Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 65


__ADS_3

Kehiduan akan terus berjalan, mau tidak mau kita menjalaninya, tapi takdir akan terus membawa kita kejalan yang sudah di gariskan. Hanya do'a dan usaha yang bisa mengubah takditr hidu kita.


Setelah beberapa saat Biru sudah sadar dari pingsannya.


''Bagaimana, apa kau masih merasa sakit?'' tanya Agam pada sang adik


''Kakak, aku kenapa?'' tanya Biru


''Kau pingsan, dokter mengatakan kalau asam lambungmu kumat. Kau tidak makan apapun dari pagi tadi, benarkan?'' tanya sang kakak


''Kak, apakah Hanny akan memaafkan aku, dia minta cerai kak, aku tidak ingin cerai, aku masih ingin mempertahankan pernikahan ini kak, aku ingin memperbaikinya kak, ini semua bukan salah Zahra, aku yang tidak bisa move on,'' ucap Biru


''Alasan kau ingin mempertahankan pernikahan ini apa? bukankah dulu kau juga mengatakan hal yang sama, akan berubah dan akan menghargai Hanny, Biru ... kakak tahu, ini adalah masalah pribadimu, aku bahkan ayahpun tidak punya hak untuk ikut campur, tapi disini ada banyak hati yang akan tersakiti dengan apa yang sudah kau lakukan, kau tahu ... bukan hanya Hanny yang terluka, tapi kau juga melukai Zahra, wanitamu bukan hanya terluka tapi ia akan menyandang status pelakor di luaran sana, kau tahu siapa yang sudah menghapus vidio itu, Arsel, musuhmu, sainganmu dalam bisnis., Kakak tidak tahu, seberapa besar kau mencintai Zahra, tapi Hanny saat ini menjadi istrimu, seharusnya kau tegas menjadi laki-laki, kau tolak dari awal, jangan perdulikan apapun lagi, mungkin Bunda akan Syok saat itu, tapi jauh lebih baik dari pada sekarang saat kau masih berstatus suami Hanny tapi kau masih main dengan Zahra, kau harus tegas dan bertanggung jawab akan apa yang sudah kau lakukan Biru, kau laki-laki, kau adalah kebanggan Bunda dan Ayah, jadi kakak mohon ... selesaikan semua ini dengan hati dan pikiran yang tenang, jika kau tidak ada rasa pada Hanny, sebaiknya kau jujur dan lepaskan, dari pada bertahan tapi menyakitkan tiga hati, kau, Hanny dan Zahra,'' ucap Agam seraya menatap wajah pucat Biru.


*****

__ADS_1


''Tuan Jigar, dokter ahli bedah termuda di kota ini, kau selalu menyalahkan aku atas apa yang terjadi pada nona Hanny dan Tuan Biru, padahal anda tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, aku baru menyadari, jika tuan Jigar melakukan ini karena rasa cinta tuan Jigar pada nona Hanny, benar kan,?'' tanya Zahra seraya melangkah kearah Jigar  yang ada di belakang kursinya.


''Dokter menyuruhku pergi jauh, atau menikah dengan pria lain, sangat bagus, pilihan yang sangat bagus, aku juga tertarik dengan apa yang dokter katakan,'' ucap Zahra seraya bertepuk tangan di depan wajah Jigar


''Anda tidak tahu, apa yang aku rasakan selama ini, dokter tidak tahu, kehidupan bagaimana yang aku jalani, ya ... aku akui, aku masih mencintai tuan  Biru, aku masih sangat mencintainya, tapi aku sudah menjauh dan mengikhlaskan dia untuk nona Hanny, aku sudah tidak ada keinginan untuk kembali padanya, tapi anda ... anda menilai dengan sudut pandang anda, jika anda menyuruhku untuk menikah, baiklah ... aku akan ,menikah tapi dengan syarat, pria itu haruslah dokter Jigar, bagaimana?'' ucap Zahra seraya menghapus air matanya. Ia sadar dengan apa yang sudah ia katakan, ia tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan harga dirinya, semua orang sudah memandang rendah akan dirinya dan cintanya. Zahra mengusap air matanya yang masih terus saja mengalir.


