
Zahra dan Hany saling berpelukan untuk pertama kalinya.
"Hubunga kita di awali kesalahan tapi kita akan sama-sama bertahan. Maafkan aku dan Mas Birru yang sudah menyakitimu selama ini, kau sangat baik Zahra bahkan sangat baik. Pantas jika Mas Biru begitu mencintaimu, " ucap Hanny.
"Apa yang kau katakan, kau juga sangat baik, pantas jika Mas Jigar juga sangat mencintaimu dulu, tapi sekarang hati mereka sudah bisa kita taklukkan dan semua itu sudah menjadi masa lalu. Garis takdir kita sudah ada yang atur, itu yang akun pegang selama ini,'' ucap Zahra.
''Apakah kau tidak akan pamitan denganku?'' Tanya seseorang yang kini berdiri tepat di hadapan Zahra. Seketika Zahra langsung bangun dari duduknya ketika melihat sosok yang begitu berarti dalam hidupnya selain, Jigar dan adiknya.
Ya, dialah Arsel. Selama ini Arsel selalu ada untuknya, menjadi sosok seorang kakak bagi Zahra, selalu memberi dukungan dan nasehat serta bimbingan untuk Zahra, meskipun Arsel adalah laki-laki yang tidak patut untuk dicontoh namun setiap bimbingan dan nasehatnya sangatlah berguna bagi Zahra. Zahra tidak menilai seseorang dari penampilan dan apa kata orang namun Zahra bisa menilai sendiri bagaimana orang itu selama dekat dengannya. Arsel adalah sosok yang paling bijaksana selama ini, meskipun Birru, Bima, Jigar dan yang lainnya mengatakan bahwa Arsel adalah laki-laki bajing4an yang akan menghancurkan masa depan Zahra, Namun ternyata Arsel membuktikan bahwa dirinya tidak seperti yang orang lain katakan. Karena bagi Arsel dia akan menghormati orang yang menghormati dirinya dan akan menghancurkan orang yang telah menghancurkannya sedangkan dengan Biru Arsel hanya menganggap Biru sebagai lawan bisnisnya. Mungkin kabar tentang Arsel terdengar sampai ke telinga Biru dan Biru menilainya dengan apa yang dikatakan oleh orang lain tanpa mencari tahu kebenarannya.
''Tuan Arsel, '' ucap Zahra, Arsel. merentangkan kedua tangannya, Zahra melihat kearah Jigar, Jigar menganggukkan kepalanya. Zahra langsung berhambut memeluk Arsel. Jigar sengaja mengundang Arsel karna ia tahu jika sang istri sangat merindukan sosok Arsel yang sudah dia angap seperti kakaknya sendiri. Jigar sangat tahu bagaimana Arsel selama. ini membantu dan melindunginya, bahkan Arsel sampai menawarkan diri untuk menikahinya agar tidak ada yang menyakitinya, Namun Zahra malah memilih menerima tawaran Jigar karena Zahra ingin membuat Jigar menyesal karena telah salah menilainya.
''Jangan menangis, nanti suamimu malah salah faham dan menyalahkanku, ''ucap Arsel seraya mengelus punggung Zahra.
__ADS_1
''Kau kemana saja, Tuan? Aku cari ke perusahaan anda tidak ada, '' ucap Zahra.
''Aku sedang liburan dengan adiknya Nona Hanny, Nona Hanny pasti dengar itu kan?'' Tanya Arsel membuat Zahra sangat terkejut.
''Jangan melotot seperti itu, buang pikiran kotormu itu, Hana adalah anak magang di perusahaanku dia sangat jenius dalam masalah keuangan jadi aku membawanya untuk menemui klien, Kau tahu.... ia sangat cerdas sama sepertimu, bedanya dia jenius dalam masalah keuangan sedangkan kau jenius dalam masalah teknik dan pemasaran, '' ucap Arsel.
''Tuan Arsel benar, terimakasih karna sudah memberikan kesempatan untuk adikku,'' ucap Hanny.
''Sama-sama, Nona Hanny, '' ucap Arsel.
''Jaga diri baik-baik, tetaplah menjadi Zahra yang apa adanya, semoga kalian sukses disana, '' ucap Birru seraya melepaskan pelukannya.
''Terimakasih, kau juga jaga diri baik-baik, jangan telat makan, salam sukses juga untukmu dan Hanny, '' ucap Zahra memberanikan menatap mata Birru.
__ADS_1
Semuanya terdiam ketika melihat interaksi antar Birru dan Zahra. Namun keduanya langsung sadar jika saat ini mereka menjadi pusat perhatian.
''Baiklah, semuanya terimakasih karena sudah datang dan maaf jika kami memiliki kesalahan baik di sengaja atau tidak, tolong maafkan kami, ''ucap Jigar seraya merangkul pinggang Zahra.
''Sama-sama, ah... Jigar... kami pasti akan sangat merindukan kalian, sukses selalu ya.... '' ucap mereka semua.
...----------------...
Malam perpisahan itupun terjadi, keesokan harinya, Jigar dan Zahra di temani Birru dan Hanny berangkat ke Bandara. Pelukan perpisahan pun di lewati.
''Kalian jaga diri disana,'' ucap Biru
''Pasti, semoga kita bertemu dan sudah sama-sama punya momongan, sepertinya istrimu sudah berisi kecebong mungkin,'' bisik Jigar membuat mata Birru melotot.
__ADS_1
''Kau tidak bercanda kan, Jigar?'' Tanya Birru.
"Coba saja bawa ke dokter, Semoga laki-laki, " ucap Jigar seraya menepuk pundak Birru.