
Zahra kini sudah kembali ke rumahnya dengan menaiki sepeda motornya. Ia menghela nafasnya mengingat bagaimana Dea selalu merendahkannya dulu, Ia pasti senang sekarang saat ia tahu kalau bukan dirinya yang menikah dengan Biru.
Perasaan yang tulus akan memberikan kebahagiaan walaupun tak saling bersama. Karena cinta itu tidak harus saling memiliki, melihat orang yang kita cintai bahagia itu adalah hal yang paling membuat kita bahagia.
Begitulah yang Zahra rasakan sekarang, Dia bahagia melihat Biru dan Hanny bersama, Meski ia tahu ... Biru belum ada rasa padanya, tapi Zahra yakin, dengan seiringnya waktu berjalan, rasa itu pasti akan datang. Zahra sangat mengenal Biru, ia tak akan menyakiti hati seorang wanita, Meskipun ia melakukan nya, ia pun tak akan sengaja. kini hanya tinggal dirinya yang akan berperang melawan rasanya sendiri. Ia juga sudah berusaha melamar pekerjaan di perusahaan lainnya, hanya tetap saja ... mereka tidak ada yang menerima Zahra karena gaji Zahra yang di perusahaan Biru sudah lumayan tinggi dan mereka tak bisa memberikan gaji sebesar itu padanya.
"Kenapa harus cari kerjaan lain, Bukankah di sana kau sudah nyaman?" tanya teman Zahra yang bekerja di tempat lain
"Kau benar, hanya saja ... jika di sana aku harus berperang dengan hariku sendiri, setiap saat aku harus melihat wajah Biru, Aku bahagia melihat dia bahagia, tapi aku tak bisa memungkiri, kalau aku juga tak bisa, aku sudah mengajukan pindah tempat, aku tidak apa-apa meskipun jabatan ku di turun kan, asalkan aku tidak seruangan dengannya, tapi ... pihak Tuan Biru belum membalas ajuan ku," ucap Zahra
"Kau hanya terlalu baik, Zahra. Kau hanya terlalu baik dalam hidupmu, jika aku menjadi kamu, sudah aku amuk si Biru dan si wanita itu," ucap temannya Zahra yang bernama Saskia
"Apa salah mereka? Mereka juga terpaksa menerima pernikahan itu, Biru dan Hanny, mereka sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini, tapi Tuan Tara, dia tak bisa di abaikan, bisa di take down aku kalau aku menahan putranya, hahaha" ucap Zahra dengan tawanya.
*****
"Ayolah Jigar, kau tak harus selalu berkutat dengan peralatan rumah sakit,kan? sesekali kau healing," ucap para sahabatnya Jigar
"Apakah kalian punya sesuatu agar bisa melupakan seseorang?" tanya Jigar
Sejenak teman-temannya saling berpandangan dengan yang lainnya, Kini mereka mengerti kenapa temannya yang selalu betah di rumah sakit itu tiba-tiba mendatangi mereka di club.
"Kami punya, tapi kami tidak yakin, kalau kau akan
mau," ucap temannya Jigar
"Berikan saja, aku akan meminum, Bir kah?" tanya Jigar dengan tatapan yang kosong, Ia dari tadi hanya melamun di tempat itu.
"Itu satu-satunya obat buat semua penyakit, Jigar," terang sahabat nya Jigar seraya menepuk bahu sahabat nya itu.
Mereka tidak tahu, siapa wanita yang sudah membuat sahabatnya itu mengalami sakit ini. mereka tak menyangka, bahwa seorang Jigar, bisa mengalami patah hati sedemikian rupa.
"Wanita mana? Apakah dia sangat cantik?" tanya Hazard sahabat Jigar
__ADS_1
"Sangat cantik, baik dan sempurna, hehehe aku kalah jodoh dengannya, dia di jodohkan, hahahah masih ada hal seperti itu ternyata di dunia ini," ucap Jigar seraya meminum Wine yang sudah temannya tuangkan.
Dengan sesekali meneguknya, Wine itu sudah tandas. Jigar pernah cerita bahwa ia jatuh hati pada teman nya, Namun ... Jigar belum pernah mengatakan siapa namanya.
*****
Ketika hati mencintai, dia akan merasakan keterlukaan yang begitu dalam saat orang yang ia inginkan telah di miliki orang lain.
"Hanny, Anak Ibu," ucap Ibunya Hanny seraya memeluk putrinya
"Bagaimana kabar,Ibu?" tanya Hanny seraya melepaskan pelukannya.
