
Semua mata menatap kearah Biru, ada aura berbeda dalam diri pemimpin itu. Senyum yang dulu selalu terpancar kini telah terlihat kembali. Senyum yang pernah hilang kini kembali lagi.
"Selamat pagi tuan Biru, '' ucap sekertaris Biru yang baru, kali ini ia memilih sekretaris pria.
" Pagi, Bagaimana? Apakah semuanya sudah kau siapkan? " Tanya Biru.
''Sudah tuan, Tuan Brio juga sudah menghubungi pihak kita, " Ucap sekertaris Biru yang bernama Tio.
"Baguslah kalau begitu, kau pastikan semuanya sesuai dengan rencana kita, " Ucap Biru.
''Baik Tuan, '' ucap Tio seraya membukakan pintu ruangan Biru.
Biru-pjn langsung fokus membuka setiap berkas namun ia ingat jika ia belum mengabari Hanny.
(Aku sudah sampai, kalau kau sudah sampai kabari ya,) pesan itupun Biru kirimkan sebelum memulai aktivitasnya.
(Aku juga baru sampai, Mas. ini baru saja keluar dari mobil) balas Hanny dengan cepat karena posisinya saat ini memang sedang pegang ponselnya.
Setalah itu Hanny pun meletakkan kembali ponselnya dan masuk kedalam dengan langkah yang penuh keceriaan, Ia sangat berharap bahwa semua berjalan dengan lancar dan juga hubungan yang baru saja di mulai bisa bertahan untuk selamanya.
...----------------...
''Aku baik-baik saja, Tuan maksudku kau pergilah bekerja, aku bisa jaga diri disini, '' Hcap Zahra ketika Jigar sydah selesai mereka tubuhnya dengan air hangat.
''Aku akak disini sepanjang hari, aku akan disini menemani istriku, " Ucap Jigar membuat Zahra langsung melihat kearahnya dengan bibir yang pucat.
''Jangan kau balut lukaku, jika suatu saat nanti kau akan memberikan aku luka yang lebih parah lagi, '' ucap Zahra dengan lirih namun masih terdengar jelas di telinga Jigar.
Jigar tahu, dengan kisah yang di alami Zahra, Zahra pasti sangatlah takut untuk menjalin hubungan yang lebih jauh.
Jigar menoleh ke arah Zahra, namun Zahra tak kuat dengan tatapan Jigar, Zahra pun menundukkan wajahnya agar tatapannya tidak bertemu dengan tatapan Jigar.
__ADS_1
Jigar tidak ingin memberikan janji namun ia ingin berusaha memberikan yang terbaik, Jigar memilih diam lalu menghubungi seseorang.
"Datanglah kerumah, istriku sakit, '' ucap Jigar pada seseorang.
.
.
''Aku tunggu, '' ucap Jigar sebelum. mematikan sambungan teleponnya. Setelah itu Jjhat menghubungi pelayanan rumahnya agar membawa sarapan paginya ke kamarnya, tentu itu membuat Mama dan Papanya cemas. Sedangkan adiknya Jigat sudah berangkat sekolah diantar pak sopir.
''Jigar, buka pintunya, '' ucap Sang mama setaya mengetuk pintu kamar Jigar, tentu Jigar langsung membuka pintu kamarnya dengan penampilan yang masih acak-acakan, pakai celana pendek tampa baju.
''Apakah kalian baik-baik saja, apa kalian terlalu lelah membuat bayi sehingga kalian harus sarapan di kamar?'' tanya mamanya Jigar yang mana membuat Zahra dan Jigar sama-sama melongo.
Mamanya Jjfar tadi mau. langsung masuk namun ternyata pintu terkunci, padahal tadi pas Mamanya melihat mereka pintu masih belum terkunci, karena posisi Zahra berada dalam pelukan Jigar, Mamanya pun pergi tanpa membangunkan mereka.
''Apa kau minta tambahan servis ke Zahra? Jangan ngoyo-ngoyo Jigar, gak baik juga, '' ucap Mamanya Jigar.
"Sayang, kamu sakit.... ? Ah bener wajahmu pucat sekali, bentar mama ambil kan obat dulu, " ucap mamanya jigar
''Tidak usah,Mah sebentar lagi dokter Rani juga akan datang kemari, "ucap Jigar seraya mengambil handuk lalu menuju kamar mandi.
Melihat Jjgar susah masuk kedalam. kamar mandi, Mamanya Jigar-pun menatap menantunya dengan tajam.
