
Suasana menjadi ramai ketika beberapa teman Jigar sudah datang, apalagi dokter Fina yang memang pembawa tawa dengan tingkahnya.
''Zahra mana Jigar, Kenapa belum turun?'' tanya sang mama
''Eh iya, aku dar8i tai tidak melihat nyonya Jigar, eh tuan Jigar, kau mau menyembunyikan kecantikan istrimu dari para kekasih kita, hah?'' tanya Fina pada Jigar.
''Hahahaha mana bisa, bentar ya, aku akan panggil istriku,'' ucap Jigar, namun ketika Jigar he ndak melangkah kedatangan Hanny dan Biru membuat langkahnya terhenti. Jigar tersenyum karena meliat Biru terus mengganggam tangan Hanny. Jigar sangat berharap jika nanti sudah t8idak ada rasa diantara mereka berempat sehingga Jigar bisa menjalani rumah tangganya juga dengan tenang.
''Akhirya kalian datang juga, kalian sudah di tunggu, tapi aku yakin diantara kalian yang paling lama berhias adalah Biru, ya kan?'' goda Jigar yang masih ingat akan kebiasaan sepupunya itu.
''Wah benarkah? Jadi pria juga bisa berdandan lama?'' taya yang lain seraya mendekati Hanny dan Biru.
''Jigar, kau memang selau bisa buka kartuku,'' ucap Biru, tentu Zahra bisa mendengar tawa mereka semua.
Tawa yang mana hanya dirinya yang menangis saat ini.
Ketika Zahra mash berdiam diri di tei ranjang, suara handle pintu membuat ia agsung mengusap air matanya. Sejenak Jigar heran karena lampu kamarnya dimatikan. Jigar berjalan hanya dengan cahaa lampu tidur yang ada di nakas.
''Kenapa lampunya dimataikan? Dan juga, kenaa kau tidak turun?'' tanya Jgar yang kini duduk di sampjung Zahra. ''
''Aku disini saja ya tuan, maksudku aku tidak usah turun, semuanya sudah aku siapkan, juga minuman lhusus buat tuan sudah asku sipaknan, aku disini saja,'' ucap Zara dengan gugup
''Apa karena ada Biru? Apa kau belum move on darinya?'' tanya Jigar
''Sejak aku memutuskan menikah dengan anda, sudah tidak ada nama pria lain d hati saya tuan, inilah yang aku cemaskan, inilah yang aku takutkan, kenaa saya tidak mau turun, saya saya takut membuat anda salah faham akan syaa, saya takut jika anda berasumsi dengan pikiran anda, saya cemas jika seandainya nanti aku tidak sengaja bertemu tuan Biru anda malah berfikiran lainpada saya, karena disini saya yang slalu disalahkan, Sampaikan saja sama mama dan appa, kalau saya kurang enak badan,'' ucap Zahra menaan isak tangisnya.
Lagi dan lagi Jigar membawa Zahra dalam pelukannya.
'Aku tahu, ini semua karena kesalahanku, aku yang selalu menyalahkanmu atas semua yang terkadi, padahal itu semua bukanla salahmu, maafkan aku Zahra, maafkan aku,'bathin Jigar
''Tai siapa yang akan menemani tuan Arsel kalau kau tidak turun?'' tanya Jigar yag masih memeluk Zahra dari samping.
''Tuan Arsel? Anda mengundang tuan Arsel juga?'' tanya Zahra seraya meepaskan diri dari elukan Jigar, Jigar menganggukkan kepalanya dan mngusap kening Zahra kebelakang, tatapan keduanya saling bertemu, hingga Jigar bisa mendengar suara detak jantungya sendiri, karena ia merasa ada desiran dalam hatinya.
Jigar mengusap pipi Zahra lalu mencium keningnya denagn begitu dalam, hingga Zahra bisa mersakan hangatnya aliran ndarah dalam dirinya.
__ADS_1
Jigar menarik tangan Zahra dan membawanya kedepan lemari. Memilihkan baju untuk Zahra Disinilah Jigar tahu jika semua baju Zahra terbilang biasa-biasa saja.
Lampu kamar sudah terang, Jigar bisa melihat mata sembab Zahra. Rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya. Jigar ingat, bahwa ia pernah membeli baju untuk Hanny namun sampai saat ini ia tidak memberikannya.
Jigar pun membuka kotak yang ada dalam lemari itu.
'Zahra-pah yang lebih pantas mendapatkan ini, Maafkan aku Zahra. Aku tidak tahu seberapa banyak luka yang aku torehkan dalam hatimu, maafkan aku karena aku kau banyak mengeluarkan air mata, bahkan adikmu sampai datang padaku dan memintaku untuk tidak menyakitimu, Apakah aku sekejam itu, Zahra?' bathin Jigar seraya menatap Zahra.
''Tuan itu baju siapa?'' tanya Zahra menyadarkan Jigar akan lamunannya.
