
Apa yang ditakutkan Bima ketika Zahra pindah ke perusahaan Arsel. bukan hanya karena data yang takut Zahra bocorkan tapi ada rahasia lain yang Bima takutkan.
Biru dan Hanny kini menikmati makan siang bersama, Meski masih belum terbiasa dengan kebersamaan mereka, Tapi mereka berdua berusaha untuk tetap menyamankan diri.
"Aku pulang terlambat nanti, Kau tidak usah menunggu ku," ucap Biru saat ia sudah selesai menghabiskan makanannya
"Baiklah ...akan aku siapkan makan malam, nanti bisa dihangatkan saat kau sudah datang," ucap Hanny
"Tidak usah, aku ada pertemuan dengan Klein, kemungkinan juga udah makan malam.barrng mereka," ucap Biru, yang hanya di balas kata 'O' oleh Hanny.
"Kau masih banyak pasien,?" tanya basa-basi Biru
"Hanya kontrol aja sih, Kenapa?" tanya Hanny
"Gak, Bunda merindukan mu, kalau kau sempat, datanglah pada Bunda," ucap Biru
"Aku gak perhatian ya jadi menantu, Maaf ... nanti aku pulang cepat dan akan datang kerumah Bunda," ucap Hanny dengan bibir tersenyum. Entah kenapa ... meskipun Biru sudah berusaha melupakan Zahra, tetap saja ... ia melihat senyuman wanita itu.
Biru sudah berusaha untuk mencintai Hanny, tetap saja ... hatinya masih ingat akan Zahra.
Ia susah berusaha melakukan segala cara, Ia sudah berusaha menata hati nya untuk melihat Hanny seorang, tapi ... namanya hati dan perasaan tidak bisa kita paksakan.
'Maafkan aku Hanny, ' bathin Biru seraya menatap Hanny yang masih tersenyum menampakkan gigi gingsul nya.
Setelah beberapa saat kemudian, Hanny dan Biru sama-sama melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Aku balik ke kantor ya," Biru berkata seraya berdiri dari duduknya
"Baiklah, aku juga harus keruangan anak-anak," ucap Hanny yang ikut berdiri
Mereka sama-sama berdiri dan saling menatap, Hanny yang sudah merasakan ada perubahan banyak dari Biru, merasa tersentuh hatinya, dan yakin ... jika ia akan hanya mencintai Biru saja.
Tatapan mereka berakhir dengan senyuman dari keduanya.
__ADS_1
"Baiklah, Aku pergi dulu, jaga diri," ucap Biru
"Kau juga," ucap Hanny yang terus mengikuti langkah Biru, dan melambaikan tangannya saat Biru masuk kedalam mobilnya.
Biru membalas lambaian tangan itu, Hanny merasa bahagia meski tak ada kecupan di keningnya saat ini.
"Cie ... yang lagi seneng di datangi suami," goda dokter Nina
"Eh, gak juga dok, eh ... iya maksudnya, senang lah ... dok," jawab gugup Hanny
"dokter sudah makan siang,?" tanya Hanny
"ya sudah dong, nungguin kamu sampai mati kelaparan aku, gak tahu lagi makan baren misua," goda lagi Nina
"Aku juga gak tahu kalau Mas Biru akan kesini, Makanya aku gak ngabarin dokter," ucap Hanny yang merasa tak nyaman karena sudah janjian makan bareng siang hari ini
"Ah ... gak masalah, Aku senang lihat kamu senang begitu, Tuan Biru sangat lah tampan dan kamu sangat lah cantik, kalian memang sangatlah serasi," ucap Nina
...****************...
[ Bisakah kita bertemu di dekat kantormu,? ] pesan itu terkirim di ponsel Zahra, Zahra yang masih ingin menuju kantin, langsung menghentikan langkahnya
[ Aku sudah ada di tempat makan yang ada di depan kantormu, aku akan tunggu kamu, ] pesan itu kembali Zahra baca
Zahra ragu untuk datang, tapi ia tahu akan tabiat pengirim pesan, Ia akan menunggu sampai ia datang. Akhirnya Zahra pun keluar dari kantor dan menuju ke tempat makan yang ada di depan perusahaan Zahra bekerja saat ini, Meski Zahra ragu ... tapi entah kenapa ia malah berjalan menemuinya.
