Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 99


__ADS_3

Tidak akan ada yang tahu akan takdir seseorang mau kita menolak dengan sekeras apapun, tapi jika Tuhan sudah berkehendak maka akan tetap akan kita jalani. Begitu juga sebaliknya... meskipun kita menginginkan sesuatu jika Tuhan tidak berkehendak, maka sesuatu itu tidak bisa kita miliki atau kita nikmati.


''Maaf tuan Biru, ini hanya sebentar,'' ucap klien Biru.


''Baiklah, tapi hanya sebentar tuan, '' ucap Biru yang ditemani sang sekertaris.


Klien itu tersenyum dengan penuh arti, akhirnya mereka-pun menuju ke tempat yang sudah mereka rencanakan. Namun entah kenapa Biru merasakan hal aneh.


(Aku akan mengadakan pertemuan di Bar Neo 1,) pesan itu entah kenapa Biru kirimkan pada Hanny.


Hanny yang baru saja sampai di ruang rapat para dokter, membaca pesan dari Biru.


'Bukankah dia mengatakan kalau pertemuannya di restoran Manggala, Kenapa malah pindah ke Bar Neo


(Kenapa memilih tempat seperti itu untuk mengadakan pertemuan penting, Mas?) balas Hanny sekolah Biru sampai di depan Club.


(Permintaan klien, Aku sudah berusaha menolak hanya saja mereka kekeh untuk mengatakan pertemuan disini, ya sudah aku mau masuk, pasti sangat bising sekali di dalam) balas Biru lalu ia masuk ke hotel lalu menuju ke bagian Bar. Kliennya tak tahu jika Biru sangat kuat untuk sekedar minum wine.


Namun beda, Hanny merasa akan ada hanb aneh. Perasaannya mendadak tak nyaman.


''Maaf Pak, untuk rapat hari ini, bolehlah saya absen?'' tanya Hanni seraya berdiri dari duduknya.


Tentu banyak dokter yang menatap ke arah Hanny. Karena ini bukan kebiasaan Hanny meninggalkan rapat.


''Apakah ada masalah dokter Hanny?'' tanya pimpinan rumah sakit.


''Saya kurang enak badan, Pak!'' ucap Hanny.


''Silahkan istirahat, dokter. Tidak apa-apa, Istirahat yang cukup,'' ucap kepala rumah sakit.


Mendengar alan hal itu, Hanny langsung pergi dari ruang rapat, entah kenapa perasaannya makin tidak enak.


Hanny melihat jam yang melingkar di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang.


 


''Aku sudah baik-baik saja, gak usah di ikuti terus, '' ucap Zahra yang mana Jigar selalu mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


''Kalau nanti kau jatuh seperti tadi pagi gimana? Pasti aku lagi yang kena semprot mama, '' ucap Jigar.


"Sekarang gak ada Mama, Jadi gak akan ada yang marahin, '' ucap Zahra yang kini sudah berdiri di bakkon kamar Jigar, Ia merentangkan kedua tangannya. Menikmati hawa agar masuk kedalam tubuhnya. Jigar menatapnya dari belakang.


'Menayapnya begini mengapa terlihat begitu indah ya? Ah aku rasa kau sudah tidak waras, Jigar' bathin Jigar seraya menggelengkan kepalanya.


''Apa yang kau katakan?'' tanya Zahra dengan posisi yang masih membelakangi Jigar.


''Memangnya apa yang aku katakan? Aku tidak mengatakan apapun, '' ucap Jigar yang kini mulai merentangkan ke-dua tangannya juga di belakang tubuh Zahra.


Sehingga kini pemandangan semakin indah. Mereka sama-sama. memejamkan matanya.. Menikmati hawa dan panas terik matahari yang mulai menyengat kulit.


Beberapa saat kemudian, Zahra sadar jika Jigar tepat berafa di belakang tubuhnya. Ia tak sengaja membentur tubuh Jigar ketika Zahra bergerak.


''Sudah mulai panas, kita masuk yuk,'' bisik Jigar tepat di dekat daun telinga Zahra.


Perlahan Zahra membalikkan tubuhnya hingga kini posisi mereka saling berhadapan.


Jigar merapikan rambut Zahra yang mulai tertiup angin. Meletakkan rambutnta di belakang telinganya.


