Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 54


__ADS_3

Semenjak Hanny mengatakan jika Biru sedang lembur di kantor, amarah Jigar sudah memuncak, di paksakan duduk pun tidak bisa.


"Maaf semuanya, tiba-tiba aku ada janji, aku lupa, Pa ... Ma ... nanti aku jemput kalian disini," pamit Jigar berusaha senyum meskipun hatinya kini terbakar emosi


'Jika kau benar-benar berada di rumah Zahra, aku pastikan kau tak akan selamat dariku, Biru,' Bathin Jigar seraya terus membawa mobilnya dengan begitu cepat.


Hingga kini ia sudah sampai di perumahan yang lumayan elit dan asri. Benar saja ... Jigar melihat mobil Biru yang terparkir di depan rumah Zahra. Jigar memukul setir mobilnya, ia langsung turn dari mobilnya dan berjalan dengan begitu cepat.


Sesaat Jigar mendengar ucapan Zahra pada Biru.


"Bagaimana perasaan Nona Hanny , jika ia tahu kalau kau ada disini sekarang," ucap Zahra


"Kau akan tetap menjadi Pelakor dan kau akan menjadi bajingan, Biru" Ucap tiba-tiba seseorang dari arah pintu yang terbuka.


Seketika suasana menjadi hening, Saat Biru masih dalam keadaan terkejut, Jigar langsung menarik kerah baju Biru dan memberinya pukulan telak di wajahnya


"Aku sudah mengatakan, jangan sakiti Hanny, Hanny sudah meminta mundur dari ikatan ini tapi kau memberinya harapan akan rumah tangganya, Bajing*n kau Biru,!" Jigar terus memukul perut Biru dan wajahnya pun tak luput dari amukan.


"Tuan, lepaskan ... aku mohon, lepas kan Mas Biru, aku yang salah ... jadi salahkan aku," mohon Zahra


Plakk ...


"Jigar ... !" teriak Biru saat melihat Jigar menampar Zahra.


"Jika kau tak memohon untuk aku terus memukul Biru, aku tak akan menamparmu, pembelaan mu itu sudah cukup membuktikan bahwa kau benar-benar belum bisa melapaskan Biru, kau hanya munafik, Zahra. Kau dan Biru sama, Sama-sama tidak memiliki perasaan, Kalian ... Manusia rendahan, dan kau Zahra ... ! Apakah kau tak ingat, saat Hanny bela-belain membantumu saat kau tak punya apapun, Saat itu adikmu dalam.asa kritis dan kau tak.ounya uang sepeser pun, rumah sakit tak mau menampung mu, dan Hanny lah yang rela hati membiayai pengobatan adikmu serta mengurus nya, Aku tahu, kau adalah kekasih Biru, tapi bisakah kalian tak main belakang seperti ini, Ceraikan Hanny jika kau ingin bersama nya, !" ucap amarah Jigar


"Tuan, bukan begitu kenyataannya, Aku ... aku"


"Aku yang salah Jigar, bukan Zahra!" ucap Biru


"Tentu ... Kau yang paling salah disini, dan besok kau masih merencanakan bulan madu dengan Hanny setelah kau melakukan ini dengan Zahra, hebat kau Biru, Hanny terlalu berharga untuk pria bajingan seperti mu," ucap Jigar.


"Di sana istrimu melayani orang tuamu, dan ku disini bersama gundik mu,"

__ADS_1


"Aku bukan wanita seperti itu, Aku bukan wanita seperti itu ... !" teriak histeris Zahra yang langsung di peluk oleh Biru.


"Cih, bukan wanita seperti itu ... tapi mau di peluk oleh suami orang, munafik kalian!" ucap Jigar seraya melangkah kan kakinya meninggalkan Biru dan Zahra yang menangis di pelukan Biru, Melihat mobil Jigar sudah pergi, Zahra mendorong tubuh Biru.


"Mas lihat ! Semuanya sekarang menjadi kacau, Mas sudah membuat semua perjuangan ku untuk menjauhimu gagal, Aku mohon ... pulanglah! Jangan buat masalah dalam.hifupku Mas ... aku masih ada adikku yang ahrus aku bahagia kan," Ucap Zahra dengan terus menangis


"Lalu bagaimana dengan bahagia kita, Zahra! tidakkah kau memikirkan hatiku, aku sakit seperti ini terus, aku dan kamu sama-sama terluka dengan semua ini, ku mohonlah ... mari kita bersama lagi, Zahra ... aku tak sanggup kehilangan mu, aku tak bisa jauh denganmu," ucap Biru


"Kalau begitu ... ceraikan Nona Hanny, Apakah Mas sanggup,?" ucap Zahra dengan tatapan sinis


...****************...


