
Hari ini sangatlah cerah, Zahra dan Jigar serta adiknya Zahra kini menuju ke pemakaman orang tua Zahra.
''Kalian sudah lama di tinggal orang tua kalian?'' tanya Jigar.
''Mulai adikku kelas 2 ya dek?'' tanya Zahra pada adiknya.
''Ya, sekitaran itu, Kenapa? " Tanya Zahra.
''Bagaimana perasaan kalian, pasti hancur sekali, '' ucap Jigar.
''Sangat,, tapi adikku adalah penyemangatku, dia kesayanganku saat ini, '' ucap Zahra seraya menoleh kearah adiknya yang sibuk main game.
Sepanjang perjalanan Zahra menceritakan kisah hidupnya hingga ia bekerja di perusahaan Biru, bekerja disana bukanlah perkara mudah, butuh perjuangan hingga ia diangkat menjadi sekertaris Biru.
Jigar mendengarkan semua keluhan dan rasa bahagia yang Zahra ungkapkan.
''Kau sudah banyak melalui masalah, dan aku malah menambah masalah dalam. hidupmu, kau kuat dan sabar sekali, Zahra,'' ucap Jigar seraya mengambil tangan Zahra dan menggenggamnya.
Zahra terkejut sesaat namun ia harus membiasakan diri mungkin ia juga harus berusaha membuka dan melakukan tugasnya sebagai istri.
''Kau gugup?'' tanya Jigar
''Bukankah kau pernah dekat dengan seorang pria?'' tanya Jigar lagi.
__ADS_1
''Tapi kita baru dekat, apa tidak wajar jika aku masih gugup dan tidak terbiasa?'' tanya Zahra.
''Mulai sekarang, Kau harus biasakan dirimu dengan hal seperti ini, karena aku bisa berbuat lebih setelah ini, '' goda Jigar membuat Zahra makin salah tingkah. Jigar tersenyum mendapati sikap Zahra yang begitu menggemaskan menurutnya.
********
"Han, ke kantin yuk! "Ajak temannya Hana.
" Aku udah bawa bekal, kalau kau mau sini.... " ucap Hana
"Makankj banyak, gak cukup kalau cuma segitu, ya udah aku ke kantin ya.... " ucap temannya Hana seraya berlalu meninggalkan Hana.
Hana-pun makan bekal yang ia bawa, suara langkah kaki tak membuat ia berhenti menikmati makanannya, karena Hana mengita dia adalah teman se-ruangannya.
"Boleh aku minta? " Tanya orang itu yang kini duduk di depan Hana.
"Eh, Tuan. Anda.... "ucap Hana seraya mengusap mulutnya dengan tisu, padahal perutnya masin lapar dan makanannya masih banyak.
" Lanjutkan makannya!" Ucap sosok itu yang ternyata adalah Arsel.
"Boleh aku minta sedikit?" Tanya Arsel.
"Boleh, Pak. Ambil saja, "ucap Hana dengan gugup.
__ADS_1
'Ya, padahal aku masih lapar, ' bathin Hana.
Arsel benar-benar mencicipi makanan yang di bawa oleh Hana.
" Enak, Apakah kau masak sendiri?'' tanya Arsel.
''Kenapa pak? Apakah tidak enak?'' Tanya Hana.
''Malah sangat enak, besok aku bawakan juga, ya, '' ucap Arsel dengan sekenanya.
"Tuan Arsel mau makanan seperti itu? Baik akan saya bawakan besok tuan, " ucap Hana dengan kegirangan.
"Ini lanjutkan makanmu,'' ucap Arsel seraya menyerahkan kotak makanan Hana.
''Eh, udah pak? " Tanya Hana.
''Memangnya boleh kalau aku habisin?'' Tanya Arsel
" Ya, jangan dong Pak! Aku kan masih lapar,'' ucap Hana tanpa malu. tentu itu malah membuat Arsel tersenyum .
Setelah mengerjai Hana, Arsel pun keluar dari ruangan itu. Ia merasa menemukan makanan baru setelah mengetahui jika adiknya Hany yaitu istrinya Biru magang di perusahaannya.
...----------------...
__ADS_1
''Bagaimana tuan Biru?'' Tanya klien.
''Menurutku itu akan merugikan kedua pihak dan yang paling untung adalah perusahaan anda, Tuan. Tapi yang paling di rugikan adalah mereka yang memiliki tanah. Mungkin kerugian itu tak seberapa bagi kita tapi bagi mereka itu adalah harga yang besar dan saya tidak setuju dengan rencana itu, '' ucap Biru dengan tegas.