Transmigrasi Dewi Pembunuh

Transmigrasi Dewi Pembunuh
BAB 124


__ADS_3

Dewi melihat ponselnya dan menekuk alisnya saat melihat ponselnya.


"Rekaman apa ini?" tanya Dewi. Ia pun memutar rekaman itu dan mendengarkannya.


Dewi tersenyum mendengar rekaman itu.


"Ya ampun, dia ini bucin banget sih, ya sudahlah asalkan dia bahagia," ucap Dewi menyimpan ponselnya. Ia pun bersiap-siap untuk mandi dan berganti pakaian karena ia harus segera menghadiri persidangan itu.


Setelah semuanya selesai, Dewi pun membereskan perlengkapan serta bukti yang ada dan memasukkan ke dalam tas kecilnya.


Dewi mengunci pintu kamarnya dan ia pun pergi meninggalkan hotel.


Dewi berdiri di depan hotel dan tak lama taksi lewat.


"Taksi!" panggil Dewi.


Taksi itu pun berhenti tepat di depan Dewi. Dewi membuka pintu taksi dan masuk ke dalam.


"Mau ke mana Nona?" tanya supir taksi.

__ADS_1


"Ke kantor polisi," jawab Dewi.


Supir taksi mengangguk mengerti dan mobil perlahan-lahan melaju di jalanan.


Perjalanan yang tak berapa lama itu sampailah mereka di kantor polisi. Dewi membayar ongkos taksi dan masuk ke dalam kantor polisi.


"Selamat pagi," ucap Dewi kepada polisi yang sedang duduk di kursi sedang entah apa.


"Eh, selamat lagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya polisi itu melihat ke arah Dewi.


"Saya di telpon oleh salah satu polwan yang bertugas di kantor ini yang mengurus kasus Andika, bisakah Anda mempertemukan kami?" tanya Dewi.


Tak lama kemudian polwan itu datang. "Nona Dewi ya?" tanya Polwan itu.


"Iya." angguk Dewi.


"Mari ikut saya," ucap polwan itu. Dewi pun mengikuti polwan itu ke dalam dan melihat Andika memakai baju tahanan.


Dewi tersenyum melihat ke arah Andika sambil melipat tangannya. Sedangkan Andika terlihat kesal.

__ADS_1


"Kenapa melihat ku seperti itu, kita baru beberapa hari tidak bertemu," ucap Dewi menyengir.


"Lihat saja kau, aku tidak akan membiarkan mu hidup tenang jika sampai aku masuk penjara," ancam Andika.


"Kenapa? Kau kan sudah masuk penjara, lalu apa lagi," ucap Dewi tersenyum sinis.


***


Akhirnya di mana Andika di sidangkan, Dewi sudah menyerahkan bukti-buktinya, di tambah lagi Dewi pembunuh adalah orang yang paling di agungkan oleh warga Negara Q, mereka sangat menjunjung tinggi dan Dewi pembunuh sebagai panutan dan juga balas Budi karena waktu itu, Dewi membunuh membantai mafia yang ingin mengambil wilayah mereka.


"Untuk saudara Andika, karena Anda terbukti bersalah karena ingin menguasai aset milik Dewi pembunuh maka akan di jatuhi hukuman penjara seumur hidup. Dan untuk Saudari Mei, karena saat ini dia sedang sakit karena gangguan kejiwaan maka saat ini tidak bisa di sidang, akan tetapi jika seandainya ia sudah sembuh maka akan di sidang kembali, keputusan hakim tidak bisa di ganggu gugat," ucap hakim mengetuk palu 3 kali.


Akhirnya berita itu pun di siarkan dan setidaknya menenangkan para hati warga.


Saat Andika di bawa ke penjara kembali, Dewi melambaikan tangan. Persidangan yang menekan waktu beberapa jam itu membuat Dewi mengantuk.


Jam sudah menunjukkan pukul 16:20 menit, mana ia belum makan lagi.


"Ya sudah aku cari makan dulu deh," ucap Dewi berjalan keluar dari kantor mahkamah agung dan mencari taksi.

__ADS_1


"Setelah makan, aku akan pergi melihat adik tersayang ku itu," ucap Dewi.


__ADS_2