Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 78


__ADS_3

"Baiklah, untuk melanjutkan pembicaraan kita tadi, kau juga harus mempertanggung jawabkan perbutan mu, ya itu … hm … kau … kau memegang anuku," ucap Zeiro dengan wajah memerah.


"Cukup! Jangan katakan itu lagi! Itu sungguh … sungguh menjijikkan!" denggus Dewi lalu membuang wajahnya ke samping. Sungguh enak di dengar.


Seketika mereka terdiam. Rasanya menjadi canggung, tidak ada yang ingin di bicarakan juga.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Zeiro.


"Ini rumah ku, meskipun tidak sebesar rumah di negara A, tapi ini cukup nyaman kok," ucap Zeiro memulai pembicaraan.


Dewi dan Zeiro pun keluar dari mobil, mereka masuk ke dalam rumah Zeiro yang mewahnya seperti hotel bintang lima.


"Kami tinggal pilih aja mau kamar yang mana, anggap saja rumah sendiri." Zeiro langsung menuju dapur dan mengambil beberapa minuman dari dalam kulkas.


Dewi berjalan berkeliling dan mendapati sebuah kamar yang menarik perhatiannya, berhubungan Zeiro bilang pilihlah kamar sesuka hatinya, ia pun memilih kamar yang menurutnya unik itu.

__ADS_1


"Sepertinya kamar ini menarik, aku pilih yang ini saja deh," ucap Dewi menutup lalu menguncinya.


Zeiro membawa ke ruang tamu dan meletakkan minuman itu di atas meja. "Kemana dia pergi?" tanya Zeiro yang mendapati Dewi sudah hilang.


Karena keringat terasa lengket di kulitnya, masuk ke dalam kamar mandi Dewi pun membuka bajunya.


Tubuhnya terasa rileks setelah berendam di air hangat, Dewi memejamkan matanya untuk melepaskan lelahnya.


Tapi rasa lelah itu belum habis, karena hari esok dirinya masih harus berperang lagi, ia harus menyapu bersih orang yang sudah mengkhianatinya dan membalas mereka semuanya.


Karena kamar itu terkunci, Zeiro membuka pintu itu dengan sidik jarinya, semua kamar dan pintu utama mengunakan sidik jarinya. Jika ada yang bisa membukanya, berarti sidik jarinya sudah terdaftar, sedangkan Dewi tadi bisa masuk ke dalam kamar tersebut karena pintu itu tidak di kunci, mungkin Zeiro sengaja tidak menguncinya karena ia ingin mengajak Dewi tidur di rumahnya.


Zeiro meletakkan minuman itu di atas meja, ia membuka bajunya lalu menghidupkan AC kau merebahkan tubuhnya di kasur super empuk itu.


"Hm … kira-kira Dewi tidur di kamar mana ya?" tanya Zeiro menutup matanya sambil membayangkan wajah Dewi.

__ADS_1


"Hey! Brengsek! Beraninya kau masuk ke dalam kamar ku!"


Byuuurrr...


Zeiro terdiam sungguh tak bisa berkata-kata, tubuhnya basah kuyup oleh air karena di guyur Dewi, tak terkecuali tempat tidurnya.


Zeiro bangun dan duduk di sisi ranjangnya sambil menyisir rambut dengan jemarinya yang panjang kebelakang, benar-benar terlihat tampan, Dewi saja hampir terpesona. Siapa yang tidak terpesona dengan pria tubuh yang kekar sixpack, rambut basah dan celana menggantung di bawah pusar, gemesnya, ingin rasanya di buka.


"Apa yang kau lihat?" tanya Zeiro membangunkan lamunan Dewi yang sedang memegang gayung.


"Ehem! Kamu kenapa masuk ke dalam kamar ku," ucap Dewi berdehem sambil mengernyitkan sebelah matanya.


Zeiro berdiri lalu perlahan mendekati Dewi. "Katakan! Kau suka melihat tubuhku di bagian mana?"


"Kau jangan narsis! Aku tidak seperti wanita di luar sana!" Seru Dewi berjalan perlahan kebelakang sambil membuang wajahnya ke samping. 'Siapa sih yang tidak ingin melihatnya?' batin Dewi.

__ADS_1


__ADS_2