
Saat mendengar teriakkan pria itu, Dewi duduk di sisi ranjangnya.
Orang-orang yang ada di dalam hotel langsung heboh dan mendatangi arah suara tersebut.
"Di mana! Di mana!" teriak mereka panik.
"Di kamar sana," ucap pria itu merapatkan kedua kakinya yang anunya sakit.
Mereka pun mengendor-gedorkan pintu kamar Dewi dan juga bersama pegawai hotel.
"Tolong buka pintunya!" panggil pegawai itu dari balik pintu.
Dewi pun membuka pintu.
Cklek!
"Ada apa?" tanya Dewi menekuk alisnya.
"Katanya di sini ada pembunuh bayaran?" ucap pegawai itu.
"Dia … dia lah pembunuh bayaran," ucap pria tadi.
__ADS_1
"Apa benar Anda pembunuh bayaran? Kami akan menghubungi polisi sekarang," ucap pegawai itu.
"Bangsat! Siapa yang mengatakan kekasihku pembunuh bayaran!" teriak Zeiro dari ponsel.
"Perlihatkan aku pada mereka," ucap Zeiro geram.
Dewi pun membalikkan ponselnya dan memperlihatkan kepada pegawai hotel itu.
"Siapa yang bilang kekasih ku pembunuh bayaran?" ulang Zeiro membelalakkan matanya.
"Anda Tuan Zeiro?" tanya pegawai itu dengan mata berbinar saat melihat wajah tampan Zeiro.
"Ya! Aku ulangi lagi siapa yang berani mengatakan kekasih ku pembunuh bayaran!" ucap Zeiro dengan nada tinggi.
"Ya, dia kekasih ku, jika kalian berani menyentuh sedikit saja kekasih ku, maka aku akan membangkrutkan hotel kalian," ucap Zeiro.
"Maaf, maaf Tuan, kami bersalah, tak seharusnya kamu mendengarkan perkataan orang asing tadi kami akan beri pria itu pelajaran karena berani sudah memfitnah kekasih Anda," ucap pegawai itu.
"Bagus," ucap Zeiro. Dewi kembali menutup pintu dan ia pun duduk di ranjangnya.
"Sudah aku katakan pada mu, kenapa tidak tidur di rumah ku saja, pada akhir kamu terkena masalah," ucap Zeiro khawatir.
__ADS_1
"Kau pikir aku takut dengan masalah? Masalah apa yang tidak bisa aku atasi?" ucap Dewi manyun.
"Ya, kau membereskan semua masalah dengan kekerasan, bagaimana jika kau nanti bertemu dengan orang yang membereskan masalah dengan otak," ucap Zeiro menarik nafas lembut.
"Kau pikir aku bodoh ya, aku akan membereskan masalah ku dengan cara apa pun, termasuk kamu yang suka menganggu ku," ucap Dewi.
Zeiro tersenyum dengan elegan. "Oh ya? Aku juga akan membereskan mu setelah kita bertemu nanti."
"Berani kau membereskan ku, akan ku cabut anu mu," ancam Dewi.
Mereka pun mengobrol hingga larut malam dan tanpa sadar Dewi tertidur.
"Dewi! Dewi!" panggil Zeiro. Akan tetapi tidak ada sahutan.
"Mungkinkah dia sudah tidur?" tanya Zeiro lagi karena ponsel itu tepat di bawah wajah Dewi. Tanpa sadar, pipi Dewi menyentuh tanda rekaman di layar ponselnya.
Tit!
"Sayang, selamat malam, aku pasti akan merindukan mu, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan mu, aku harap kau adalah cinta terakhir ku, aku tidak menginginkan wanita yang lain di hati ku. Aku harap kau juga begitu, aku adalah pria terakhir mu dan mencintai segenap jiwa dan raga mu. Berharap jika kita bisa melabuhkan hati kita di suatu pernikahan yang kekal, tidur yang nyenyak sayang, semoga kau memimpikan diriku," ucap Zeiro. Ia tidak mematikan ponselnya dan juga ikut tidur.
***
__ADS_1
Keesokkan paginya, Dewi mengucek matanya.
"Haishhhh … cepat sekali paginya," ucap Dewi merenggangkan tubuhnya. Ia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 07:00 pagi.