
Hidup bagaikan alir yang mengalir, kita tak tahu ... apakah ada terjangan di depan kita, hanya saja. kita di bekal kan dengan tekad dan hati yang kuat. Wanita di ciptakan dengan kelembutan, tapi dengan kekuatan yang tak pernah lelaki miliki. Wanita di berika air mata agar ia bis menumpahkan semua rasa sakitnya melalui Aira matanya, karena saat wanita sudah marah, Ia tak akan mengingat masa indah itu kembali.
"Nona, maaf telat nyusulnya," ucap Zahra saat susah menemukan Hanny
"Tidak apa-apa, malah aku minta maaf karena sudah membuat Nona Zahra mencariku," ucap Hanny seraya tersenyum
"Karyawan disini, semuanya ramah-tamah, aku suka dengan cara kerja mereka," ucap Hanny seraya menatap beberapa ruangan yang mana semua karyawan masih fokus dengan pekerjaan mereka.
"Aku tidak tahu dalam dunia bisnis, tapi aku tahu ... banyak perjuangan bagi mereka untuk membuat sebuah perusahaan yang maju," ucap Hanny
"Nona hebat, dalam usia Nona, Nona susah berhasil menjadi seorang dokter terbaik di kota ini, " ucap Zahra
"Aku belum hebat, masih butuh banyak belajar," ucap Hanny
"Ngomong -ngomong, bagaimana kabar adikmu, dia pasti sudah gemuk sekarang, mengingat terkahir laporan yang kau katakan pada ku saat itu," ucap Hanny
"Lumayanlah, Nona. sekarang dia sudah doyan makan, tapi tetap harus minum obat dari Nona," ucap Zahra
"Ya,dia baru sembuh dari sakitnya,emang itu akan mempengaruhi nafsu makannya, pokok jaga, jangan sampai memakan yang pedas-pedas, jangan telat makan juga, agar lambung nya bisa sehat kembali," papar Hanny
"Dia sudah bisa mengerti akan larang - larangan itu, Nona. Kami hanya tinggal berdua, karena itulah ... tidak ada yang mengawasi dia, aku sibuk bekerja, sebenarnya ... aku kasihan sama dia, di usianya yang sekarang, dia harus bisa mandiri, tinggal sendiri di rumah, karena itulah aku jarang menerima lemburan dari Tuan Biru," ucap Zahra. Hanny menatap Zahra seraya terus berjalan, ia kagum padanya. Ya ... Hanny kagum pada wanita yang di cintai suaminya, Kenapa begitu? Kenapa Hanny tidak membenci Zahra?
__ADS_1
Karena semuanya bukan salah mereka.
*****
"Mbak Yu, yakin, kalau Nak Biru dan Hanny juga akan kemari," ucap Ibunya Hanny dengan begitu senangnya.
"Ya, Jeng. Biru yang mengatakan itu pada kami, tapi kemungkinan sampai di sini nanti, tidak apa-apa kan jika kami lama di sini,?" tanya Bundanya Biru
"Mau menginap disini pun, saya tidak keberatan, mbak Yu. Malah saya senang sekali," ucap Ibunya Hanny. Sedangkan Tuan Tara berada di kolam ikan yang ada di belakang rumah Hanny,(orang tua Hanny)
Ia mengenang kebersamaan nya dengan Sidqi, sahabat yang begitu ia sayangi, layaknya seorang saudara. Ia pandangi ikan koin yang menjadi ikan kesayangan Sidqi dulu.
"Istrimu mewarisi kebiasaan dan hobi mu, Sidqi. Ikan koin emas ini adalah ikan kesukaan mu, dia begitu cinta dengan mu, semoga anakmu juga bisa mencintai anakku seperti istrimu yang mencintaimu," ucap Tuan Tara pada Ikan Koin yang kini ia beri makan. Lama Tuan Tara menikmati suasana belakang rumah Hanny, begitu sejuk dengan pohon rindang yang ada.
*****
"Ya, kita belum pernah kerumah Ibu, Maafkan aku," ucap Biru seraya menoleh kearah Hanny, Terlihat senyuman di bibir Hanny, senyuman yang tak pernah Biru lihat. Semudah itukah membuat wanita bahagia.
Zahra dan Hanny bukanlah wanita yang Matrealistis, karena itulah Biru bersyukur memiliki dan merasakan cinta pada wanita yang benar. Zahra ... meskipun Biru belum bisa melupakan Zahra sepenuhnya, tapi ... ia sudah berusaha untuk membuka hati untuk istrinya. Mengingat bagaimana orang tuanya yang begitu mencintai Hanny.
"Aku juga ingin mengenal duniamu, aku dengar-dengar kau ada seminar sebulan lagi, boleh aku ikut ?" tanya Biru
__ADS_1
"Tahu dari mana?" tanya balik Hanny
" Dari Zahra," ucap Biru seraya menatap lurus kedepan
"Oh, dari Nona Zahra," ucap Hanny
"Jangan salah faham, Aku_"
"Aku faham kok, Mas. Nona Zahra bukan wanita seperti itu, aku mengerti akan hal itu," ucap Hanny berusaha mengulum senyaman nya.
"Ya, sebulan lagi aku ada seminar, Tapi ... apakah Mas gak bosan jika ikut seminar itu, karena aku tahu, jika bukan dunianya, pasti akan merasa bosan," ucap Hanny
"Mau duniaku sekarang, Meskipun aku belum memahami dunia baru ini, tapi dengan mengenali nya, maka semuanya akan terbiasa dan nyaman," ucap Biru
"Ikatan adalah tali yang kita ciptakan bersama, Tergantung kita, mau memakai tali yang rapuh atau kuat, tapi ... aku berharap ikatan ini menjadi ikatan yang bisa membahagiakan semua orang, aku ingin membina rumah tangga ini bersama mu, Hanny, Hingga maut yang memisahkan, percayalah ... aku dan Zahra hanya sebatas atasan dan bawahan," ucap Biru
"Aku percaya," ucap Hanny
Tanpa mereka sadari, mereka pun masuk dalam pekarangan rumah Hanny. Rumah yang begitu Hanny rindukan, tempat dimana Hanny selalu di manja, Rumah yang selalu membuat Hanny tenang,Rumah ternyaman bagi Hanny. Terlihat Kebahagiaan Hanny saat ia langsung membuka pintu mobil, tanpa menunggu Biru yang membukakan nya, Matanya sudah berkaca, sebahagia itukah Hanny.
Ya, Seorang wanita adalah kesayangan seorang Ayah, meskipun Hanny sudah lama hidup tanpa Ayah, tapi Ibunya ... ia selalu berperan sebagai Ayah sekaligus. Biru berdiri di samping Hanny, mengambil tangan Hanny dan menggenggamnya. Membawanya masuk kedalam istana yang begitu ia rindukan
__ADS_1
"Jangan menangis, Bukankah kau mencintai Ibumu, melihat mu seperti ini, hatinya pasti bertanya, Apakah kau menderita bersamaku?" ucap Biru.
(Kan emang menderita wkwkwkkw )