"Ibu baik, Nak. Hana juga merindukan mu, sebentar༼, Ibu akan Panggil kan anak itu," ucap Ibunya Hanny dengan bahagia yang tiada terkira.Hanny menahannya,
"Biar Hanny yang ke kamarnya, Ibu duduklah," ucap Hanny seraya mengusap air mata ibunya
Orang Tua Biru dan juga Biru melihat kerinduan yang mendalam di wajah Ibunya Hanny.
Hanny pun segera menuju ke kamar adiknya, Ia terlihat memandangi setiap sudut rumah nya. Biru mengerti bahwa Hanny merindukan tempat dimana ia hanya mendapatkan kasih sayang di dalamnya.
Hanny membuka pintu kamar adik Nye bersamaan dengan sang adik yang menoleh.
"Kakak! kakak sudah datang," Hana langsung beranjak bangun dan memeluk sang kakak
"Lagi ngerjain tugas?" tanya Hanny
"Ia, mudah kok, jadi santai, karena di luar ada mertua kakak, Hana malu lah keluar kamar," ucap Hana adik Hanny
"Keluar yuk, Makan malam bersama, kasihan mertuaku sudah dari tadi siang katanya disini," ucap Hanny
"Eh, mertua kakak baik banget loh, sepertinya mereka ngasih orderan kue yang banyak pada Ibu," ucap Hana mengikuti langkah kakaknya
"Bunda emang selalu hadir di acara arisan, mungkin itu buat acara arisannya," ucap Hanny
__ADS_1
"Hubungan kakak dan kak Biru bagaiman sekarang?" tanya Hana
"Baik, kenapa?" tanya Hanny balik
"Ya tidak apa-apa sih kak, Semoga cepat ngasih aku ponaan ya, kak" ucap Hana yang membuat Hanny tersenyum, berharap apa yang adiknya inginkan itu terwujud.
"Hai kak Biru," sapa Hana
"Hai, juga. Bagaimana sekolahmu?" tanya Biru bersamaan dengan Hana yang mencium punggung tangan Biru
"Alhamdulillah, baik kak," ucap Hana dengan senyum nya. Sedikit mirip dengan Hanny. hanya saja ... Hana sedikit bertubuh pendek.
"Baiklah, kita makan malam ya, nanti keburu dingin, Loh" ajak Ibunya Hanny
"Ayo ... ayo" ucap Tuan Tara.
Tuan Tara yang kini duduk di kursi kebesaran Ayahnya Hanny. Hanny dan Ibunya saling melempar pandangan saat melihat sosok Tuan Tara sama persis dengan mendiang suami Ibunya Hanny atau Ayahnya Hanny.
Tuan Tara memimpin doa, dan mereka pun menikmati makan malam, makanan semuanya adalah kesukaan Sidqi. Tuan Tara ingin juga mengenang sang sahabat.
Setelah makan malam yang berkesan itu, Tuan Tara dan yang lainnya berkumpul di ruang tamu. Pembicara mereka tak luput dari pembahasan anak, tentu Hanny dan Biru selalu menjadi bahan pembicaraan mereka. Membuat pengantin baru yang masih belum gol gawang itu hanya ikut tersenyum dan tertawa kala mereka tertawa akan pembahasan nya.
"Kalian akan menginap disini kan?" tanya Ibunya Hanny
"Ti_"
"Iya, Ibu. Kami akan menginap disini jika Ibu tidak keberatan," ucap Biru seketika
"Wah, enak dong, Hana bisa tidur bareng kak,Hanny" ucapan Hana malah membuat semua mata menatapnya, Terlihat senyum di bibir Hana, Ia belum mengerti bahwa ucapannya telah mengundang banyak tanda tanya.
"Husttt, apa yang kau katakan, mana bisa kau tidur bersama Hanny, selama ada suaminya," colek Ibu Hanny pada Hana, membuat Hana sadar akan tatapan kedua orang tua Biru dan juga tatapan Biru.
Hanny hanya menunduk tersenyum.
__ADS_1
"Maaf, Bunda, Ayah. Hana lupa kalau Kak Hanny sudah punya suami," ucap Hana malu, membuat Bunda dan Tuan Tara tersenyum
"Kalian masuklah, lihatlah istrimu, pipinya sudah merah jambu," goda sang Bunda, membuat Hanny makin tersipu malu. Hanny juga dag dig dug, Saat Biru mengatakan kalau ia akan bermalam disini