
Di tengah-tengah kebahagiaan Bundanya Sagara, ada wanita yang merasakan sakitnya keadaan yang menimpa nya.
'Aku minta maaf, aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan, jujur ... aku masih belum bisa melupakan Sagara, hanya saja aku akan berusaha, aku butuh waktu ... Waktu setahun lebih tidak cukup di lupakan hanya dengan hitungan hari, berikan aku waktu melupakan mu, Saga' bathin Zahra seraya menatap langit yang gelap.
'Maafkan aku karena sudah membuatmu terluka, Nona Hanny aku benar-benar tidak berniat untuk menyakitimu, malam itu bahkan tadi pagi, Aku harap hubunganmu dengan Saga bisa membaik dan bisa berjalan dengan harmonis,Aku ikhlas melepaskan Sagara, Aku ingin dia bahagia meskipun tidak bersamaku. Aku tidak ingin ada pertikaian dengan orang tuanya hanya karena aku, aku mengerti bahwa semua yang orang tua inginkan itu adalah terbaik untuk anaknya. Dan itu juga berlaku untuk Sagara, mungkin benar kata ayah Sagara, bahwa Nona Hanny lah yang terbaik untuknya' bathin Zahra menguatkan dirinya.
'Aku benar-benar minta maaf' bathin Zahra lagi.
*****
"Akhirnya Aden sampai juga, Bunda sudah menunggu dari tadi, Den" ucap pak satpam di rumah Sagara.
"Aku tahu itu, Mang. Ya sudah kalau begitu ... Aku masuk dulu ya, Mang" ucap Saga seraya memasukkan mobilnya kedalam halaman rumahnya.
Saat mobil sudah berhenti, Saga segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Hanny.
"Terimakasih " ucap Hanny
Saga mengambil tangan Hanny dan menggandeng nya masuk kedalam, Hanny tersenyum kecut melihat sikap Sagara yang tiba-tiba berubah, Tentu ... demi orang tuanya, Pikir Hanny.
"Selamat malam, Bun" ucap Saga saat melihat bunda nya
"Selama malam juga sayang, akhirnya kalian datang juga, Bagaimana kabar menantuku ini? Saga tidak berbuat buruk padamu kan?" tanya Bundanya Saga
"Tidak Bunda, Mas Biru sangat baik" ucap Hanny seraya melihat kearah Saga, Saga tertegun saat mendengar sebutan nama itu, Dulu ... Zahra juga sering memanggil nya dengan sebutan nama itu, Biru, Mas Biru. Tapi ... setelah perjodohan ini ... Zahra sudah tidak memanggil nya dengan sebutan itu.
"Mari ... Mati silahkan duduk sayang, Biar Bunda Panggil kan Ayah kalian" ucap Bundanya Sagara
"Biar Hanny yang panggil Ayah, Bun." ucap Hanny
"Tidak usaha, Nak. Ayah sudah datang " ucap Tian Wilantara yang kini sudah menuruni tangga dan melihat anak dan menantunya sudah datang.
__ADS_1
"Kak Agam sudah berangkat ?" tanya Saga
"Sudah, kemaren mereka kembali, Bawalah Hanny bulan madu kesana, Alina bilang ... bahwa tempat disana sangatlah bagus" ucap Tuan Wilantara
"Ti_"
"Akan Saga usahakan,Yah. Saga akan mencari waktu senggang untuk membawa Hanny bulan madu" ucapan Hanny terhenti karena Saga mengatakan hal yang tak sama dengan nya, Hanny ingin menolak acara bulan madu yang seharusnya tidak perlu di lakukan itu.
"Kau memang anak kebanggaan Ayah, Saga" ucap sang Ayah
"Urusan kantor, biar Ayah yang handle selama kau pergi, pergilah secepatnya dan berikan kami cucu yang tampan dan cantik" ucap Ayahnya Saga seraya menepuk pundak Saga dan duduk di kursi makan.
"Ayo ... duduklah, Kalian tahu ... ini semua Bunda yang masak, Hanny ... nikmatilah, Bunda mu ini sudah dari tadi sore yang membuat ini hanya untuk kalian" ucap Tian Wilantara seraya menatap penuh cinta pada sang istri.
