Tiga Hati Tersakiti

Tiga Hati Tersakiti
Bab 64


__ADS_3

Hanny pun memutuskan kembali setelah acara Juan selesai.


"Kau yakin akan kembali hari ini?" Tanya Juan


"Aku sudah membeli tiketnya kak, " Ucap Hanny seraya memperlihatkan tiket pesawat nya pada Juan dengan bibir tersenyum.


"Aku harus kembali dan memperbaiki masalah yang ku buat kak, " Ucap Hanny seraya terus melangkah membawa koper kecil yang ia pegang


"Itu bukan kau yang membuat masalah Han, suamimu yang tidak bisa menjaga komitmen dalam pernikahan, " Ucap Juan yang terus melangkah di samping Hanny.


"Tapi aku yang lari dari masalah itu, dan ya... emang suamiku itu egois, hehhehe dia tidak mau bercerai tapi juga tidak bisa melepas kan masa lalunya, hufff... Aku pasti bisa melewati nya, iya kan kak? " tanya Hanya dengan memaksakan senyum nya, meski Juan tahu, hatinya sangat sakit saat ini.


"Eh, Kakak kok ikut masuk? " Tanya Hanny heran


"Kan aku juga mau balik hari ini, " Ucap Juan seraya memperlihatkan tiket nya juga, setelah itu mereka tertawa bersama.


Juan bahagia saat melihat tawa lepas Hanny.


'Aku rindu tawamu seperti ini Han, ku rindu saat kau tertawa lepas seperti saat ini, Kau tahu... Aku rasa nya ingin memusnahkan suamimu agar ia tidak bisa lagi membuatmu sedih, ' bathin Juan, seraya menatap Hanny yang masih tertawa, Saat Hanny menyadari bahwa Juan saat ini menatapnya, Juan langsung memalingkan wajahnya.


'Apakah kursi kita sama? " Tanya Hanny


"Ah seperti nya tidak, tapi aku akan tetap duduk di samping mu, " Ucap Juan dengan yakin.


"Benarkah? Apakah kakak punya kuasa? " Tanya Hanny dengan wajah menyelidiki


"Hahahah, tidaklah! Aku tidak sehebat itu, aku harus mencari pemilik kursi itu terlebih dahulu dan menukarnya, Heheheh" Ucap Juan membuat Hanny juga tersenyum.


*****


"Ayah, aku minta maaf, Aku salah Ayah, maafkan aku," Ucap Biru seraya bersimpuh di depan Ayahnya

__ADS_1


"Ayah salah, Sekarang kau sudah di bebaskan dalam pernikahan ini, Kau tandatangani surat yang Hanny kirimkan, itu jauh lebih baik, " Ucap Ayahnya tanpa melihat kearah Biru.


"Tapi Biru tidak mau berpisah, Ayah, " Ucap Biru memberanikan diri menatap ke Ayah nya.


"Lalu bagaimana dengan wanitamu, aku tidak menyentuhnya saat ini karena permintaan dari Hanny, dia melarang ku untuk meminta pertanggungjawaban atas apa yang wanita J*al*angmu lakukan, Biru! " Bentak Tuan Tara


"Ayah, Zahra bukan wanita seperti itu, aku yang salah, cukup aku yang Ayah salahkan, jangan dia yah, aku yang memaksa nya menerima ku malam itu, aku minta maaf," Ucap Biru tertunduk


Aku benar-benar menyesal, Aku tidak akan mengulanginya lagi, Ayah" Pinta Biru dengan suara lemah, namun tiba-tiba tubuhnya ambruk.


Membuat Tuan Tara terkejut bukan main.


"Biru... !" Teriak tuan Tara, saat melihat Biru sudah tergeletak di lantai.


"Kau jangan bermain-main denganku, Biru! " Bentak tuan Tara seraya duduk dan memangku Biru.


Niman...!


"Angkat tubuh Biru dan baringkan di ranjang, Inem panggil dokter kemari, cepat! " Perintah tuan Tara, benar saja.... Mereka semua membantu tuan Tara untuk mengangkat tubuh Biru dan membaringkan nya diatas ranjang tuan Tara.


Tak ada yang tahu, selama beberapa hari ini, Biru tidak makan dan minum, sehingga tubuhnya menjadi lemah dan tak bertenaga.


