Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 16 Tiga Hati Yang Tersakiti


__ADS_3

Saga dan Hanny sudah menyiapkan semua barang yang mereka ingin bawa kerumah masa depan yang hanya 1 bulan bagi Hanny.


"Bunda jangan cemas, Saga hanya ingin mandiri saja, Bukankah Bunda sangat mempercayai Hanny sebagai menantu Bunda," ucap Saga saat mendengar kekhawatiran Bundanya.


"Bunda juga bisa datang ke tempat kami, Bunda juga jangan cemas ... Saga tidak akan melarang Hanny untuk berkunjung kemari" ucap Saga lagi.


"Saga, Bunda tahu,Kau tidak akan membuat Bunda kecewa Nak, ingatlah ... Hanny wanita yang baik" ucap Bundanya Saga.


"Baiklah Bunda, Kalau begitu ... Saga pamit ya, Hanny sudah masuk ke dalam mobil, tidak enak kalau membiarkan dia menunggu" kilah Saga


"Klian hati-hati lah," ucap sang Bunda.


Sedangkan Ibunya Hannya sudah pulang dari kediaman Tuan Tara. Baginya Putrinya kini telah menjadi hak orang lain, Hanya doa yang bisa ia berikan untuk kebahagiaan sang putri nya.


Mobil itupun kini membawa pasangan yang sah sebagai suami-istri tapi terasa begitu asing. Hanny terus melihat ke jendela mobil, berusaha menenangkan pikirannya yang berkelut.


Hingga tanpa mereka sadari, Kini mereka susah sampai di sebuah Apartemen yang ternyata dekat dengan kantor Saga.


Pak sopir pun membantu membawakan barang-barang Saga, Hanny menolak saat Sang sopir itu ingin membantunya.


"Tidak usah, Pak. saya bisa sendiri, Bapak bawa saja punya Tuan" ucap Hanny seraya menyeret kopernya yang tidak begitu besar. Sedangkan Saga selalu sibuk dengan ponselnya hingga ia tak menyadari bahwa ia meninggal kan istrinya lagi, masuk kedalam apartemen yang hanya ada dua kamar.


"Sudah pak, sampai disini saja, terima kasih ya, Pak." ucap Hannya saat pak sopir itu susah memasukkan koper Saga kedalam apartemen. Hannya menyeret kedua koper itu, Ia melihat Saga yang duduk di sofa dengan kefokusan matanya pada Ponsel.

__ADS_1


Hanny menghela nafas dalam-dalam, Ia tak tahu ... apakah sebegitu sibuknya sang suami, sehingga mengabaikan nya yang kesulitan membawa dua koper.


"Yang sebelah kanan kamarku, dan yang sebelah kiri kamarmu, tinggalkan koperku disini, aku akan membawa nya sendiri " ucap Saga tanpa melihat kearah Hanny. Tentu tubuh Hanny langsung mematung seketika. Bagaimana bisa, Pasangan suami-istri tapi pisah kamar. Hanny sudah tak tahan dengan semua sikapnya.


"Tuan Sagara Wilantara, Maksud anda apa? Kita serumah tapi tidak sekamar, begitukah? Apakah menurutmu pernikahan ini hanyalah mainan? Aku fikir anda adalah orang yang berpendidikan, Baiklah ... Sebulan kita akhiri maina rumah-rumahan ini" ucap Hanny seraya menyeret kopernya keatas menuju ke kamar yang di tunjukkan oleh Salah, Seketika Saga mendongakkan kepalanya.


'Apakah perkataan ku ada yang salah ?' bathin Saga dengan tanpa beban


Hanny masuk kedalam kamarnya, ia meluapkan segala emosi dan sakit hatinya, Ia berusaha memahami sikap Saga yang acuh padanya, Tapi ia tak menyangka, kalau ternyata suaminya juga tidak ingin sekamar dengannya. Apalah arti dari pernikahan ini, Apa dia berfikir pernikahan ini hanya main-main, Jika mereka tak sekamar dan tak berusaha saling mengenal, lalu kapan rasa itu akan tumbuh.


'Apa arti dari semua ini, Ya Tuhan, Aku tahu ... dia tidak menerima perjodohan ini karena masih saling tidak mengenal, dan tidak ada rasa cinta, tapi jika begini, Kapan kita akan saling mengenal satu sama lain? Apa jangan-jangan dia punya wanita lain?, Oh tidak ... semoga saja pikiran itu tidak benar ' pikir Hannya berusaha mengusap air matanya


Saga masih terus menatap pintu kamar Hanny, Setelah itu ia juga masuk kedalam kamarnya merebahkan tubuhnya yang serasa sangatlah lelah, padahal ia tidak melakukan pekerjaan apapun. Zahra yang tidak lagi membalas pesannya, juga membuat mood Saga tidak baik.


