
Saga terdiam, Ia menatap kewajah sang Ayah.
Saga tidak ingin menyakiti Hanny, hanya saja ... hatinya masih belum bisa berdamai, Saga tidak ingin mengecewakan Ayah dan Bundanya tapi, hatinya masih belum ada keberanian untuk menerima pernikahan yang sama sekali tak pernah ia inginkan, Salahkah jika Saga belum bisa membuka hatinya untuk Hanny?
Tidak bisa di pungkiri Hanny wanita yang sempurna, bahkan istri yang sangat baik.
Saga tak bisa menolak pesonanya, Hanya saja ... sikap keras kepalanya masih sangat tinggi.
*****
"Selamat pagi Dokter Hanny"
"Selamat Pagi Dokter Adam" balas Hanny
"Selamat ya Dok, atas pernikahan Dokter, Maaf saya tidak bisa datang" ucap Dokter Adam seraya melangkah beriringan dengan langkah Dokter Hanny
"Saya mengerti, Dokter. Tidak masalah, cukup Do'akan yang terbaik saja," jawab Hanny dengan tersenyum
"Tuan Saga beruntung sekali, Tanpa usaha apapun, tapi sudah mendapatkan Dokter Hanny" canda Dokter Adam, Yang mana ia adalah salah satu bukti bahwa Dokter Hanny adalah incaran bagi setiap para Dokter.
"Dokter Adam terlalu mengejek, Baiklah ... kalau begitu saya duluan, Ya Dok" ucap Hanny seraya membungkukkan sedikit tubuhnya.
Dokter Adam membalas keramahan Hanny, seraya terus menatap Dokter yang bagaikan lukisan paling indah.
'Dokter Jigar, Kasihan sekali dirimu, kalah satu langkah dengan sepupu mu' bathin Dokter Adam yang tahu akan perasaan Dokter Jigar
Tidak ada kehidupan yang tak memiliki masalah, Semuanya akan memilih masalah, hanya kita yang menangani nya dengan cara yang berbeda-beda. Hanny ingin menjalankan kehidupan nya dengan tenang, Besok malam teman suaminya akan makan malam dirumahnya, Ia juga harus bisa berbaur dengan semua teman suaminya, bukan?
Tok ... Tok ... Tok
Suara ketukan pintu terdengar dari luar
"Masuk" ucap Hanny setelah itu, Pintu terbuka dan Hanny masih fokus dengan tugasnya
"Selamat datang kembali Dokter Hanny" suara yang begitu Hanny kenali tanpa melihat itupun tersenyum.
"Terima kasih sambutan nya, Dokter Jigar. Aku harus panggil apa sekarang? Dokter Jigar, atau kakak ipar?" goda Hanny yang sama sekali tidak tahu akan perasaan Jigar padanya.
__ADS_1
Jigar tersenyum dengan luka hati yang ia rasakan.
"Terserah kau saja, Bagaimana, Apakah Saga memperlakukan mu dengan baik?" Tanya Jigar
" Mmmmm ... sejauh ini, dia lumayan baik, Memang nya dia jahat ya?" tanya Hanny seraya tersenyum pada Jigar
"Bukan, takut nya dia berkata kasar atau bertingkah kasar padamu, soalnya dia itu pendiam orang nya" Jigar berkata serat terus menatap Hanny
"Tidak, Dia tidak kasar dan juga ... aku baik-baik saja," ucap Hanny berusaha menghilangkan kecemasan nya Jigar
"Syukurlah kalau begitu, Besok ada acara?" Tanya Jigar
"Besok malam? Ada apa memangnya?" Tanya Hanny
"Ya, Besok malam Dokter Nina merayakan ulang tahun di Cafe, Kami berharap kau bisa datang" ucap Dokter Jigar
"Sepertinya tidak bisa deh, Dok. Besok teman-teman Tuan Saga akan makan malam di rumah, Tapi ... Kalau acara makan malamnya cepat selesai, aku akan usahakan untuk datang" jawab Hanny
"Saga mengajak makan malam dirumahnya,Apakah Sekertaris nya juga?" tanya Jigar
"Memangnya kenapa,Dok?" Tanya Hanny
"Tidak apa-apa sih, Baiklah ... Siang nanti, kita makan bareng di kantin ya, Para Dokter sudah banyak yang menunggu mu" ucap Jigar seraya berdiri dari duduknya.
