
Tidak ada yang bisa menghindar dari yang namanya takdir. Kini Zahra susah dah menjadi istri dari seorang dokter Jigar. Sosok yang sangat membenci Zahra karena menjadi penghalang akan bahagia orang yang ia cintai.
Terdengar egois bahkan sangat egois, tapi inilah jalan yang Jigar ambil untuk orang yang ia cintai. Cinta kadang membuat seseorang kejam akan hidupnya sendiri.
''Selamat buat kalian, '' ucap Biru.
''Jika bukan karena laki-laki pengecut sepertimu, Apakah kami akan menikah seperti ini, Jika bukan karena laki-laki yang plin-pkan sepertimu, Apakah nasib akna bermain seperti ini?'' ucap Jigar dengan sinis.
''Jigar, aku tahu kau sangat marah padaku, tapi... aku tak bisa membohongimu, semua itu terjadi hanya refleksi saja, Aku benar-benar minta maaf akan hal itu, '' ucap Biru
''Maafmu sudah percuma, Biru. Aku hanya butuh bukti darimu, jangan sekedar janji dan ucapan belaka, '' ucap Jigar.
''Kau laki-laki kan? Bukankah laki-laki di lihat dari ucapannya?'' imbuh Jigar dengan sinisnya.
''Jigar, bawa istrimu istirahat, Kasihan dia capek, Nak, ' ucap Mamanya Jigar yang melihat perseteruan antara Jigar dan Biru. Seketika Jigar memiliki rencana baru untuk membalas Biru.
__ADS_1
Tanpa bhfara Jigar merangkul pinggang Zahra, sontak Zahra langsung membilatkan matanya, Mengikuti kemana Jigar membawanya, tentu itu membuat Biru menatap ke arah mereka, namun ia sadar bahwa di situ ada Hanny yang kini harus benar-benar ia jaga perasaannya.
Biru tahu bahwa Jigar sengaja melakukan itu untuk membuat ia emosi, Tapi Jigar salah, sikap. yang ia lakukan akan membuat ia terperangkap dengan rencananya sendiri.
''Biru, diakan Hanny?'' tanya Mamanya Jigar.
''Dia ada disana, Bi'' ucap Biru seraya menoleh. kearah Hanny yang sedang duduk di sudut ruangan sendirian.
''Temani dia, buatlah ia melihat jika kau susah berubah dan akan hanya menatapnya, '' Ucao Mamanya Jigar seraya mengusap lengan keponakannya itu.
Ketika Jigar dan Zahra sudah sampai didalam kamar Jigar, Jigar langsung melepaskan tangannya.
''Kau jangan ke GR-an, aku begini karena.... ''
''Karena ingin membuat tuan Biru sakit hati, kau masih belum. percaya jika aku dan dia susah tak mungkin bersama, '' ucap Zahra
__ADS_1
''Bukannya tak percaya tapi tidak akan pernah percaya, Kalian itu adalah orang-orang munafik, di depan tidak tapi di belakang iya, aku bicara sesuai fakta bukan hanya asal bicara, '' ucap Jigar denga sengit seraya melonggarkan dasinya.
''Aku tidak bisa memaksamu untuk percaya padaku, terserah kau menilaiku seperti apa,'' ucap Zahra Seraya duduk di meja rias, perlahan Zahra melepas aksesoris yang menempel pada dirinya.
Zahra sudah terbiasa dengan kata-kata Jigar yang menyakitkan, dan saat ini ia harus menambah porsi sabarnya.
''Aku mau istirahat, Apakah aku harus seperti film-film, tidur di lantai atau sofa?'' tanya Zahra yang membuat Jigar langsung melihat kearahnya. Wajah yang tanpa make up itupun membuat Jigar terdiam sesaat, Ia melihat Zahra yang kini menggunakan pakaian santai dengan baju kaos oblong dan celana yang hanya sampai lutut.
Ia ingin tertawa, namun Jigar berusaha menahannya..
''Terserah kau saja mau tidur dimana, '' ucap Jigar serata meninggalkan Zahra, Ia langsung masuk ke kamar mandi.
''Ya, Malah pergi, '' ucap Zahra Seraya melihat ke arah kamar mandi lalu bergantian melihat ke arah ranjang yang begitu luas.
''Tidur di ranjang mungkin tidak apa-apa ya, kan ranjangnya sangat luas tidak mungkin kan aku dan dia sampai berdekatan tudurnya, "gumam Zahra Seraya terus menatap ranjang.
__ADS_1
Saat ini masih menunjukkan pukul 02.00 siang namun Zahra diharuskan untuk istirahat karena nanti malam akan diadakan resepsi di kediaman Jigar, orang tua Jigar tidak ingin Zahra sampai jatuh sakit karena kelelahan. Zahra menunggu Jigar hingga ia terlelar dalam tidurnya, benar saja karena menunggu Jigar, Zahra duduk di sofa dengan posisi setengah terbaring.