Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 96


__ADS_3

Semua perasaan akan ada kalanya berubah, apalagi hati yang sudah terlanjur tersakiti, kadang akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkan luka. Zahra pamitan pada beberapa teman Jigar untuk keatas terleh dahulu, kepalanya terasa sangat sakit, ketika Zahra keatas, Jigar menatapnya dengan tatapan yang entah apa itu artinya.


''Loh, kok kamu naik, sayang?'' tanya mamanya Jigar ketika berpapasan dengan mama mertuanya.


''Ah, Ma. Tidak apa-apa, Ma. Zahra hanya sakit kepaa sedikit,'' ucap Zahra.


''Kau sakit, mama paggilkan Jigar ya?'' ucap sang mama mertua.


''Tidak usah ma, nanti mas Jigar juga kemari,  Zhara istirahat sebentar pasti akan sembuh, '' ucap Zahra


''Baiklah, kamu istirahat, jika ada apa-apa jangan sungkan kasih tahu mama dan papa,'' ucap mamanya Jigar


''Baik ma, terimakasih ya, Ma,'' ucap Zahra.


Zahrapun masuk kedalam kamarnya ketika mamanya kembali melanjutkan langkahnya, ia tersenyum karena mama mertuanya sangat baik dan perduli dengannya.


Zahra melepaskan pakaiannya dan berganti dengan baju tidurnya, sejenak Zahra menatap baju itu, memang sangat indah, ia tersenyum dengan bekas luka. Zahra masuk kedalam selimut tebaalya, karena merasakan pusng yang sangat terasa, bahkan tubuhnya terasa dingin menggigil, namun kulitanya panas.


Zahra mematikan Ac kamarnya, dan membungkus tubuhnya, bibirnya pucat, tubuhnya menggigil denan keringat yang sangat tampak di keningnya, namun Zahra masih belum menghubungi Jigar ataupun yang lainnya. Hingga malam semakin larut dan semua tamu sudah berpamitan pulang, termasuk Arsel. Arsel menatap arah kamar Zahra da terswenyum karena sebelumnya Zahra mengatakan kalau dirinya masih bisa melewati hariharinya dengan baik.


''Kau belum naik juga? Apakahh kau tahu kalau Zahra mengekuh pusing tadi? Aapakah kau sudah memberinya obat?'' tanya mamanya Jigar.


''Pusing?'' tanya Jigar dalam hati, yang mana ia langsung mematuka ponselnya kembali dan langsung menuju ke kamarnya, mamanya hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap anaknya.


'Perkahan Jigar membuka pintu kamarnya, lampu sudah mati, Ac juga di matikan, perlahan Jigar melangkah mendekati Zahra. Jigar menyentuh kening Zahra, betaa terekejutnya ia ktika merasakan shu tubuh Zahra dan keringat yang membanjirinya, dengan panik Jigar menghiduokan lampu kamarnya, ia mmebuka selimut Zahra yang mana Zahra masih terus menggigil.

__ADS_1


''Zahra, kau baik - baik saja, buka matamu, Ra ....'' ucap Zahra seraya memagku tubuh Zahra, Zahra hanya mememakan matanya, air mata mengalir dari matanya.


''Zahra buka matamu,'' ucap Jigar seraya menepuk-nepuk pipi Zahra.


''Dingin, aku dingin.'hanya kata itu yang keluar dari mulut Zahra, aku akan menghangatkanmu taoi aku mohon, bukalah matamu, minumlah obat dulu,'' ucap Jigar.


Perlahan Jigar membantu Zahra duduk, Jigar mengambil obat dengan cepat lalu membantu Zahra untuk meminumnya, Setelah memastikan Zahra meminumnya, Jigar membantu ZZahra untuk berbaring, sesuai yang Jigar katakan, ia akan membantu menghangatkan tubuh Zahra yaitu dengan cara memeluknya sepanjang malam.


''Ibu, ayah, Zahra kangen,'' ucap Zahra degan mata yang maash terpejam.


''Bawa Zahra, Bu. Zahra ingin bersama kalian,'' ucapnya lagi denganmasih memejamkan matanya.


''Zahra, aku mohon jangan katakan ini, ada aku ... Aku sekarang akan ada untukmu, Zahra aku mohon ....''pinta Jigar. Merasa cemas, Jigar hendak pergi untuk mengatakan ke pada mama dan papanya bahwa ia ingin membawa Zahra kerumah sakit. Namun Zahra tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Jigar.


