKITI, semoga suka," ucap Biru

__ADS_1


__ADS_2