
Akhirnya dengan susah payah, Zahra membujuk Biru untuk pergi, Biru seakan hilang arah, entah karena apa. mungkinkah karena Hanny? atau kah karena sang Bunda.
"Zahra, maukah kau mengantar kan aku kerumah sakit, Bunda sedang di rawat, aku harus bertemu dengan Bunda," ucap Biru menahan air matanya
"Baiklah, Mas ... " ucap Zahra seraya mengatakan pada sopir yang sudah membawa mereka.
...****************...
"Biru keterlaluan, Ckkk ... bukankah sejak ketahuan kejadian yang awal, Hanny sudah minta pisah, Biru mengatakan kalau ia akan berubah dan mau menerima Hanny, Tapi sekaarng, Apa ini ... " decak kakaknya Biru yang tahu akan berita tentang Biru dan Zahra serta Hanny.
"Kemana Hanny pergi saat ini, Ah ... Bunda sampai masuk rumah sakit, Loh Mas ... " Ucap Tunangan kakaknya Biru.
"Iya, itu karena Bunda sudah terlanjur sangat sayang sama Hanny, Ah .. jadi kesal sendiri kan, Kenapa menjadi viral begini sih," ucap kesal Kakaknya Biru.
"Udah, kita sudah pesan tiket nya kan, Kita akan jenguk Bunda, dan kita juga akan mencari Hanny sampai ketemu," ucap Tunangan kakaknya Biru.
Agam dan Alina sangat geram dengan sifat Biru, Padahal pernikahan mereka sudah kurang dua Minggu, tapi kenapa masalah ini datang secepat ini.
"Nomor ponsel Hanny sudah tidak aktif, Ia pasti sangat terpukul dengan hal ini," ucap Alina
"Kasihan sekali dia, Tapi ... Zahra jiga Kasihan sih, Adikmu tuh yang keterlaluan, mentang-mentang ganteng, seenaknya saja main hati perempuan," gerutu Alina
"Biru bukan lelaki seperti itu, Dia setia, hanya saja ... ia tak sadar akan apa yang ia lakukan saat ini, aku yakin ... setelah ini, dia pasti nyesel," ucap Agam
"Ya pasti, karena Ayah Yara pasti udah ngusir dia, Kesel dengan sikapnya yang plin-plan, Ingin tak jitak kepala nya," gerutu Alina dengan kekesalan nya.
...****************...
__ADS_1
"Maagkan saya, Tuan..tapi anda salah faham ... Seperti yang sudah saya kayakan dulu , saya sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Tuan Biru, Apa yang Tuan Biru lakukan saat ini, Karrna.ia.masih ingat masa lalu, tak mudah melupakan masa yang di renggut dengan paksa, hubungan yang hatus berakhir secara paksa itu tak mudah di lupakan begitu saja, Tapi ... saat tak ingin di salah kan dan di cap sebagai Pelakor, Saya dan Tuan Biru saat ini hanya sebatas mantan, Mantan yang berusaha untuk saling melupakan," ucap Zahra seraya melihat kearah Biru yang masih tertunduk.
"Tuan Tara yang terhormat, kepergian saya tidak ada hubungan dengan Tuan Biru dan Nona Hanny, Saya murni akan pergi untuk mengajak adik saya liburan, Jika anda tak percaya sialhkan anda tanyakja pada Tuan Arsel, beliau yang mengijinkan aku pergi selama hari," imbuh Zahra.
Zahra tahu .... hal yang ia ucapkan akan melukai hati Biru, tapi ... hatinya juga sakit, jika ia harus terus-menerus di salahkan, atas hal yang tak dilakukan, Apalagi harus melibatkan adiknya dalam hal ini
"Biru, "
"Biru yang salah, Ayah. Cukup, jangan salahkan Zahra, apapun yang ia kayakan adalah benar, Aku yang mengejar nya, aku yang mendatangi nya, Aku yang salah, sialhkan Ayah hukum Biru, tapi jangan hukum Zahra," ucap Biru
"Selamat malam Tuan Tara, Maafkan kedatangan.syaa yang tak di undang ini, Tapi ... saya datang untuk menjemput calin istri saya, Zahra" ucap seseorang ynag kini berdiri di ambang pintu rumah sakit, tepatnya di ruangan Bunda Biru di rawat, Seketika Biru terkejut bahkan Tuan Tara pun juga ikut terkejut.
