
Arsel yang kini sedang berada di club memandang wajah Zahra yang anak buahnya kirim kan ke ponselnya.
"Kau tidak tegas,Biru ... sekarang kau memilih membuka hatimu untuk istrimu, tidak apa-apa kan ... jika aku merayu mantanmu," gumam Arsel dengan senyum smiriknya.
Zahra sudah yakin dengan keputusan nya, keluar dari perusahaan Biru adalah jalan yang tepat untuk nya.
Waktu telah berjalan dengan cepat, Malam tiba, Dimana rasa jenuh kian terasa lagi oleh Zahra.
Hanny dan Biru kini juga sudah berada di rumah, Hanny sibuk menyiapkan makan malam, Sedangkan Biru masih berada di ruang kerjanya. Bayangan bulan madu menghantui nya, sedangkan pikiran nya masih bercabang dengan pindahnya Zahra ke perusahaan Arsel.
'Aku harap ... kau akan berhasil dengan karier mu,Zahra ... Maafkan aku' bathin Biru, hingga suara ketukan pintu membuat lamunannya tersadar
"Masuklah," ucap Biru dari dalam, sehingga seseorang yang berada diluar pintu membuka pintu itu.
"Makanannya sudah siap,Mas," ucap Hanny yang ragu untuk mendekat
"Kemarilah," ucap Biru seraya mengulurkan tangannya pada Hanny, Hanny pun mendekat dan berdiri di samping sang suami.
"Kau wanita yang pemberani,Han ... tapi kenapa sekarang kau seakan takut padaku," ucap Biru
__ADS_1
Sejenak ruangan itu menjadi sunyi, Hanny tahu alasan dia diam saat ini.
"Kenapa diam, katakanlah!" ucap Biru lagi
"Karena aku tahu, di hatimu masih ada Zahra, Mas. Aku salah disini, aku wanita ... aku bisa merasakan apa yang Zahra alami, Aku marah karena tak tahu awalannya tapi sekarang ... aku sudah tahu, aku merasa tidak nyan.lada Zahra, dan kau bilang ... Zahra mengundurkan diri dari perusahaan, Aku semakin merasa bersalah padanya," ucap Hanny yang mana tangannya masih di pegang oleh Biru.
Biru berdiri dari duduknya, dan memeluk Hanny. meletakkan dagunya di atas kepala Hanny.
"Aku minta maaf, aku gak setegas lelaki yang lain, aku plin-plan dalam keadaan ini, Aku bersalah pada Zahra dan juga padamu, aku tak bisa menahan Zahra untuk tetap tinggal di perusahaan, karena aku tahu ... perusahaan adalah tempat yang paling terluka baginya, dan masalah perasaan ku, aku benar-benar sudah berusaha menghapus perasaan itu," ucap Biru
"Menghapus perasaan itu tak semudah itu,Mas." ucap Hanny
"Kita jalani rumah tangga ini, kita berjuang bersama," ucap Biru
"Aku juga ingin minta maaf pada Zahra, Mas" ucap Hanny seraya mendongakkan kepalanya menatap Biru
"Pasti, kita akan sama-sama minta maaf padanya," ucap Biru yang semakin mengeratkan pelukannya pada Hanny
*****
__ADS_1
"Zahra, Bos tadi sudah bicara denganku, kau di tempat kan sebagai sekertaris Presdir," ucap temannya Zahra
"Lah kok bisa, bukannya kemaren aku di terima di bagian keuangan ya," ucap Zahra terkejut
"Entahlah, katanya sih ini keputusan langsung dari Presdir pusat, lho beruntung kali, Zah" ucap temannya Zahra
"Beruntung apanya, aku malah lebih suka menjadi karyawan biasa aja," ucap Zahra yang sangat yakin jika Presdir itu adalah Arsel, pria mesum pada semua wanita
"Idih ... di kasih enak malah gak mau, kalau aku yang dapat, udah sujud syukur tau gak," ledek temannya Zahra
"Ah ... itukan kamu, tukar saja denganmu, heheheh"ucap Zahra disertai tawanya
"Ye ... bisa di pecat dadakan gue." Zahra tertawa mendengar celoteh dari temannya itu, Ia kini mengerti dengan ketakutan Bima, tapi Zahra bukalah seseorang yang bisa menjual informasi pada orang lain, apalagi tentang orang yang paling ia cintai.
[Hai, Zahra. Aku Arsel ... kau besok langsung keruangan ku, banyak hal yang harus kau kerjakan] Saat Zahra mau memejamkan matanya, pesan itu masuk, seketika ... mata Zahra membulat sempurna, mana mungkin seorang presdir menghubungi nya langsung.
[Eh, baiklah Pak, tapi ....pak, kenapa anda sendiri yang menghubungi saya, kenapa tidak yang lain] balas Zahra
[Suka-suka aku] balas Arsel dengan asal.
__ADS_1