Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 66


__ADS_3

Tatapan Jigar dan Zahra kini saling beradu, Mata yang masih di penuhi dengan genangan air mata, kini tak berkedip menatap mata yang seolah menumpuk dengan rasa benci dan menghina.


Waktu seolah berhenti kala mereka masih saling bertatap.


"Kau wanita egois, Nona Zahra, " Ucap Jigar dalam tatapannya, mrmhuat Zahra tersenyum sinis.


"Hah, aku wanita egois, Lalu kalian ... ?" ucap Zahra seraya mengusap sisa air mata nya, lalu bangkit dari duduknya


"Ayo kita menikah demi orang yang kita cintai, dokter Jigar, tepatnya menikah kontrak, dengan begitu... Tuan Biru tidak akan lagi datang padaku, setelah kita menyaksikan mereka benar-benar bahagia, kita akhiri pernikahan itu, " ucap Zahra seraya menatap luar jendela ruangannya.


"Jika aku harus meninggalkan kota ini, bagaimana dengan adikku dan sekolahnya, aku bukan lah yang wanita kaya, yang bisa dengan mudah melakukan semuanya, Apalagi adikku memiliki penyakit, dia baru sembuh atas bantuan tangan dokter Hanny, Lalu bagaimana bisa aku akan menyakiti wanita sebaik dia, tapi semua orang telah menuduh ku dengan begitu, tanpa mereka tahu kebenarannya, Tuan Arsel memintaku untuk mnrikah dengannya, tapi itu ia lakukan demi balas dendam, aku tidak inginkan hal itu, Karena aku mencintai Mas Biru, aku juga ingin Mas Biru bahagia bersama Nona Hanny," Ucap Zahra seraya membalik kan tubuh nya dan menatap Jigar


Di sisi lain, Hanny sudah berada di depan rumah sakit, Di mana mama mertuanya di rawat. Rumah sakit, ia merindukan tempat nya bekerja.


Bahkan ia tak sempat membalas satu persatu pesan dari teman kerjanya.


Masih dengan menggunakan masker, Hanny mendekati resepsionis dan menanyakan ruangan Nyonya Wilantara.


Setelah mengetahui ruangan meryuanya, Hanny pun melangkah kan kakinya menunjukkan keruangan itu, Ia tidak tahu jika suaminya saat ini juga sakit di rumah mertuanya.


Perlahan Hanny mencoba menenangkan hatinya, ia pun mengetuk pintu kamar mertuanya.


Bersamaan dengan itu, Hanny mrmutar handle pintu ruangan itu, Ada si mbok yang menjaga mertuanya.


"No... Nona, " Ucap gugup si mbok saat melihat Hanny melangkah mendekati ranjang mertuanya, Melihat mertuanya yang masih memejamkan matanya. Hanny meletakkan jari telunjuk di bibir nya, isyarat agar si Mbok tidak membangun kan mertuanya.


"Nona, anda sudah kembali, tuan muda pasti sangat senang," Ucao Si mbok. Tentu Hanny tahu, bahwa si mbok hanyalah ingin menyenangkan dirinya yang baru tiba.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Bunda, mbok? " Tanya Hanny pelan seraya menyentuh tangan mertuanya dengan pelan.


"Sudah lebih baik, Nona. Hanya saja ... Belum bisa pulang, apalagi tekanan darah Nyonya masih belum normal, " Ucap si mbok.


"Ayah dan yang lainnya kemana, mbok? " Tanya Hanny


"Mereka... Mereka... "


"Hanny, itukah kau, Nak, ? " Tanya Bundanya Biru saat ia mendengar suara menantu nya.


"Bunda, apakah Hanny membangun kan, Bunda? " Tanya Hanny seraya mengelus tangan Bunda nya.


"Ya Allah Hanny, ini benar-benar kau sayang, Maafkan Bunda, Nak, " Ucap nya seraya berusaha bangun dan duduk di bantu oleh Si mbok dan Hanny.


"Apa yang Bunda katakan, Hanny yang salah, Maagaln Hanny karena lari dari sebuah masalah, dan maafkan Hanny, Karena Hanny... Bunda jatuh sakit seperti ini, " ucap Hanny seraya mengusap air matanya


"Kau sudah datang, Bunda dan Ayah akan menghorma keputusan mu, Kau berhak bahagia, Nak, " ucapnya seraya menatap wajah Hanny


Hanny terdiam dengan apa yang ia dengar. Surat perceraian itu masih ada di pengacara nya, Karena Biru menolak untuk tanda tangan.


