Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 49 Tiga Hati Yang Tersakiti


__ADS_3

Pagi telah tiba, Zahra sudah siap dengan setelan baju kerjanya. Rok span bawah lutut berpaduan dengan kemeja.


"Adek ... Kakak berangkat ya, belajar yang giat, Mang Asep akan menjemput mu," ucap Zahra pada sang adik


"Aku tahu, kakak sedang terluka beberapa hari ini, Tapi kakak berusaha kuat demi aku kan kak? kak Biru sudah jahatin kakak, kan? Kak Biru sudah nikah lagi dengan dokter cantik itu, dan Kakak pindah kantor, karena kakak tidak bisa melupakan Kak Biru, Iya kan kak?" ucapan sang adik, membuat Zahra tak bisa membendung air matanya. Zahra duduk di depan sang adik seraya menghapus air matanya.


"Dengarkan kakak baik-baik, Jodoh sudah ada di tangan sang pencipta, Ini bukan salah kak Biru, dia tetap kakak yang baik untukmu, Mungkin saja Tuhan menyiapkan jodoh yang jauh lebih baik dari kak Biru untuk kakak, Iya kan?" ucap Zahra seraya tersenyum pada adiknya, satu-satunya penyemangat dalam hidup Zahra saat ini.


"Aku sayang kak Zahra," Adiknya langsung memeluk sang kakak.


'Kau benar sayang, Kakak hanya ingin menghindar darinya, Kakak tidak bisa membohongi diri kakak sendiri, Jika kakak terus-menerus bersama nya, Kakak tidak yakin, Apakah kakak bisa menghapus rasa itu, Sakit ini tanpa luka, tapi rasanya jauh lebih sakit dari luka sekujur tubuh, Maafkan aku Biru, Aku tak bisa bertahan dengan sakit ini,' bathin Zahra saat dalam pelukan adiknya.


Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di dekat tempat Zahra dan adiknya berpelukan. Seorang sopir turun dan membukakan pintu untuk sang Bos nya.


Sebuah payung menutupi tubuh Zahra dan adiknya dari sinar matahari. Membuat keduanya sadar, bahwa sedang ada seseorang di dekat mereka. Pelukan itupun terlepas, Zahra mendengarkan kepadanya dan melihat siapa sosok yang berdiri di belakangnya.


seketika Zahra terkejut karena Ia tidak menyangka bahwa dia akan datang ke tempat adiknya sekolah.

__ADS_1


"Tuan, anda ... ?"ucap gugup Zahra


"Wanita cantik tidak boleh terlalu lama terkena sinar matahari," ucap lelaki yang di sebut Tuan oleh Zahra


Zahra langsung bangun dari duduknya,


"Dek, Sudah waktunya masuk, Kakak juga sudah harus ke kantor," ucap Zahra pada sang adik.


"Baik, kak. Da ... kakak" ucap sang adik seraya melangkah kan kakinya


"Ini uang jajan untukmu, Belajar yang rajin, buat Kakak mu bangga, karena telah mendidik mu," ucap sang lelaki seraya memberikan uang lembaran seratus ribu pada anak yang masih duduk di sekolah dasar.


"Tuan, tidak usah, Dia sudah ada uang jajan," ucap Zahra


"Aku tidak memberimu, Aku memberinya, ambillah ... " ucap lelaki itu seraya menyerahkan uang itu pada Adiknya Zahra.


"Terimakasih Tuan," ucap adiknya Zahra seraya melambaikan tangannya pada sosok lelaki itu.

__ADS_1


"Seharusnya Tuan tidak perlu melakukan itu, dia masih anak-anak dan tidak seharusnya ia memegang uang sebanyak itu," ucap Zahra


"Tidak apa-apa, anggap saja ... aku memberinya pada calon adik ipar ku," goda lelaki itu, Zahra bukan senang, ia malah terlihat tidak suka.


"Hei, kau mau kemana?" tanya Lelaki itu saat melihat Zahra hendak pergi.


"Ke kantor, Tuan. Ini hari pertama saya kerja, saya tidak ingin telat," ucap Zahra


"Hei, aku kesini untuk menjemput mu, dan kau mau meninggalkan aku, begitu!" ucap lelaki itu seraya mengejar Zahra yang sudah menaiki sepeda motor nya.


"Aku tidak meminta nya kan? Lagian ... baru kali ini, saya melihat Bis menjemput karyawan nya, Apakah ini termasuk fasilitas perusahaan ?" tanya Zahra yang sudah memakai helm sepeda motor nya.


"Ti ... tidak sih, hanya saja .. aku yang ingin," ucap lelaki itu


"Tapi maaf, Tuan. Saya tidak ingin ada salah faham, saya karyawan baru, Saya tidak pantas mendapatkan kehormatan ini," ucap Zahra yang sudah menghidupkan mesin motor nya. Membuat lelaki itu heran sekaligus kagum


' Menarik, pantas saja Biru menyukai nya, dia wanita yang benar-benar menarik,' bathin lelaki itu seraya melihat kepergian Zahra.

__ADS_1


__ADS_2