
Biru merasa ada yang kurang saat melihat meja kosong Zahra. Ia tersenyum kecut saat mengingat Zahra selalu memberinya senyuman padanya. Apakah ada yang sakit? tentu, Hatinya sangat sakit, Ia terlalu lemah dalam mengambil keputusan.
"Sukses selalu buatmu, Zahra" gumam Biru seraya memegang kursi yang selalu di duduki Zahra.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk," ucap Biru
Pintu ruangan itu pun terbuka, dilihatnya asisten dan calon sekretaris barunya
"Tuan ini adalah Siska dia yang akan menggantikan Nona Zahra" ucap asisten Biru
"Apakah sudah melihat datanya? maksudku apa dia bisa melakukan apa yang Zahra lakukan?" tanya Biru
"Dari segi pengalaman, Nona Siska sudah lumayan matang dalam posisi sekretaris Tuan," jawab asistennya Biru
"Baiklah, tunjukkan tempatnya dan bawalah meja ini keluar," ucap Biru pada asistennya
"maksud Tuan, sekarang ruangan sekretaris bukannya di sini lagi?"tanya asistennya
"Ruangannya kembali pada semula, di sini hanya ruanganku," ucap Biru ya kini melangkahkan kakinya menuju ke kursinya, ada guratan kecewa di wajah Siska, Iya sudah mendapat informasi bahwa ruang sekretaris itu satu ruangan dengan presdirnya.
"Kalau begitu, Saya permisi Tuan," ucap sang Assisten berpamitan dan memanggil seseorang untuk membawa keluar meja dan kursi yang pernah di tempati Zahra.
Asisten nya kini mulai yakin dengan apa yang ia yakini selama ini, bahwa ada hubungan spesial antara Zahra dan CEO nya. Hanya saja ... Asisten nya salut dengan Zahra, Karena ia tidak pernah memamerkan hubungan asmaranya dengan orang lain, mungkin jika wanita lain mereka akan berkoar-koar karena telah berhasil memikat hati seorang Biru wilantara.
*****
__ADS_1
"Nona Zahra, ini adalah ruangan anda, selamat bekerja, dan ... Kami yakin, anda sudah sangat faham dengan pekerjaan ini, sehingga Anda tak butuh kami lagi untuk membimbing anda, setahu saya ... anda adalah sekertaris terhebat dalam dunia bisnis, dan kesayangan Tuan Biru selama ini," ucap Assisten Arsel
"Terimakasih atas semua pujian anda," hanya kata itu yang Zahra ucapkan, Ia tak lagi ingin mengingat akan sosok Biru. Tapi ... manapun ia melangkah dan di manapun ia berada pasti namanya akan terkaitkan dengan nama Biru.
karena sudah banyak keberhasilan yang ia capai bersama Biru, dalam bisnisnya, dan itu sama sekali tidak mudah bagi Zahra, Dia membangun karirnya dari nol dari sebelum ia terikat perasaan dengan Biru.
Dan hari ini Zahra akan mengulang pertarungannya itu kembali di perusahaan barunya, namun Zahra selalu ingat akan ancaman sahabat Biru, tentang kebocoran rahasia perusahaan Biru, Zahra tidak memiliki niatan itu sama sekali, namun ia ingat Bagaimana watak Arsel saat bertarung bisnis sebelumnya. pantas jika sahabat Biru mengancam seperti itu, karena mereka tahu betul Bagaimana liciknya Arsel selama ini.
"Biarlah ku menderita, Mas. Asal engkau bahagia dengan Mbak Hanny, Aku rela melewati semua ini, dan aku yakin ... aku pasti bisa.
Aku harap Mas bisa mencintai dia, dengan cinta yang murni, Aku harap Mas bisa sayangi dia sepenuh hati, anggaplah dia ganti diriku, gMas ... yang pernah ada dalam hatimu, dan aku berharap kau bisa melupakan semua l, semua cerita lama tentang kita," gumam Zahra seraya menatap layar ponselnya untuk yang terakhir kalinya, Karena setelah itu ... Zahra mengubah wallpaper ponsel nya dengan gambar sebuah bunga. Ia tersenyum menahan sakit, Ia sedikit memegang kerah baju nya. Saat Zahra menetralkan perasaannya, suara pintu terbuka membuat ia sedikit terkejut.
