Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 17 Tiga Hati Yang Tersakiti


__ADS_3

Memastikan bau harum makanan itu berasal dari dapurnya, Saga kini telah mematung menatap sosok wanita cantik yang rambutnya terikat keatas, tangan putih mulus nya terlihat mengiris bawang merah dan putih dengan begitu lihai. Bau bumbu lainnya sudah menyeruak di hidung Saga. Menyadari ada yang memperhatikan, Hanny menoleh kearah tangga dengan tersenyum pada Saga. Dapur dan ruang tamu hanya bersebelahan dan bisa terlihat dari tangga.


"Mas, Kemarilah. Apakah Mas suka nasi goreng? karena bahan hanya ada yang ini ... aku buatkan nasi goreng spesial saja ya buat, Mas Saga" ucap Hanny dengan senyuman nya. Terbuat apakah hatinya, baru beberapa jam lalu ia menangis karena perkataan Saga dan sikap Saga, sekarang wanita itu hanyalah tersenyum.


Saga yang entah karena apa, mungkin karena perutnya yang lapar, Ia mendekat ke arah Hanny, melihat langsung sang istri memasak untuk pertama kali baginya.


"Mas mau minum teh,atau apa? akan aku buatkan" ucap Hanny tanpa melihat kearah Saga karena ia fokus dengan Nasi yang sudah ia tuangkan di wajan dengan bumbu yang sangat harum.


"Sebentar lagi nasinya sudah siap, aku buatkan teh hangat saja ya, Mas" ucap Hanny, Sedangkan yang di ajak bicara hanya diam tanpa ekspresi. Hanny mencoba untuk menata hatinya agar lebih kuat lagi.


Beberapa saat kemudian, Masakan Hanny dah selesai, Dan minuman Saga pun sudah siap, Hanny menyajikan di piring dan meletakkan di depan Saga.


"Berilah komentar jika tidak enak, Ini nasi goreng kesukaan Almarhum ayahku, membuat ini, aku jadi teringat beliau, Ibu yang mengajar kan aku resepnya" ucap Hanny dengan nada ada kesedihan.


Saga hanya mendengar kan, setiap yang Hanny katakan, dengan sesekali menyuapkan nasi goreng Hanny pada mulutnya, Sejenak Saga terdiam, ia menikmati rasa dari nasi goreng itu, sungguh rasa yang berbeda dari semua nasi goreng yang pernah ia cicipi. Bahkan masakan nasi goreng Zahra kalah jauh.


Melihat Saga yang lahap memakan nasi gorengnya, Hanny tersenyum puas, setidaknya ... meskipun Saga tidak memberi komentar tapi reaksinya susah bisa di simpulkan kalau Saga suka dengan masakan nasi gorengnya.


Saat Saga sudah dengan makannya, Ia meminum teh hangatnya, sungguh sangat nikmat makan saat ini.


"Jagan terlalu percaya diri, Saya habis kan masakan mu karena menghargai mu" cebik Saga seraya berlalu, Namun ... Hanny tak sakit hati malah ia tersenyum dan menatap kepergian Saga seraya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Mas, tunggu!" ucap Hanny saat ingat akan sesuatu, Saga yang sudah ada di pertengahan tangga, langsung menghentikan langkahnya.


"Hemmm " suara Saga


"Aku mau izin, Ada anak di rumah sakit, Dia tidak ingin minum obat kecuali aku yang memberinya, bolehkah say kerumah sakit sebentar ?"ucap Hanny hati-hati


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, aku tidak akan ikut campur urusan mu, begitu juga dengan kau, Kau juga tidak boleh ikut campur urusanku, Dengan kata lain, lakukan urusan masing-masing " ucapan Saga yang bagaikan irisan pisau itu, kini lagi dan lagi menyakiti hati Hanny.


