
Tangan Arsel mengepal, Ia sangat ingin menghajar Jigar dan Biru.
'Apa yang bisa ku lakukan untuk wanita malang ini, cih... aku tidak akan membiarkan Zahra menikah dengan Jigar, tambah hancur hidupnya nanti, ' bathin Arsel
''Kau jangan berfikir yang jauh, Kau harus kuat dan buktikan pada mereka, bahwa kau tidak seperti yang mereka katakan, Zahra... Mereka hanya menilai seseorang dari apa yang mereka lihat tanpa mereka tahu kebenarannya, kau jangan terbawa arus dan jangan sspai menikah dengan Jigar, jika itu terjadi maka kau akan kehilangan kebahagiaanmu untuk selama nya, '' ucap Arsel
''Tidak apa-apa tuan, bukankah kita harus berkorban untuk orang yang kita cintai, mungkin inilah yang inilah resiko dari cintaku, '' ucap Zahra tertunduk
''Tuan, terimakasih banyak karena anda sudah banyak. membantu saya, dan juga mau memberikan tempat untuk adik saya, saya benar-benar sangat berterimakasih, '' ucap Zahra lagi
''Aku hanya melakukan apa yang hatiku katakan, Zahra, jika hatiku tak ingin membantu aku tak akan pernah membantu mu, Sekarang kau istirahatlah, akh ada urusan sebentar, biar aku panggilkan Weni untuk menemanimu di sini'' ucap Arsel
''Tidak perlu, Tuan. Lebih baik saya kembali bekerja, '' ucap Zahra
''Jangan membantah Zahra,'' ucap Arsel penuh dengan penekanan
Sejenak Zahra terdiam, ia mengusap air matanya lalu menatap Arsel
__ADS_1
''Semoga Tuhan yang membalas kebaikan tuan, '' ucap Zahra tersenyum meski Arsel tahu, jika itu adalah senyum yang penuh luka.
''Cantik, sekarang.... istirahat lah, aku pergi sebentar, '' ucal Arsel seraya menyentuh kepala Zahra, lalu bangkit dan berlalu dari ruangan Zahra.
''Tuan, anda mau kemana?'' tanya Asisten Arsel
''Hanny, dia kunci dari semianya, hanya dia yang bisa mencegah pernikahan antara Jigar dan Zahra, Dia memiliki Jigar sebagai mulut pedas untuknZahra, tapi Zahra punya aku yang akan ku buat mulut ini juga pedas, Semua karena dirinya,'' ucap Arsel kesal
''Maaf tuan, jangan melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang tuan Jigar lakukan, ini bukan salah Nona Hanny ataupun nona Zahra, yang patut din salahkan adalah tuan Biru, Jangan melakukan hal yang sama, Nona Hany sudah ingin mundur tapi tuan Biru maju, dan kaii ini, Tuan Biru kembali berulah lagi, kita lihat dari postingan saat kejadian di bandara, posisikan itu jika kita menjadi Nona Hanny, melihat suami kita berpelukan dengan mantan terindah nya, sudah pasti sakit hati dan Nona Hanny menuntut cerai pada tuan Biru demi Nona Zahra, sedangkan Nona Zahra inhin menikah dengan tuan Jigar karena tuan Biru dan Nona Hanny,'' ucao Asisten Arsel
''Lalu, apa yang harus aku lakukan, kau tidak lihat! bagaiaman hancurnya Zahra saat ini," ucap kesal Arsel
"Kau selalu bijaksan, Huff baiklah! atur waktu bertemu dengan Nona Hanny, " ucap Arsel seraya kembali ke ruangannya
Asisten nya tersenyum, Ia tahu... meski Arsel jelek di mata banyak krang karena suka kekura masuk club, tapi hanya Asisten nya lah yang tahu bagaimana seorang Arsel yang sebenar nya.
...----------------...
__ADS_1
Hanny terduduk lemas, Saat Ibunya datang dan bilang memaafkan Biru.
"Bukankah cinta tidak bisa di paksakan, Bu? dan Hanny tidak ingin memaksa mas Biru untuk mencintai Hanny, Bu" ucap Hanny
"Nak, pernikahan bukanlah hal yang bisa di permainkan, Biru salah dan dia telah membuat kesalahan di hadapan Allah dan kau sebagai istrinya hatusnhisa membawa Biru dalam rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmatullahi, Nak" ucap Ibunya Hanny
"Tapi itu tidak mungkin, Bu. Di ibarat kan perahu, kita sudah tenggelam, Bu"
"Tapi kita bisa selamat dengan banyak cara, Nak. Kau menikah karena pilihan Ibu, dan Ibu sangat yakin dengan pernikahan ini, Kau sedang di uji Nak," Ucap Ibunya Hanny
"Lalu bagaimana dengan ajakan mas Biru untuk menikahi Zahra, Apakah Ibu ingin Hanny di madu? tidak Ibu, Hanny bukan wanita ahli syurga yang bisa bertahan dengan sosok lelaki yang masih berada dalam bayangan masa lalunya, Hanny tidak sekuat itu, Ibu. Hanny tak setegar itu, " ucap Hanny dengan tangannya memegang dadanya.
"Hanny, Maafkan Mas. Mas salah, bahkan Ayah juga sudah menghukumku, Aku sudah bukan Biru sang pengusaha, aku hanyalah Biru, lelaki biasa, Aku minta maaf atas apa yang sudah aku. lakukan, Maafkan aku Hanny," Ucap Biru yang masih bersimpuh di hadapan Hanny dan Ibunya.
"Mas tidak memaksa mu untuk memberikan jawaban sekarang, tapi Mas minta kau untuk berfikir lagi, demi Ibu kita," ucap Biru
Hanny tidak menjawab, ia bahkan tidak melihat kearah Biru sama sekali. Dadanya masih terasa sesak. Ibunya mengelus punggung Hanny, berharap... ia bisa tenang dan berfikir dengan jernih
__ADS_1
"Benar kata nak Biru, Nak. Tenangkan dulu pikiranmu, setelah itu baru lah kau buat keputusan, " ucap Ibunya Hanny
Hanny masih tidak menjawab ia tahu... jika ia akan membuat ibunya sedih, tapi mau gimana lagi, hati Hanny tidak bisa di kompromi.