
Tuan Brio. langsung berdiri dari duduknya, ianyudak menyagka jika Biru akan menolak rencananya.
"Jadi tuan menolak rencana ini? Bukankah ini sangat menguntungkan kita? " Tanya Brio.
"Tapi mereka akan sangat dirugikan, Tuan, " ucap Biru yang juga ikut berdiri.
"Baiklah! Tuan BrioBrio. Mungkin anda bisa memikirkan ulang jika ingin bekerja sama dengan perusahaanku, jika anda masih ingin maka anda harus menyetujui harga yang sudah perusahaan kami patokkan, kalau tidak.... Maka kami juga tidak bisa meneruskan kerja sama ini, " ucap Biru seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan tuan Brio.
"Ayo sayang!" Ajak Biru seraya mengulurkan tangannya pada Hanny. Hanny tersenyum dan menerima uluran tangan Biru.
"Tio, kau bawa mobilku, aku pulang dengan istriku, "ucap Biru.
"Baik tuan," ucao Biru.
Tio bukanlah sekretaris yang hebat seperti yang ada di novel-novel yang sudah kita baca, dia hanyalah laki-laki biasa yang memiliki kemampuan sebagai sekretaris tanpa ada kelebihan yang lainnya.
__ADS_1
''Apakah kau faham dengan apa yang kamu. bahas? " Tanya Biru
" Yang Kutahu kalau tuan Brio itu hanyalah orang serakah,'' ucap Hanny.
''Kau benar, padahal... Harga Ya sudah kami berikan sudah sangat menguntungkan bagi ketiga belah pihak, Namun ternyata tuan Brio memiliki rencana lain dan itu akan merugikan mereka,'' ucap Biru
''Menurutku ... Mas harus memiliki prinsip dan tidak boleh goyah dengan prinsip itu, Biar bagaimanapun kita tidak akan ada apa-apanya jika tidak ada mereka, orang kaya tidak akan terlihat kaya tanpa adanya orang miskin, Begitupun sebaliknya atasan tidak akan terlihat tanpa adanya bawahan, sejatinya kita itu saling membutuhkan, hanya saja kadang kita egois dan ingin memenangkan semuanya, padahal apa yang kita dapatkan itu ada hak mereka,'' ucap Hani.
''Kau bijaksana sekali,'' ucap Biru menyentuh hidung Hanny.
''Ya, dong. Mau jenguk Bunda?'' Tanya Biru.
''Boleh, " ucap Hanny.
...----------------...
__ADS_1
Akhirnya mobil jika bawa kini sudah sampai di area pemakaman orang tua Zahra.
"Ayo dek! "Ucap Zahra pada adiknya.
Adiknya Zahra memegang tangan Zahra, di satu sisi Jigar juga memegang tangan Zahra yang satunya. Menggenggamnya dengan begitu lembut dan penuh perhatian.
"Assalamu'alaikum, Ibu, Bapak!" ucap Jigar di sertai dengan Zahra dan adiknya duduk setaya menabutkan bunga yang sedari di pegang oleh adiknya Zahra.
"Ibu, Bapak, aku dan kakak datang, Maafkan kami karena sudah lama tidak berkunjung, apakah kalian tahu...Kak Zahra sudah menikah sekarang, aku juga tinggal dirumah besar milik kak Jigar," ucap Adiknya Zahra menceritakan semuanya pada makam orang tuanya.
"Ibu bapak, aku datang untuk melamar putri kalian, Maafkan aku karena aku datang terlambat, dan juga maafkan aku karena telah sering membuat putri kalian menangis, tapi aku berjanji mulai saat ini aku tidak akan pernah membuatnya menangis, aku berjanji di hadapan kalian bahwa aku akan berusaha untuk memberi kebahagiaan pada Zahra dan adik,'' ucap Jigar.
''Mungkin Jika kalian masih ada diantara kami, kalian akan memarahiku habis-habisan karena telah membuat putri kalian menangis,'' ucap Jigar.
''Do'akan kami ibu, bapak, agar kami bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah, Zahra berharap jika hubungan Zahra dan suami Zahra bisa langgeng seperti kalian berdua, Zahra juga berharap jika hanya maut lah yang bisa memisahkan kami,'' ucap Zahra.
__ADS_1