
Kehidupan kita adalah tanggung jawab kita, Kita tak mungkin bisa mengatur kehidupan orang lain, apalagi perasaan nya. Cinta yang kadang kita berikan belum tentu adalah cinta uang terbaik untuk nya. Rasa itu kadang malah melukai nya, Karena hati kita yang tak visa konsisten dan memperjuangkan nya.
Keputusan Zahra untuk pergi dari kehidupan Biru yang memilih menikahi wanita pilihan Orang tuanya adalah keputusan yang benar, Jika ia terus berada di dekat Biru, tidak bisa di pungkiri rasa itu makin menggebu dan menjadi perselingkuhan.
Zahra bukanlah wanita seperti itu, Biru juga demikian, Mereka tipe orang-orang yang selalu setia pada pasangannya. Hanya saja takdir yang pernah menyatukan mereka dalam ikatan kekasih membuat tiga hati merasa tersakiti oleh takdir.
"dokter, Anda diminta untuk mendatangi ruangan Pak Atmajaya," ucap salah satu suster pada Hanny
"Baiklah, Sus. Terimakasih," ucap Hanny dengan tersenyum pada suster itu.
Setelah melakukan pemeriksaan pada anak-anak, Hanny pun pergi keruang Pak Atmajaya, selaku pemilik rumah sakit tempat nya bekerja.
"Assalamualaikum, Dokter " ucap Hanny
"Waalaikumsalam dokter, Hanny. Duduklah !" ucap Dokternya Atmajaya
"Kau meminta izin cuti bukan?" tanya Pak Atmaja
"Iya, dok" jawab Hanny
"Ini surat izin mu, izin mu di terima, selamamt berbulan madu, semoga menjadi pasangan yang sakinah mawadah warahmah," ucap kepala dokter itu.
"Amin ... Terimakasih dokter, terimakasih," ucap Hanny bahagia
"Sama-sama, Pergilah" ucap kepala dokter itu pada Hanny dengan bibir yang tersenyum. Hanny tidak pernah mengambil cuti lama selama menikah, Baru kali ini.
Hanny keluar dengan hati yang berbunga, tanpa ia ketahui, Suaminya susah kehilangan sosok Sekertaris hebatnya.
[ Mas ... aku sudah mendapatkan surat izin ku ] Hanny mengirim kan Biru pesan, Karena Biru susah berpesan, Kalau sudah mendapatkan surat izin dari kepala dokter dan pemilik rumah sakit, Mereka akan pergi berbulan madu.
[ Baiklah, sayang. Besok kita berangkat ] balas Biru dengan Emoji tersenyum penuh cinta
__ADS_1
[ Baik, Mas ... selamat bekerja] balas Hanny
[ Jam makan siang, aku akan datang ke sana , Kita makan.bareng ya ... ] pesan dari Biru
[ Eh, Baiklah, aku tunggu ya, Mas ] balas Hanny, Setelah itu mereka sama-sama meletakkan ponselnya, Biru menarik nafas dalam-dalam, Ia sudah menyiapkan hatinya, Ini adalah keputusan Zahra, keputusan yang seharusnya ia hormati, Namun ... rasa kehilangan masih sangat terasa, Jika Biru merasa kehilangan akan sosok Zahra, lalu bagaiaman dengan Zahra, yang ditinggal menikah pas lagi sayang-sayangnya.
...****************...
"Tuan, ini adalah berkas yang anda minta," ucap Zahra seraya meletakkan berkas yang Arsel minta
"Duduklah dulu, aku masih mengerjakan berkas yang lain," ucap Arsel menahan Zahra
"Tapi Pak, pekerjaan saya sangatlah banyak, lebih baik .. saya lanjutin pekerjaan saya Jika bapak sudah selesai, Saya bisa ambil sendiri, " ucap Zahra
Sejenak Arsel berhenti dari pekerjaannya, Ia menatap Zahra dengan begitu lekat.
"Apakah begini cara kerjamu meski di perusahaan Biru ?" tanya Arsel seraya meletakkan kedua tangannya di atas mejanya.
" Keren kalian, Meksi kalian sepasang kekasih tapi dalam pekerjaan kalian sangat profesional, pantas saja ... perusahaan Biru berkembang pesat, Karena mereka memiliki karyawan seperti kamu," puji Arsel
"Urusan kantor, tentu prioritas kami, kerja ya kerja, urusan pribadi di saat jam pulang kerja selsai," ucap Zahra.