''Aku hanya hidup berdua dengan adikku, aku tidak ingin memiliki masalah seperti ini, aku ingin hidup damai, aku ingin fokus membesarkan adikku, tapi kalian dengan sok benarnya menghakimi ku, dimana salahku ...!'' teriak Zahra


''Anda sampai datang ketempat kerjaku hanya ingin menghakimi sesuatu yang tidak aku perbuat, apakah manusia rendah sepertiku bisa kalian salahkan dengan seenaknya, aku lelah tuan Jigar, aku lelah dengan semua ini, aku sudah menjauh dari tuan Biru, aku sudah pindah kerja juga, tapi kenapa aku masih di salahkan ...'' ucap Zahra bersamaan dengan jatuhnya tubuhnya di lantai, ia memegang dadanya yang begitu sesak. Jigar terdiam seribu bahasa, ia menatap sosok wanita yang ia benci karena sudah menjadi alasan Hanny sakit hati.


''Kau menyuruhku menikah agar Nona Hanny bahagia kan, ayo kita menikah,!'' ucap Zahra seraya memberanikan diri untuk menatap mata Jigar yang juga menatapnya. Jigar masih terdiam, ia seoalah-olah kehilangan seluruh kata-kata yang ingin ia luapkan pada wanita di hadapannya.


*****


''Bu, makanlah! sebentar lagi kak Hany akan sampai di rumah, jika kak Hanny melihat ibu seperti ini, kemungkinan besar, kak Hanny sangatlah sedih,'' ucap Hana seraya menyendokkan nasi kemulut ibunya.

__ADS_1


''Kau yakin, jika anak ibu akan pulang hari ini,?'' tanya sang ibu dengan penuh harap


''Yakin, Bu. Karena kak Hanny tadi menelfon Hana, ia pulang dengan dokter Juan,'' ucap Hana tersenyum pada ibunya yang kini mulai mengunyah nasi yang sudah Hana berikan.


''Ibu sangat bersalah pada kakakmu, Han. Seandainya ibu tidak memaksanya untuk menerima perjodohan ini, mungkin kakakmu tidak akan mengalami hal yang menyakitkan seperti ini, kau tahu sendiri ... jika kakakmu selama ini tidak pernah dekat dengan pria manapun sebagai kekasih, tapi ibu bisa melihat ada cinta di mata kakakmu untuk suaminya, tapi apa yang kakakmu dapatkan, suaminya mencintai wanita lain, pasti hati kakakmu saat ini sangatlah hancur,'' ucap ibunya Hanny


''Ibu, kakak adalah wanita yang kuat, ia tak serapuh itu,'' ucap Hana seraya tersenyum pada ibunya. Tak ada manusia yang lepas dari salah dan dosa, tak ada kesedihan berlangsung lama, ada masanya dimana bahagia akan datang, di saat masalah datang jangan kita hadapi dengan ego tapi hadapi dengan pikiran yang jernih, menghindar lebih baik saat emosi melanda, dan itulah yang Hanny lakukan, Hanny bukanlah wanita tanpa amarah, dia juga manusia biasa yang punya rasa dan emosi.


Selama dalam perjalanan, Hanny banyak diam, ia menatap luar jendela pesawat, benar saja Juan menukar nomor kursi yang berada di samping Hanny, Hanny butuh teman saat ini, mungkin ia terlihat tenang tapi percayalah jantungnya saat ini berdetak dengan cepat saat detik-detik pesawat ini akan mendarat. Juan membantu Hanny untuk membawa kopernya, Hanny juga memakai masker wajahnya, Ia berniat untuk mengunjungi mertuanya, biar bagaimana pun, mertuanya jatuh sakit karena masalahnya.


"Terimakasih kak, sungguh liburanku saat ini sangat lah berkesan, " Ucap Hanny seraya tersenyum pada Juan, begitu juga dengan Juan.


"Sama-sama, aku juga senang dengan perjalanan ku saat ini, Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk cerita, siapa tahu aku bisa membantu walau hanya sekedar menemani mu menangis, " Goda dokter Juan, tentu itu membuat Hanny tersenyum.


Bagaimana Hanny akan menghadapi semuanya?

__ADS_1


__ADS_2