Beberapa jam di dalam kamar, Ia berusaha berfikir jernih akan apa yang suaminya katakan. Mungkin ... Suaminya belum terbiasa dengan keberadaan orang lain di dalam kamarnya, Mungkin dan mungkin. hanya kata itu yang selalu Hanny pikirkan untuk menguatkan dirinya sendiri agar tidak menyerah.


Dalam waktu 1 bulan yang ia katakan pada sang suami, Ia akan berusaha membuat sang suami jatuh hati padanya. Setelah itu jika tidak ada perkembangan maka hanya ' Menyerah' Yang harus ia lakukan.


Melihat peralatan dapur yang sudah siap begitu juga dengan isi kulkas. Hanny yakin bahwa sang suami sudah menyiapkan semuanya. Pikiran buruk itu pun seketika ia singkirkan.


"Hanny, cobalah dan berusahalah. Kau sudah bertekad dalam pernikahan ini, jadilah wanita yang kuat, dan menjunjung tinggi akan arti sebuah pernikahan" bathin Hanny pada diri sendiri.


Hanny pun memasak ala adanya. Di satu sisi ia sangat lah lapar, satu sisi ia ingin menaklukkan hati sang suami dengan masakannya, Bukankah banyak orang yang bilang, Kalau ingin mengambil hati seseorang itu dari perut nya dulu? benar gak sih ungkapan ini.

__ADS_1


Tangan Hanny pun berkutat dengan peralatan dapur, Apartemen yang tidak terlalu besar itu tentu membuat wangi masakan Hanny tercium oleh Saga yang mana pintunya tidak terlalu rapat.


Saga berdiri setelah menghubungi Zahra dengan alasan urusan pekerjaan. Meski pada akhirnya mereka saling melempar candaan satu sama lain, tidak memikirkan perasaan seorang wanita yang kini berusaha mengambil hati sang suami.


"Aku tutup dulu ya, jaga kesehatanmu dan kesehatan adikmu, besok aku sudah akan masuk bekerja, Aku merindukan mu" ucap Saga pada Zahra seraya menatap wajah yang ingin ia sentuh.


"Aku juga, Baiklah ... selamat sore, aku juga sudah mau bersiap pulang, da ... sampai jumpa besok" ucap Zahra seraya melambaikan tangannya pada Saga.


Zahra lupa akan komitmen yang hatinya buat, Bahwa ia tidak akan lagi mengatakan cintanya pada Saga, kenyataan nya hati nya tak ingin menolak Alan kerinduan Saga terhadap nya.


"Oh Zahra ... apa yang kau lakukan, Seharusnya kau menolak panggilan Vidio itu, Dan seharusnya kau tidak meladeni Saga kan? itu sama saja kau masih memberinya harapan, Ingat Zahra ... dia sudah beristri " ucap Zahra menyesali apa yang sudah ia lakukan.


*****


"Jigar, kamu kenapa sayang, sejak kemaren ... Mama dan papa perhatikan, kau selalu murung, ada apa, Nak?" tanya sang Mama yang mana Papanya Jigar juga ada di dekat Mamanya


"Ma, Apakah Saga akan baik dengan Hanny,?" pertanyaan itu tiba-tiba saja lolos dari bibir sang anak, Tentu sebagai orang tua mereka menyadari satu hal. Jigar menyukai teman seprofesi nya itu.


"Kau juga sangat mengenali Saga kan? dia anak yang baik, bahkan sangat baik" ucap sang Mama berusaha berada di tengah Anatar anak dan keponakan nya itu


"Tapi dia punya wanita lain, Ma." ucap Jigar gusar


"Jigar, Dengarkan Papa. Dulu ... Papa juga mencintai wanita lain sebelum Papa di jodohkan dengan Mama mu, tapi percayalah ... semuanya memiliki jalan masing-masing, Dengan berjalannya waktu, Tuhan membuka kan hati papa, bahwa ... ada Mama kamu yang harus Papa cintai. Semuanya sudah ada yang mengatur, Kau jangan cemas dan khawatir akan Hanny, Kau mencintainya bukan? maka dukunglah dia, semangati dia, jadilah orang yang selalu ada disisi nya, untuk mendukung nya, bukan untuk menghasut nya, Kau faham kan?"

__ADS_1


__ADS_2