''Aku akan menggangu semua kesedihanmu dengan kebahagiaan, Zahra. Nanti sore kita datangi makan kedua orang tua kita, aku juga ingin melamarmu tepat di hadapan mereka, '' ucap Jigar.


Zahra mendongakkan kepalanya hingga keningnya bersentuhan dengan dagu Jigar.


''Apakah kau tidak akan menyesal? Aku bukan dari kalangan atas sepertimu, '' ucap Zahra.


''Kau istriku sekarang, tidak ada yang ingin aku tahu selain kau istriku, '' ucap Jigar membuY Zahra tersenyum untuk pertama kalinya di hadapan Jigar.


Jigar pun membawa Zahra keluar dari kamarnya.


Berkeliling rumah bersama, hal sederhana namun sangat menyenangkan bagi keduanya. Mereka berjalan dengan pelan, karena Jigar tahu jika Zahra belum sehati betul. Apalagi dokter Rani mengatakan kalau Zahra kecapean dan masuk angin.


''Kau ingin bekerja lagi?'' tanya Jigar membuat Zahra menatap kearahnya.


''Jika kau tidak mengizinkan, maka aku tidak akan bekerja, '' jawab Zahra seraya tersenyum pada Jigar.


''Maafkan aku, karena aku sudah egois,''ucap Jigar.

__ADS_1


''Tidak, kau tidak egois, aku tahu setiap keputusan yang seorang suami ambil itu pasti adalah hal yang terbaik untuk istrinya, Meskipun aku tahu kau mengambil keputusan itu dalam hati yang penuh kekesalan dan juga kebencian padaku,'' ucap Zahra Seraya tersenyum pada Jigar.


''Kau terlalu baik Zahra, pantas jika Biru begitu mencintaimu. Aku baru menyadari akan hal itu, " ucap Jigar


''Apa yang kau katakan, aku dan tuan Biru sudah berakhir dan itu sudah benar-benar berakhir, tuan Biru sudah memiliki Nona Hani dan aku sudah menikah denganmu. Meskipun aku tahu rasa itu belum ada dalam hubungan kita tapi bagiku pernikahan adalah suatu hal yang sangat sakral yang tidak bisa dibuat main-main karena sebuah tujuan, sesuai dengan ucapanku jika kau sudah ingin mengakhiri hubungan ini aku berharap itu segera dilakukan karena aku tidak mau semakin masuk semakin dalam, Jika kau ingin memberi kesempatan dalam hubungan ini, aku berharap.... aku tidak mengecewakanmu,'' ucap Zahra.


"Aku sudah memantapkan hatiku untuk bertahan dalam hubungan ini, Jadi.... cepatlah sembuh. Aku ingin kau dan aku menjadi kita,'' ucap Jigar.


''Maksudnya?'' tanya Zahra tidak mengerti.


''Kau tidak mengerti? Aku ingin mewujudkan impian Mama dan Papa, '' ucap Jigar.


''Punya cucu?'' tanya Zahra yang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena malu.


''Kau faham juga, '' ucap Jigar seraya mencubit kedua pipi Zahra.


''Nagauaman keadaanmu, Zahra? Papa dengar kau kurang enak badan?'' tanya Papanya Jigar yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh Jigar.


''Papa, Sudah baikan, hanya masuk angin saja, '' ucap Zahra


''Dia butuh healing, Pa. Nanti Jigar bawa dia jalan-jalan, '' ucap Jigar.


''Memang seharusnya begitu, Kau yang harusnya peka sebagai suami, '' ucap Papanya Jigar.


''Ya, sudah.... papa balik ke kantor, cepat sembuh! '' ucap Papanya Jigar seraya mengelus pucuk kepala Zahra.


''Terimakasih, Pa,'' ucap Zahra.


Zahra dan Jigar pun saling melihat kepergian Papa-nya.


...----------------...


"Dimana mas Biru?" tanya Hanna pada diri sendiri ketika sudah masuk kedalam Bar.


Ia menutup telinganya, ini masih siang tapi pengunjung Bar itu sudah mulai rame.


Hanny tak berhenti, ia mencari suaminya kesegala arah, Sehingga ia menemukan ke beradaan sang suami yang di apit kedua wanita, Namun terlihat sekali jika Biru tidak nyaman dengan posisinya.

__ADS_1


__ADS_2