"Bunda, lain kali jangan lakukan ini untuk Hanny, Hanny bisa kok kesini tanpa harus merepotkan Bunda, Bunda jangan sampai kecapean" ucap Hanny seraya menyentuh tangan Bundanya. Saga kagum dengan Hanny, ia tak pernah bertemu sang Bunda sebelumnya, tapi Hanny bisa langsung dekat dengan sang Bunda. Bahkan Bundanya sangat terlihat begitu mencintai Hanny.
Saga tersenyum namun ... hatinya merasa tak nyaman kala bayangan Zahra terlihat di matanya.
"Hai, kalian ...! makanlah, kenapa melamun semua" ucap Tuan Wilantara, membuat Saga Sadar dan Hanny melepaskan tangannya dari genggaman Bundanya.
Iss ... Ayah, bilang saja kalau ayah sudah sangat lapar, Iya kan?" ucap sang Bunda seraya mengundang tawa Tuan Wilantara
"Mana biar aku yang ambilkan" ucap Saga seraya mengambil piring dari tangan Hanny.
Saga mengambil kan nasi serta lauknya untuk Hanny.
"Kau tidak memiliki alergi makanan kan?" tanya Saga, membuat Hanny teringat akan malam itu.
"Enggak, aku gak punya alergi makanan kok" ucap Hanny menerima piring dari Saga yang sudah terisi nasi dan lauknya
"Melihat kalian, Bunda jadi ingat masa muda Bunda dan Ayah, Ayah juga demikian, saat pertama kali makan bersama, Ayah menanyakan Bunda punya alergi makanan apa tidak!" ucap sang Bunda dengan tersenyum.
__ADS_1
"Benar, Bunda kalian memiliki alergi makanan, Semua yang mengandung Seeofood, Bunda kalian pasti akan mengalami gatal-gatal" ucap Tuan Wilantara
"Semoga Hanny tidak memiliki alergi itu, untungnya anak-anak bunda gak ada yang alergi makanan juga, hanya bunda saja" imbuh Bunda Sagara
"Sudah jangan bicara terus, habiskan makanan kalian" ucap Tuan Wilantara
*****
"Juan bukannya tidak mau menikah, Kak. tapi menikah bukanlah hal yang mudah, Kak. kita juga harus menikah di dasari cinta kan? wanita sih banyak, hanya saja ... untuk menentukan hati yang srek itu sulit kak" ucap Juan pada kakaknya
"Bukankah Bima.oernah cerita, kalau kau pernah menyukai adik juniorku, kenapa kau tidak melamar dia saja?" tanya Mamanya Bima
"Dia sudah menikah, kakak ipar, aku kalah dari orang lain" ucap Juan dengan tatapan mata yang penuh kesedihan.
:Sangat di sayangkan, wanita mana yang berhasil merebut hatimu, pasti dia sangat istimewa" ucap Kakaknya Juan
"Sangat, Kakak. Bahkan ... Juan tidak pernah menjumpai wanita seperti dirinya lagi" ucap Juan dengan nada sedih
"Juan, kadang, apa yang terlihat sempurna, belum tentu baik untuk kita, ikhlaskan ... Pasti akan ada wanita yang jauh lebih baik lagi untuk dirimu, tentunya baik untukmu" ucap Mamanya Bima
"Juan tahu, Itu kakak Ipar, Bagaiamana bisnis kakak ipar?" tanya Juan
"Banyak kemajuan, kapan-kapan mainlah ketempat ku, siapa tahu bisa ketemu jodoh" goda Mamanya Bima
"Benar itu, jaman melulu bergaul dengan para dokter dan suster, mendapatkan istri yang beda profesi itu juga tidak buruk, Kalian bisa belajar banyak pengalaman dari masing-masing profesi kan" ucap Kakaknya Juan
"kakak benar, hanya saja ... Juan masih malas" ucap Juan seraya menyesap kopi yang sudah di siapkan
"Awas keduluan Bima loh nantinya" goda Mama nya Bima yang mana membaik Juan dan Papanya Bima tertawa juga.
"Apa yang di katakan kakak iparnya benar juga, jangan kelamaan" ucap Papanya Bima
__ADS_1