"Hai, Kau sudah ada di ruangan mu ternyata, Bagaimana? Apakah kau suka dengan ruangan ini?" tanya pria menyebalkan tadi pagi, Ya ... siapa lagi kalau bukan si Arsel yang bisa masuk sembarangan ke setiap ruangan.
"Salam Tuan, saya sangat suka dengan ruangan nya, terimakasih," ucap sopan Zahra
"Tapi saya lebih suka serius dalam bekerja ,Tuan" jawab Zahra
"Ah, kau sudah ketularan si Biru, Baiklah ... apakah berkas-berkas nya sudah mereka berikan ke kamu?" tanya Arsel seraya mendekati meja Zahra
"Sebagian sudah, Tuan" ucap Zahra
"Kau bukan hanya bekerja sebagai sekertaris biasa, Tapi juga sekertaris pribadi ku, jangan khawatir dengan gajimu, aku akan menggajimu seperti Biru menggajimu," ucap Arsel seraya menaik turunkan alisnya.
"Maaf Tuan, saya masih baru ... Apakah pantas saya menjadi sekertaris pribadi, bukankah itu susah sangat jauh dari lamaran kerja saya, Tuan," ucap Zahra
"Aku tidak mengerti denganmu, Kau satu-satunya karyawan yang paling aneh yang aku kenal, Zahra, Kau di jemput gak mau, di kasih jabatan yang lebih tinggi masih banyak mikir, Apa kau masih normal?" tanya Arsel heran seraya menatap Zahra dengan tatapan mengintimidasi
__ADS_1
"Terserah Tuan, mau anggap aku aneh atau apa, tapi ... "
"Saya tidak suka ada tapi dalam hidupku, Jadi ... mulai saat ini kau pelajari lah semua jadwal harian ku, agar aku tahu ... apa saja kegiatan ku," ucap Arsel yang sudah memasang metode serius.
"Baiklah Tuan, Semua sesuai keinginan anda," akhirnya Zahra menyerah dengan apa yang diperintahkan oleh Arsel.
lama mereka terdiam di dalam ruangan Zahra, akhirnya arsip pun keluar dan menugaskan Zahra untuk menghafal semua jadwal nya selama sebulan. Zahra tahu bahwa arsel menyebalkan tapi ia baru tahu bahwa ia lebih menyebarkan saat mereka berdekatan seperti sekarang ini.
'Semangat Zahra, ini hari pertamamu ... mungkin ini adalah cobaan bagimu, ayo semakin, semangat ... semangat ... demi adikmu,' batin Zahra
Zahra pun mulai membuka satu persatu berkas yang ada di hadapannya, tanpa ia sadari di ruangan itu sudah ada CCTV yang terhubung dengan ruangan Arsel. arsel menatap wajah serius Zahra dalam melakukan pekerjaannya.
'Pantas saja biru sangat menyukai kinerja Zahra, Iya memang pantas dinobatkan sebagai sekretaris terbaik dalam tahun ini, dan beruntungnya sekarang ini dia menjadi milikku' batin Arsel
Arsel tersenyum Seraya terus merapat layar di hadapannya.
tiba-tiba saja dari ponselnya menyadarkan akan tatapannya pada gambar Zahra.
"Hallo sayang, kau kemana saja, aku datang ke apartemen mu, tapi kau tidak ada," ucap seorang wanita di sebrang sana
"Aku sibuk kerja," jawab Arsel cuek
"Kau sudah lama tak bermain dengan ku, Kau sudah bosen dengan ku ya? kenapa kau malah lebih sering main sama Dini?" ucap manja Wanita itu.
"Aku bermain dengan siapa pun itu tidak ada urusan denganmu, semua bermain dengan acak-acakan, Jadi jangan main perasaan saat bermain dengan ku, Karena kalian semua hanyalah pemuas ranjang bukan pilihan hati," ucap santai Arsel, Namun ... sangat menyakitkan bagi sang Wanita
"jika masih ingin bermain denganku, maka jangan banyak ini dan itu, aku tidak suka dengan wanita cerewet, paham kan ... sayang" ucap Arsel dan setelah itu ... Panggilan itupun terputus.
__ADS_1