"Kau benar, Baiklah! aku alka menuruti cara kerjamu, kembalilah ke ruangan mu<, Jiak aku sudah selesai, aku akan panggil kamu," ucap Arsel.
"Baik, Pak. Terimakasih," ucap Zahra dengan senyuman yang mengembang, Karena ia bisa pergi dari ruangan pak bos nya yang mesum .
Zahra pun meninggalkan ruangan Arsel, beruntung nya Arsel tidak meletakkan ruangan Zahra di ruangannya juga. Karena setahu Zahra, Arsel adalah pria yang berfikiran mesum dan kotor.
Mendengar ucapan itu, tentu Zahra langsung berdiri dan mengundurkan diri dari ruangan Arsel.
'Benar-benar, Wanita yang tak biasa, Biasanya mereka ingin lama-lama disini, agar bisa berlama-lama berdua, Eh ... anak ini malah sangat menginginkan di luar ruangan.
__ADS_1
Zahra pun kembali fokus lada layar komputer Yanga da di hadapannya, dengan sesekali ia melihat ke berkas yang sudah ia buka, untuk memastikan bahwa data itu sama dan tak berbeda.
Hingga satu jam kemudian, Zahra tak menyadari pintu ruangannya terbuka, Arsel berjalan menuju ke arah Zahra yang fokus dengan pekerjaan nya. Arsel berdiri di belakang tubu Zahra dan membungkuk kak tubuhnya, menahan nya dengan berpegangan ke meja , sehingga kini kepalanya berada tepat di samping kepala Zahra, karena nafasnya Arsel lah Zahra sadar akan keberadaan Arsel.
"Ah ... Tuan," ucap Zahra kaget seraya langsung berdiri hingga Kepala nya mengenai kepala Arsel.
"Aw ... Zahra, Kenapa kau langsung berdiri," ucap Arsel seraya memegang kepalanya.
"Tuan sih ngagetin, Lagian ... Tuan kenapa berada di belakang Saya," protes Zahra
"Dan juga ... anda tida mengetuk pintu ruangan saya, Apakah anda tidak memiliki sopan santun?" ucap Zahra yang masih kesal
"Di sini saya Tuannya, dan tidak butuh izin siapapun untuk saya masuk keruangan karyawan," ucap Arsel
"Tapi itu bukan atitude yang baik Tuan, biar bagaimanapun setiap ruangan memiliki privasi sendiri," ucap Zahra tak kalah sengit.
Menyadari siapa di depannya Arsel pun mengalah. Dia gadis berbeda yang tidak ter-tarik padanya, jadi Arsel tak bisa berkata sembarangan padanya, Jika tidak, bisa saja Zahra mengundurkan diri di hari pertama ia bekerja.
Melihat atasannya itu berlalu ... Zahra pun tersenyum dan melanjutkan pekerjaan nya.
'Ah ... tidak semenyebalkan yang mereka kira, ' Bathin Zahra dengan masih terus tersenyum. Ia kini memiliki cara agar atasannya itu tidak mesum padanya.
Sedangkan Arsel memikirkan cara agar ia bisa menggoda sekertaris barunya itu.
"Ayolah Arsel, berfikir lah lebih keras, ingatlah ! bukanlah kau selalu ingin mengalahkan Biru, sekarang mulailah dengan Zahra, Sekertaris kesayangan nya itu," Arsel bermonolog dengan dirinya sendiri.
Namun ... Arsel tidak memiliki celah untuk menggoda wanita tangguh itu. Ia juga penasaran dengan Hanny, sang istri Biru saat ini, kabarnya .... kecantikan nya tidak ada yang bisa menandingi. Kenapa Biru selalu mendapat kan yang terbaik.
Jam makan siang telah tiba, Hanny masih fokus dengan pekerjaan nya, Hingga ia tak sadar kalau susah ada sang suami di depannya, duduk dengan begitu manis menatap istrinya yang membaca laporan setiap anak yang ia rawat.
"Apakah masih lama, Aku sudah sangat lapar," ucap Biru yang mampu membuat Hanny terkejut.
__ADS_1
"Mas Biru, kau ... " ucap Hanny dengan tak percaya, Karena ia tidak mendengar suara pintu terbuka. Biru tersenyum lalu menyentuh pucuk kepala Hanny, mencium keningnya dengan lembutnya.