
''Jigar, kau adalah teman seperjuanganku, aku berharap kau selalu ada dalam lindungannya. Selalu ingat kami disini, dan selalu menjadi Jigar kami.
Kau tahu... Dulu aku sangat bergantung padamu, karena kau selalu ada untuk mengatasi semua kesulitanku, menjadi perisai dan pelindung bagiku, Aku sangat berterimakasih padamu, kau tahu... Kau yang terbaik, bahkan ketika kau menjadi seorang suami, kau tetap yang terbaik, ''ucap Hanny
Jigar tersenyum lalu memegang kedua bahu Hanny di hadapan Zahra dan Birru.
''Sekarang sudah ada Birru yang akan melakukan semua itu, katakan padaku jika Birru masih suka menyakitimu, '' ucap Jigar seraya menoleh kearah Birru.
''Jangan sakiti dia lagi, '' ucap Jigar yang dibalas dengan jempol oleh Birru. Lalu Birru menoleh ke arah Zahra yang tersenyum.
'Aku tida perlu menitipkan dia padamu, Jigar. Karena kau bukan bajingan sepertiku yang hanya bisa menyakiti mereka, ' bathin Birru dengan senyuman yang masih menyimpan luka jika melihat Zahra dan Hanny ketika mereka ia sakiti.
Birru menundukkan kepalanya lalu kembali mantap Jjgar dan Hanny yang saat ini di kelilingi teman-temannya.
''Birru, Zahra, Apa kalian tahu? Dari dulu kami mengira jika kedua manusia yang menjadi pasangan kalian ini akan menjadi jodoh, karna si laki begitu melindungi dan si wanita begitu ceroboh, untungnya dia cerdas, '' ucap dokter Fani, Zahra dan Birru hanya menanggapi dengan senyumannya.
''Sekarang klaian nimmatilah makanan dan pestanya, kami akan sangat merindukan kalian, " ucap Jigat seraya merangkul pinggang Zahra.
''Jangan lupakan kamk. kalau sudah sukses disana, '' goda yang lainnya.
__ADS_1
''Mana mungkin, do'akan saja yang terbaik, " ucap Jigar. Pesta kecil-kecilan itupun berlangsung, Birru mengamati eanha sang istri yang mulai tidak enak seperti semalam. Birru menggenggam tanga Hanny.
''Kaj tidak nyaman lagi? Sebaiknya kau duduk, jangan paksakan gabung, '' ucap Birru. Zahra mulai. menutup mulutnya lagi.
''Oh Tuhan, apa jangan-jangan aku hamil?' Bathin Hanny seraya mm terus emantik nafas agar mual yang ia rasakan berkurang. Ia pun mendengatkan apa yang Birru katakan, Hanny lebih memilih untuk duduk agar ia tidak lelah dan sakit kepala.
Zahra yang mengetahui perubahan raut wajahnya Hanny langsung berpamitan pada Jigar.
''Mas, aku mau ke nona Hannh dulu, Ya?'' Tanya Zahra.
''Ngapain?''Tanha Jigar seraya menoleh kearah Hanny dan Birru.
''Sakit? Tapi barusan dia.... '' ucap Jigaf seraya ikut melihat kearah Hanny yang terlihat pucat. Jigar melihat Birru yang menemaninya.
''amApa boleh, Mas? Siapa tahu Nona Hanny butuh obat'' Tanya Zahra. Walau bagaimanapun Zahra harus hati-hati dalam bertingkah, walau bagaimanapun juga Birru adalah mantannya dan dia tidak ingin jika Jigar akan salah paham akan dirinya.
''Pergilah! Tapi ingat... Jaga jarak dengan pria manapun, terutama ma si dia, '' ancam Jigar seraya tersenyum pada Zahra.
"Siap sayang, " jawab Zahra seraya berlalu membuat mata Jigar melongo. Ini adalah panggilan sayang pertama yang Zahra ucapkan padanya, tingkah Jigar membuat teman-temannya senyum-senyum dan saling bertukat pandangan.
__ADS_1
"Udah hajar nanti pas sampai di luar negeri,'' goda teman-temannya. Membuat Jigar sadar akan lamunannya.
...----------------...
''Apakah Nona sakit? Kalau begitu... Lebih baik Nona istirahat, '' ucap Zahra membuat Hanny langsung menoleh kearah Zahra.
''Terimakasih, duduklah bersamaku, '' ucap Hanny. Mendengar itu, Birru pun berdiri.
''Sayang, aku akan gabung dengan mereka, '' ucap Birru yang di jawab anggukan kepala oleh Hanny.
Setelah kepergian Biru, akhirnya Zahra pun duduk di samping Hanny, Zahra menawarkan obat namun Hanny menolaknya karena ia sangat yakin bahwa dirinya saat ini sedang hamil.
''Besok berangkat jam berapa? " Tanya Hanny
''Mungkin sekitar jam 7 Nona, '' jawab Zahra.
''Mengapa kau memanggilku, Nona? Panggil saja Hanny, bukankah itu jauh lebih bagus? , '' tanya Hanny.
''Han.. Hanny, '' ucap gugup Zahra, membuat Hanny tersenyum dengan indah. Hanny memegang kedua tangan Zahra dan minta maaf sertaa meminta ia jaga diri disana.
__ADS_1