"Bunda, Ayah ... Tante ... Om, Hanny pulang dulu, Hanny takut, Mas Biru sudah pulang," ucap Hannya seraya melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Menginaplah disini," ucap Tantenya Biru


"Tidak bisa Mbak, Besok mereka mau Honeymoon," goda Bundanya Biru yang membuat wajah Hanny merona, dengan bibir yang tersenyum.


"Hati-hati sayang, Jangan cepat cepat bawa mobil nya," ucap Bundanya Biru


"Siap, Bunda," ucap Hanny Seraya mencium pipi Bunda nya Biru.


Setelah berpamitan, Hanny pun keluar dari kediaman Biru. Dan saat itulah ia berpapasan dengan Jigar yang juga baru sampai.


"Hai, Udah selesai janjiannya,?" sapa Hanny


"Kau, Apakah kau sudah mau pulang ?" tahya balik Jigar


"Iya, aku takut Mas Biru sudah pulang, ya sudah ... aku pulang duluan ya, Selamat malam, Jigar" ucap Hanny dengan senyuman yang bahagia.


Betapa sakitnya hati Jigar, saat mendengar ucapan Hanny. Bukan karena cemburu, tapi karena sakit hati melihat orang yang begitu ia cintai di khianati oleh suaminya.


Jigar tidak mengeluarkan kata sepatahpun, Ia hanya menatap kepergian Hanny dengan hati yang pilu. Ia ingin mengatakan semuanya pada Hanny, Tapi ... Ia tak memiliki bukti.

__ADS_1


Tapi Jigar berjanji akan membuat perhitungan dengan Biru, dengan caranya sendiri.


Melihat mobil Hanny yang sudah berlalu, Jigar pun masuk, Ia bahkan langsung melihat kearah Pamannya, yaitu Ayahnya Biru.


"Jigar, kau sudah datang, sini ...duduklah dengan Bunda," ucap Bundanya Biru


"Terimakasih Bunda, Ayah ... bisakah Jigar bicara dengan Ayah? sebentar saja," ucap Jigar menatap kearah Ayahnya Biru


"Boleh ... boleh, Ayo kita keruangan Ayah," ucap Ayahnya Biru


"Jigar, apa yang ingin kau bicarakan dengan Pamanmu itu, bikin Mama penasaran tau, mau minta istri ke dia ya?" tebak Mama nya Jigar


"Mama benar, Jigar mau minta di carikan istri seperti Hanny," ucap Jigar dengan menampilkan deretan gigi nya


Membuat semuanya tertawa.


"Ya ... menantuku itu memang yang terbaik, " ucap Bundanya Biru..Yang mana Jigar dan Ayahnya Biru sudah tidak ada di dekat mereka.


...---------------- ...


Hanny menikmati pemandangan malam dengan membuka pintu jendela mobilnya, Ia tersenyum memikirkan hari bulan madunya dengan Biru.


Bulan madu yang tertunda, membuat detak jantung Hanny berpacu dengan begitu cepat.


Ia tidak pernah merasakan jatuh cinta, Tapi ... setiap dekat dengan Biru, hatinya merasa nyaman dan jantung nya berdetak dengan cepat. Ia selalu tersenyum kala Biru memberikan senyuman nya.


Perhatian Biru, membuat Hanny merasakan hal yang berbeda. Ia tidak tahu, apakah ini yang di namakan cinta, atau hanya rasa yang berbeda saja.


Ia bahagia saat Biru memberinya perhatian, meski hanya perhatian kecil, Apalagi seperti tadi siang, Ia begitu bahagia karena Biru sudah memberinya kejutan dengan datang ketempat ia bekerja.


Senyum Hanny terus mengembang, Apalagi saat ia melihat mobil sang suami sudah berada di depan rumahnya.


Hanny dengan tergesa turun dari mobil nya, ia tak mau Biru menunggu terlalu lama.

__ADS_1


__ADS_2