
Hanny tersenyum saat melihat Saga dengan wajah yang lebih ramah, tak seperti awal mereka bertatapan.
"Maaf aku bau masakan dapur, Ayo Mas biar Hanny siap kan sarapannya" ucap Hanny
"Bukannya kau juga harus ke rumah sakit?" tanya Saga seraya menuruni tangga yang di ikuti oleh Hanny
"Aku bisa bersiap nanti, Kalau sudah mas selesai semuanya " jawab Hanny dengan penuh senyuman, Karena ini pertama kalinya mereka berinteraksi dengan baik.
"Aku hanya memasak ini, Aku fikir tidak bagus juga kalau tiap pagi makan roti, Semoga Mas menyukai nya" ucap Hanny mengambilkan nasi kepiting Saga. Saga menatap Hanny sejenak.
"Biar aku pisahkan daging dan tulangnya dulu" ucap Hanny saat Saga sudah ingin mengambil piringnya. Hanny dengan cekatan melakukan itu.
Saga mengambil sambal dan lauk lainnya, membuat Hanny tersenyum, Sakit hati yang ia rasakan seakan sembuh seketika.
"Besok malam akan ada teman-teman ku kemari, mereka protes karena aku tidak mengundang mereka, Jadi bisakah kau pesankan makan malam untuk mereka semua?" tanah Saga di tengah-tengah menikmati sarapannya.
"Pesan? Apakah masakan aku kurang enak ya Mas?" tanya Hanny. Padahal Saga pura-pura,dia tidak ingin terlihat begitu menginginkan masakan Hanny dinikmati oleh teman-temannya.
"Tapi, apakah kau bersedia ? Mereka perkiraan ada empat atau lima orang".ucap Saga
"Aku bisa, Mas" jawab Hanny
"Baiklah kalau begitu, ini ada kartu, kau berbelanja lah, jangan pakai uangmu" ucap Saga seraya menyerahkan kartu ATM pada Hanny.
"Aku terima ya, Mas. Karena ini adalah nafkah darimu" ucap Hanny dengan masih tersenyum
Saga ingin membalas senyuman itu, nyatanya ego nya masih menahan nya.
"Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu, Itu motor siapa yang kau bawa, kenapa tidak menelfon ku Semalam ?" tanah Saga
"Itu motor satpam di rumah sakit, Tidak apa-apa," ucap Hanny
__ADS_1
"Baiklah aku berangkat" ucap Saga
"Tunggu, Mas" ucap Hanny menghentikan langkah Saga
"Apa lagi?" tanya Saga
Hani mengulurkan tangannya isyarat bahwa ia ingin mencium punggung tangan suaminya.
"Apa? masih kurang uang yang di ATM itu?" tanya Saga
"Bukan, aku ingin begini, Mas" ucap Hanny seraya meraih tangan Saga lalu mencium punggung tangannya Saga. Sontak Saga tertegun. Setelah itu Saga pergi dengan perasaan yang tak menentu. Hanny tersenyum dan menuju ke dapur guna membereskan semuanya. Lalu bersiap.untuk ke rumah sakit.
*****
"Perasaan apa ini" gumam Saga saat menuju ke kantor nya. Kantornya tidak terlalu jauh dari tempat ia tinggal. Saat Hanny sudah bersiap, Iapum keluar dari kamarnya namun suara dering ponsel membuat langkahnya terhenti, dia merogoh kedalam tas nya dan melihat ponselnya tidak berdering lalu ponsel Siapa itu? tanya Hani pada diri sendiri. dari ponsel itu pun terhenti namun beberapa saat berdering kembali.
"Apakah itu ponsel mas Saga, Ya?" gumam Hanny.
'Mungkinkah ... sikap kasarnya Mas Saga selama ini bukan karena perjodohan ini, tapi karena wanita ini?' bathin Hanny
'Siapa Wanita ini? Kenapa Mas Saga menerima perjodohan ini jika ia sudah memiliki wanita yang ia cintai?' bathin Hanny lagi
Air matanya tiba-tiba lolos begitu saja, hatinya bagai tertusuk jarum yang tajam. Luka yang baru saja ia sembuhkan tapi kini seakan di taburi dengan air garam, Perih ... sangat perih.
Hanny mundur tidak jadi mengambil benda pipih milik sang suami. Dia keluar dari kamar itu dengan hati yang terluka.
'Kenapa Mas ... Kenapa tidak jujur, Kalau kau punya wanita lain? Siapa wanita itu, Mas? Apakah aku tahu? Pakah dia datang saat itu? Maafkan aku, Mas.?' bathin Hanny seraya keluar dari rumahnya.
*****
"Tuan, Selamat pagi, Saya dari tadi menghubungi anda, tapi anda tidak mengangkat nya" ucap Zahra yang sedang menunggu Saga di depan kantornya
__ADS_1
"Ponsel ku tertinggal, Ada apa?" tanya Saga seraya terus melangkah kan kakinya yang di ikuti Zahra. Zahra merasa ada yang sakit dalam hatinya. Sikap Saga, yang tanpa senyuman padanya telah menyadarkan nya, mungkin ia sudah tersisih dari hati Saga.
"Tuan Tara ada di ruangan Anda" ucap Zahra yang membuat Saga menghentikan langkahnya sejenak, Lalu menoleh kearah Zahra
:Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" tanah Saga dengan tatapan yang tak bisa Zahra tebak
Zahra menggeleng kan kepalanya.
Mendengar hal itu Saga bernafas lega, Lalu Iya melanjutkan langkahnya hingga sampai ke lift yang akan membawanya ke ruangannya
*****
Perjalanan Hanny yang menggunakan sepeda motor itu membuat air matanya jatuh bebas, Namun ... ia dengan cepat menghapus nya, Ia tak ingin kesedihan nya terlihat orang lain terutama orang rumah sakit.
'Hanny, jangan ambil kesimpulan dulu, tanyakan itu pada Saga saat waktu yang tepat, Jangan lah kau sedikit-sedikit menangis, Kau juga tidak tahu akan semuanya kan? jadi jangan merasa bersalah' bathin Hanny menguatkan diri sendiri
'Tapi jika itu benar, Bukankah aku akan menjadi orang yang jahat, karena telah memisahkan dua hati yang saling mencintai?' bathin Hanny lagi
'Tidak! Kau tidak jahat, Kau tidak tahu, Jika Saga mengatakan semuanya, Bukankah kau akan menolak perjodohan ini' bathin lagi Hanny
'Mungkin saja mereka sudah putus, tapi Saga belum mengubah wallpaper ponselnya' Hanny bermonolog dengan hatinya sendiri agar tidak terlalu merasakan sakit.
'Ya, pasti begitu kan? Dia pria, Dia pasti punya hak menolak perjodohan, Apalagi jika ia memiliki kekasih' bathin Hanny lagi. Hingga tanpa ia sadari, ia sudah sampai di depan rumah sakit
******
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Tuan Tara saat mereka sudah duduk di sofa yang ada di ruangan Saga
"Seperti yang ayah lihat, Aku baik-baik saja, dia juga baik-baik saja" ucap Saga
"Kau tidak membuat hatinya sakit kan? Saga ... dengarkan Ayah, Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, " ucap sang Ayah yang sudah mulai tenang dalam bicara dengan Saga, Apalagi melihat Saga yang terlambat datang keperusahaan, Bukankah itu menandakan bahwa Saga telat bangun karena asyik berdua dengan sang istri,Pikir Tuan Tara.
__ADS_1