Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 37 Tiga Hati Yang Tersakiti


__ADS_3

sejenak Sagara biru Wilantara terdiam setelah mengucapkan pertanyaan itu pada Hanny Sidqia.


"Cemburu, mungkin itu tidak ! hanya saja ... mengetahui kenyataan nya, aku tidak ingin hidup terlalu lama dalam sebuah keterpaksaan, Aku wanita, aku mengerti perasaan Nona Zahra, Jika aku tahu dari awal, aku bisa saja menolak pernikahan ini, agar tidak menyakiti tiga hati. Aku ingin mengembalikan mu pada cintamu, aku juga ingin minta maaf, karena ayahku ... kau harus berkorban banyak dalam perasaan dan cintamu, aku benar-benar minta maaf, atas kejadian malam itu, dan juga atas kejadian pagi itu, aku benar-benar minta maaf telah membuat kalian terpisah seperti ini, aku benar-benar _" hiks ... hiks ... hiks ...


Sebelum Hanny meneruskan ucapannya yang bercampur dengan Isak tangisnya, Biru menggenggam tangan Hanny yang berada di atas meja.


Biru memberi isyarat pada pelayan untuk mengosongkan tempat itu dengan segera, Hanny yang masih tertunduk dengan Isak tangisnya belum menyadari bahwa semua orang yang ada di ruangan itu sudah tidak ada.


" Aku sakit hati, bukan cemburu, wanita mana yang tak akan terluka saat sang suami mengacuhkan nya, mengabaikan nya bahkan berkata yang tidak-tidak padanya, aku berfikir kalau kau mengatakan semua itu karena paksaan menikah ini, aku gak tahu kalau ada wanita lain di hati mu, Aku ... aku ikhlas jika pisah saat ini juga," ucap Hanny akhirnya seraya mengangkat wajahnya yang sedari tertunduk, matanya sudah sembab, pipinya sudah licin dengan air mata, Hanny baru menyadari bahwa Biru memegang tangannya.


Biru mendengar kan semua unek-unek yang ada dalam hati Hanny, dengan di begitu ... Biru tahu, apa saja yang harus ia lakukan dan harus ia katakan setelah ini.


"Apakah masih ada yang ingin kau katakan,? katakanlah semuanya, nanti ... giliran aku yang bicara," ucap Biru seraya mengusap air mata Hanny. Hanny masih sesenggukan, ia sudah meluapkan semua rasanya, rasa kecewanya, marahnya dan juga sakit hatinya.

__ADS_1


"Dengarkan aku baik-baik, Hanny Sidqia. Aku menikahi mu bukan hanya mengatakan ijab qobul di hadapan manusia tapi di hadapan sang pencipta. Di hadapannya aku sudah bersumpah akan menjaga mu, dan menjadikanmu sebagai tanggung jawabku, hanya saja ... tidak semudah itu, Benar ... aku dan Zahra saling mencintai, dan dia wanita pertama yang aku cintai, tapi ... semenjak perjodohan itu, pernikahan itu, aku dan Zahra sudah memutuskan hubungan, Mengenai malam itu, aku yang salah, aku terlalu khawatir padanya, tapi aku tidak bermaksud berkata kasar padamu, Han ... aku masih butuh waktu, hari ini ... aku sudah memutuskan untuk membuka hatiku, mati kita berusaha menjalankan pernikahan ini dengan sebaik mungkin, Aku sudah ingin mengenalmu lebih dekat lagi, aku ingin kita saling kenal, aku ingin kita berteman dalam pernikahan, hingga cinta itu datang tanpa kita duga," ucap Biru seraya masih menggenggam tangan Hanny.


"Maafkan aku sudah membuat mu selalu menangis, padahal aku tahu, kau wanita yang ceria, maafkan aku atas banyaknya air mata yang sudah kau tumpahkan selama pernikahan ini," Biru mengusap air matanya Hanny kembali.


"Aku sudah bersumpah untuk membahagiakan mu, tapi aku telah mengingkari janji dan sumpah itu, Hanny ... Tidak ada yang perlu kita maafkan, karena kita sama-sama bersalah, mari kita sama-sama membina ... saling cinta dan saling menyayangi, Aku berharap Tuhan masih mengampuni ku dan kau memaafkan aku, sehingga aku bisa berharap menyatu kan kita dalam hubungan suami-istri yang sakinah, mawadah warahmah," ucap Biru yang mampu menenangkan hati Hanny. Meskipun dada nya naik turun karena sesenggukan.


"Aku minta maaf, Oke" ucap Biru Seraya menyentuh pipi Hanny.


'Apa ini? Kenapa Biru menjadi begini, apa dia salah makan?' bathin Hanny


Lama tatapan mereka terkunci satu sama lain, Namun ... tiba-tiba Hanny mengalihkan pandangannya, Ia terkejut karena tidak ada seorang pun pengunjung di tempat itu, bahkan pintunya tertutup.


"Ini, Kenapa jadi sepi begini,?" tanya Hanny dengan wajah kebingungan, bahkan bagian kasir juga tidak ada.

__ADS_1


"Mereka sedang menonton acara karnaval mungkin," alasan Biru


"Nonton karnaval? mana bisa begitu," ucap Hanny dengan wajah kebingungan nya, lalu ia melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Aku sudah menghubungi Jigar, agar mencarikan dokter pengganti buatmu," ucap Biru yang sudah menyiapkan semuanya dengan sangat mapan.


"Lalu, Nona Zahra?" tanya Hanny celingukan


"Ini sudah jam kerja, dia pasti sudah balik ke kantor," ucap Biru seraya meminum.juw yang sudah pelayan berikan padanya.


Desir ombak di padang tandus, begitulah sentuhan yang Hanny rasakan, Karena selama ini Hanny tak pernah bersentuhan dengan intens dengan seorang pria.


Gersang, mungkin itulah suasana yang Hanny lalui selama ini. Hingga ia memiliki nasib dengan kisah yang rumit.

__ADS_1


__ADS_2