Ya ... pengirim pesan itu adalah Biru, dia sudah berdiri di dekat meja yang sudah ia pesan.
"Kau pasti belum makan siang kan? aku sudah memesan kan makanan kesukaan mu, makanlah dulu," ucap Biru pada Zahra
Zahra kembali menatap Biru setalah menatap makanan yang terhidang di meja, ya ... 8tu adalah makanan kesukaan Zahra, dan Biru masih mengingat nya.
"Apa yang kau lakukan, Mas ...?" tanya Zahra Setelah duduk, tak enak juga saat banyak mata yang menatap mereka.
__ADS_1
"Tidak ada, aku hanya merindukan mu," ucap Biru yang langsung to the poin.
Sejenak Zahra sangat terkejut dengan pengakuan Biru.
Kata Rindu, Rindu sebagai apa ? apakah sebagai sekertaris nya? atau sebagai kekasihnya.
"Kau jangan bercanda, Mas ... kau sudah punya Nona Hanny, " ucap Zahra seraya mengambil segelas juz yang ada di depannya karena merasa gugup
"Aku tahu, kau pindah Kantor karena mengindari ku kan, Maafkan aku Zahra, Karena aku kau banyak mengalami masalah," ucap Biru tertunduk
"Sudah berulang kali aku mengatakan, kalau itu bukanlah salahmu, mas ... ini takdir dan aku hanya berusaha menerima takdirku, jika aku dan kamu tidak jodoh," ucap Zahra
"Tapi aku belum bisa menerima takdirku, Zahra ...," ucap Biru seraya menatap mata Zahra.
Bagaimana bisa Biru mengatakan hal itu setelah beberapa terakhir ini ia terlihat begitu menikmati kebersamaan nya dengan Hanny.
"Kau jangan jadi pengecut, Mas ... bukankah seorang lelaki dipegang karena ucapannya, dan saat ini kau mengatakan itu padaku," ucao Zahra dengan dada naik turun, menahan kesal pada Biru
"Aku tahu, apa yang aku katakan dan apa yang aku lakukan adalah salah, tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri, Zahra. Aku belum bisa melupakan mu, semakin aku mencoba, aku semakin merasa tersiksa," Ucap Biru
"Aku yakin, kau merasakan apa yang aku rasakan, Zahra ... aku masih belum bisa melupakan mu," Biru meluapkan segala rasa yang sudah ia pendam.
"Kau gila, Mas ... !" ucap Zahra yang langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan Biru sendirian, Rasa laparnya kini telah sirna. Ia tak ingin berlama-lama bicara dengan Biru, sehingga mampu menggoyahkan pertahanan hatinya.
Benar yang dikatakan Biru, ia masih memiliki rasa itu, Namun ... Jika terus begini, semua usaha Zahra akan sia-sia dan ia akan kembali terbujuk akan rayuan Biru. Cinta bIru yang masih ia impikan.
Tak ada angin dan tak ada hujan, Biru Tiba-tiba datang dan mengungkapkan rasa. Apa yang harus Zahra lakukan selain menghindar. Hingga tanpa di rasa Zahra menabrak seseorang di depannya.
"Maaf, Maaf Pak," ucap Zahra karena berjalan dengan terburu-buru, Hingga ia tak melihat siapa yang berjalan di depannya.
"Zahra, Ah ... tidak apa-apa, kau pasti terburu-buru karena takut telat, Kau memang karyawan terbaik Zahra, gak salah jika perusahaan Biru begitu mengunggulkan mu," ucap orang yang di tabrak Zahra yang tak.lain lagi adalah Arsel.
"Sekali lagi, saya minta maaf Pak, kalau begitu ... saya permisi," ucap Zahra masih dengan gerakan terburu-buru. Namun ... kesalahan Zahra adalah, Ia menatap kearah Biru yang masih terus menatap nya, Hingga Arsel melihat sosok yang berdiri dengan kemeja Navy, dengan Jaz di tangan nya. Terlihat bibir Arsel tersenyum kala melihat sosok itu, senyum yang entah bisa diartikan bahagia atau sebuah rencana..
__ADS_1