Bersamaan dengan itu, Agam dan Alina datang dari rumah sakit, dan melihat wajah pembantu nya yang cemas.


"Bik, ada apa ini? " Tanya Agam


"Den, Biru pingsan, Den. Dan sekarang ada di kamar tuan Tara," Ucap pembantu itu yang langsung mengambil telepon rumah yang ada di dekat nya. Terlihat jelas pembantu itu menelfon dokter, Agam dan Alina langsung menaiki tangga dan menuju ke kamar Ayahnya.


''Ayah, ada apa dengan Biru,? " Tanya Agam seraya mendekati ranjang dimana Biru terbaring pucat.


"Ayah juga tidak tahu, Agam. ini salah Ayah dan Bunda, seharusnya Ayah dan Bunda tidak memaksakan Biru untuk menikah dengan Hanny, sehingga kejadian ini tidak akan pernah terjadi, Ayah yang salah, Agam, " Ucap tuan Tara seraya mengusap air matanya.

__ADS_1


"Ayah ingin yang terbaik untuk Biru, dan Hanny adalah wanita yang baik, tapi Ayah salah... Dan membuat banyak hati tersakiti, " Imbuh tuan Tara


"Ayah, ini bukan salah Ayah, ini takdir, Yah. Biru hanya belum menyadari bahwa itu adalah yang terbaik untuk dirinya, " Ucap Agam,


"Ayah, Biru sudah mencintai Hanny, tapi ia masih terikat dengan masa lalunya, buktinya Biru tidak mau menandatangani surat perceraian yang Hanny kirimkan, " ucap Alina yang di benarkan oleh Agam


"Apa yang di katakan Alina benar, Ayah. Biru sudah mulai mencintai Hanny, biarkan mereka menyelesaikan semuanya, aku yakin... Biru, Hanny dan Zahra bukanlah orang-orang yang egois, mereka hanya butuh waktu untuk menenangkan diri mereka," Ucap Agam


"Kasihan sekali Ibunya Hanny, Agam. Dia sangat berharap anaknya bahagia, tapi apa yang Biru lakukan, dan ini bukanlah satu kali, Jigar... Mungkin dia yang lebih pantas untuk Hanny, padahal Ayah tahu, jika Jigar sangat lah mencintai Hanny, tapi Ayah masih memaksa Biru untuk menikahinya, " Ucap tuan Tara


"Tapi Hanny tidak mencintai Jigar, Ayah. Hanny hanya menganggap Jigar sebagai sahabat nya saja, dan itu yang Jigar lakukan sekarang, Jigar menghajar Biru agar Biru sadar, Karena Jigar tahu Hanny juga mulai menyukai Biru, " Ucap Agam.


bebarapa saat kemudian, seorang dokter datang, dan memeriksa Biru.


"Tuan Biru punya riwayat asam lambung, dan saat ini, perut nya kosong , seolah tidak ada sesuatu apapun yang masuk, jaga pola makannya tuan, dan ini resep yang harus kalian tebus, " Ucap dokter itu seraya menyerah kan resep yang harus mereka beli.


"Terimakasih dokter, Agam... Antarkan dokter hingga kedepan, " Ucap tuan Tara saat dokter itu pamitan untuk pergi.


******


"Kau punya dua pilihan Nona Zahra, 1 pergi yang jauh dari kota ini, 2 menikahlah dengan pria lain, " Ucapan Jigar tentu bagaikan petir di siang bolong.


Mata Zahra membulat, bibir nya terbuka, matanya lurus menatap Jigar


"Hanya itu pilihan yang anda punya, Nona Zahra, dan itu satu-satunya jalan yang akan membebaskan diri anda dari sebutan Pelakor, " Ucap Jigar seraya berdiri tepat di belakang kursi Zahra, Juga memegang kedua pundak Zahra dengan sedikit menekannya.


Sedangkan Zahra masih terdiam mematung, Zahra wanita yang cerdas, tentu ia tahu apa dan jawaban apa yang harus ia berikan pada sosok yang sudah berulang kali membuat nya terluka meski tak saling kenal. Setelah Zahra bergelut dengn pikiran dan hatinya, Zahra pun berdiri dan membalikkan tubuh nya menatap wajah Jigar.


Tatapan keduanya saling beradu satu sama lain.


Apa yang akan Zahra katakan pada Jigar?

__ADS_1


__ADS_2