Namun ... meski hatinya sakit, Ia paksakan untuk tersenyum, Lalu ia menuju ke kamarnya, berganti pakaian, Niatnya akan datang setelah adzan Maghrib, nyatanya ... ucapan Saga telah membuat ia ingin segera pergi. Mungkin dengan ia datang kerumah sakit, hatinya bisa tenang dan kembali menemukan kedamaian


"Hufftttt ... Hanny, semangat ... anggap saja ini perjuangan mu, Sebulan kau biarkan hatimu menerima semua ucapannya, setelah sebulan namun ... ia tidak berubah, Sudah cukupi saja pernikahan ini, Kau harus sabar oke" ucap Hanny pada diri sendiri seraya melihat pantulan dirinya di cermin, Ia tersenyum dan mengambil jas putih nya, Lalu meninggalkan kamar, Ingin pamitan pada Saga namun ia ragu. Tapi adab tetap adab. Ia mengetuk pintu kamar Saga.


Tok ... tok ... tok


Tidak menerima respon apapun, Hanny hanya bisa menghela nafasnya, lalu membawa kakinya berlalu dari depan kamar Saga. Menuruni setiap tangga apartemen yang ia tempati saat ini, Sesaat kemudian ia batu Ingat bahwa ia tidak membawa mobilnya, Lalu ia memesan taksi online. Ia menunggu di depan apartemen dengan sesekali melihat kearah jam yang melingkar di tangannya.


Jas putih yang ia gantungkan di lengannya berdampingan dengan tas kerjanya. Sungguh kecantikan dan penampilan yang sangat sempurna.


Kaki jenjangnya terlihat begitu indah dengan sepatu high heelsnya, Rok span dan kemeja yang senada, semakin membuat tampilan nya terlihat anggun.


Tidak butuh waktu yang lama.taksi yang di pesan Hany sudah ada di depannya.

__ADS_1


Hanny pun masuk kedalam taksi itu, Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang terus menatapnya dari atas. Tatapannya terus mengikuti kemana taksi itu membawa Hanny.


'Aku sudah terlalu menyakiti mu, Semoga cinta tak pernah datang diantara kita, Meski ... ku tahu, kau sudah menaruh harapan besar dalam pernikahan ini, Hanny ... kau pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku, Aku belum bisa membuka hatiku untukmu, di hati ini masih ada orang lain yang bertahta ' bathin Saga saat melihat taksi yang Hanny naiki sudah tidak ada dalam pandangannya.


*****


"Bu, Apakah kak Hanny bahagia?" tanya Hana adiknya Hanny


"Bahagia akan datang pada kita yang bersabar, Kakak mu menikah tanpa saling kenal tanpa ada cinta, Pasti akan butuh perjuangan yang besar dalam menggapai cinta itu, Tapi Ibu sangat yakin ... jika kakakmu pasti bisa melalui semua itu " Ibunya Hanny menatap anak bungsunya yang terlihat begitu penasaran akan kehidupan kakaknya.


"Hana, Jadilah seperti kakakmu, jangan sembarang menerima cinta seorang lelaki, Kadang cinta itu adalah kebahagiaan tapi kadang juga penderitaan, Salah memilih dan menempatkan cinta, hidup dan bahagia kita taruhannya " Nasehat sang Ibu membuat Hana mengerti bahwa tak semua lelaki itu baik dan tulus. Hana yang tahu akan Saga dan ketampanan nya, ingin sekali memiliki suami seperti itu, Tanpa ia tahu ... kakaknya tiap jam harus menahan sesak karena sikap dari sang suami yang di idolakan sang adik.


*****


"Menurut mu, apakah Saga akan bersikap baik pada Hanny? maksud ku seperti pengantin baru biasanya?" tanya Alina pada Agam melalui sambungan ponselnya


"Mana aku tahu, Sayang. Tapi aku yakin ... mereka belum belah duren" goda Agam


Agam bukan tipe lelaki yang suka bercanda, hanya saja ia lakukan hanya pada Tunangannya. Wanita yang begitu ia cintai.


"Hanya itu yang ada dalam otakmu" cebik Alina yang Agam yakini kalau bibir manyun sambil menahan tawanya.

__ADS_1


"Aku lelaki normal sayang, Ayolah kita nikah,yuk" ajakan Agam untuk kesekian kalinya.


__ADS_2