''Jangan kemana-mana, temani aku disini, aku tidak ounya siapa-siapa, mereka semua menyelahkan aku, tetaplah disini, aku mohon,'' ucap Zahra seraya masih terus memejamkan matanya.


Di sisi lain Biru dan Hanny sudah sampai dirumahnya, sebelum turun mereka saling menatap satu sama lain. Semua perkataan Arsel terus terngiang di telinga Biru.


''Ada apa? Apakah ada yang salah?'' tanya Hanny


''Tidak ada, kau cantik,'' puji Biru


''Sudah berapa kali kau mengatakan itu sepanjang perjalanan tadi,'' ucap Hany seraya tersenyum dan membuka pintu mobilnya.


Biru tersenyum menyadari akan hal itu, iapun juga turun dari mobilnya dan mengikuti langkah Hanny, Merekapun masuk kedalam rumah mereka. Biru mengikuti langkah istrinya hingga tangga menujunke kamarnya, tiba-tiba Biru menarik tangan Hanny, hingga Hanny sampai akan terjatun\=h, namun tertahan oleh tubuh Biru. Tatapan keduanya saling bertemu, detak jantung mereka saling berpacu dengan begitu cepat, Biru sia melakukan tugasnya unti memberi Hanny nafkah lahir dan bathin.

__ADS_1


''Apakah ini akan menjadi malam pertama antara kita berdua?'' bathin Hanny.


''Aku ingin aku dan kau menjadi kita seutuhnya, Hany,'' ucap Biru seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Hanny, hingga bibir mereka kini saling menepel satu sama lain, awalnya mereka terdiam dengan mata yang sama-sama terbuka, namun beberapa saat kemudia mereka saling memejamkan matanya dan menikmati setiap sapuan dari bibir keduanya, Biru langsung menggendong tubuh Hanny kedalam kamarnya. Memberingakan tubuh Hanny dan menindihnya. Penyeatuan tubuh itupun kini benar-benar terjadi, malam ini adalah malam yang paling bersejarah bagi pasangan pengantin lama itu, pengantin lama namun baru kali ini melakukan hubunga b4dan.


******


''Tuan, apakah anda baik-baik saja?'' tanya Asisten Arsel.


''Aku baik-baik saja, Oh iya ... Bukankah kau mengatakan kalau di perusahaan kita ada anak magang yang ternyata adiknya Hanny, benarkah?'' tanya Arsel


''Itu sudah cukup lama tuan, Ana terlalu sibuk kemaren, mungkin sudah dapat sebulan di kantor,'' ucap asisten Arsel.


''Waw, berarti aku ketinggalan ya, secantik nona Hanny kah?'' tanya Arsel


''Iya tuan, Nona Hanny kalem tapi dia bar-bar,''ucap asisten Arsel.


''Menarik sekali, dua saudara tapi beda karakter, aopakah dia pintar?'' tanya Arsel


''Jenius dalam masalah matematika tuan, saat ini ia ada di bagian keuangan dan bisa di selesaiakan dalam waktu yang singkat,'' ujar asisiten Arsel.


''Pertahankan, anggap saja sebagai ganti dari Zahra yang sudah mereka ambil dariku,'' ucap Arsel.


Waktu terus berlalu, Zahra merasa tubuhnya berat untuk di grakkan, perlahan ia membuka matanya, betapa terejutnya ia ketika berada dalam pelukan Jigar yang tidak menggunakan baju, tangan Jigar melingkar di perutnya, mereka sangat dekat bahkan wajah mereka hampir saaja bersentuhan, namun betapa terkejutnya Zahra ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Zahra berusaha mengangkat tangan Jigar agar tubuhnya bisa terlepas, namun semakin Zahra bergerak, Jigar semakin memeluk tubuh Zahra.


''Tuan ... Tuan, bangunlah! Ini sudah jam 8, Apakah anda tidak mau kerumah sakit?'' ucap Zahara dengan pelan, kepalanya mash terasa sakit ketika ia bergerak.

__ADS_1


''Aw,'' pekik Zahra ketika ia memaksa untuk bangun, sakit kepalanya masih sangat terasa, tentu rintihan Zahra membuat Jigar terbangun.


''Kau baik-baik saja, Apakah masih sakit?'' tanya Jigar dengan sangat cemas, membuat Zahra terkejut dan bingung.


__ADS_2