"Sayang, Maaf ... aku datang terlambat, aku baru selesai mengurus postingan tentang kau dan Biru di Bandara, dan sekarang ... Postingan tentang kalian sudah tudak ada, kau jangan cemas lagi," ucap orang itu yang tak lain lagi adalah Arsel, ia datangi drngan Adiknya Zahra.
"Calon istri? Kalian ... ?" tanya Biru
...****************...
"Tak menyangka, aku akan bertemu denganmu disini, " ucap pamannya Bima yang tenyata adalah Juan.
"Aku juga, kak. Apakah kakak juga liburan disini?" tanya Hanny
"Tidak, aku ada pasien yang akan aku tangani lusa, Kalau kau sendiri? lalu dimana suamimu ?" tanya Juan
"Aku ad pekerjaan juga disini kak, Dao juga gak bisa nemenin, perusahaan sangat membutuhkan dia saat ini," ucap Hanny berusaha menyembunyikan masalahnya.
Juan hanya mengangguk ka kepala nya, bertanda faham, Namun ... Jua. sangat tahu, bahwa Hanny berbohong saat ini. Ia juga sempat melihat postingan tentang Biru dan Zahra.
__ADS_1
"Di hotel,? tanya Juan
Bersamaan dengan iu, Hanny dan Alina berpapasan namun sama-sama tidak melihat, Hingga mereka berjalan berdampingan namun tatapan mereka sama-sama berlawanan.
"Ya ... Kakak sendiri?" tanya Hanny
"Sama, kala begitu... kita barengan saja, biar bisa tetanggaan kamarnya," ucap Juan
"Bisa kak," ucao Hanny seraya tersenyum dengan langkah yang terus berjalan.
Hatinya akaut, Tapi ... ia tak boleh terus menerus terpuruk. Hanny ingat akan luka yang dulu, Luka yang baru sjaa sembuh, Ki i harus di rasakan lagi.
'Masih membasah luka, Yang dulu peenaha kau ciptakan, Kini kau gireskan kembali, diatas luka yang lama.
Aku sadar .. aku tak pernah menjadi impian dalam hidupmu, Kau tahu Mas ... aku bajakn taknbisa meneteskan air mata kembali, Kenapa kau memberikan perhatian kalau hanya akan menjadi kenangan.
Langkah demi langkah Hanny arungi, frngan sesak dan hatu yang terluka, Mungkin menenangkan diri adalah jalan yang terbaik untuk sesaat. Hingga keheningan terasa antara Hanny dan Juan.
Mereka sama-sama memesan satu kamar, dan menuju ke kamarnya dengan tanpa bicara, Disitulah ... Juan yakin, bahwa Hanny pergi karena ingin mengindar.
"dokter Hanny, Paakah anda ada waktu nanti malam?" tanya Juan
"nanti saya kabari ya kak," ucap Hanny seraya masuk kedalam kamarnya, Rasanya tubuhnya sangatlah lelah, Ia memilih untuk membersihkan diri, agar rasa lelahnya hilang, Lalu memesan makanan unjk yang mengisi perutnya, Meski hatinya sakit ... jiwanya tak boleh sakit.
Ada banyak kehidupan yang harus ia jalani. Banyak anak - anak yang membutuhkan dirinya.
Setelah lama ia berendam di air hangat, Hanny menelfon pihak hotel untuk mengantarkan makanan ek kamarnya, setelah itu ... ia berdiri di dekat jendela yang kini langsung menghadap kearah lautan.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Pasti banyak yang menyalahkan Zahra, padahal gadis itu tak salah apapun, Dia yang sudah banyak berkorban, seharusnya aku tidak pergi, dan menghadapi semuanya, Tapi hatiku belum cukup kuat, Aku butuh waktu, Maafkan aku semuanya," gumam Hanny seraya terus menatap ombak di lautan.