Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 87


__ADS_3

Pagi ini tiba dengan begitu indah. Banyak orang yang berharap jika pagi akan menjadi awal yang indah dan membahagiakan untuk mereka, agar hari mereka selanjutnya bisa terus bahagia. Perlahan Hani membuka matanya, ia ingat jika tadi malam ia pulang ke kediaman Biru. benar saja ketika mata Hanny terbuka ia melihat wajah yang sudah membuat relung hatinya terluka namun masih mendamba.


'Apakah keputusan ini sudah benar, Apakah kau benar-benar ingin mempertahankan pernikahan ini karena hatimu atau karena kau tidak ingin Zahra-mu selalu disalahkan? Aku belum bisa memaafkanmu, Mas. Jujur aku belum bisa melupakan semua kejadian selama ini dan sekarang kau dengan mudahnya tidur disebelahku. Apakah kau anggap hatiku ini singgasana yang siap kau singgahi kapan saja?Aku harus bagaimana sekarang, Mas?' batin Hanny.


Biru menyadari jika dari tadi Hanny menatapnya, Ia tahu ada kesedihan dimata Hanny.


'Aku tahu kau belum percaya dengan apa yang aku katakan dan apa yang aku lakukan, dan itu sangat wajar, karena susah dua kali aku melakukan ini padamu, tapi percayalah Hanny, aku benar-benar tidak ingin pisah darimu, meskipun awalnya aku juga sulit melupakan Zahra, aku butuh waktu, dan sekarang Jigar sudah membuatku tidak butuh waktu lagi,' bathin Biru.


Lama Hanny menatap Biru, Hingga ia sadar jika jam terus berputar, Hanny-pun turun dari ranjangnya dan membersihkan diri. Begitu juga dengan Biru, setelah kepergian Hanny, Biru membuka matanya, Ia juga langsung ke luar dari kamarnya ia akan memulai semuanya dari hari ini, dengan langkah yang cepat, Biru menuruni tangga dan menuju ke taman belakang, ia mengambil sesuatu lalu membawanya ke kamarnya.


Sedangkan di sisi lain, Zahra sudah membersihkan diri, Sangat tumben sekali ia merasa dingin pagi ini, karena itu ia tidak keramas.

__ADS_1


Ia pun keluar dari kamar mandi dengan memakai baju santai, dimana Jigar sidah terlihat begitu rapi.


''Kau mau kerja?'' tanya Zahra seraya mendekati Jigar.


''Cie, Apakah kau belagak seperti seorang istri?'' goda Jigar.


''Aku emang istrimu, kan?'' tanya balik Zahra.


''Baiklah, karena kau berlagak seperti seorang istri, maka aku juga akan berlagak seperti seorang suami beneran, aku berangkat ada pasien pagi ini, '' ucap DJigar seraya mengambil gelas susu yang tadi ia minum, Zahra yidak menjawab ia memutar tubuhnya dan duduk di depan meja rias, sayangnya ia tanpa sadar menyenggol tangan Jigar yang memegang gelas hingga sisa susu yang ada di gelas itu tumpah tepat diatas kepalanya.


'' Aaaaaa.... Jigar, Kau keterlaluan, Huwa..... " teriak Zahra ketika susu itu membasahi rambutnya.

__ADS_1


" Maaf, maaf, Kau yang menyenggil tanganku, Hans udah ayo akj bantu bersihkan di kamar mandi!" ajak Jigar membuat Zahra melotot.


"Kau mau membantu aku mandi?" tanya Zahra membuat Jigar menghentikan langkahnya.


"Ah, sudahlah lupakan, kau berangkatlah, aku mau mandi, nyebelin, aku tadi gak mandi dengan rambut maenan dingin malah di siram susu, dasar Jigar, " gerutu Zahra seraya masuk ke dalam kamar mandi.


Jigar tertawa melihat tingkah Zahra pagi ini, ia pun berterisk untuk pamitan pada Zahra.


"Selamanya ber dingin ria, istriku..... !" teriak Jigar dengan tawanya hingga keluar dari rumahnya.


Namun tawa itu terhenti ketika ia melihat sang Mama berada di depan kamarnya.

__ADS_1


"Mama.... ?" Ucap Jigar terkejut.


__ADS_2