
Putus cinta yang paling menyakitkan adalah ketika kita akan selalu di pertemukan dengan orang yang kita cinta dalam sebuah ikatan yang baru. Cina kadang datang namun tidak di takdirkan bersama.
''Hai Jigar, Hai Zahra, Hai Junior,'' sapa Biru seraya mengel;us kepala adiknya Zahra, namun anak kecil itu menghindar, Biru tahu jika adiknya Zahra masih kecewa dengannya. Banyak janji yang Biru ucapkan bersamanya, namun saat ini semuanya sudah berubah.
''Adek, jangan gitu, yang sopan pada tuan Biru,'' tegur Zahra
''Tidak apa-apa, Zahra, ah iya kalian nikmati minumannya,'' ucap Biru
''Bentar ya, karena kalian sudah ada di sini, jadi kalian harus makan malam disini,'' ucap Hanny seraya berdiri dari duduknya.
''Kamu mau kemana, Nak?'' Tanya bundanya Biru
''Mau bantu bibi untuk nyiapin makan malam, ah iya ... Zahra gak bisa makan pedas ya,'' ujar Hanny seraya tersenyum pada Zahra. Seketika Zahra dan Biru ingat akan malam itu. Biru mengerti dengan gerak-gerik Zahra ketika gelisah. Padahal Hanny tidak berniat untuk mengingatkan Zahra akan kejadian malam itu. Jigar yang tidak tahu akan kejadian malam itu menjadi heran dengan kegelisahan Zahra. Apalagi Jigar tahu jika Zahra baru saja sembuh dari sakitnya.
"Kau tidak apa-apa?'' Tanya Jigar seraya menggenggam tangan Zahra.
__ADS_1
Zahra membalas genggaman itu gara kegelisahannya berkurang. Tentu Biru dapat melihat itu, ia tersenyum bahagia karena Jigar sudah memperlakukan Zahra dengan baik.
"Mamamu mengatakan kalau kau sakit?" Gahya Bundanya Biru.
"Sudah sehat, Bi, " jawab Zahra seraya tersenyum pada Bundanya Biru.
"Bibi minta maaf atas apa yang terjadi pada masa lalu, Bibi dan paman sangat tidak nyaman denganmu, Zahra!" ujar Bundanya Biru.
"Semua sudah terjadi, Bi. Zahra berharap itu akan menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga untuk Zahra dan juga Tuan Biru, " ucap Zahra seraya melihat kearah Biru.
"Kau benar, Nak. Kami hanya menyesali dengan beberapa drama yang terjadi, kau pasti sangat dirugikan, " ucap Bundanya Biru.
"Bibi benar, seharusnya yang paling di salahkan disini nya, Biru. Putra Bibi itu, " Cebik Jigar seraya menatap Biru.
"Ya, ya... Aku yang salah, aku minta maaf, Jigar, maafkan aku Zahra, " ujar Biru.
__ADS_1
Tidak butuh waktu yang lama, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam, Hani benar-benar sangat membantu pelayan untuk menyiapkan makan malam spesial malam ini. Hani juga menyiapkan makanan kesukaan Jigar dan juga Biru walau bagaimanapun Jigar adalah sahabatnya selama berada di rumah sakit hingga seperti ini makanan favorit Jigar tidak pernah berubah.
''Makanlah! Pengantin Biru, " goda Hanny.
"Nona juga makanlah kita makan bersama, "ucap Zahra seraya menatap kearah Hanny untuk menghilangkan kegugupan itu.
"Tetaplah kalian seperti ini terus, rukun dengan penuh kasih sayang, maka Bunda bisa hidup dengan tenang tanpa banyak fikiran lagi, Bunda hanya merasakan bersalah pada Zahra karena tak adil padanya, Maafkan Bunda Zahra, " ucao Bundanya Biru.
"Apa yang Bunda katakan, kami sudah baik-baik saja, dan kami sudah mulai menjalani hidup kami, bukankah begitu, Jigar?" Tanya Biru.
"Tentu, Bibi semarang harus sehat, karena aku dan Biru akan berlomba untuk membuatkan cucu untuk Bibi dan Mama, " ucap Jigar yang berhasil membuat Bundanya Biru tersenyum bahagia.
...----------------...
"Apakah kau sudah siap?" bisik Jigar tepat di telinga Zahra ketika mereka sudah berada di dalam kamarnya. Gugup itulah yang Zahra rasakan. Namun ia harus siap dengan hal ini.
__ADS_1
Zahra menganggukkan kepalanya dengan pelan dan malu.
"Aku akan mengagumimu dengan penuh kesadaran dan cinta, Zahra. Semoga akan menjadi benih yang bagus agar segera menjadi janin dalam rahiimmu, " ucap lembut Jigar tepat di daun telinga Zahra.