Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 101


__ADS_3

"Aku tau memang layak di tempati, tapi rumah semewah ini di jual harga murah, pasti ini berhantu kan?" ucap Dewi memanyunkan mulutnya.


Zeiro hampir saja tertawa akan tetapi ia tahan. "Aku jamin 100% jika rumah ini tidak berhantu, orang yang menjual rumah ini karena ada sesuatu hal yang tidak bisa ia jelaskan, yang pastinya dia pasti ingin melakukan sesuatu untuk orang itu," ucap Zeiro mengangguk-angguk.


"Aku akan periksa rumah ini dulu," ucap Dewi berjalan terlebih dahulu dan memeriksa rumah itu secara detail.


Dewi membuka semua pintu kamar itu dan memeriksa setiap ruangan.


Ada sebuah kamar, Dewi berusaha membukanya tapi itu terkunci dan tidak bisa di buka. Jika di lihat kamar itu tidak pernah di pakai.


Rumah ini juga jarang di tempati Zeiro sehingga tidak terlalu teruruskan karena di Negara A Zeiro punya 6 buah ruang mewah.


Dewi pun menendangnya hingga pintunya terbuka.


Brak!


Dewi pun masuk ke dalam, sangat gelap, Dewi pun menghidupkan lampunya dan terlihatlah semua isi dalamnya.


Dewi terdiam dan menatap kamar itu sayup.


"Bagaimana Dewi, apa kamu suka?" tanya Zeiro masuk ke dalam kamar itu, seketika ia juga ikut terdiam karena masih ada fotonya yang terpajang cantik di atas sandaran ranjangnya.


Zeiro garuk-garuk kepala, ia bingung mau menjelaskannya seperti apa, Dewi pasti akan sangat marah karena tau jika dirinya berbohong.


"Eh ... itu ... aku ... kamu ...." Zeiro benar-benar tak bisa bicara lagi.


"Kamu yakin jual rumah kamu cuma 100 juta?" tanya Dewi melihat ke arah Zeiro.


"Kamu tidak marah?" Zeiro balik bertanya.


"Sebenarnya aku sangat marah karena kau berbohong pada ku, itu sama saja dengan mengkhianati ku, tapi jika kau menjual ku 50 juta mungkin aku aku tidak akan marah," ucap Dewi memegang dagunya.


Zeiro memeluk Dewi dengan erat. "Jangankan membelinya 50 juta, gratis pun akan aku berikan padamu asalkan kau mau," ucap Zeiro menenggelamkan wajahnya di bahu Dewi.


"Hey hey, kau ingin mengatakan ini kenapa harus memeluk ku sih." Dewi memegang tangan Zeiro yang melingkar di pinggang dan melepaskannya.


"Aku sangat merindukan mu," jawab Zeiro tersenyum.

__ADS_1


"Lupakan itu, aku akan bayar 100 juta," ucap Dewi keluar dari kamar itu. Zeiro mengikutinya.


"Sudahlah, tidak perlu bayar, rumah ku di Negara A sudah tak terhitung banyaknya sehingga tidak ada yang menempatinya. Jadi untuk kamu gratis saja," ucap Zeiro tersenyum.


"Tidak bisa, aku tetap harus membeli rumah ini, siapkan saja berkasnya untuk merubah nama kepemilikan gedung," ucap Dewi datar.


"Haishh ... baiklah, baiklah aku akan menyiapkannya," ucap Zeiro pasrah, ia menelpon asistennya untuk segera mengambil sertifikat rumah itu.


"Berikan nomor rekeningmu, aku akan bayar langsung," ucap Dewi berdiri di tengah-tengah ruang tamu dan melihat sekeliling.


"Dewi, aku merasa tak enak hati menerima uang dari mu."


"Aku justru tak enak hati jika berhutang lagi pada mu," jawab Dewi menatap mata Zeiro yang penuh harapan padanya.


"Haishh, baiklah, aku terima," jawab Zeiro pasrah.


Tak lama kemudian, asisten Zeiro membawa sertifikat rumah dan surat pengembalian nama.


Zeiro duduk di sofa, Dewi juga ikut duduk di samping Zeiro yang berjarak 3 jengkal.