''Apa jangan-jangan kamu hamil, sayang?'' tanya mamanya Jigar, pertanyaan yang sama sama. 👇sekali tak bisa Zahra jawab. Mana mungkin dia hamil kalau Jigar belum menyentuhnya sebagai seorang istri.
''Zahra hanya. masuk angin saja Ma, dan ini juga efek kelelahan, Zahra emang begini dari dulu kalau lelah,'' ucap Zahra.
''Apakah kau yakin bukan karena kamu hamil?'' mtanya Mamanya Jigar.
''Belum, Ma. Mama doakan saja semoga Zahra bisa segera hamil, "ucap Zahra yang tidak ingin membuat Mama mertuanya kecewa. beberapa saat kemudian pada handphone datang dengan membawa sarapan untuk Jigar dan juga Zahra, bersamaan dengan itu Jigar keluar hanya dengan menggunakan handuk pendek yang menutupi area sosis jumbo miliknya.
__ADS_1
Tentu itu membuat Zahra menatapnya dengan penuh kekaguman. Ini pertama kalinya Jigra terbuka akan tubuhnya. Jigaf mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya, lalu mengambil pakaian santainya.
''Kau jangan masuk kerja, Jigat. temani istrimu. Kalian dia, mungkin ini proses agar bayi kalian jadi, '' ucap Mamanya Jigar yang membuat Jigar langsung melihat kearah Zahra.
''Doakan saja ma,'' ucap Jigar seraya merapilan rambutnya dengan tangannya.
"bmBaiklah kalian makanlah, Nama akan menunggu dokter Rani, '' ucap Mamanya Jigar seraya berdiri dan menyentuh pipi menantunya.
''Cepat sehat ya sayang, '' ucap Mamanya Jigar seraya berlalu dari kamar anaknya.
Jigar pun mengambil makanannya dan membawanya ke hadapan Zahra.
''Makanlah, ayo.... !" ucap Jigar seraya menyuapi Zahra.
"Aku makan sendiri saja, Tuan.... maksudku.... kamu juga belum sarapan, " ucap Zahra membuat Jugar meletakkan krmbali sendok yang baru saja ia pegang. menyentuh Pipi Zahra dengan lembut, mengelus nya dengan pelan dengan senyuman di bibirnya.
"Bukankah kita sudah berjanji untuk memulai semuanya dari awal? Bukankah kita juga sudah berjanji untuk memberikan kesempatan pada hubungan ini agar menjadi hubungan yang sesungguhnya? Aku tahu ini akan sulit bagi kita berdua Tapi percayalah jika kita sama-sama berusaha maka kita bisa melewatinya,'' ucap Jigar.
'Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik dan istri yang sesungguhnya untukmu Mas. Hanya saja selama ini kau yang menutup hatimu dan memberi batasan-batasan padaku, Aku bahagia dengan semua yang kau ucapkan. Aku juga berharap kalau ini adalah pernikahan pertamaku dan juga terakhir bagiku, aku sudah pernah kecewa dengan seorang laki-laki, Aku tidak ingin hatiku kecewa lagi, aku sangat berharap banyak dengan hubungan ini tapi selain itu aku juga tidak ingin kau terpaksa menerimaku, aku bukanlah wanita yang setara denganmu, aku takut jika Apa yang aku alami bersama Mas Biru akan terjadi pula pada kita, tapi melihat mama .... Besar harapanku untuk meninggalkan ini semua,' bathin Zahra, Bersamaan dengan itu Jigar menyuapi Zahra, Zahra menerima suapan itu dengan rasa haru dan mata berkaca-kaca.
Jigar tersenyum melihat Zahra menerima suapan darinya
''Sudah aku sudah kenyang, Mas,'' ucap Zahra.
Jigar terdiam sejenak mendengar panggilan itu.
''Kenapa senyum-senyum begitu? Apakah ada bekas makanan di bibirku?'' Tanya Zahra seraya mengusap bibirnya.
''Tidak ada, baiklah... Sekarang aku makan juga, sudah lapar juga, '' ucap Jigar.
''Mau ku suapi?' tanya Zahra
__ADS_1
''Boleh, makan dari tangan orang lain rasanya akan lebih lezat, '' ucap Jigar yang membuat senyuman di bibir Zahra meredup, karena itu adalah kata-kata yang selalu Biru katakan padanya. Namun Zahra sudah berjanji tidak akan lagi terpengaruh dengan apa yang bersangkutan dengan nama Biru, Zahra berusaha tetap tersenyum dengan bibir pucatnya.