"Baiklah, selamat bertugas Dokter Jigar" ucap Hanny seraya ikut berdiri
"Selamat bertugas juga Dokter Hanny" balas Jigar sebelum keluar dari pintu ruangan Hanny.
Hanny pun kembali duduk di kursinya dan melihat beberapa data Pasien yang akan ia kunjungi hari ini. Tentu Abi adalah Pasien rutin yang harus ia kunjungi. Mengingat bagaimana Abi ingin dekat dengannya.
"Selamat pagi Abi, Bagaimana keadaan Abi pagi ini?" tanya Hanny
"Abi sudah pintar kak, Sudah makan sendiri dan minum obat sendiri " ucap Abi menampilkan barusan giginya.
"Wah, Kakak tambah sayang kalau begitu, Yang semangat ya, Sayang. Nanti ... kalau Abi sudah sembuh,Kita akan jalan-jalan bersama, Bagaimana?" tanya Hanny
"Kakak Janji?" ucap Abi seraya mengangkat jari kelingking nya
__ADS_1
"Janji" jawab Hanny seraya membalas tautan jari kelingking Abi dengan tersenyum yang begitu indah dan tulus
*****
Kehidupan tak akan pernah berubah jika kita tidak berusaha mengubah nya. Begitu juga dengan perasaan, Kita tak akan bisa Move On jika kita tidak berusaha melupakan masa lalu.
"Tuan, jam 10 anda ada pertemuan dengan tuan Jakson di Resto Orin " ucap Zahra seraya menyerahkan berkas yang harus Saga tandatangani
"Kau ingatkan lagi pas jam 10, " ucap Saga tanpa melihat kearah Zahra. Mendengar ucapan Saga, Zahra pun mundur dan hendak kembali ke kursinya
"Zahra, Tunggu" ucap Saga membuat langkah Zahra terhenti
"Iya, Tuan " ucap Zahra seraya membalikkan tubuhnya menghadap Saga lagi
"Besok konfirmasi kan pada Dito dan Sekertaris nya untuk makan malam di rumah ku, alamatnya nanti aku kirim ke Wa mu" uca Saga
"Kau juga harus hadir" imbuh Saga membuat Zahra menelan Salivanya
"Baik, Tuan" ucap Zahra lalu kembali ke kursinya, Ia tidak tahu apa alasan Saga ikut mengundang nya makan malam di rumah barunya, Apakah ingin menunjukkan bahwa ia dan istrinya sudah sama-sama saling menerima, Entahlah ... hanya saja ... Zahra harus menyiapkan diri untuk melihat segala sesuatu yang terjadi di sana.
Waktu berlalu dengan begitu cepat, Suasana kantor yang bagi Saga dan Zahra adalah suasana yang indah, tapi kini seakan menjadi yang paling ingin di hindari. Zahra tidak ingin rasa dan sakitnya tumbuh dengan semakin besar, Begitu juga dengan Saga. Rasa yang ingin ia kubur, akan gagal jika selalu melihatnya.
Hembusan angin hari ini kini menambah dinginnya tubuh Hanny saat hendak pulang, Mobil nya kini sudah di antaranya ielh sopir Ibunya Hanny. Sehingga Hanny kinintidak perlu pinjam Motor pak satpam.
Sebelum ia pulang , Ia menyempatkan diri untuk mampir ke pusat perbelanjaan, Ia membeli semua keperluan yang akan ia masak besok, Ia membeli daging, Seeofood dan juga bahan lainnya. Untungnya ia pulang lebih awal sehingga ia tidak terjebak macet, Ia segera pulang dan masak untuk sang suami yang kebetulan katanya akan lembur.
"Hanny, Masaklah yang enak, agar suamimu bisa terus makan di rumah" gumam Hanny seraya memasak masakan untuk makan malam bersama sang suami.
*****
"Jam sudah menuju pukul 7 malam, Saga sudah menyelesaikan tugasnya, begitu juga dengan Zahra yang ikut lembur, Kalau dulu mereka akan melakukan tugas nya dengan begitu indah dan bercanda sedangkan saat ini, hanya keheningan yang tercipta.
"Zahra, Tunggu" cegah Saga dengan menarik tangan Zahra
"Iya, Tuan" ucap Zahra seraya melepaskan tangan Zahra dari lengannya
"Pulang denganku, ini sudah malam, tidak baik bagi wanita pulang sendirian dengan sepeda motor" ucap Saga seraya menatap mata yang dulu selalu membuat nya tenang, Bahkan untuk saat ini tetap sama.
__ADS_1