'Kenapa kah menolak perceraian itu, jika kau masih tak bisa melupakan Nona Zahra, Mas' bathin Hannh seraya tertunduk.


******


Sedang kan Biru mendapatkan pesan dari si Mbok, bahwa Hanny susah datang dan berada di rumah sakit, tentu Biru langsung membalas pesan itu.


[ Mbok, ku mohon, jangan biarkan istriku pergi, tahan dia sebentar mbok, aku akan segera kesana, akh sudah jalan, mbok ] pesan itu bersamaan dengan Biru yang turun dari ranjang ayahnya dan segera bergegas ke rumah sakit, Agam dan yang lainnya sudah pergi, membuat Biru lebih cepat sampai di mobil, Karena tak ada halangan apapun.

__ADS_1


'Aku minta maaf, Han. Aku benar-benar minta maaf, tunggullah aku... Aku mohon, ' bathin Biru seraya membawa mobilnya dengan wajah nya hanb masin pucat.


Hingga tanpa ia sadari ia susan menerobos dia lampu merah selama dalam perjalanan. Begitu sampai di depan rumah sakit, dengan segera Biru menuju ke ruangan Bundanya. Hatinya rak nyaman, detak jantung nha verdetak dengan lebih cepat, padahal... Ia seharus nya bahagia saat melihat Hanny sudah datang. Perlahan Biru. membuka pintu ruangan itu, sehingga membuat ketiga wanita yang ada dalam. ruangan itu menoleh semua, Betapa tekejut nya Hanny saat melihat siapa yang kini berdiri pintu masuk ruangan Bunda mertuanya.


Tidak ada suatu hubungan percintaan di dunia ini yang selalu berjalan mulus, hampir dapat dipastikan setiap pasangan pernah melakukan kesalahan.


Setiap orang yang menjalin hubungan percintaan selalu memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Banyak cerita suka dan duka dalam menjalin sebuah hubungan. Adanya perasaan bahagia, rindu, cemburu dan kecewa akan selalu mewarnai perjalanan hubungan seseorang.


Perlahan Biru melangkah kan kakinya mendekati Hanny yang terlihat mengalihkan pandangan nya darinya.


...----------------...


''Kenapa kah diam, dokter Jigar? Apakah kau tidak mau, jadi.... kalau begitu, jangan beri aku saran untuk menikah Karena aku tidak akan pernah menikah jika bulan dengan dokter Jigar, " ucap Zahra lebih menantang Jigar, Ketika Zahra ingin duduk, jawaban Jigar membuat Zahra terhenti. .


''Baiklah, Kita akan menikah, Apakah Nona Zahra puas dengan jawabanku, ?'' tanya Jigar dengan senyum smiriknya


Beberapa saat Zahra terdiam, Ia mengira jika Jigar akan menolak akan permintaan nya, tanpa Zahra duga, Jigar malah menyetujuinya. Zahra sangat yakin, jika Jigar sangat mencintai Hanny.


Jigar bahkan rela mau menikah dengan orang yang ia benci demi kebahagiaan Hanny. Bkkankah itu pengorbanan jangan sangat luar biasa. Bagaikan terjebak dengan permainan sendiri, keduanya kini saling diam.


Menyadari apa yang terjadi, Zahra pun berusaha tersenyum lalu memutar tubuh nya menghadap kearah Jigar.


''Aku harap dokter Jigar tida akan jatuh cinta padaku dengan adanya pernikahan ini, Karena jika pria sydah jatuh cinta padaku, maka akan sulit bagi mereka untuk lepas dari cintaku, '' ucap Zahra dengan tatapan tajamnya pada Jigar.


Jigar tidak tahu apapun selain ia jatuh cinta pada Hanny, hatinya sakit melihat Hanny yang terluka. Jigar juga tidak tahu, apakah keputusan yang ia ambil ini adalah keputusan yang benar apa tidak, karena baginya... kebahagiaan Hanny adalah yang utama saat ini.


TapiJigar masih sama-sama ingin melihat keputusan akhir Hanny.

__ADS_1


__ADS_2