''Ah, ini baju untukmu. Pakailah ini sekarang, kau pasti akan sangat cantik, " ucap Jigar,vZahra terdiam. Kata cantik terngiang-ngiang di telinganya.
'Apa? Dia mengatakan aku cantik? Oh Tuhan Zahra, jangan percaya diri dulu, dia bilang kalau lau akan cantik bila memakai baju itu, ' bathin Zahra yang menyadari akan kebodohannya.
''Kenapa? Apa. kau tidak suka dengan bajunya? Dibawah mama dan papa sudah menunggumu, bisa jadi tuan Arsel dudah datang dan dia bingung tudak ada kamu disana, jangan sampai dia bilang kalau suamimu ini kejam dengan mengurungnu di kamar, '' ucap Jigar membuat Zahra tersenyum lalu ia pun pergi ke ruang ganti. Jigar tersenyum, ia sadar selama ini Zahra selalu berganti pakaian di ruang ganti.
Tiadk butuh waktu yang lama, Zahra sudah keluar dari tuang ganti. Ukuran bajunya sangat pas ditubuhnya. Jigar bahkan tidak berkedip menatap kearah Zahra.
''Aku pakai make up sedikit, nanti Mama dan Papa curiga karena mataku, '' ucap Zahra yang langsung mengoles make up tipis diwajahnya.
Rambutnya dibiarkan terurai dengan indah, membuat Zahra tersenyum menatap bayangannya di cermin yang mana Jigar berada dibelakangnya.
''Sudah siap?'' tanya Jigar, Zahra hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang terlihat jelas.
Jigar dan Zahra pun keluar dari kamarnya, sedangkan Biru dan Hanny terlihat bercanda dengan tamu yang lainnya, ketika mereka semua melihat kedatangan Jigar dan Zahra, mereka semua terdiam. Biru tersenyum melihat Zahra yang terlihat bahagia bersama Jigar.
'Selamat Zahra, kau pantas mendapatkan kebahagiaan ini. Jigar adalah orang yang tepat untukmu, Jigar adalah laki-laki yang baik, maafkan aku karena hadirku hanya membuatmu terluka' bathin Biru seraya mengusap air matanya yang hendak terjatuh.
''Menantu mama, kau sangat cantik sayang, '' puji mamanya Jigar.
''Terimakasih, Ma'' ucap Zahra tersenyum pada mertuanya.
Ini hanyalah acara makan malam. bersama namun sudah terasa seperti pesta.
''Hai Zahra, '' sapa Arsel yang kini muncul dari belakang tubuh Zahra.
__ADS_1
''Tuan Arsel, Kau darimana?'' tanya Zahra dengan ceria.
''Aku dari kamar mandi, Wah nyonya Jigar, kau sangat cantik malam ini, bajumu sangat indah, '' puji Arsel dengan gaya menggodanya.
''Terimakasih tuan, silahkan duduk,'' ucap Zahra dengan bahagia.
Jigar-pun menyuruh semua teman-temannya untuk duduk dan menikmati hidangannya.
''Hanny makanlah, Zahra membuatkan ini untukmu, '' ucap Mamanya Jigar.
''Wah, Zahra. Terimakasih ya, ini sangat enak, '' ucap Hanny.
''Terimakasih nona Hanny, syukurlah kalau nona suka,'' ucap Zahra seraya tersenyum.
''Jangan panggil nona, Pangggil saja Hanny, '' imbuh Hanny seraya tersenyum.
''kalian nikmati makan malamnya, orang tua ini akan kembali ke kamar, ini dunia anak muda, '' ucap Papapnya Jigar yang bahagia melihat Jigar sudah menerima Zahra.
''Papa, Papa makanlab bersamaa kami, '' ucap Zahra
''Tidak nak, kalian makanlah! Papa juga mau makan berdua dengan mama-mu. Biar terlihat romantis, " bisik Papa Jigar membuat Zahra tersenyum.
Mereka semua pun menikmati makan malam mereka dengan bahagia.
"Bukankah itu baju yang Jigar belikan untuk Hanny ya? Aku masih ingat waktu itu Jigar ada seminar di luar negeri," ucap salah satu teman Jigar yang mana tidak sengaja Zahra mendengarnya.
Deg... Deg... Deg
'Jadi, ini baju untuk Nona Hanny?' bathin Zahra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
'Pantas saja jika tuan Jigar mengatakan aku cantik, mungkin dia membayangkan jika Nona Hanny yang memakainya, Zahra ... Jangan bermimpi kalau kau berhasil masuk kedalam hati suamimu itu,' bathin Zahra yang kini berjalan tanpa arah dengan tatapan yang kosong.
'Cukup Zahra, kau jangan berharap banyak dalam rumah tangga ini, ' bathinnya lagi seraya terus melangkah keluar rumah yang mana di ikuti oleh adiknya.
Sedangkan Jigar sibuk dengan teman-temannya, bahkan terlihat tertawa lepas bersama Hanny. Biru sedang berbincang dengan Arsel, hingga tidak sadar dengan ketidak adaan Zahra.
__ADS_1