"Tidak usah, aku di sini saja," tolak Dewi.


Zeiro mengambil sertifikat itu dan merubah nama kepemilikan lalu menandatanganinya sebagai tanda jika rumah ini sudah sah menjadi milik Dewi.


Dewi juga menanda tangani surat itu.


"Berikan nomor rekening mu," pinta Dewi lagi.


"Besok sajalah, aku lupa nomor rekeningku berapa, kamu belum makan kan, ayo kita makan dulu," ajak Zeiro.


"Tidak, aku ingin mengurus paspor ku dulu," ucap Dewi.


"Masalah pasport mu tidak perlu khawatir, masih ada hari besok, jadi karena ku sudah pindah rumah baru jadi mari kita rayakan," ucap Zeiro tersenyum ke arah Dewi. Ia mengambil ponselnya dari saku jas dan ia pun mengirim pesan kepada salah satu kenalannya untuk di buatkan paspor untuk Dewi.


Data Dewi ada pada dirinya sewaktu ia menyuruhnya pengawalnya untuk menyelidiki identitas Dewi dan ia menyimpannya di ponselnya dan mengirimkan data Dewi tanpa sepengetahuan Dewi.


"Maaf ya tadi ada urusan, ayo aku traktir makan enak hari ini, aku akan memboking 1 restoran untuk mu untuk menghabiskan makanan," ucap Zeiro.

__ADS_1


"Hm ... tapi aku mau membersihkan rumah," ucap Dewi melihat sekeliling rumahnya itu.


"Sudah, tidak usah di bersihkan, biarkan asisten ku yang bersihkan, kamu cukup bayar mereka nanti," ucap Zeiro memegang tangan Dewi dan membawanya masuk mobil.


Dewi pun masuk ke dalam mobil duduk di samping Zeiro.


Zeiro kembali mengambil ponselnya dan menelpon restoran miliknya.


"Kosongkan restoran sekarang juga dan buat makanan sebanyak mungkin," perintah Zeiro.


"Baik Tuan." angguk kepala koki di sana. Mereka pun segera mengosongkan restoran dan mereka yang masih makan, makanannya di masukkan ke dalam kotak makan dan uangnya kembali, restoran pun langsung di tutup dan para koki mulai memasak.


"Oh ya, penghargaan mu sayangnya tinggal di Negara Q, aku akan mengambilnya besok," ucap Zeiro melihat jam di tangannya.


"Kamu terus membuntuti ku dan bisa kesana-kemari, memangnya tidak punya pekerjaan?" tanya Dewi menekuk alisnya.


"Tadi sudah ku selesaikan pekerjaannya, kamu tidak perlu khawatir masalah pekerjaan ku, karena itu adalah urusanku," jawab Zeiro tersenyum.


"Aku yang mengkhawatirkan diriku sendiri, jika kau terus mengikuti ku seperti penguntit begini dan mengikuti kemauan mu kapan aku bisa melakukan hal-hal untuk diri ku sendiri," ucap Dewi manyun. Zeiro mengangkat alisnya.


"Kamu bisa lakukan apa yang kamu mau dan tidak menganggu mu, hanya saja tidak apa-apa ya jika aku terus berada di sisi mu," ucap Zeiro menyengir.


"Asal tidak menganggu ya sudahlah," jawab Dewi pasrah, ia melihat ke arah luar jendela melihat orang yang sedang berlalu lalang.


Zeiro mengambil ponselnya dan ia mengirim pesan kepada asistennya.


"Belikan sebuah mobil, lalu letakkan di rumah Dewi." [Zeiro]


"Baik Tuan." [Asisten]


Tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah restoran, mereka pun masuk ke dalam di mana restoran sudah sepi, tapi ada sebuah meja besar sudah terhidang makanan enak.


Dewi mengangkat alisnya, karena satu meja besar penuh dengan piring berisi makanan enak, rasanya seperti surga dunia.


"Ayo makanlah sepuas mu," ucap Zeiro mempersilakan.


"Silakan di nikmati, Tuan, Nona," ucap para koki itu menundukkan kepala memberi hormat secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2